Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

KEMATIAN KARENA NARKOTIK DAN OBAT-OBAT HALUSINOGEN

Labels: , , ,

Obat-obat tersebut dibawah ini telah didiskusikan berdasarkan cara pandang patologis atas kasus-kasus fatal.

Morfin dan golongan opioid lainnya      568
Hasil toksikologi                                  569
Metadon                                             570
Halusinogen                                         571
Canabis                                               571
Amfetamin                                           571
Kokain                                                572

Obat-obatan tersebut dapat diabsorbsi secara oral, melalui IV, subkutan, atau suntikan IM, merokok, atau menghisap langsung secara inhalasi melalui hidung. Pada otopsi pemeriksaan sampel untuk toksikologi analisis pengerjaannya dilakukan sesuai dengan urutan yang ada. Campuran obat dan penambahan obat-obat non-narkotik umum terjadi, dan merupakan pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk mengetahui batas aman sampel bahkan jika pada pemeriksaan yang rutin telah diketahui dengan jelas. Contohnya, pada seorang pecandu yang meninggal “karena jarum suntik” dimana terdapat bekas injeksi intravena yang jelas terlihat bekas suntikannya masih tetap dilakukan pemeriksaan isi perutnya untuk investigasi. Sampel standar harus diambil, sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, membandingkan beberapa sampel darah vena (salah satu sampel ditambahkan fluorida), perut beserta isinya, hati dan urin. Pada beberapa keadaan, selain pengambilan sampel dari otak dan ginjal juga ditambahkan sampel dari kandung empedu, cairan serebrospinal, dan vitreous humor. Saat obat telah disuntikkan, akan meninggalkan tanda bekas suntikan dipermukaan kulit berbentuk elips, hingga kedalam jaringan subkutan sampai otot, bagian kulit ini harus dieksisi, beserta kulit sekitar bekas suntikan. Sebelum dikirim kelaboratorium potongan ini harus didinginkan jangan diberi formalin. Pemeriksaan histologi lengkap harus dilakukan terutama untuk obat-obat suntik, dimana kadang ditemukan adanya bahan-bahan asing seperti partikel emboli, khusunya diparu-paru. Pada pemeriksaan histologi, pulmonary granulomata dikenal dengan bentuk ‘mainlining’ pada pecandu obat-obat suntik. Dimana pembuluh kapiler paru menyaring keluar bahan partikel yang digunakan untuk dilusi aktif narkotik. Gambaran khas granulomata adalah talc, kadang ada giant cells. Dibawah cahaya lampu polarisasi, doubly refractile partikel  dapat terlihat pada bagian tengah nodul reaktif. Dikatakan bahwa siderophages juga meningkat diparu pada keadaan ini, dibanding dengan paru-paru pada orang muda yang sehat. Jika obat digunakan secara inhalasi melalui hidung seperti kokain dan heroin, dry swab dari kedua saluran hidung harus diambil.

MORFIN DAN GOLONGAN OPIOID LAINNYA

Morfin merupakan golongan opioid yang paling besar,selain golongan opium alam dan derivat lainnya. Dapat digunakan secara oral atau suntikan. Beberapa diantaranya seperti heroin dan opium digunakan sebagai rokok. Morfin sedikit diabsorbsi melalui traktus gastrointestinal; heroin dapat melalui mukosa hidung.

Golongan opioid diantaranya opium, morfin, heroin (diacetyl morphine), codein (dimethylmorphine),dihydrocodein(DF118), etorphine(Immobilon), metadon, papaverine, pethidine, dipipanone, dextromoramide, dextropropoxyphene, pentazocine, cyclazocine, diphenoxylate, buprenorphine, tramadol, fenatyl, dan yang lainnya.

PEMERIKSAAN OTOPSI

Penemuan otopsi pada mayat yang meninggal karena obat-obatan ini bersifat non-spesifik. Analisis toksikologi dan interpretasi ahli mengenai hasil toksikologi sangat penting untuk menemukan sebab kematian. Pertama adanya tanda bekas suntikan . pada mayat yang masih segar tanda bekas suntikan sama seperti bekas suntikan jarum saat terapi penyuntikan obat. Biasanya terletak dilengan , baik di fossa antecubital siku depan. Atau pada vena prominent lengan depan, atau tangan bagian dorsum. Kebanyakan pecandu lebih sering menyuntik ditangan kiri daripada yang kanan, namun pemakai yang kecanduan akan menggunakan tangan kanan dan kiri secara bergantian karena adanya scerosis vena. Saat lengan dan tangan telah terjadi trombosis dan scar, maka vena-vena didorsum kaki dapat digunakan. Yang jarang adalah pada daerah dinding abdomen secara subkutan. Suntikan jenis ini dikenal sebagai ‘skin popping’ yang bisa menyebabkan timbulnya sclerosis, nekrosis lemak, abses, dan bila suntikan terlalu dalam mengenai otot dapat timbul myositis kronik.

