Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan

Pada Umumnya Waktu Rehabilitasi Narkoba Butuh 6 TAHUN

Labels: , , ,

Woow Biaya Rehabilitasi Narkoba 4 - 5 juta per bulan, 
Butuh waktu 6 tahun, dan Angka Relapse Pecandu Narkoba masih sangat Tinggi.
" Maka Tidak mungkin Indonesia Bebas Narkoba "

JAKARTA (Pos Kota)- Pecandu narkoba yang mendapatkan tindakan rehabilitasi jumlahnya masih sangat minim. Dari jumlah pecandu yang diperkirakan mencapai 4 juta orang, pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional (BNN) baru bisa merehabilitasi 20 ribu pecandu atau sekitar 1 persen setiap tahunnya.
“Itu pun kita dibantu instansi lain termasuk swasta dan organisasi sosial,” papar Suyono, Direktur
Pasca Rehabilitasi BNN disela Focus Group Discussion Kowani bertema penyalahguna narkoba mau dibawa kemana, dipenjara atau diobati, Selasa (25/7).
Untuk merehabilitasi pecandu, lanjut Suyono memang membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang cukup lama. “Satu pecandu butuh Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per bulan untuk biaya rehabilitasi yang meliputi makan, detoks, konseling dan biaya kesehatan lainnya,” lanjut Suyono.
Sedang untuk menyembuhkan seorang pecandu jelas Suyono dibutuhkan waktu minimal 6 tahun. Tetapi karena keterbatasan anggaran, BNN hanya bisa merehabilitasi pecandu rata-rata 1 tahun.
Karena rendahnya prosentase pecandu yang mendapatkan rehabilitasi, angka relapse (kekambuhan) diantara mantan pecandu sangat tinggi.
BNN memperkirakan 30 persen mantan pecandu bisa mengalami kekambuhan jika tidak mendapatkan dukungan baik dari lingkungannya termasuk pengawasan dari keluarga.
Sementara itu Ketua Umum Kowani Dewi Motik Pramono mengatakan pemerintah harus menempatkan pecandu narkotika sebagai korban. Karena itu mereka harus direhabilitasi dan bukan malah dipenjara, dan dicampur dengan penjahat lainnya.
“Pemerintah dalam hal ini BNN dan aparat penegak hukum harus bisa membedakan mana itu korban dan mana bandar. Perlakuannya jelas beda jauh,” kata Dewi.
Upaya menekan peredaran Narkoba, Dewi menilai pemerintah termasuk presiden harus bersikap lebih tegas terhadap para bandar narkoba. Mengingat para bandar narkoba merupakan perusak moral dan masa depan anak bangsa.
“Saya setuju hukuman mati bagi bandar narkoba. Supaya ada efek jera. Bukan bolak balik dikasih bonus ampunan atau remisi hukuman,” pungkas Dewi.
Kowani dengan anggota lebih dari 30 juta bertekad untuk aktif dalam upaya-upaya rehabilitasi mantan pecandu narkoba. (Inung/d)

PENGOBATAN ALTERNATIF HIV AIDS - Tabib Masrukhi

Labels: ,


Assalamu`alaikum wr.wb

Hidup adalah pilihan, sebagaimana ODHA berhak untuk memilih jalan pengobatan yang di yakini terbaik

Jika ODHA selama ini di haruskan minum ARV seumur hidup dengan segala efek samping nya, maka jalan lain hanya pengobatan alternatif.

Banyak metode pengobatan Alternatif yang di tawarkan melalui berbagai media internet, Terapi HIV AIDS tidaklah mudah, memerlukan analisa pemeriksaan untuk menentukan ramuan herbal yang tepat dan disesuaikan kondisi pasien. Kami memilih metode pengobatan yang di sesuaian dengan kondisi pasien, sudah terbukti beberapa pasien kami dan selalu di buktikan dengan pemeriksaan Laboratorium.
  Sebagai muslim kita harus yakin Ayat Al-Quran :
"Dan apabila aku sakit, Dia-lah( ALLAH ) Yang menyembuhkan aku". (QS. Asy-Syu’araa’, 26:80)
"Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. Hanya saja tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya". (HR.Ahmad 1/377, 413 dan 453


Perbandingan Obat KIMIA dengan Obat ALAMI

ARV
OBAT ALAMI
Tidak bisa menyembuhkan AIDS.
Bisa menyembuhkan AIDS.
Karena tidak bisa menyembuhkan, maka harus dikonsumsi seumur hidup.
Ketika sudah sembuh, Odha bisa stop pengobatan.
“Memperbudak” Odha SEUMUR HIDUP dengan kewajiban jadwal ketatnya yang harus dikonsumsi tepat waktu.
Tidak memperbudak Odha seumur hidup karena jadwal konsumsinya fleksibel.
Bahan kimia tidak ramah lingkungan yang penuh dengan efek samping.
Bahan alami ramah lingkungan dan pada umumnya tanpa efek samping.
Mikroba makin kebal atau resisten walaupun dikonsumsi dengan jadwal yang benar.
Tidak akan menimbulkan resistensi walaupun jadwalnya fleksibel.
Tidak aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi untuk seumur hidup.
Aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi jenis suplemen, sangat aman dikonsumsi seumur hidup untuk mempertahankan kesehatan.
(NCBI, Oxford Med Journal, Medindia, Healindonesia)
sumber: www.lintas.me/go/memobee.com/aids-denialist-menguak-mafia-kesehatan-pada-kasus-hivaids



Metode Pengobatan kami Insya Allah bisa mengobati virus HIV hingga virus yang tersembunyi di sistem limfatik.

