Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label metadon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metadon. Tampilkan semua postingan

ALPRAZOLAM, Awas Efek Ketergantungan Aprazolam

Labels:

Nama Merek
Xanax XR, Alganax, Alprazolam OGB Dexa, Alviz, Atarax, Calmlet, Feprax, Frixitas, Soxietas, , Zypraz

Apa itu Alprazolam?
Alprazolam merupakan salah satu dari golongan obat Benzodiazepines atau disebut juga Minor Transquillizer dimana golongan ini merupakan obat yang paling umum digunakan sebagai anti ansietas. Alprazolam merupakan obat anti ansietas dan anti panik yang efektif digunakan untuk mengurangi rangsangan abnormal pada otak, menghambat neurotransmitter asam gama-aminobutirat (GABA) dalam otak sehingga menyebabkan efek penenang. Alprazolam diabsorbsi dengan baik di dalam saluran pencernaan dan bekerja cepat dalam mengatasi gejala ansietas pada minggu pertama pemakaian. Alprazolam memiliki waktu paruh yang pendek yaitu 12 – 15 jam dan efek sedasi (mengantuk) lebih pendek dibanding Benzodiazepines lainnya, sehingga tidak akan terlalu mengganggu aktivitas. Alprazolam juga aman digunakan bagi penderita gangguan fungsi hati dan ginjal dengan pemakaian di bawah pengawasan dokter.
Mekanisme Kerja Alprazolam
Berikatan dengan reseptor benzodiasepin pada saraf post sinap GABA di beberapa tempat  di SSP, termasuk sistem limbik dan formattio retikuler. Peningkatan efek inhibisi GABA menimbulkan peningkatan permiabilitas terhadap ion klorida yang menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi dan stabilisasi.

Kegunaan Alprazolam
Kegunaan obat ini terutama untuk Anti-anxietas dan anti panik. Pada saat keadaan cemas dan panik terjadi penurunan sensitivitas terhadap reseptor 5HT1A, 5HT2A/2C, meningkatnya sensitivitas discharge dari reseptor adrenergic pada saraf pusat, terutama reseptor alfa-2 katekolamin, meningkatnya aktivitas locus coereleus yang mengakibatkan teraktivasinya aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (biasanya berespons abnormal terhadap klonidin pada pasien dengan panic disorder), meningkatnya aktivitas metabolic sehingga terjadi peningkatan laktat (biasanya sodium laktat yang kemudian diubah menjadi CO2 (hiperseansitivitas batang otak terhadap CO2), menurunnya sensitivitas reseptor GABA-A sehingga menyebabkan efek eksitatorik melalui amigdala dari thalamus melalui nucleus intraamygdaloid circuitries, model neuroanatomik memprediksikan panic attack dimediasi oleh fear network pada otak yang melibatkan amygdale, hypothalamus, dan pusat batang otak.
Sehingga, terapi yang diberikan pada kecemasan yaitu anxiolitik atau antianxietas yang bekerja pada reseptor GABA dengan memperkuat aksi inhibitor GABA-ergic neuron sehingga hiperaktivitas mereda.