Tanda eksternal lain bisa berupa tato, bergambar yang tidak biasa dan berhubungan dengan subculture obat. Suatu type tato yang spesifik berupa angka seperti ‘13’, didaerah permukaan buccal (bagian dalam) bibir bawah. Pada pecandu kronik tato menutupi hampir seluruh tubuhnya, dan kadang ada tanda infeksi, berupa ulserasi kulit. Bekas suntikan yang lama kadang ditemukan adanya memar, dimana warnanya berbeda dengan memar yang baru saja terjadi. Pada vena dapat terjadi fibrosis berupa phlebitis, atau trombosis vena yang lama.

Saat kematian mendadak terjadi pada pecandu, dapat ditemukan edema paru. Edema paru ini kadang merupakan bentuk yang khas terjadi pada pengguna obat-obat opioid khususnya heroin. Edema dapat berupa blood-tinged, yang sukar dibedakan dengan edema karena tenggelam. 

Penyebabnya tidak diketahui tetapi biasanya karena alergi,sebuah penjelasan yang  kurang memuaskan .Ini telah diklaim bahwa ini kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh  pencampuran obat-obat seperti quinine tapi ini juga masih ragu-ragu.

Kematian dapat terjadi dengan cepat walaupun jarum masih dapat ditemukan di pembuluh darah ketika tubuh ditemukan di sebuah toilet umum atau kadang-kadang di tempat umum lainnya dimana kemudian dapat berubah menjadi tindakan kriminal yang berhubungan dengan kematian.

Tidak ada tanda-tanda yang spesifik pada autopsi .walaupun pada kenyataannya secara klinik ,kontriksi pupil merupakan sebuah tanda yang penting pada keracunan morfin,  setelah kematian dapat terjadi macam-macam perubahan pupil. Pupil mungkin menjadi kecil,dilatasi atau menjadi tidak sama sekali,yang digunakan untuk berbagai bentuk kematian ,jadi tidak ada tanda yang spesifik dan nyata pada keracunan opoid.

Diantara pemakai baru  pada kasus ketergantungan obat ,beberapa meninggal pada suntikan pertama dengan dosis parenteral heroin/morfin.Bentuk kematian dapat terjadi karena henti jantung yang diikuti oleh aritmia dan fibilasi ventrikel tapi tidak ada tanda-tanda keracunan morfin yang ditemukan .Ini mungkin berhubungan dengan sensitivitas miokardium terhadap katekolamin dari obat ,penyebab kuat yang serupa untuk reaksi yang mirip dengan penyebab kematian mendadak dari aborsi.

Aspek lain autopsi pada korban ketergantungan obat adalah resiko tertular infeksi bagi ahli patalogi dan staff kamar mayat.Pengguna dari kelompok resiko tinggi untuk hepatitis  B & C, HIV dan AIDS.Autopsi pada kasus seperti ini dibebankan pada perbedaan autoritas yang sah yang harus berubah lebar tapi ini adalah latihan umum untuk uji HIV dan hepatitis diambil sebelum autopsi kecuali jika rencana autopsi  dilakukan dengan teknik-teknik yang aman .Analisis laboratorium harus diberitahu bahwa sample resiko tinggi yang dikirim ke mereka dan beberapa mungkin segan untuk menangani contoh darah dan jaringan dengan tes serologi positif.Ahli patalogi dapat menolak untuk melakukan sebuah autopsy pada mayat yang dicurigai sampai ada laporan hasil negative dari contoh darah yang diambil.Jika positif untuk  virus hepatitis B &C dan terutama jika jika korban menunjukan tanda-tanda hepatitis seperti jaundice,kemudian banyak ahli patalogi akan mundur untuk melakukan sebuah autopsi kecuali jika ada alas an mendesak .