ODHA bisa membuktikan hasil pengobatan kami melalui " hasil TES Viraload tidak terdeteksi berturut turut" ( selama berprilaku sehat ) sebagaimana di jelaskan di terapihiv.com

UNTUK KONSULTASI  HUBUNGI KAMI
0858 6941 2009 / 0823 3222 2009

BIAYA PENGOBATAN 
Biaya pengobatan
Bagi ODHA yang tidak mampu kami bantu dengan membawa SKTM   

NIAT BEROBAT klik disini

Testimoni :


Ibu Ana ( bukan Nama sebenarnya ) penderita HIV positif, beliau tidak menyangka menderita HIV setelah suami meninggal karena HIV AIDS. Beliau berusaha berobat Alternatif karena beliau mengetahui bahwa ARV tidak menyembuhkan HIV melainkan hanya mengendalikan HIV. Beliau tidak ingin bernasib seperti suami MENINGGAL DUNIA, entah akibat Hepatitis atau komplikasi karena efek samping pengobatan AVR. banyak pilihan pengobatan alternatif yang beliau yakini. dan tidak ingin mendatangi tempat pengobatan alternatif yang pernah di datangi suami dulu berobat. karena obat ternyata hanya sebatas multi vitamin.

Beliau mengetahui melaui internet bahwa efek samping pengobatan ARV seumur hidup dalam jangka panjang lebih berbahaya dari pada HIV.
Usahanya untuk sembuh begitu kuat , sekian lama berdoa dan berusaha, beliau brosing internet.

Alhadulillah setelah beliau ( bu Ana ) mengetahui tempat pengobatan alternatif HIV, tidak bisa di bayangkan pertama berobata alternatif terjadi perubahan yang besar dalam diri beliau. hasil cek TES VIRAL LOAD tidak terdeteksi
Semoga Allah menyembuhkan untuk selamanya.

PENYAKIT HIV AIDS

Labels:

Jika ODHA selama ini di haruskan minum ARV seumur hidup dengan segala efek samping nya, maka jalan lain hanya pengobatan alternatif. Banyak metode pengobatan Alternatif yang di tawarkan melalui berbagai media internet, Terapi HIV AIDS tidaklah mudah, memerlukan analisa pemeriksaan untuk menentukan ramuan herbal yang tepat dan disesuaikan kondisi pasien. 

Kami memilih metode pengobatan yang di sesuaian dengan kondisi pasien, sudah terbukti beberapa pasien kami dan selalu di buktikan dengan pemeriksaan Laboratorium, agar saudara yakin. Anda pun bisa membuktikannya.

Sebagai muslim kita harus yakin Ayat Al-Quran :
"Dan apabila aku sakit, Dia-lah( ALLAH ) Yang menyembuhkan aku". (QS. Asy-Syu’araa’, 26:80)
"Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. Hanya saja tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya". (HR.Ahmad 1/377, 413 dan 453

Sebelum berobat sebaiknya ODHA bisa membandingkan pengobatan ARV dengan obat bahan alami.
Perbandingan Obat KIMIA ARV dengan Obat ALAMI
ARV
OBAT ALAMI
Tidak bisa menyembuhkan AIDS.
Bisa menyembuhkan AIDS.
Karena tidak bisa menyembuhkan, maka harus dikonsumsi seumur hidup.
Ketika sudah sembuh, Odha bisa stop pengobatan.
“Memperbudak” Odha SEUMUR HIDUP dengan kewajiban jadwal ketatnya yang harus dikonsumsi tepat waktu.
Tidak memperbudak Odha seumur hidup karena jadwal konsumsinya fleksibel.
Bahan kimia tidak ramah lingkungan yang penuh dengan efek samping.
Bahan alami ramah lingkungan dan pada umumnya tanpa efek samping.
Mikroba makin kebal atau resisten walaupun dikonsumsi dengan jadwal yang benar.
Tidak akan menimbulkan resistensi walaupun jadwalnya fleksibel.
Tidak aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi untuk seumur hidup.
Aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi jenis suplemen, sangat aman dikonsumsi seumur hidup untuk mempertahankan kesehatan.
(NCBI, Oxford Med Journal, Medindia, Healindonesia)
sumber: www.lintas.me/go/memobee.com/aids-denialist-menguak-mafia-kesehatan-pada-kasus-hivaids