Interaksi
  • Dengan Obat Lain :
Antifungi golongan azol, siprofloksasin, klaritromisin, diklofenak, doksisiklin, eritromisin, isoniasid, nikardipin, propofol, protease inhibitor, kuinidin, verapamil meningkatkan efek alprazolam. Kontraindikasi dengan itrakenazol dan ketokenazol. Menguatkan efek depresi SSP analgetik narkotik, etanol, barbiturat, antidepresan siklik, antihistamin, hipnotik-sedatif. Alprazolam dapat meningkatkan efek amfetamin, beta bloker tertentu, dekstrometorfan, fluoksetin, lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir, antidepresan trisiklik dan substrat CYP2D6 lainnya. Alprazolam meningkatkan konsentrasi plasma imipramin dan desipiramin. Aminoglutetimid, karbamasepin, nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin menurunkan efek alprazolam.
  • Dengan Makanan : 
Merokok menurunkan konsentrasi  alprazolam sampai 50 %. Jus grapefruit meningkatkan konsentrasi alprazolam. Makanan tinggi lemak, 2 jam sebelum pemberian bentuk lepas terkendali dapat memperpanjang Cmaks sampai 25 %. Sedangkan pemberian segera sesudah makan akan menurunkan Tmaks, bila makanan diberikan >=1 jam sesudah pemberian obat T maks akan meningkat 30 %.
Informasi Penting
  • Jangan gunakan obat ini jika anda memiliki alergi terhadap alprazolam atau  benzodiazepines lain seperti chlordiazepoxide (Librium), clorazepate (Tranxene), diazepam (Valium), lorazepam (Ativan), atau oxazepam (Serax). Obat ini dapat menyebabkan cacat bawaan terhadap janin. Jangan gunakan alprazolam jika anda hamil.
  • Sebelum menggunakan alprazolam beritahukan kepada dokter anda jika anda memiliki masalah pernafasan, glaukoma, penyakit ginjal dan hati, atau depresi dan pernah menjadi pecandu obat dan alkohol.
  • Jangan meminum alkohol bersamaan dengan alprazolam. Obat ini dapat meningkatkan efek alkohol. Obat ini hanya digunakan berdasarkan resep dokter. Jangan berbagi alprazolam dengan orang lain, khususnya pada orang yang pernah overdosis atau kecanduan obat. Simpan obat ini di tempat aman yang tidak dapat ditemukan orang lain.
Efek Samping
Jika kita menggunakan alprazolam kita menjadi sulit lepas dari obat ini karena memang memiliki potensi ketergantungan yang besar jika dipakai lebih dari dua minggu saja. Sulit lepas ini juga disebabkan karena efek putus zat obat ini sangat tidak nyaman, ada yang langsung tiba-tiba stop dan merasakan kecemasan yang lebih parah daripada sebelumnya.
Maka dari itu penggunaan obat ini harus hati-hati dan kalau bisa sesuai dengan indikasi saja. Belakangan karena potensi ketergantungan, toleransi (makin besar pake makin lama) dan reaksi putus zat, obat ini sudah tidak menjadi pilihan pertama lagi sebagai obat anticemas di Amerika Serikat, di sana lebih cenderung menggunakan Antidepresan gol SSRI seperti Sertraline, Fluoxetine, Paroxetine (Paxil).
Selain itu ESO yang ditimbulkan SSP : depresi, mengantuk, disartria (gangguan berbicara), lelah, sakit kepala, hiperresponsif, kepala terasa ringan, gangguan ingatan, sedasi; Metabolisme-endokrin : penurunan libido, gangguan menstruasi; Saluran cerna : peningkatan atau penurunan selera makan, penurunan salivasi, penurunan/peningkatan berat badan, mulut kering (xerostomia).

Agar Tak Ketergantungan Obat Penenang

Labels: ,


Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Kamis, 23 Februari 2012 | 08:35 WIB


KOMPAS.com - Sejak menuliskan beberapa artikel tentang bahaya penggunaan obat penenang yang termasuk golongan benzodiazepine saya banyak mendapatkan pertanyaan dari para pengguna obat ini yang kebetulan adalah penderita gangguan cemas atau depresi dengan gejala-gejala psikosomatik.
Pertanyaan mereka biasanya adalah “Mengapa dokter saya memberikan obat penenang, apakah aman dimakan dan tidak membuat ketergantungan?”, lalu lebih lanjut mereka bertanya kembali“Mengapa dokter tidak menyarankan penggunaan Alprazolam, padahal saya baca kalau obat ini sangat efektif mengatasi kecemasan dan serangan panik?”. Pertanyaan ini kemudian dilanjutkan“Kalau memang dokter tidak menyarankan, mengapa rekan dokter memakai obat golongan ini?

Pada artikel ini saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang seringkali datang kepada saya berkaitan dengan penggunaan obat penenang golongan benzodiazepine terutama yang sangat sering diresepkan seperti jenis Alprazolam (dijual dengan merek Xanax, Alganax, Zypraz, dll).


