Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Penyakit HIV AIDS di BALI

Labels:

aw09
Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III,SE(MTRU),M.Si
Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX

MALU merasa malu.

Awal tahun 2012 ini, saya agak terganggu dengan pemberitaan mengenai penyebaran HIV – AIDS di Bali. 
Saya agak kurang percaya dengan angka – angka yang disodorkan  oleh lembaga kesehatan atau organisasi AIDS tentang jumlah penderita HIV – AIDS di Bali atau jumlah orang Bali yang jadi korban setiap bulannya. 
Selain faktor budaya yang tertutup akan hal – hal tabu dan memalukan seperti ini, masyarakat Bali cenderung menutup diri terhadap penyakit yang dianggap sebagai kutukan dewata ini, yang akhirnya, kembali memaksa saya menyakini bahwa jumlah pengidap HIV – AIDS di Bali minimal 5 kali lipat dari data yang sesungguhnya,dari mereka yang belum mengaku tentunya. 
Hingga sebagian besar yang terkena dampaknya adalah generasi muda, para purusa – purusa Hindu 

Bali yang akan menjadi tonggak ketahanan agama Hindu – Bali masa depan. Dan sebagian dari masyarakat kita sepakat, bahwa penyebaran HIV – AIDS di Bali sebagian besar karena faktor seks bebas dibandingkan narkoba yang terlalu mahal bagi orang Bali kebanyakan. 

Dengan seks bebas bermodal duapuluh lima ribu rupiah, para purusa Bali dapat mencicipi kesenangan lokal, apalagi jika kita amati dengan semakin tumbuh berkembangnya keberadaan kafe – kafe liar hingga ke pelosok desa. Tentu kafe liar ini dilengkapi dengan SDM para Pekerja Seks Komersial ( PSK ) yang saya yakini (lagi) didominasi oleh perempuan non-Hindu dan pendatang luar Bali. Keberadaan infrastruktur penyebar AIDS ini, rasanya makin mendapat legitimasijika disandingkan dengan tingkah polah kultur negative “belog ajum” para pemuda – pemuda Bali yang justru bangga ketika berhasil mencicipi PSK dipusat lokasisasi.

Jamak kita dengar dari obrolan ngalor – ngidur pemuda Hindu Bali dibalai banjar, bahwa dengan bangganya anak – anak kita menceritakan tentang pengalaman raga ber-PSK dan ber-lokalisasi ria. Bahkan dipedesaan,saya amati,  ada anggapan seorang pemuda desa belum sah mendapatkan “stempel” sebagai laki – laki sejati jika belum menjajaki pengalaman di kafe liar dengan PSK, hal ini diperparah dengan polah para senior – senior didesa yang justru mendukung gaya hidup tidak sehat ini. Tentu kita tidak ingin masuk terlalu dalam kesebuah wilayah privat tentang gaya hidup seks bebas generasi muda Bali, tapi jika sudah berhubungan dengan komunitas, sebuah civil society dan ketahanan Hindu dan Bali, maka ini sudah menjadi urusan publik, urusan masyarakat. 