Kami hanya mengobati penyakit HIV positif,  sedangkan jika kondisi pasien dalam kondisi AIDS maka perlu pengobatan DOKTER Spesialis setempat.
Sekali lagi kami hanya mengobati HIV nya. 
Jika HIV hilang maka kondisi AIDS akan terhindarkan

Metode Pengobatan kami Insya Allah atas Ijin Allah mampu mengobati virus HIV hingga tuntas. sehingga AIDS tidak akan terjadi.
Anda bisa membuktikan hasil pengobatan kami melalui hasil Laboratorium Anti-HIV negatif  ( tidak terdeteksi ) 3 kali berturut turut atau berapa kalipun ( selama berprilaku sehat )

UNTUK KONSULTASI  HUBUNGI KAMI
0858 6941 2009 / 0823 3222 2009

Ingin BEROBAT klik disini 

Testimoni :


Ibu Ana ( bukan Nama sebenarnya ) penderita HIV positif, beliau tidak menyangka menderita HIV setelah suami meninggal karena HIV AIDS. Beliau berusaha berobat Alternatif karena beliau mengetahui bahwa ARV tidak menyembuhkan HIV melainkan hanya mengendalikan virus HIV. Beliau tidak ingin bernasib seperti suami MENINGGAL DUNIA, entah akibat Hepatitis atau komplikasi karena efek samping pengobatan AVR. 
Beliau mengetahui melaui internet bahwa efek samping pengobatan ARV seumur hidup dalam jangka panjang lebih berbahaya dari pada HIV.
Usahanya untuk sembuh begitu kuat , beliau brosing internet. banyak pilihan pengobatan alternatif yang beliau yakini.
Alhadulillah setelah beliau ( bu Ana ) mengetahui tempat pengobatan HIV, tidak bisa di bayangkan pertama berobata alternatif terjadi perubahan yang besar dalam diri beliau. 
Semoga Allah menyembuhkan untuk selamanya. 

Hasil Lab I

Hasil Lab II
Hasil Lab III
Hasil Lab IV
Hasil LabV
Hasil Lab VI

Penyakit HIV AIDS di BALI

Labels:

aw09
Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III,SE(MTRU),M.Si
Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX

MALU merasa malu.

Awal tahun 2012 ini, saya agak terganggu dengan pemberitaan mengenai penyebaran HIV – AIDS di Bali. 
Saya agak kurang percaya dengan angka – angka yang disodorkan  oleh lembaga kesehatan atau organisasi AIDS tentang jumlah penderita HIV – AIDS di Bali atau jumlah orang Bali yang jadi korban setiap bulannya. 
Selain faktor budaya yang tertutup akan hal – hal tabu dan memalukan seperti ini, masyarakat Bali cenderung menutup diri terhadap penyakit yang dianggap sebagai kutukan dewata ini, yang akhirnya, kembali memaksa saya menyakini bahwa jumlah pengidap HIV – AIDS di Bali minimal 5 kali lipat dari data yang sesungguhnya,dari mereka yang belum mengaku tentunya. 
Hingga sebagian besar yang terkena dampaknya adalah generasi muda, para purusa – purusa Hindu 

Bali yang akan menjadi tonggak ketahanan agama Hindu – Bali masa depan. Dan sebagian dari masyarakat kita sepakat, bahwa penyebaran HIV – AIDS di Bali sebagian besar karena faktor seks bebas dibandingkan narkoba yang terlalu mahal bagi orang Bali kebanyakan. 

Dengan seks bebas bermodal duapuluh lima ribu rupiah, para purusa Bali dapat mencicipi kesenangan lokal, apalagi jika kita amati dengan semakin tumbuh berkembangnya keberadaan kafe – kafe liar hingga ke pelosok desa. Tentu kafe liar ini dilengkapi dengan SDM para Pekerja Seks Komersial ( PSK ) yang saya yakini (lagi) didominasi oleh perempuan non-Hindu dan pendatang luar Bali. Keberadaan infrastruktur penyebar AIDS ini, rasanya makin mendapat legitimasijika disandingkan dengan tingkah polah kultur negative “belog ajum” para pemuda – pemuda Bali yang justru bangga ketika berhasil mencicipi PSK dipusat lokasisasi.

Jamak kita dengar dari obrolan ngalor – ngidur pemuda Hindu Bali dibalai banjar, bahwa dengan bangganya anak – anak kita menceritakan tentang pengalaman raga ber-PSK dan ber-lokalisasi ria. Bahkan dipedesaan,saya amati,  ada anggapan seorang pemuda desa belum sah mendapatkan “stempel” sebagai laki – laki sejati jika belum menjajaki pengalaman di kafe liar dengan PSK, hal ini diperparah dengan polah para senior – senior didesa yang justru mendukung gaya hidup tidak sehat ini. Tentu kita tidak ingin masuk terlalu dalam kesebuah wilayah privat tentang gaya hidup seks bebas generasi muda Bali, tapi jika sudah berhubungan dengan komunitas, sebuah civil society dan ketahanan Hindu dan Bali, maka ini sudah menjadi urusan publik, urusan masyarakat. 