Jangka Pendek

Pertama kali saya ingin menegaskan kembali bahwa tidak semua obat yang diberikan psikiater adalah obat penenang. Obat penenang sebenarnya hanya merujuk pada obat yang dulu dinamakan Minor Tranquilizer yang biasanya merupakan obat-obat penenang golongan benzodiazepine. Obat ini biasanya dikenal juga dengan sebutan antianxietas/anticemas. Sejak 40 tahun ditemukan, obat ini memang sangat banyak berguna bagi kondisi pasien yang mengalami kecemasan. Efektifitasnya yang baik dan keamanannya yang cukup membuat obat ini sempat menjadi primadona (bahkan sampai saat ini) diresepkan bukan hanya oleh psikiater tetapi juga oleh semua dokter di dunia.

Kerjanya yang spesifik pada sistem GABA, suatu sistem di otak yang bertanggung jawab terhadap kondisi kecemasan memang membuat obat ini sangat efektif untuk mengatasi kecemasan. Sayangnya dosis yang awalnya kecil jika tanpa kontrol ketat dari dokter yang memberi obat ini akan membuat potensi ketergantungan dan toleransi obat tetap ada. Contoh dalam keseharian adalah Alprazolam. Banyak para pasien yang sulit melepaskan diri dari obat ini awalnya memakai obat ini untuk terapi yang disarankan dokter dan dosisnya kecil. Namun karena kurangnya kontrol dan edukasi dokter yang kurang kepada pasien tentang efek obat ini, ada kecenderungan kenaikan dosis dipicu oleh keinginan pasien mendapatkan rasa nyaman yang biasanya mulai menghilang karena efek obat mulai tidak terasa pada dosis kecil (toleransi).


Rawan Ketergantungan

Beberapa tahun belakangan ini banyak penelitian menyebutkan bahwa penggunaan obat golongan ini sudah semakin tidak pada tempatnya dan sering kali disalahgunakan. Bagi negara-negara eropa dan amerika yang kebanyakan orangnya terbiasa meminum alkohol, penggunaan obat golongan benzodiazepine juga menjadi masalah.
Hal ini dikarenakan orang dengan riwayat penggunaan alkohol yang banyak (pecandu alkohol) lebih besar kemungkinannya untuk mengalami ketergantungan dan toleransi (bertambahnya dosis) akibat obat ini. Itulah mengapa hampir di semua buku teks yang membahas tentang obat golongan benzodiazepine, selalu diperingatkan akan bahaya ketergantungan yang besar pada pasien dengan riwayat penggunaan alkohol yang besar. Contoh paling gress adalah kematian Whitney Houston baru-baru ini.
Untuk mencegah hal ini sebenarnya yang disarankan adalah jika memang perlu menggunakan obat penenang maka sebaiknya dipilih obat penenang yang waktu paruhnya relatif panjang atau menengah. Hal ini karena obat penenang dengan masa waktu habis di dalam darah yang panjang lebih kurang menimbulkan efek ketergantungan dan toleransi yang cepat dibandingkan dengan obat yang dengan waktu paruh pendek/singkat. Contohnya Alprazolam lebih mudah membuat toleransi atau ketergantungan daripada Diazepam.
Selanjutnya penggunaan obat ini haruslah dalam pengawasan dokter. Pasien tidak diperkenankan membelinya sendiri apalagi mencoba-coba dosisnya sendiri. Walaupun sudah sejak tahun 2009 penjualan obat golongan benzodiazepine di apotek-apotek diperketat, kenyataannya masih banyak apotek yang masih mau melayani pembelian obat jenis ini tanpa resep.
Pakailah dosis optimal terkecil dan dalam jangka waktu yang singkat. Inilah salah satu cara juga untuk menghindari ketergantungan dan toleransi dalam menggunakan obat penenang. Pasien biasanya akan dipantau dalam mengggunakan obat jenis ini dan saran dokter harus diperhatikan dengan baik. Jika merasa sudah terlalu lama (artinya sudah lebih dari 4 minggu), pasien bisa bertanya kepada dokternya kapan akan segera dilepaskan dari obat ini.
Sebelum mengakhiri artikel ini saya hanya ingin menekankan kembali bahwa menurut pendapat saya pribadi yang diperkuat oleh beberapa tulisan di jurnal ilmiah dan buku teks yang saya baca, penggunaan obat penenang golongan benzodiazepine adalah bersifat sementara dan mempunyai peran sebagai obat simptomatik (mengurangi gejala) pada pasien cemas dan depresi. Pengobatan yang tepat untuk kasus-kasus depresi dan cemas tidak tergantung pada obat jenis ini.
Semoga membantu
Salam Sehat Jiwa

