Assalamu`alaikum wr.wb.

PANTI HIDAYAH - melayani Terapi dan Rehabilitasi Pecandu NARKOBA baik kasus baru atau menahun, Insya Allah dengan metode MULTI THERAPI kami, pecandu narkoba bisa di sembuhkan dalam waktu relatif singkat 2 - 3 bulan pengobatan, bukan bertahun-tahun.

Atas Ijin Allah banyak pasien kami yang telah sembuh tuntas dari Jawa dan Luar Pulau Jawa.
Bisa Pengobatan JARAK JAUH / RAWAT JALAN, pasien tidak harus datang , tidak harus meninggalkan pekerjaan .

Bila sudah berobat tidak kunjung sembuh , sakaw, halusinasi , ingin sembuh dari ketergantungan metadhon segera hubungi kami. SERIUS BEROBAT HUBUNGI KAMI 0858 6941 2009 / 0823 3222 2009 terimakasih tidak SMS PANGGILAN PERTEMUAN DI JAKARATA setiap minggu






Operasi Batu Empedu , BIAYA OPERASI BATU EMPEDU

Labels:

JAKARTA-- Teknologi medis terus berkembang termasuk metode dan teknik operasi yang digunakan. Salah satunya, metode untuk mengatasi gangguan empedu akut. 

Teknik operasi konvensional bukan lagi pilihan satu-satunya. Kini,pasien bisa memilih teknik yang menawarkan jaminan efektifitas dan efisiensi atasi gangguan akut empedu. 
Teknik bedah yang diberi nama Laparoskopi atau bedah invasif minimal ini telah menjadi buah bibir dunia kedokteran diawal tahun 1990-an. 
Berbeda dengan teknik bedah konvensional yang mengandalkan kejelian teknik menyayat dokter ahli bedah, teknik itu membutuhkan bantuan teknologi seperti kamera endokopis, monitor dan instrumen-instrumen khusus. Teknik bedah Laparoskopi tidak membutuhkan sayatan lebar dalam melakukan eksplorasi. Bagian tubuh pasien yang disayat hanya sepanjang 0.2-2 cm pada empat titik hingga membentuk pola jajaran genjang. Nantinya, kamera mini dimasukan ke dalam bagian pusar. Kamera itu yang akan memandu dokter melihat posisi empedu. 

Sementara, tiga titik lain digunakan untuk memasukan alat pencapit (tokar) yang mengantikan fungsi pisau dan gunting pada bedah konvensional. Ahli bedah Teknik Laporoskopi sekaligus founding Fathers teknik Lapaorskopi di Indonesia, Dr. Hermansyur Kartowisatro menyatakan teknik bedah invasif minimal sekarang telah menjadi gold standar dari berbagai macam operasi seperti kelainan empedu, appenditis akut dan penyakit berat lain yang membutuhkan tingkat efisiensi maksimal. "Saat pengangkatan empedu misalnya, penggunaan teknik bedah konvensional tidak memungkinkan dokter melihat seluruh bagian organ tubuh. Gerak dokter begitu terbatas, hal ini yang kerap menimbulkan kesulitan. 

Berbeda dengan teknik bedah Laparoskopi. Teknik ini memungkinkan dokter dengan jarak yang lebih dekat bisa menjangkau seluruh organ dengan arahan yang jelas," ungkapnya kepada Republika Online, Kamis (6/8). 

Keunggulan 

Selain menawarkan gerak dokter yang begitu luas, teknik bedah laparoskopi dikatakan Hermansyur juga memiliki keunggulan-keunggulan lain seperti, teknik bedah laparoskopi bersifat kosmetik pada penggangkatan empedu (cholecystectomy) yaitu 2 cm pada epigastrium, 1.5-2 cm pada umbilicus dan 0.5 cm pada sebela kanan abdominal. Titik-titik tersebut membentuk pola jajaran genjang pada tubuh. Berbeda dengan operasi konvensional yang membutuhkan sayatan yang dalam dan lebar. 