Jika anak – anak muda Hindu Bali sudah terkena virus HIV-AIDS, tentu pertahanan agama Hindu dan budaya Bali yang berbasis pada “krama / manusia” akan terancam. Belum lagi aksi  pemerintah dan program KB-nya yang sukses mengurangi jumlah krama Hindu dengan paksaan selalu punya anak dua ( yang disatu sisi umat lain boleh berpoligami dengan istri maksimal 5 orang ). Tentu hal ini akan merugikan keluarga – keluarga  Hindu yang terlanjur punya dua anak, tapi putra – putranya mati karena AIDS atau Rabies. Dan kini, saya dituntut semakin percaya bahwa ternyata gerakan penyebaran HIV – AIDS ini adalah gerakan jihad tersembunyi yang dilakukan oleh kelompok kecil fundamentalis Islam yang sama – sama menjadi sponsor Bom Bali I dan Bom Bali II. Kenapa ? menurut mereka, bahwa Bali tidak akan pernah bisa hancur karena Bom, ini dibuktikan Bom Bali I dan Bom Bali II tidak mampu untuk menghancurkan kekuatan taksu Bali sebagai pulau Hindu yang disayangi dunia.
Tetapi, kini ada senjata model baru untuk menghancurkan Bali yakni gerakan ekonomi seperti gerakan pecel lele, gerakan minimarket berjaringan, roti bandung, nasi tempong, nasi pedas, tukang cukur, gerakan labelisasi halal disetiap hotel dan restoran di Bali (saya akan bahas ditulisan berikutnya ). Dalam hal penyebaran HIV – AIDS, diduga orang – orang Bali, anak – anak muda Bali ketika mereka datang ke café, maka para PSK tidak menyarankan untuk memakai kondom, tapi sebaliknya, jika ada kaum pendatang yang memanfaatkan PSK, maka sangat disarankan untuk memakai kondom. Mungkin para gadis – gadis PSK itu sudah dicuci otaknya, agar Bali ini 10 tahun kedepan banyak suami – suami, anak – anak muda yang mati nelangsa karena HIV – AIDS. Dan sebagai intropeksi bagi pemuda Hindu Bali, apakah mereka tidak sadar akan penyebaran HIV – AIDS akan merenggut nyawa istri dan pasangan mereka ? Dan yang membuat saya malu, justru kepemilikan café – café liar di Bali ini, justru disinyalir banyak dimiliki oleh oknum – oknum anggota DPRD dan Politisi. 

Hal ini sudah menjadi rahasia umum dan perlu digerakkan semacam perlawanan sosial kepada mereka, kaum yang mengklaim diri pemimpin, tapi justru memelihara kafe liar dan para PSK. Yang paling menyesakkan adalah keberadaan kafe liar,keberadaan pusat lokalisasi dan prostitusi justru didukung oleh manggala desa adat, banjar adat dengan iming – iming kontribusi bagi desa. Inilah yang saya sebut sebagai kehancuran Bali secara sistematis.

Seorang sahabat aktivis budaya di Gianyar, memberikan saya fakta bahwa ada satu banjar di Gianyar yang sebagian besar pemudanya tersebar penyakit HIV ! Belum lagi, ribuan ibu – ibu yang tidak berdosa di Bali rentan terkena penyakit AIDS akibat ulang suaminya yang pelanggan aktif PSK, narkoba atau galeri tato. Sungguh menyesakkan. Disatu sisi, penyuluhan anti AIDS oleh lembaga terkait, masih saya perhatikan kurang menarik dan tidak ngaruh, terlalu teoritis, terlalu formal dan membosankan. Seharusnya sosialisasi AIDS disampaikan dengan cerita – cerita populer, pendekatan presentasi yang berbeda, dan testimoni penderita dengan bahasa dagang bukan dengan bahasa kampus karena sebagian besar rakyat Bali dibawah pendidikan rata- rata. Bukan seperti sekarang, pejabat yang berpendidikan tidak seberapa, tapi seolah – olah paling pintar dalam urusan HIV – AIDS. Jika tidak diperbaiki dari sekarang, maka 10 tahun kedepan, kita hanya menyaksikan mereka, para praktisi jihad akan terbawa terbahak – bahak dan bertepuk tangan menyaksikan pemuda – pemuda, purusa – purusa Bali berakhir ditungku pembakaran api jenazah, berkalang tanah diusia muda, mati karena HIV – AIDS akibat belog ajum. Sebuah bencana yang seharusnya bisa dicegah by system. Jika berkenan, perbanyak dan sebarkan tulisan saya ini dan sebarkan lingkungan banjar, desa dan para pemuda disekitar pembaca. Jika sampai tulisan ini bisa menyelamatkan satu nyawa saja, betapa bahagianya kita sebagai orang tua sudah berusaha berjuang sederhana hanya lewat tulisan. Mari jadikan HIV – AIDS dan Sifat Belog Ajum-ya pemuda Bali sebagai bahaya laten Bali saat ini.

sumber : http://vedakarna.net/hiv-aids-jihad-model-baru-di-bali/

ARV adalah Penyebab AIDS itu Sendiri ?