Sabu Sabu Penyebab Depresi

Labels: ,



Faktor neurotransmitter penyebab depresi


Norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmitter yang paling berperan dalam patofisiologi gangguan mood.
  1. Norepinefrin : hubungan yang dinyatakan oleh penelitian ilmiah dasar antara turunnya regulasi reseptor b-adrenergik dan respon antidepresan secara klinis memungkinkan indikasi peran sistem noradrenergik dalam depresi. Bukti-bukti lainnya yang juga melibatkan presinaptik reseptor adrenergik dalam depresi, sejak reseptor reseptor tersebut diaktifkan mengakibatkan penurunan jumlah norepinefrin yang dilepaskan. Presipnatik reseptor adrenergic juga berlokasi di neuron serotonergik dan mengatur jumlah serotin yang dilepaskan,
  2. Serotonin : dengan diketahui banyaknya efek spesifik serotin re uptake inhibator (SSRI), contoh; fluoxetin dalam pengobatan depresi, menjadikan serotonin neurotransmitter biogenik amin yang paling sering dihubungkan dengan depresi.
  3. Dopamine: walaupun norepinefrin dan serotonin adalah biogenik amin,Dopamine juga sering berhubungan dengan patofisiologi depresi. Racun Sabu-sabu menyebabkan kadar dopamin mengalami penurunan secara signifikan
  4. Faktor neurokimia lainnya : GABA dan neuroaktif peptida (terutama vasopressin dan opiate endogen) telah dilibatkan dalam patofisiologi gangguan mood. 
  5. Faktor neuroendokrin: Hipothalamus adalah pusat regulasi neuroendokrin dan menerima rangsangan neuronal yang menggunakan neurotransmitter biogenic amin. Bermacam-macam disregulasi endokrin dijumpai pada pasien gangguan mood
  6. Faktor Neuroanatomi: Beberapa peneliti menyatakan hipotesisnya, bahwa gangguan mood melibatkan patologik dan sistem limbik, ganglia basalis dan hypothalamus.

Dekstrometorfan (DMP)

Labels: ,


Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu obat penekan batuk (anti tusif) yang dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Dosis dewasa adalah 15-30 mg, diminum 3-4 kali sehari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, jarang menimbulkan efek samping yang berarti.

Penyalahgunaan Dekstrometorfan (DMP) akhir-akhir ini meningkat. Pertanyaannya, mengapa ia sering disalahgunakan?


Dalam seminar tadi, aku menyebut desktrometorfan adalah sejenis senyawa opiat,namun lemah. Sebagian literatur memang menyebutnya demikian. Secara kimia, DMP (D-3-methoxy-N-methyl-morphinan) adalah suatu dekstro isomer dari levomethorphan, suatu derivat morfin semisintetik. Walaupun strukturnya mirip narkotik, DMP tidak beraksi pada reseptor opiat sub tipe mu (seperti halnya morfin atau heroin), tetapi ia beraksi pada reseptor opiat subtipe sigma, sehingga efek ketergantungannya relatif kecil. Pada dosis besar, efek farmakologi DMP menyerupai PCP atau ketamin yang merupakan antagonis reseptor NMDA. 

