®

®





Prof. Purbayu Budi Santosa : Debat Keilmiahan tentang Rokok

Labels: ,

Kamis, 03 May 2012 15:27
fe.undip.ac.id - Industri rokok dituduh telah membayari para ilmuwan untuk membantah efek negatif rokok dalam kesehatan. Industri rokok juga dinilai memanfaatkan kelemahan dalam koordinasi pemerintah sehingga dapat berkelit dari Undang-undang Kesehatan. Hal ini disampaikan Deputi Program IAKMI Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI), Kartono Mohamad  dalam diskusi dan peluncuran buku A Giant Pack of Lies:Mengungkap Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia oleh FKM Undip (Suara Merdeka, 4 April 2012).

Tududah tersebut sekiranya benar adanya, maka menurut kaidah akademik ternyata telah terjadi pelanggaran profesi ilmuwan. Pelacuran akademik telah terjadi karena sifat ilmuwan adalah harus jujur, membela kebenaran dan ilmu yang ada untuk kesejahteraan masyarakat. Ilmuwan macam apa yang dengan segepok uang barangkali dapat meloloskan sesuatu yang semestinya merugikan, akan tetapi hasilnya menjadi berkebalikan.

Dari sejarah kita dapat belajar bagaimana para ilmuwan karena mempertahankan kebenaran ilmiah, berujung pada kematian. Sebagai misal, Socrates dan Galileo menentang arus berfikir umum dan para penguasa, sehingga karena tidak mau mencabut pendapatnya, maka mereganglah nyawa dua ilmuwan tersebut. Alasan yang mendasari ilmuwan tersebut, adalah membela kebenaran meskipun kematian menjemputnya, sebagai pembelajaran dan juga pencerahan bagi masyarakat umum terlebih para ilmuwan untuk mempertahankan tujuan asasi dari ilmu pengetahuan.

Pertanyaan yang menarik benarkah industri rokok membayar ilmuwan untuk membantah efek negatif rokok dalam kesehatan ? Pertanyaan ini jujur sulit dijawab, karena perkara ada tidaknya transaksi uang untuk ilmuwan membantah bahaya kesehatan merokok, memang sangat tergantung kepada pihak-pihak yang terkait. Apakah ini sudah memasuki ranah kriminalitas yang berimplikasi kepada pelanggaran hukum atau sekedar masalah pelanggaran etika dan moralitas ilmiah, memang perlu pengkajian yang mendalam.

Sebagai teladan, industri rokok yang membela diri dengan menyewa ilmuwan untuk melakukan apa benar dampak rokok benar-benar merugikan kesehatan? Kalau ilmuwan tersebut dengan hasil penelitiannya memang benar-benar obyektif menyatakan rokok tidak menyebabkan dampak kesehatan bagi masyarakat dengan alasan yang logis diterima secara ilmiah, maka penelitian tersebut tentunya benar secara akademik. Kebenaran tersebut dilihat pada bagaimana cara mengadakan penelitian, kehandalan alat analisis dan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan.

Sebaliknya kalau hasilnya memang secara kaidah akademik adalah tidak benar, maka tuduhan menyewa para peneliti untuk melawan pendapat sebelumnya bahwa rokok menyebabkan bahaya bagi kesehatan masyarakat benar adanya. Pihak-pihak yang melakukan pelanggaran kaidah akademik tersebut, dapat diberikan sangsi akademik bahwa telah melakukan kejahatan akademik, yang berdampak pada kerugian masyarakat secara umum.

Jenis Rokok

Sebenarnya jenis rokok adalah beragam ada rokok kretek, rokok putih dan terakhir yang lagi naik daun adalah isu rokok devine (devine cigarette). Pertanyaan yang menarik adalah yang dikemukakan oleh Deputi Program TCSC-IAKMI adalah rokok yang mana dan pengaruhnya apakah dapat diperlakukan secara umum baik untuk berbagai jenis rokok tersebut maupun untuk golongan umur maupun pengklasifikasian lainnya?

Kalau melihat kepada segi historis lahirnya rokok kretek tidak terlepas dari peran Haji Djamahri asal Kudus yang suatu ketika menderita penyakit dada dan cukup lama dideritanya.  Untuk mengobati penyakitnya, ia mencoba memakai minyak cengkeh digosokkan ke bagian dada dan punggungnya.  Ternyata kondisinya membaik sekalipun belum sembuh sama sekali.  Selanjutnya ia mencoba mengunyah cengkeh hasilnya jauh lebih baik, hingga kemudian terlintas dalam pikirannya untuk memakai cengkeh sebagai obat.  Adapun caranya, cengkeh dirajang halus kemudian dicampurkan kepada tembakau yang dipakainya untuk merokok.