Pada  AIDS dan HIV positif ,beberapa opini dan latihan-latihan berubah sangat luas pada perkembangan pengetahuan yang sekarang.Ini menunjukan bahwa virus HIV tidak sama seperti kategori infeksi seperti hepatitis dan tidak ada kasus ditemukan  pada penularan post mortem walaupun dengan masa inkubasi yang  lama ;ini mungkin masih premature untuk menjadi puas ,karena masih banyak ahli patalogi forensikyang tidak memeriksa serologi HIV mereka.Walaupun autopsi pada pasien yang meninggal karena AIDS sudah sering dilakukan tapi ada perbedaan yang  potensi resiko autopsi dingin yang dilakukan pada kematian di rumah sakit  setelah 1 atau 2 hari dari ruang pendingin kamar myat dibandingkan autopsi yang dilakukan pada mayat yang masih hangat setelah beberapa jam perkiraan kematian .

Pemeriksaaan Toksikologi
                 
Seperti pada semua kematian karena zat-zat beracun,interpretasi hasil analisa laboratorium dapat menemukan kesulitan besar.Ini mungkin sebuah hambatan besar diantara  pendataan obat dan kematian  selama waktu darah ,urine  dan jaringan dapat menjadi kurang atau hilang .Beberapa obat hancur dengan cepat di dalam tubuh dan metaboliknya hanya dapat dikenali dari pendataan. Pada beberapa kasus,data pada dosis yang mematikan tidak sempurna diketahui dan variasi terbanyak pada penerimaan orang dapat memberikan konsentrasi rata-rata yang ditemukan pada sebuah kematian .

Seperti yang disebutkan di atas,beberapa orang mati mendadak setelah episode pertama pemakaian obat dosis normal karena beberapa penyakit mempunyai idiosinkrasi yang berbeda tiap orang dan analisa kuantitatif dapat tidak menolong.

Ketika telah timbul kebiasaan dan toleransi,pengguna obat dapat mempunyai konsentrasi obat pada cairan tubuh dan jaringan mereka yang jauh  lebih tinggi daripada dosis letal yang diberitahukan untuk yang tidak umum.Pada umumnya nilai  terbesar dari analisa toksikologi adalah kualitatif dan kuantitatif.Penulis akan menunjukan bahwa obat yang telah digunakan pada masa lalu;lamanya waktu  zat atau metabolitnya tetap melakukan di cairan yang berbeda dan jaringan yang berbeda luasnya .

Analisa kuantitatif dapat berguna ,khusunya ketika hasil-hasilnya mengumumkan level tinggi pada racun atau daerah kematian .Angka ini biasanya diperoleh dari survey  kematian terbanyak tetapi berbeda pada batas nilai minimum-maksimun dari laboratorium yang berbeda.Masalah idiosinkrasi dan toleransi menyebabkan diumumkan angka-angka untuk berbuat sebagai  sebuah tongkat yang umum dan kematian –kematian yang terjadi di luar daerah tidak dapat dimasukan dari yang disebabkan oleh zat, pada pertanyaannya jika beberapa faktor –faktor lain dapat dimasukan . Seperti faktor  -faktor yang dimasukan pada beberapa zat seperti alkohol atau keduanya ,penundaan kematian dan sensitivitas yang abnormal.

Pada akhirnya hasil analisa bukan merupakan hasil akhir dari penyebab kematian
meskipun itu adalah komponen penting dari kumpulan hasil investigasi.Ahli patologi berkewajiban untuk menghubungkan dan menginterpretasikan semua hasil yang didapat . Dia harus mencocokkan keadaan-keadaan seperti penyakit bawaan , trauma dan substansi beracun lainnya dengan hasil laboratorium , untuk menyimpulkan suatu penyebab kematian.

Hasil akhir dari pemeriksaan laboratorium toksikologi adalah penting pada proses ini,terutama hubungannya untuk mengetahui penyebab kematian dan zat-zat yang dipakai tetapi analisa tidak harus menjadi satu-satunya hasil akhir untuk menentukan penyebab kematian.

Penyebabnya tidak diketahui tetapi biasanya karena alergi,sebuah penjelasan yang  kurang memuaskan .Ini telah diklaim bahwa ini kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh  pencampuran obat-obat seperti quinine tapi ini juga masih ragu-ragu.

