PENGOBATAN DAN REHABILITASI NARKOBA, INSYA ALLOH CEPAT SEMBUH

Pemeriksaan Pasien Umum
Jumlah korban NARKOBA semakin tahun semakin meningkat, salah satunya di sebabkan karena pengobatan dan rehabilitasi narkoba pada umumnya memerlukan waktu lama, bertahun - tahun,  angka kambuh yang cukup  tinggi, dan angka kematian meningkat

Tidak hanya diperlukan detoksifikasi dan bimbingan mental namun di perlukan teknik pengobatan lainya kolaborasi MULTI TERAPI, agar hasil pengobatan menjadi lebih baik.

Jika saudara masih kecanduan narkoba, masih merasakan efek samping / komplikasi akibat narkoba seperti chepalgia, mudah marah, pelupa, depresi ? jangan ragu untuk berobat ke tempat kami, Insya Alloh dalam waktu relatif singkat, rata rata 2 bulan bisa sembuh tuntas ,  kecuali depresi yang sangat berat memerlukan waktu lebih. Pasien tidak harus datang dan bisa di rawat di rumah sendiri.

Hasil survai kami dari beberapa pasien kami setelah 1 - 7 tahun kemudian , terbukti Alhamdulillah semua pasien yang berobat rutin sesuai petunjuk kami sembuh tuntas, belum ada yang kambuh,kehidupan mereka kini berjalan normal. 
 
PROSEDUR PENGOBATAN
A. Rawat Jalan 
  • Pasien datang langsung di antar orang tua /  wali
B. Rawat Inap  ( masih dalam tahap Pembangunan ) 
  • Pasien datang langsung di antar orang tua /  wali
  • Membawa pakaian dan alat mandi secukupnya.
  • Lama nya menginap 10 hari ( Detoksifikasi ) sd 1 bulan, melihat kondisi pasien
  • Boleh di temani keluarga
C.Pengobatan Jarak Jauh -  mengingat jarak yang sangat jauh
  • Mengisi PENDAFTARAN ONLINE  klik di Sini 
  • Mengirim Foto terbaru pasien, kirim melalui POS
  • Mengirim biaya Pengobatan  
  • Selanjutnya Paket Obat Ramuan baru kami kirim dan terapi alternatif JARAK JAUH lainya
Segeralah berobat sebelum terlambat. Ingat : 
- Kematian akibat over dosis 
- Depresi seumur hidup 
- Tertangkap Polisi . baca 7 teror keluarga pecandu 
- Tertular penyakit berbahaya  seperti HIV AIDS 
- Cita-cita terhambat / hancur
- 9 dari 10 pecandu narkoba KAMBUHkecuali anda berobat di tempat yang tepat 
- Bangkrut,Rata -rata pecandu sadar setelah bangkrut.

Terimakasih

Pada Umumnya Waktu Rehabilitasi Narkoba Butuh 6 TAHUN

Labels:

Woow Biaya Rehabilitasi Narkoba 4 - 5 juta per bulan, 
Butuh waktu 6 tahun, dan Angka Relapse Pecandu Narkoba masih sangat Tinggi.
" Maka Tidak mungkin Indonesia Bebas Narkoba "

JAKARTA (Pos Kota)- Pecandu narkoba yang mendapatkan tindakan rehabilitasi jumlahnya masih sangat minim. Dari jumlah pecandu yang diperkirakan mencapai 4 juta orang, pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional (BNN) baru bisa merehabilitasi 20 ribu pecandu atau sekitar 1 persen setiap tahunnya.
“Itu pun kita dibantu instansi lain termasuk swasta dan organisasi sosial,” papar Suyono, Direktur
Pasca Rehabilitasi BNN disela Focus Group Discussion Kowani bertema penyalahguna narkoba mau dibawa kemana, dipenjara atau diobati, Selasa (25/7).
Untuk merehabilitasi pecandu, lanjut Suyono memang membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang cukup lama. “Satu pecandu butuh Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per bulan untuk biaya rehabilitasi yang meliputi makan, detoks, konseling dan biaya kesehatan lainnya,” lanjut Suyono.
Sedang untuk menyembuhkan seorang pecandu jelas Suyono dibutuhkan waktu minimal 6 tahun. Tetapi karena keterbatasan anggaran, BNN hanya bisa merehabilitasi pecandu rata-rata 1 tahun.
Karena rendahnya prosentase pecandu yang mendapatkan rehabilitasi, angka relapse (kekambuhan) diantara mantan pecandu sangat tinggi.
BNN memperkirakan 30 persen mantan pecandu bisa mengalami kekambuhan jika tidak mendapatkan dukungan baik dari lingkungannya termasuk pengawasan dari keluarga.
Sementara itu Ketua Umum Kowani Dewi Motik Pramono mengatakan pemerintah harus menempatkan pecandu narkotika sebagai korban. Karena itu mereka harus direhabilitasi dan bukan malah dipenjara, dan dicampur dengan penjahat lainnya.
“Pemerintah dalam hal ini BNN dan aparat penegak hukum harus bisa membedakan mana itu korban dan mana bandar. Perlakuannya jelas beda jauh,” kata Dewi.
Upaya menekan peredaran Narkoba, Dewi menilai pemerintah termasuk presiden harus bersikap lebih tegas terhadap para bandar narkoba. Mengingat para bandar narkoba merupakan perusak moral dan masa depan anak bangsa.
“Saya setuju hukuman mati bagi bandar narkoba. Supaya ada efek jera. Bukan bolak balik dikasih bonus ampunan atau remisi hukuman,” pungkas Dewi.
Kowani dengan anggota lebih dari 30 juta bertekad untuk aktif dalam upaya-upaya rehabilitasi mantan pecandu narkoba. (Inung/d)