Jika anak – anak muda Hindu Bali sudah terkena virus HIV-AIDS, tentu pertahanan agama Hindu dan budaya Bali yang berbasis pada “krama / manusia” akan terancam. Belum lagi aksi  pemerintah dan program KB-nya yang sukses mengurangi jumlah krama Hindu dengan paksaan selalu punya anak dua ( yang disatu sisi umat lain boleh berpoligami dengan istri maksimal 5 orang ). Tentu hal ini akan merugikan keluarga – keluarga  Hindu yang terlanjur punya dua anak, tapi putra – putranya mati karena AIDS atau Rabies. Dan kini, saya dituntut semakin percaya bahwa ternyata gerakan penyebaran HIV – AIDS ini adalah gerakan jihad tersembunyi yang dilakukan oleh kelompok kecil fundamentalis Islam yang sama – sama menjadi sponsor Bom Bali I dan Bom Bali II. Kenapa ? menurut mereka, bahwa Bali tidak akan pernah bisa hancur karena Bom, ini dibuktikan Bom Bali I dan Bom Bali II tidak mampu untuk menghancurkan kekuatan taksu Bali sebagai pulau Hindu yang disayangi dunia.
Tetapi, kini ada senjata model baru untuk menghancurkan Bali yakni gerakan ekonomi seperti gerakan pecel lele, gerakan minimarket berjaringan, roti bandung, nasi tempong, nasi pedas, tukang cukur, gerakan labelisasi halal disetiap hotel dan restoran di Bali (saya akan bahas ditulisan berikutnya ). Dalam hal penyebaran HIV – AIDS, diduga orang – orang Bali, anak – anak muda Bali ketika mereka datang ke café, maka para PSK tidak menyarankan untuk memakai kondom, tapi sebaliknya, jika ada kaum pendatang yang memanfaatkan PSK, maka sangat disarankan untuk memakai kondom. Mungkin para gadis – gadis PSK itu sudah dicuci otaknya, agar Bali ini 10 tahun kedepan banyak suami – suami, anak – anak muda yang mati nelangsa karena HIV – AIDS. Dan sebagai intropeksi bagi pemuda Hindu Bali, apakah mereka tidak sadar akan penyebaran HIV – AIDS akan merenggut nyawa istri dan pasangan mereka ? Dan yang membuat saya malu, justru kepemilikan café – café liar di Bali ini, justru disinyalir banyak dimiliki oleh oknum – oknum anggota DPRD dan Politisi. 

Hal ini sudah menjadi rahasia umum dan perlu digerakkan semacam perlawanan sosial kepada mereka, kaum yang mengklaim diri pemimpin, tapi justru memelihara kafe liar dan para PSK. Yang paling menyesakkan adalah keberadaan kafe liar,keberadaan pusat lokalisasi dan prostitusi justru didukung oleh manggala desa adat, banjar adat dengan iming – iming kontribusi bagi desa. Inilah yang saya sebut sebagai kehancuran Bali secara sistematis.

Seorang sahabat aktivis budaya di Gianyar, memberikan saya fakta bahwa ada satu banjar di Gianyar yang sebagian besar pemudanya tersebar penyakit HIV ! Belum lagi, ribuan ibu – ibu yang tidak berdosa di Bali rentan terkena penyakit AIDS akibat ulang suaminya yang pelanggan aktif PSK, narkoba atau galeri tato. Sungguh menyesakkan. Disatu sisi, penyuluhan anti AIDS oleh lembaga terkait, masih saya perhatikan kurang menarik dan tidak ngaruh, terlalu teoritis, terlalu formal dan membosankan. Seharusnya sosialisasi AIDS disampaikan dengan cerita – cerita populer, pendekatan presentasi yang berbeda, dan testimoni penderita dengan bahasa dagang bukan dengan bahasa kampus karena sebagian besar rakyat Bali dibawah pendidikan rata- rata. Bukan seperti sekarang, pejabat yang berpendidikan tidak seberapa, tapi seolah – olah paling pintar dalam urusan HIV – AIDS. Jika tidak diperbaiki dari sekarang, maka 10 tahun kedepan, kita hanya menyaksikan mereka, para praktisi jihad akan terbawa terbahak – bahak dan bertepuk tangan menyaksikan pemuda – pemuda, purusa – purusa Bali berakhir ditungku pembakaran api jenazah, berkalang tanah diusia muda, mati karena HIV – AIDS akibat belog ajum. Sebuah bencana yang seharusnya bisa dicegah by system. Jika berkenan, perbanyak dan sebarkan tulisan saya ini dan sebarkan lingkungan banjar, desa dan para pemuda disekitar pembaca. Jika sampai tulisan ini bisa menyelamatkan satu nyawa saja, betapa bahagianya kita sebagai orang tua sudah berusaha berjuang sederhana hanya lewat tulisan. Mari jadikan HIV – AIDS dan Sifat Belog Ajum-ya pemuda Bali sebagai bahaya laten Bali saat ini.

sumber : http://vedakarna.net/hiv-aids-jihad-model-baru-di-bali/

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar atau berbagi pengalaman.
Bila Saudara Menginginkan balasan secapatnya dari kami, komfirmasi ketik KOMENTAR kirim ke 0858 6941 2009. Terimaksih