Labels:

Dalam artikel dr. Mercola,”Efek Samping Dari Obat AIDS ‘Tidak Berbeda’ dari AIDS Itu Sendiri”, telah menunjukkan kepada kita bahwa ARV itulah yang menjadi AIDS YANG SEBENARNYA! 

  • Asthenia
  • sakit kepala
  • Rasa tidak enak badan
  • Anorexia
  • Sembelit
  • Mual, muntah
  • Sakit perut
  • Arthralgia
  • Meriang
  • Maag
  • Letih lesu
  • Insomnia
  • Otot sakit
  • Neuropathy
  • Hyperbilirubinemia
  • Hepatomegaly
  • Stomatitis
  • Splenomegaly
  • Batuk
  • Gatal-gatal pada kulit
  • Infeksi telinga
  • Lymphadenopathy
  • Anemia
  • Serangan jantung
  • Edema
  • Hematuria
  • Gugup
  • Berat badan turun
  • Sakit punggung
  • Sakit dada
  • Flu
  • Cardiomyopathy
  • Syncope
  • Gynecomastia
  • Mulut kering
  • Dysphagia
  • Perut kembung,
  • Aplastic anemia
  • Hemolytic anemia
  • Leukopenia
  • Lymphadenopathy
  • Pancytopenia
  • Hepatitis, sakit kuning
  • Pancreatitis
  • Gemetar
  • Rasa cemas
  • Depresi
  • Pusing
  • Kejang
  • Vertigo
  • Rhinitis
  • Sinusitis
  • Pruritus
  • Stevens-Johnson syndrome
  • Mudah berkeringat
  • Urticaria
  • Amblyopia
  • Hilang pendengaran
  • Photophobia
  • Sering kencing, dan lain-lain (masih ada yang lainnya?!).


Dari list di atas, apa Anda siap dengan beberapa efek samping yang akan dialami SEUMUR HIDUP jika Anda memakai ARV? Apa benar ARV meningkatkan kualitas hidup Odha ditambah peraturannya yang sangat mengikat?


Dari semua efek samping yang saya cantumkan di atas, itu semua adalah gejala AIDS, karena ARV merusak ginjal, hati, syaraf dan organ pencernaan. Jadi Odha akan benar-benar menderita AIDS pada saat mengkonsumsi ARV, sampai ia meninggal. Wow… benar-benar pengobatan yang “manjur”. Sungguh mengakhiri penderitaan Odha DENGAN CEPAT. Saya ucapkan selamat untuk “keajaiban medis” yang satu ini. Ini adalah bukti bahwa pengobatan medis konvensional memang “lebih baik” dibandingkan alam ciptaan Tuhan. Sungguh luar biasa

sumber : 
http://www.rxlist.com/retrovir-drug.htm
http://healindonesia.com/2008/12/07/hati-hati-arv-bukanlah-terapi-yang-meningkatkan-kualitas-hidup/

Catatan :
Pesan Tabib Masrukhi

  • Odha berhak mendapatkan pengobatan yang benar untuk upaya kesembuhan tuntas.
  • Pemakaian Obat ramuan herbal di yakini aman meskipun hingga kini belum ada penelitian bahwa ramuan obat herbal belum bisa menyembuhkan hiv aids MAKA sama saja dengan ARV belum bisa menyembuhkan HIV secara tuntas. 
  • Jika ODHA mengkonsumsi ARV maka harus dalam pengawasan DOKTER mengingat efek samping ARV yang gejalanya mirip AIDS.

Lokasi Pelacuran di Kota Mimika

Labels:


Ingar-Bingar suara musik terdengar dari deretan rumah pelacuran di Kilometer 10, Desa Kandun Jaya, Kecamatan Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (8/11) malam. Sejumlah pelacur dengan rokok di tangan menemani para pria yang sedang santai menikmati bir di pojok Bar Mekar Jaya.


Di tempat pelacuran itu terdapat sedikitnya 20 rumah. Rumah-rumah itu berfungsi sebagai bar, tempat berkaraoke, dan sekaligus praktik pelacuran. Lokasi pelacuran itu terletak berdampingan dengan permukiman penduduk sehingga anak-anak terbiasa dengan suasana pelacuran.

Dari Kota Timika, Ibu Kota Kabupaten Mimika, lokasi pelacuran itu bisa ditempuh menggunakan kendaraan angkutan umum yang tersedia hingga sore hari. Pada malam hari orang harus menggunakan mobil sendiri atau ojek sepeda motor. Tarif ojek ke tempat itu mencapai Rp 30.000.