HIV AIDS Bisakah Obat Herbal Sembuhkan HIV/AIDS ? Tolak Ukur Sembuh

Labels:

3 Desember 2014 0:25 WIB  
Ada pernyataan menarik dari Budhy Harnanto SH (Surat Pembaca SM 29 Nop 2014, hal 7) ’’Jamu Herbal untuk Obat HIV’’ bahwa temannya bisa sembuh dari HIV/AIDS berkat mengkonsumsi obat herbal selama 3 bulan.

Berat badan meningkat 15 kg, kulitnya kembali berwarna cerah, tidak tampak kalau baru saja sakit berat, penampilan menjadi lebih menarik (yang sebelumnya tampak mengerikan: kurus kering, agak kehitaman, dan hanya bisa berbaring di tempat tidur). Hasil tes laboratorium menunjukkan peningkatan angka CD4 menjadi 381 sel/ml dan tes viral load dinyatakan virus tidak terdeteksi (sebelumnya reaktif).

Yang menarik dari pernyataan tersebut adalah istilah telah ’’sembuh’’ dari HIV/AIDS. Istilah sembuh diartikan sebagai bebas dari gejala penyakit. Ada beberapa istilah ’’sembuh’’di dunia medis, antara lain: sembuh sempurna artinya hilang gejala dan penyebab penyakit. Misalnya: penyakit kulit yang disebabkan oleh alergi, setelah pengobatan dan menghindari penyebab alergi maka akan sembuh sempurna.

Sembuh sebagian dengan gejala sisa atau sembuh tapi tidak sempurna, seperti penyakit stroke, luka bakar, diabetes mellitus. Pada kasus penyakit AIDS (kumpulan gejala akibat penurunan daya tahan tubuh oleh virus HIV) bisa sembuh tapi tidak sempurna. 

Kumpulan gejala yang timbul akibat AIDS bisa dihilangkan (demam lama, batuk lama, diare lama, berat badan turun, kelainan kulit yang menghitam atau herpes kulit) akan tetapi virus HIV tetap ada di dalam tubuh, tidak bisa dihilangkan semua, namun jumlahnya dapat ditekan minimal. 

Walaupun hasil tes viral load (perbanyakan virus di darah) menunjukkan angka tidak terdeteksi, namun sesungguhnya virus HIV tetap ada di tubuh, namun bersemayam di limfonodi usus halus dan usus besar.

Di Amerika ada seorang bayi HIV positif dilahirkan dari ibu HIV positif bertahan hidup dengan pengobatan Antiretroviral (obat penekan virus HIV, yang selama ini dibagikan kepada ODHA) selama 25 tahun. Berhasil menikah dan punya anak satu dengan HIV negatif (anaknya tidak tertular), tapi setelah diperiksa antibodi HIV (tes untuk mengetahui status HIV) hasilnya tetap positif (reaktif). Di RSPN Cipto Mangunkusumo ada seorang mahasiswa (18 tahun) yang dulu lahir sebagai bayi HIV positif dan masih mengkonsumsi obat Antiretroviral sampai sekarang.

Hasil tes antibodi HIV ulangan tetap positif. Di RSUP Dr Kariadi kami sudah memberikan obat antiretroviral (obat ARV) selama 12 tahun dan mereka yang tetap setia mengkonsumsi obat tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan antibodi HIV juga tetap positif. Artinya, HIV/AIDS secara klinis terlihat ’’sembuh’’ karena penampilan klinisnya baik, tidak ada gejala infeksi oportunistik (infeksi yang sering menyerang pada kekebalan tubuh yang turun), berat badan kembali normal, bahkan banyak yang kegemukan (padahal awal pengobatan kurus kering), kekebalan tubuh CD4 meningkat, dan tes viral load HIV menjadi tidak terdeteksi. Obat Herbal Keberhasilan pengobatan pada pasien HIV/AIDS (ODHA) dimonitor dengan mengevaluasi tiga hal, secara klinis, immunologis, dan virologis. Secara klinis dimonitor berat badan, keluhan efek samping pengobatan, kemunculan penyakit infeksi oportunistik.