Kematian dapat terjadi dengan cepat walaupun jarum masih dapat ditemukan di pembuluh darah ketika tubuh ditemukan di sebuah toilet umum atau kadang-kadang di tempat umum lainnya dimana kemudian dapat berubah menjadi tindakan kriminal yang berhubungan dengan kematian.

Tidak ada tanda-tanda yang spesifik pada autopsi .walaupun pada kenyataannya secara klinik ,kontriksi pupil merupakan sebuah tanda yang penting pada keracunan morfin,  setelah kematian dapat terjadi macam-macam perubahan pupil. Pupil mungkin menjadi kecil,dilatasi atau menjadi tidak sama sekali,yang digunakan untuk berbagai bentuk kematian ,jadi tidak ada tanda yang spesifik dan nyata pada keracunan opoid.

Diantara pemakai baru  pada kasus ketergantungan obat ,beberapa meninggal pada suntikan pertama dengan dosis parenteral heroin/morfin.Bentuk kematian dapat terjadi karena henti jantung yang diikuti oleh aritmia dan fibilasi ventrikel tapi tidak ada tanda-tanda keracunan morfin yang ditemukan .Ini mungkin berhubungan dengan sensitivitas miokardium terhadap katekolamin dari obat ,penyebab kuat yang serupa untuk reaksi yang mirip dengan penyebab kematian mendadak dari aborsi.

Aspek lain autopsi pada korban ketergantungan obat adalah resiko tertular infeksi bagi ahli patalogi dan staff kamar mayat.Pengguna dari kelompok resiko tinggi untuk hepatitis  B & C, HIV dan AIDS.Autopsi pada kasus seperti ini dibebankan pada perbedaan autoritas yang sah yang harus berubah lebar tapi ini adalah latihan umum untuk uji HIV dan hepatitis diambil sebelum autopsi kecuali jika rencana autopsi  dilakukan dengan teknik-teknik yang aman .Analisis laboratorium harus diberitahu bahwa sample resiko tinggi yang dikirim ke mereka dan beberapa mungkin segan untuk menangani contoh darah dan jaringan dengan tes serologi positif.Ahli patalogi dapat menolak untuk melakukan sebuah autopsy pada mayat yang dicurigai sampai ada laporan hasil negative dari contoh darah yang diambil.Jika positif untuk  virus hepatitis B &C dan terutama jika jika korban menunjukan tanda-tanda hepatitis seperti jaundice,kemudian banyak ahli patalogi akan mundur untuk melakukan sebuah autopsi kecuali jika ada alas an mendesak .

Pada  AIDS dan HIV positif ,beberapa opini dan latihan-latihan berubah sangat luas pada perkembangan pengetahuan yang sekarang.Ini menunjukan bahwa virus HIV tidak sama seperti kategori infeksi seperti hepatitis dan tidak ada kasus ditemukan  pada penularan post mortem walaupun dengan masa inkubasi yang  lama ;ini mungkin masih premature untuk menjadi puas ,karena masih banyak ahli patalogi forensikyang tidak memeriksa serologi HIV mereka.Walaupun autopsi pada pasien yang meninggal karena AIDS sudah sering dilakukan tapi ada perbedaan yang  potensi resiko autopsi dingin yang dilakukan pada kematian di rumah sakit  setelah 1 atau 2 hari dari ruang pendingin kamar myat dibandingkan autopsi yang dilakukan pada mayat yang masih hangat setelah beberapa jam perkiraan.

Methadone

Methadone telah dibuat untuk digunakan terutama sebagai perawatan pada ketergantungan pemakaian heroin, tapi sayangnya, pada kenyataannya digunakan untuk menggantikan pada ketergantungan yang lain, walapun agak sedikit mematikan, pengalaman baru-baru ini di scotlandia telah menunjukkan bahwa kematian karena penyebab methadone mungkin disebabkan karena penggunaan heroin, yang seharusnya dulunyanya digunakan untuk penggantian. Secara medical penggunaaan methadone adalah untuk penahan sakit dan lebih baik dibandingkan morphine. Oleh karena itu penggunaaanya lebih baik diminum(oral) dibandingkan dengan suntikan (injeksi). Bagaimananapun juga  Methadone memilik dosis yang kuat dan kahasiatnya sebagai obat penenang  yang sering kali tidak nyaman.dan sebetulnya methadone memilih daya candu (ketergantungan) yang sama dengan epioids.