Malam itu, sejumlah mobil milik perusahaan tambang emas dan logam PT Freeport Indonesia diparkir di lokalisasi tersebut. Kendaraan PT Freeport juga tampak di sepanjang Jalan Ahmad Yani, yang penuh dengan bar, karaoke, dan klub malam. Bar, karaoke, dan klub malam itu kebanyakan menempati rumah-rumah berukuran kecil. Hanya satu dua yang berukuran besar.

Di antara tempat hiburan itu, terdapat Selana Bar yang mengklaim bebas Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyebabkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Klaim itu tercantum pada papan nama bar. Di bar yang lain, De Gama (singkatan Depot Gadis Malam) yang lebih dikenal sebagai bar "Pemda", terpampang seruan "Perangi HIV/AIDS". Disebut Bar Pemda karena karyawan Pemda Kabupaten Mimika sering berkunjung ke situ. Mobil-mobil
berpelat merah sering terlihat diparkir di sana.

Menjamurnya tempat-tempat hiburan dan pelacuran tersebut karena keberadaan PT Freeport Indonesia. Ribuan karyawannya menjadi sasaran empuk para pengusaha hiburan. Para karyawan itu bekerja lima hari dalam seminggu. Dua hari libur biasanya mereka manfaatkan "turun" ke Timika untuk mencari hiburan.

Para karyawan itu diangkut dengan bus dari lokasi tambang terbuka dan bawah tanah "Grasberg" di Kecamatan Tembagapura. Bus-bus tersebut dikenal sebagai bus kerinduan, karena untuk mengangkut karyawan yang hendak bertemu keluarganya. Pada hari Minggu sampai Kamis ada delapan bus yang mengangkut karyawan. Setiap bus memuat 60 orang.

Pada hari Jumat dan Sabtu jumlah bus yang dioperasikan mencapai 20 unit.Bus-bus ini juga mengangkut karyawan yang bekerja di bagian pemeliharaan mesin.

Menjamurnya tempat hiburan malam dan munculnya kasus HIV/AIDS meresahkan penduduk asli. Di antara mereka yang prihatin terhadap merebaknya kasus

HIV/AIDS di Papua terdapat para aktivis hak asasi manusia. Mereka ialah Mama Elizabeth, Mama Theresia dan Mama Ema. Para perempuan Papua itu bergabung dalam organisasi Yayasan Hak Asasi Manusia Anti kekerasan (Yahamak).

Menurut Mama Theresia, mereka sama sekali buta tentang HIV/AIDS. Bagi mereka HIV/AIDS adalah penyakit baru dan orang yang terinfeksi sebaiknya diumumkan dokter. Cara ini untuk mencegah orang lain supaya tidak tertular. Mama Theresia dan teman-temannya mengaku kesal karena semakin banyak bar, rumah biliar, dan minuman keras di Papua.

Muncul pendapat yang menginginkan pengidap HIV dikeluarkan saja dari Papua agar tidak menulari penduduk setempat. "Penyakit ini bikin habis orang Papua," kata Mama Theresia.

Menurut Kepala Sub Dinas Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Erens Meokbun, sejak 1995 sampai Agustus 2002 pihaknya mencatat kasus HIV sebanyak 251 dan AIDS 42. Sejumlah 66,55 persen penyebaran HIV/ AIDS melalui hubungan seks. Sedangkan penularan dari ibu ke anak terdapat dua kasus.

Dari 251 kasus HIV di atas, sebanyak 197 yang terkena adalah orang Papua. Sementara dari 197 kasus tersebut terdapat 39 orang Papua yang mengidap AIDS.

Petugas kesehatan PT Freeport, Dr Surinder Kaul, mengungkapkan, sejak 1996 sampai September 2002, pihaknya mencatat jumlah kasus HIV sebanyak 194 dan AIDS 20. Berdasarkan kelompok umur, ada tiga orang berusia di bawah satu tahun yang positif HIV. Kasus HIV terbanyak pada kelompok usia 20 tahun sampai 29 tahun (110 kasus).

Dalam menanggulangi HIV/AIDS di Timika, PT Freeport mendirikan klinik kesehatan reproduksi untuk umum. Para pekerja di sana memberi penyuluhan HIV/ AIDS ke tempat pelacuran dan hiburan malam.

Mereka juga membagikan kondom gratis, melakukan tes HIV/ AIDS dan penyakit kelamin menular lainnya. Darah orang yang dites HIV dikirim ke Jakarta untuk diperiksa dengan teknik Western Blot.

Perawatan terhadap pengidap AIDS dilakukan di Rumah Sakit Mitra Masyarakat yang dikelola Yayasan Caritas Timika.