Dengan cara ini ia bisa menghisap asapnya sampai masuk ke dalam paru-parunya.  Hasilnya seperti yang diharapkan, penyakit dadanya menjadi sembuh.  Cara pengobatan ini dengan cepat menyebar di seluruh daerah sekitar tempat tinggalnya.  Teman-teman dan kerabatnya beramai-ramai meminta rokok yang dihisapnya.  Mereka ternyata merasakan kenikmatan yang luar biasa.  Karena demikian banyaknya permintaan, Haji Djamahri terpaksa membuatnya dalam jumlah yang banyak.  Demikianlah suatu barang yang semula dimaksudkan sebagai obat, dalam waktu singkat telah menjadi cikal bakal berdirinya industri rokok kretek, yang semula dari kota Kudus.

Pada awalnya penduduk Kudus menyebut jenis rokok baru hasil penemuan Haji Djamahri dengan sebutan “rokok cengkeh.”  Akan tetapi oleh karena jika dihisap rokok ini menimbulkan bunyi “kretek-kretek” seperti bunyi daun kering dibakar (dalam bahasa Jawa disebut “kumretek”), sebagai akibat pemakaian rajangan cengkeh untuk campuran tembakau, maka akhirnya jenis rokok ini dikenal dengan sebutan “rokok kretek” (Hasyim Asy’ari, 2005).

Apakah rokok kretek yang semula dianggap sebagai obat penyakit dada, sekarang ini justru menyebabkan bahaya kesehatan ? Atau justru yang menyebabkan kesehatan justru rokok putih ? Atau tuduhan tersebut mengarah kepada rokok devine yang diketemukan oleh Dr. Gretha dari Unpar Bandung dan diperkuat oleh Prof Dr. Sutiman dari UB (Universitas Brawijaya) dan tokoh Jawa Tengah adalah Prof Dr Sarjadi dari Undip ?

Terhadap rokok devine meskipun banyak ilmuwan yang meragukan kebenarannya, akan tetapi penemuan tersebut menjadi terkenal di masyarakat. Bersama dengan balur kopi dan balur pada seluruh badan, pada berbagai balai pengobatan di berbagai kota penuh sesak para pasien penyakit berat, seperti penyakit kanker, stroke, maupun berbagai penyakit berat lainnya.

Bahkan penemuan Dr. Gretha dan kawan-kawan sekarang sedang diusulkan untuk memperoleh hadiah nobel karena ternyata rokok yang dianggap berbahaya dengan teknologi nano sebagai bidang kajian ilmu fisika dan kimia, ternyata secara ilmiah dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Kalau temuannya benar, barangkali beliau dapat mengangkat komoditas dengan kearifan lokal tertentu, sebagai jalan buntu mengatasi komoditas rokok yang penuh kontroversi.

Kontroversi komoditas rokok satu pihak menuduh menyebabkan bahaya bagi kesehatan, akan tetapi pihak yang mengusung ini dapat disangka dipakai sebagai pion untuk menjatuhkan industri rokok nasional dan sebagai agen penjualan obat anti ketergantungan rokok yang sudah diproduksi besar-besaran oleh Perusahaan Multi Nasional (MNC). Sekiranya obat ini tidak dapat laku beberapa besar kerugian yang diderita, padahal kekayaannya bisa jadi lebih besar dari Pendapatan Nasional beberapa negara berkembang. Dengan kekayaan yang berlimpah darinya, tentunya  berbagai perbuatan apa saja mungkin saja dilakukan.

Kontroversi lainnya, adalah bagi negara industri rokok dengan cukainya merupakan pendapatan yang besar dalam mendukung penerimaan negara. Belum lagi dari keterkaitan ke belakang dan ke depan, maka berapa tenaga kerja yang dapat terserap dari usaha agribisnis rokok kretek. Di satu sisi negara membutuhkan dana dari cukai, di sisi lainnya karena tekanan internasional seolah melegalkan rokok menyebabkan bahaya kesehatan.

Pemecahan terhadap masalah ini adalah perlunya kajian mendasar sebenarnya rokok mana yang menyebabkan bahaya kesehatan dan tingkat bahaya bagi berbagai golongan umur. Kebenaran ilmiah yang disoroti oleh nilai aksiologi ilmu yang berupa kebenaran dan kemanfaatan bagi masyarat, kiranya dapat menjadi pedoman dalam menentukan terjadinya pelanggaran akademik atau tidak. Kejujuran termasuk kejujuran ilmiah  yang disinari oleh etika dan moralitas sekarang ini menjadi begitu berharga.

Purbayu Budi Santosa adalah guru besar FEB Undip, pengampu Filsafat Ilmu.
Dimuat di WAWASAN, 28 April 2012