Banyak penyebab kematian terjadi karena penyalahgunaan obat ini, ketika secara logis methadone didapatkan untuk menggantikan ketergantungan dari heroin atau biasa didapatkan dipasar gelap. Kebanyakan kematian dikarenakan methadone diminum melebihi batas dari apa yang dianjurkan, bahkan untuk penggunaan methadone kurang dari 50 mg dapat membawa maut pada penderita yang menggunakannnya sebagai obat pengganti untuk perawatan.

Pada contoh post mortem, Ginjal memiliki konsentrasi yang paling tinggi. Tingkat yang paling fatal ditemukan pada analisis pasien yang memiliki kelebihan pada penggunanaan dosis untuk penggantian heroin, sehingga membuat penafisaran yang sulit, tingkat darah seperti yang ditunjukkan  oleh 10 kasus yang  Fatal Manning -  Mean 1.0/mg/1 (berkisar  0.1-1.8); liver – mean 3.8 mg/1(berkisar 1.8-7.5); bile-mean 7.5 mg/1 (berkisar 2.9-19.00 dan otak ; mean 1.0 mg/1 (berkisar 0.5-1.4).
  
      Baselt
Stead dan Moffat

Jarak
Rata-rata

Heroin
Darah
Urin
Empedu

0.05-3.0
0.7-86
3.2-119

0.3-0.4
5-18
32

>0.1 (rata2 0.43)
Morphine
Darah
Urin
Hati

0.2-2.3
14-18
0.4-18

0.7
3.0
52

>0.2 (rata2 0.7)
Kokain
Darah
Urin
Hati

0.9-21
1.4-215
0.1-20

5.2
47
4.3

3.1 (satu kasus)
Amphetamin
Darah
Urin
Hati

0.5-41
25-700
4.3-74

8.6
237
30

>0.5
Phencyclidine
Darah
Urin
Hati

0.3-25
0.4-120
0.9-170

4.8
35
23

>0.3(rata2 2.9)
Pethidin Oral
Darah
Urin
Hati

8-20
150
5-10

12
150
7

>2 (rata2 14)
Tabel 32.1 Konsentrasi obat-obatan narkotik dalam darah dan jaringan (mg/l atau kg) dari macam variasi fatal


Halusinogen
Sebagian obat-obatan hallucinogens merupakan penyebab utama kematian, tapi sebagian lagi mungkin akan menyebabkan trauma akan kematian, sebab pada orang yang mempunyai tingkah laku yang tidak normal yang mungkin diluar kesadaran mereka. Contohnya, korban LSD “trip” mungkin diluar pengaruhnya membuat mereka dapat terbang dan jadi membayangkan diri mereka terbang tinggi keluar dari jendela, sebagian obat bius memiliki efek racun yang langsung bereaksi, sehingga sama seperti kebanyakan obat bius memiliki daya ketergantungan. Otopsi dilapangan menemukan hasilnya akan negative atau tidak sama sekali.

Phensiklidin
Secara kimia phensiklidin adalah 1-(-phenylcyckohexyl) piperidine, hydochloride, dikenal sebagai PCP atau “debu mailakat” sama dengan kebanyakan sebutan lainnya. Ini sering digunakan pada campuran ketergantungan obat  bius. Jumlah kematian telah dilaporkan karena penggunaan obat tersebut. Berbagai macam cara termasuk hypertermia, intracranial haemorrhage dan kerusakan tinggi pada jantung.
Phencyclidine diekskresi di urine dalam  jangka waktu yang lama sampai  dan contoh otopsi bisa positif selama lebih dari seminggu

Diethilamid Asam Lisergat
Dikenal dengan nama LSD, yang diambil dari akronim bahasa jerman “lyserge saure diethylamid” adalah hallucinogenic yang sangat kuat, yang tidak akan fatal untuk dirinya sendiri, seperti yang disebutkan diatas. Ini sebuah kata lain dari indolealkaloid, yang terdapat pada anggota yang lain yang memiliki psilocybin dan psieocin, yang mengandung jamur mexico (psilocybe mexicana)
Mescaline, diperoleh dari kaktus, Laphophora williamsii  di centrak America, yang secara kimia trimethoxyphenethylamine, sekali lagi tidak terdapat zat yang mematikan.