Rumah Sakit Mitra Masyarakat mendapat dana operasional dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Irian (LPMI). Ada tujuh suku yang bernaung di yayasan itu, yakni Kamoro, Amungme, Damal, Dani, Moni, Nduga dan Ekari. Setiap tahun PT Freeport menyisihkan satu persen hasil penerimaannya untuk tujuh suku itu.

Orang Asing
Menjamurnya tempat hiburan di Timika juga tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Mimika. Berdasarkan penuturan Sumarni, pemilik Bar Mekar Jaya di Kilometer 10, ia mendapat izin usaha dari Pemerintah setempat untuk membuka restoran.

Mereka dikenai pajak Rp 7,5 juta per tahun. Jumlah itu belum termasuk setoran bulanan sekitar Rp 500.000 dan kontrak bar Rp 50 juta setahun. Tahun depan izin usaha di Kilometer 10 tarifnya akan dinaikkan menjadi Rp 20 juta. "Kami keberatan. Usaha di sini tidak teralu banyak mendatangkan untung," tutur ibu dua anak asal Tuban, Jawa Timur itu.

Bar Mekar Jaya mempekerjakan 25 pramuria dari Jawa Timur. Sedangkan di Bar De Gama, pramurianya berasal dari Sulawesi Utara dan Makassar. Seorang pramuria asal Sulawesi Utara bernama Kiki, mengaku baru sebulan bekerja di Bar De Gama. Sebelumnya dia bekerja di Kabupaten Sorong. Pramuria lainnya, Windi, menuturkan, pelanggannya kebanyakan karyawan Pemerintah Kabupaten Mimika dan orang asing yang berada di Kuala Kencana.

Menurut Windi, orang asing selalu membawa kondom, sehingga dia tidak perlu repot-repot merayunya mengenakan sarung pengaman itu. Memakai kondom diyakini bisa mencegah tertular HIV/AIDS.

Ditambahkan oleh Windi, yang sering membandel justru pelanggannya yang orang-orang setempat. Mereka umumnya belum terbiasa memakai kondom. Windi dan pelacur lainnya sering kali terpaksa menuruti kemauan pelanggan yang menolak memakai kondom. Disadari oleh Windi bahwa hal itu sangat berisiko tertular HIV/AIDS. Itu sebabnya, bus-bus yang mengantar ribuan pekerja PT reeport ke tempat-tempat pelacuran tersebut sesungguhnya bukanlah bus kerinduan, tetapi bus yang menuju kematian.*

sumber: suara pembaruan

INTI PENGOBATAN HIV menurut PENEMU VIRUS HIV

Labels:

Dokter Luc Montagnier (seorang ilmuwan dan ahli virologi prancis yang pertama kali berhasil mengisolasi virus HIV dari darah seorang yang terinfeksi HIV yang menjadi penyebab AIDS). Dari sinilah dr. Luc Montagnier dan ilmuwan-ilmuwan lain dapat membuat rekaman cara perkembangbiakan virus HIV.

Keberadaan Virus HIV dapat dilihat melalui pemeriksaan NAT (Nucleic Acid Test). Test ini langsung membaca keberadaan DNA atau RNA virus HIV. Jika Virus HIV tidak exist, maka DNA virusnya tidak akan ditemui. Dan Hasil pemeriksaan NAT akan menunjukkan hasil Negatif (tidak ditemukan DNA/RNA Virus).
Luc Montagnier, penemu HIV itu sendiri, pada tanggal 10 Desember 2009, berkata bahwa:
"HIV sebenarnya bisa hilang dengan perbaikan nutrisi (pengobatan alami)".
Lalu, apakah nutrisi itu ? Definisi nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan manusia, untuk menormalkan fungsi dari sistem tubuh, pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan tubuh.

Pengobatan HIV AIDS TERBARU

Labels:


Assalamu`alaikum wr.wb

ODHA berhak untuk memilih jalan pengobatan yang di yakini terbaik. 

Jika ODHA selama ini di haruskan minum ARV seumur hidup dengan segala efek samping nya, maka jalan lain hanya pengobatan alternatif.

Sebagai muslim kita harus yakin Ayat Al-Quran :
"Dan apabila aku sakit, Dia-lah( ALLAH ) Yang menyembuhkan aku". (QS. Asy-Syu’araa’, 26:80)
"Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. Hanya saja tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya". (HR.Ahmad 1/377, 413 dan 453

Sebenarnya banyak pakar pengobatan Alternatif mampu mengobati HIV,   hanya saja ODHA sangat terTUTUP sehingga tidak mendapatkan informasi pengobatan alternatif sebagai pilihan.
Insya Allah kami salah satu orang yang mengetahui obat ramuan HIV. 