Secara immunologis dievaluasi kadar CD4 (parameter daya tahan tubuh) yang diperiksa rutin setiap 6 – 12 bulan sekali. Umumnya kadar CD4 akan meningkat secara bertahap yang menandakan kekebalan tubuh membaik karena berkurangnya serangan virus HIV. 

Secara virologis, idealnya diperiksa Viral Load HIV (perbanyakan virus HIV) setiap tahun untuk melihat seberapa banyak virus HIV melakukan replikasi (beranak pinak) di dalam tubuh pasien. Angka yang dihasilkan adalah sekian copi/ml darah. Diharapkan hasilnya tidak terdeteksi. Artinya virus tetap ada di dalam tubuh pasien, tapi bersembunyi di jaringan limfe usus, dan tetap melakukan perbanyakan diri namun minimal akibat ditekan oleh obat antiretroviral (ARV). 

Di RSUP Kariadi sudah ada alat untuk memeriksa Viral Load HIV. Pasien HIV/AIDS dinyatakan mengalami keberhasilan terapi apabila mengalami perbaikan klinis, imunologis dan virologis. 

Mengapa mereka berhasil mengalami perbaikan?

Karena mendapatkan pengobatan yang menyeluruh (komprehensif). Mulai dari dukungan keluarga yang baik, mengkonsumsi obat antiretroviral secara teratur, menjaga masukan gizi empat sehat lima sempurna, berkurangnya stigma dan diskriminasi, mempertahankan pola hidup sehat (meninggalkan kebiasaan tidak baik: tidak minum alkohol, perilaku seks yang sehat, menghindari rokok), sebagian mengkonsumsi obat herbal. 

Obat herbal yang beredar sekarang ini: buah merah dari papua, selenium, meniran (phyllanthus niruri L), kapsul kulit manggis, botrowali (Trinosphora crispa L NIERS), ramuan bahan tumbuhan asli Indonesia, hanya membantu memperbaiki secara imunologis (membantu meningkatkan kadar CD4), tapi tidak mempengaruhi pengurangan virus HIV. Banyak penelitian yang mengklaim bahwa dengan diberikan obat herbal akan meningkatkan kadar CD4.
Padahal perubahan kadar CD4 dipengaruhi banyak hal: kelelahan, kurang istirahat, kurang tidur, stress baik fisik (olahraga yang terlalu berat) maupun psikis, depresi, kehamilan, penyakit hipertensi, stroke, DM, TB Paru, dan infeksi berat Sepsis. 

Keberhasilan pengobatan HIV/AIDS tidak dapat diklaim sebagai keberhasilan pemberian obat herbal semata, sebab obat ini merupakan SUPLEMEN (tambahan terapi, bukan terapi utama) dalam pengobatan HIV/AIDS. Pengobatan penyakit infeksi termasuk HIV/AIDS harus meliputi host (orangnya), environtment (lingkungan) dan agent (penyebab penyakit, dalam hal ini virus HIV). Obat herbal hanya ditujukan untuk host/orangnya, sebab meningkatkan daya tahan tubuh.

Belum menyentuh ke agent (virus HIV) dan lingkungan (stigma dan diskriminasi, dukungan keluarga dan lain lain. Adapun pengobatan yang utama pasien HIV/AIDS adalah: minum obat antiretroviral (ARV) secara teratur setiap hari untuk menekan perbanyakan virus HIV, makanan yang bergizi empat sehat lima sempurna guna meningkatkan daya tahan tubuh, dukungan mental dari keluarga, serta mendekatkan diri kepada Allah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah perilaku hidup sehat. 

Sudah ada beberapa pasien HIV/AIDS yang mencoba meninggalkan obat Antiretroviral (ARV) yang selama ini dikonsumsi dengan beralih ke obat herbal saja.Ternyata dalam waktu satu atau dua tahun jumlah virus di dalam darah, yang semula tidak terdeteksi menjadi terdeteksi dan timbul infeksi oportunistik (infeksi ikutan), yang menyebabkan dirawat di rumah sakit lagi. Pada akhirnya meninggal dunia akibat serangan infeksi oportunistik yang tidak terkendali dan penurunan daya tahan tubuh akibat jumlah virus HIV yang meningkat lagi. Jadi, ada baiknya secara bijaksana menempatkan posisi obat herbal dalam pengobatan HIV/AIDS sebagai obat suplemen, bukan obat yang utama yang dapat ”menyembuhkan” penyakit HIV/AIDS. (11)

–– DR dr Muchlis AU Sofro, SpPD,KPTI, FINASIM, Pokja CST (Care Support Treatment) KPA Provinsi Jawa Tengah.

KEGIATAN