Kanabis
Cannabis, dengan segala jenis sebutan pada setiap setiap negara yang berbeda, memiliki setidaknya sejenis kima aktif, yang paling penting adalah satu satu dari tetrahydrocannabinols. Jadi akibatnya menjadi masalah yang merupakan kontroversi, kelihatannya menjadi ketentuan umum yang digunakan sendiri, masalah kematian sendiri tidak dapat  disalahkan, bukti –bukti yang dapat dihasilkan cannabis adalah analisa dari urine, darah dan swab dari jari dan bibir.

Amphetamin
Sekarang jarang digunakan pada praktek klinik dikarenakan mempunyai efek samping yang tidak menyenangkan, jenis-jenis obat bius amphetamine telah dipergunakan untuk menghilangkan kelelahan dan untuk menghilangkan nafsu makan. Methylamphetamine sulphate dan dexamphetamine merupakan amphetamine itu sendiri, dan apakah masih banyak tersedia di pasar-pasar gelap. Kematian adalah sesuatu yang tidak biasa dari kelebihan pemakain amphetamineitu sendiri. Sebuah proses otopsi tidak akan menemukan bagian-bagian yang spesifik kemungkinan perdarahan subarachnoid otak dari hypertensi induced.

Data-data dari bagian keracunan menyarankan bahwa setelah terapi dosis 10 mg, konsentrasi dalam darah selama 2 jam akan menjadi 0.035 mg/l, setelah 30 mg, kadar puncak plasma menjadi kira-kira 0.11 mg/l ini terjadi sekitar 2 sampai 5 jam, dan berkurang menjadi 0.084 mg/l pada 4,5 jam. Penderita kronik yang  mengkonsumsi lebiih banyak  kadar dalam  darah sampai 2-3 mg/l. Penderita fatal yang jarang terjadi, terdapat berkisar yang lebar dari kadar dalam  darah pada pada saat otopsi dilakukan, dari mula 0.5 sampai 41 mg/l (tingkat rata-rata 8.6) tergantung dari ukuran kelebihan dosis dan waktunya sampai meninggal. Biasanya kadar dalam hati pada 474 mg/kg (rata-rata 30) dan ekskresi urine, berkisar dari 25 sampai 700 mg/l dengan kadar rata-rata 237 mg/l.

METILENDIOKSIMETAMFETAMIN (MDMA) ATAU EKSTASI
Dalam beberapa tahun terakhir, derivate amfetamin yang baru telah disalahgunakan oleh para pecandu obat meskipun obat-obatan tersebut telah digunakan dalam bidang kedokteran dalam beberapa tahun. Yang paling sering disalahgunakan adalah MDMA (3,4-metilendioksimetamfetamin), dikenal sebagai ‘ekstasi’, ‘XTC’ atau ‘ADAM’. Golongan lain dari derivate ini adalah MDA (metal 3,4-metilendioksiamfetamin) dan MDM (n-metil-MDA). MDMA atau ekstasi ditemukan beberapa tahun yang lalu, yaitu tahun 1914 dan untuk beberapa waktu telah digunakan sebagai fisikoterapi. Akhir-akhir ini digunakan sebagai obat halusinogen illegal, dan meskipun telah menyebabkan kematian, obat ini dilaporkan masih sering digunakan baik di Amerika Serikat maupun Britain. Pada autopsi yang dilakukan oleh penulis pada seorang mayat laki-laki yang telah menelan ekstasi tidak ditemukan adanya tanda kongesti sianosis umum dan akhirnya didiagnosa sebagai bukti toksikologi.

Sejak edisi pertama buku ini, kematian akibat MDMA biasanya terjadi pada orang muda, terutama pada pesta ‘rave’ : hipertermi, dehidrasi dan miositolisis adalah beberapa efek dari obat yang fatal.

KOKAIN

Seperti halnya heroin, kokain dan beberapa obat yang berhubungan telah menimbulkan masalah yang mana mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kematian. Karena kokain langsung dihancurkan bila diminum, maka orang lebih cenderung menggunakannya dengan cara disuntik atau dihisap. Akhir-akhir ini telah dilaporkan kematian akibat absorpsi via rectum.  Pada beberapa waktu, pemakai kokain meninggal akibat overdosis kokain. Di India, para pelacur telah menggunakan kokain pada vagina mereka.

Pada daerah dimana banyak terdapat pecandu kokain, kematian yang signifikan dihubungkan dengan penggunaan narkotik. Dari laporan Morild dan Stajic di New York, dari 103 kematian, toksikologi membuktikan bahwa 64 kematian adalah akibat kokain. Penelitian memperkirakan pemakaian kokain selama masa maternal menyebabkan terjadinya abruption placentae dan aborsi.