Sebelum berobat sebaiknya ODHA bisa membandingkan pengobatan ARV dengan obat bahan alami.
Perbandingan Obat KIMIA ARV dengan Obat ALAMI
ARV
OBAT ALAMI
Tidak bisa menyembuhkan AIDS.
Bisa menyembuhkan AIDS.
Karena tidak bisa menyembuhkan, maka harus dikonsumsi seumur hidup.
Ketika sudah sembuh, Odha bisa stop pengobatan.
“Memperbudak” Odha SEUMUR HIDUP dengan kewajiban jadwal ketatnya yang harus dikonsumsi tepat waktu.
Tidak memperbudak Odha seumur hidup karena jadwal konsumsinya fleksibel.
Bahan kimia tidak ramah lingkungan yang penuh dengan efek samping.
Bahan alami ramah lingkungan dan pada umumnya tanpa efek samping.
Mikroba makin kebal atau resisten walaupun dikonsumsi dengan jadwal yang benar.
Tidak akan menimbulkan resistensi walaupun jadwalnya fleksibel.
Tidak aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi untuk seumur hidup.
Aman jika dikonsumsi dalam jangka panjang, apalagi jenis suplemen, sangat aman dikonsumsi seumur hidup untuk mempertahankan kesehatan.
(NCBI, Oxford Med Journal, Medindia, Healindonesia)
sumber: www.lintas.me/go/memobee.com/aids-denialist-menguak-mafia-kesehatan-pada-kasus-hivaids



Kami hanya mengobati kondisi HIV positif,  sedangkan jika kondisi pasien dalam kondisi AIDS maka perlu pengobatan DOKTER Spesialis setempat.
Sekali lagi kami hanya mengobati HIV nya. 
Jika HIV hilang maka kondisi AIDS akan terhindarkan

Metode Pengobatan kami Insya Allah atas Ijin Allah mampu mengobati virus HIV hingga tuntas. sehingga AIDS tidak akan terjadi.
Anda bisa membuktikan hasil pengobatan kami melalui hasil Laboratorium Anti-HIV negatif  ( tidak terdeteksi ) 3 kali berturut turut atau berapa kalipun ( selama berprilaku sehat )

UNTUK KONSULTASI  HUBUNGI KAMI
0858 6941 2009 / 0823 3222 2009

Ingin BEROBAT klik disini 

Testimoni :


Ibu Ana ( bukan Nama sebenarnya ) penderita HIV positif, beliau tidak menyangka menderita HIV setelah suami meninggal karena HIV AIDS. Beliau berusaha berobat Alternatif karena beliau mengetahui bahwa ARV tidak menyembuhkan HIV melainkan hanya mengendalikan HIV. Beliau tidak ingin bernasib seperti suami MENINGGAL DUNIA, entah akibat Hepatitis atau komplikasi karena efek samping pengobatan AVR. 
Beliau mengetahui melaui internet bahwa efek samping pengobatan ARV seumur hidup dalam jangka panjang lebih berbahaya dari pada HIV.
Usahanya untuk sembuh begitu kuat , beliau brosing internet. banyak pilihan pengobatan alternatif yang beliau yakini.
Alhadulillah setelah beliau ( bu Ana ) mengetahui tempat pengobatan HIV, tidak bisa di bayangkan pertama berobata alternatif terjadi perubahan yang besar dalam diri beliau. 
Semoga Allah menyembuhkan untuk selamanya. 

Hasil Lab I

Hasil Lab II
Hasil Lab III
Hasil Lab IV
Hasil LabV
Hasil Lab VI

Gejala Anak Terinfeksi HIV

Labels:



Hasil gambar untuk anak hiv aids               Bayi yang lahir dari ibu mengidap HIV/AIDS (atau disebut ODHA/Orang Dengan HIV/AIDS) bisa membawa antibodi HIV milik sang ibu ke tubuhnya.

Namun, bila dilakukan intervensi pengobatan Antiretroviral (ARV) sejak anak masih di dalam kandungan, maka risiko terinfeksi HIV bisa dikurangi."Bayi berusia di bawah 18 bulan saat diperiksa bisa jadi positif HIV karena membawa antibodi HIV dari sang ibu. Namun, saat usia di atas 18 bulan, antibodi tersebut bisa hilang," ujar Kepala Seksi Standarisasi Subdit AIDS dan PMS Kementrian Kesehatan RI dr Endang Budi Hastuti, kepada Beritasatu.com beberapa waktu lalu.

Dilanjutkannya, bila saat di atas 18 bulan ternyata anak masih positif HIV, maka dapat dipastikan ia positif terinfeksi. "Dengan begitu, saat usia di bawah 18 bulan bisa belum jelas apakah ia membawa antibodi HIV milik ibunya atau justru miliknya sendiri," pungkasnya.

Dengan begitu, pentingnya orangtua memperhatikan apakah sang anak positif terinfeksi atau tidak melalui gejala-gejala umum yang biasa dialami anak yang terinfeksi HIV.

"Gejala-gejalanya di antaraya adalah jamur penuh di mulut dan tenggorokan, diare berkepanjangan, demam, dan infeksi pernapasan yang tidak sembuh-sembuh, juga malnutrisi atau gizi buruk," terangnya.

Penulis: Kharina Triananda/NAD