Saat menjalani operasi, pasien tidak diberikan analgetik dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan sayatan hanya berkisar antara 0.2-2 cm sehingga kemungkinan rasa sakit pada pasien berkurang. Masalah pasca operasi, teknik bedah Laparoskopi ini memungkinkan tidak munculnya bekas (scar) pada bedah. Insisi atau toorehan kecil untuk maksuknya trokar (alat operasi) memang membutuhkan benang untuk menjahit .Karena kategori luka terhitung kecil, resiko infeksi juga kecil. 

Terkait masa penyembuhan, pasien tidak membutuhkan waktu lama. Teknik bedah ini menjamin waktu rawat psien hanya berlangsung tiga hari hingga menurunkan biaya rumah sakit. "Rata-rata masa penyembuhan pasien bedah konvensional membutuhkan waktu 6.75 hari sedangkan pasien yang menggunakan bedah Laparoskopi hanya 2.75 hari. Ini kan bedanya sangat signifikan,pasien pun bisa menekan biaya rumah sakit dan pengobatnya," jelasnya.

Keunggulan lainnya, masalah pendarahan yang kerap terjadi pada pengangkatan empedu dapat diminimalisir oleh teknik bedah ini."Resiko pendarahan memang sulit dihindari mengingat posisi anatomi empedu. Perlu diperhatikan disini, teknik bedah laparoskopi memungkinkan resiko pendarahan bisa ditekan," ujar Hemansyur
Proses Operasi

Setelah pasien batu empedu akut didiagnosa dokter untuk segera diangkat melalui operasi, maka proses pengangkatan pun dimulai. Langkah pertama yang dilakukan membuat empat titik pada bagian epigastrum, umbilicus dan sebelah kanan abdominal. Khusus memasukan alat kamera endoskopis, dokter melalui jalur pusar. Tahapan selanjutnya, masukan alat pencapit (tokar) pada tiga bagian. Tokar pertama mencari posisi empedu. Tokar kedua dan ketiga menjadi penganti tangan dokter. Pada pasien dengan pembuluh darah yang mengecil, lemak menempel pada empedu. Hal ini disebabkan lemak melihat infeksi pada empedu. Langkah pembersihan lemak dilakukan dokter dengan memberi pemanas pada tokar. Pemanas ini mencegah pendarahan berlebih saat mengelupas lemak. Usai membersihkan lemak, dokter kemudian mencari saluran yang menghubungkan antara empedu dan lever. Saluran tersebut dipotong dan dikaitkan dengan menggunakan semacam perekat plastik. "Biasanya memang menggunakan bahan yang terbuat dari bahan tembaga namun penggunaan plastik jauh lebih efektif, " tutur Hermansyur.Usai memotong saluran, pengangkatan pun dilakukan. Empedu pun ditarik dan dikeluarkan melalui salah satu titik terdekat. Keseluruhan proses operasi memakan waktu dua-tiga jam. Meski terlihat sederhana, Hermansyur menyatakan operasi pengangkatan empedu tidaklah mudah. Posisi empedu yang sulit diprediksi menjadi kesulitan tersendiri bagi para dokter."operasi ini sama berbahayanya dengan jenis operasi lain," tuturnya. Hermansyur menjelaskan, pengangkatan empedu menggunakan teknik laparoskopis bisa mengalami kegagalan walau prosentasenya kecil. "Hanya 10% teknik bedah ini mengalami kegagalan. Ada kemungkinan empedu terikat saluran. Dengan mempertimbangkan keselamatan pasien dilakukan pola operasi konvensional," tegasnya. 

Biaya Operasi

Terkait biaya, pasien harus membayar 20-30 juta rupiah. Faktor pemeliharaan alat-alat operasi menjadi perhitungan tersendiri. Dikatakan Hermasnyur, terdapat alat-alat operasi yang hanya bisa dipakai satu kali operasi saja. Sudah bisa ditebak, harga alat tersebut bisa mencapai jutaan rupiah. Meski begitu Hermansyur bisa menjamin bahwa biaya operasi laparoskopis dengan konvensional tidak jauh berbeda. "Dari segi level biaya operasi, Memang operasi bedah konvensional berada dibawah Laparoskopi. Tapi itu belum dihitung biaya tambahan rumah sakit dan obat. Karena itulah secara keseluruhan tak berbeda jauh,"   (cr2/rin) 

sumber : www.republika.co.id