Kematian telah dicatat akibat menggunakan kokain sebanyak 20-30 mg di hidung tetapi apabila dipakai sebanyak segram di mulut tidak membahayakan. Seperti narkotik lainnya, toleransi terjadi pada pemakai kronis, membuat batasan level dosis yang berbahaya jadi lebih sulit. Dosis intravena sebanyak 100 mg, 10 kali lebih sering menyebabkan dosis letal, meskipun pada para pecandu kokain dosis ini dapat ditoleransi. Absorpsi via hidung kurang efektif dan membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mencapai efek yang sama dengan penggunaan secara parenteral. Ulserasi dan perforasi pada septum hidung jarang ditemukan pada pengguna kronik. Kematian mungkin terjadi akibat hipersensitivitas atau overdosis kokain. Hal ini terjadi akibat mati mendadak yang disebabkan oleh cardiac arrest yang biasanya terjadi pada pemakai pemula.

Tidak ada gambaran spesifik pada autopsy. Oedem pulmoner yang biasanya ditemukan pada kematian akibat pemakaian heroin tidak ditemukan pada kematian akibat kokain, meskipun kematiannya akibat disritmia.

Kokain bekerja merangsang system saraf otonom. Tekanan darah dapat tiba-tiba naik mendadak kadang-kadang melebihi 300 mmHg sehingga dapat menyebabkan perdarahan otak.

Sama seperti opioid, hasil autopsy dapat memperlihatkan beberapa komplikasi dari penggunaan kokain dengan menggunakan jarum suntik, salah satunya adalah penularan penyakit infeksi HIV dan hepatitis. Beberapa tahun belakangan, di New York dan California, penularan malaria melalui jarum suntik menjadi salah satu masalah yang menimpa para pecandu kokain yang menggunakan syringe dan jarum suntik secara bersama-sama. Salah satu cara untuk mengobati Plasmodium yang merupakan penyebab malaria adalah dengan menggunakan kina.

Infeksi piogenik juga sering terjadi dan biasanya ditemukan dengan adanya phlebitis dan abses emboli. Ulserasi dapat terjadi di tempat suntikan sehingga dapat menyebabkan timbulnya limfadenitis regional, tetapi sekuele yang paling membahayakan adalah terjadinya endocarditis. Pada endokarditis karena infeksi piogenik ini dapat menyerang katup jantung manapun termasuk pada bagian kanan jantung, berbeda dengan endocarditis pasca reumatik yang biasanya tidak terpengaruh.

Banyak organisme yang menyebabkan infeksi ini, antara lain Streptokokkus hemolitikus dan non hemolitikus, Streptokokkus fekalis, Stefilokokkus aueus, Pseudomonas aeoginosa serta beberapa jamur. Kultur darah post mortem biasanya menunjukkan adanya infeksi campuran dari organisme-organisme tersebut. Untuk menentukan organisme mana yang paling dominant menyebabkan infeksi adalah sulit, tetapi ada cara yang signifikan untuk mencarinya, yaitu dengan  mencari organisme mana yang paling banyak pertumbuhannya. Pendapat dokter mikrobiologi harus dicantumkan apabila terlihat kultur darah yang positif.

Obat apapun yang digunakan secara intravena biasanya terdiri dari starch atau talk yang mana dapat menyebabkan timbulnya granulomata benda asing di paru, dimana komponen yang tidak larut biasanya disaring dalam pembuluh darah pulmoner. Granulomata adalah karakteristik untuk pecandu obat yang menggunakan obat secara intravena, dan biasanya elemen refraktil dari granulomata ini mudah terlihat dalam mikroskop.

Karena kokain sering digunakan dengan cara dihirup, swab harus selalu diambil dari setiap hidung dengan menggunakan swab cotton-wool.Swab yang tidak lazim harus dikirim ke laboratorium untuk digunakan sebagai control. Sejumlah sample lain adalah darah, urin, isi perut, hati dan cairan vitreus harus secara rutin diambil ketika autopsy. Menurut Baselt, kadar kokain dalam darah yang dapat membahayakan tubuh adalah sekitar 1 sampai 21 mg/L dengan mean 5,2 mg/L.

info terkait : 

Methadone sebabkan 30 persen Kematian