DMP sering disalahgunakan karena pada dosis besar ia menyebabkan efek euforia dan halusinasi penglihatan maupun pendengaran. Intoksikasi atau overdosis DMP dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Apalagi jika digunakan bersama dengan alkohol, efeknya bisa sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.
Penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau yang tergantung dosis, seperti berikut:
 

Plateau
Dose (mg)
Behavioral Effects
1st
100–200
Stimulasi ringan
2nd
200–400
Euforia dan halusinasi
3rd
300– 600
Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik
4th
500-1500
Dissociative sedation

Peran apoteker
Nah, untuk itu memang sejawat apoteker perlu mulai mewaspadai dan mengontrol ketat penggunaan obat-obat ini. Di banyak negara, penyalahgunaan DMP banyak dilaporkan, dan DMP banyak dikombinasi dengan obat-obat adiktif lain. Sampai saat ini memang belum ada regulasi yang mengatur penggunaan DMP, termasuk di Amerika. Namun dengan peningkatan penyalahgunaan DMP, lembaga berwenang di Amerika yaitu DEA (Drug Enforcement Administration) sedang mereview kemungkinan untuk melakukan kontrol terhadap penggunaan DMP. 

Infonya bisa ditengok pada http://www.deadiversion.usdoj.gov/drugs_concern/dextro_m/dextro_m.htm.

Sebab Kegagalan Rehabilitasi Narkoba

Labels: , , ,


Jonny 23 thn, Iriani 21thn, Andre 22 thn ( Mahasiswa/I) Telah menjalani rehab sebanyak 3 kali, tetapi belum berhasil lepas dari ketergantungan. 

Dedy 45 thn Pengusaha, telah berulangkali masuk panti rehabilitasi, namun masih gagal. Melinda 32 thn Sosialita, telah menjalani terapi dibanyak tempat tetapi hasilnya tidak signifikan. 

Bobbi 29 thn, pernah di rehab di fasilitas rehabilitasi diluar negeri, selepas rehab kembali terkena narkotika hingga akhirnya diketemukan OD (over dosis) di rumahnya. 

Nama-nama diatas merupakan sampling/gambaran umum yang terjadi dimasyarakat secara umum atau mungkin juga hal ini terjadi juga pada teman kuliah, rekan kerja, tetangga atau mungkin juga keluarga anda. 

Sebab Apa Rehabilitasi gagal : 
  1. Kondisi Psikologi belum normal Detoksifikasi yang tidak tuntas 
  2. Belum selesainya pemulihan fungsi organ tubuh 
  3. Ketidak siapan keluarga dalam masa peralihan Tidak tersedianya kegiatan yang membuat mereka focus. 
  4. Belum adanya border untuk imunitas, dari kontaminasi lingkungan yang tidak sehat dll 
Kompleksitas rehabilitasi Narkotika Sebagai praktisi kesehatan Holistic kami perlu menilai beberapa factor yang menjadi hambatan tidak berhasilnya proses rehabilitasi, dengan beberapa pendekatan.: 
A. Pentingnya informasi Mengenai Masalah Utama yang dihadapi Pasien. 
B. Metode penanganan efektif. 
C. Pengawasan/ Controlling pasca rehab. 

Berikut ini kami mencoba sedikit menguraikan beberapa point terkait dengan pemetaan masalah yang saat ini dihadapi oleh pengguna atau pecandu Narkotika dan Keluarga, sehingga dapat mempengaruhi efektifitas rehabilitasi, Secara umum pecandu Narkotika akan bermasalah pada : Hukum positif. Pelanggaran pada syariat Agama Gangguan pola-pikir/ Psikologis Kerusakan pada Organ tubuh : Otak, Jantung, Paru, Ginjal, Liver, dsb Kesulitan dalam penentuan visi kehidupan dan bersosialisasi Berdasarkan riset yang telah kami lakukan sebagai praktisi kesehatan point yang sangat menjadi kendala dan faktor penentu kesembuhan pecandu narkotika adalah masalah PSIKOLOGIS, yaitu Sbb : Mereka hidup dengan mengandalkan insting dan tidak lagi menggunakan logika. 

Realitas yang ada bahwa pecandu Narkotika umumnya berpendidikan tinggi, sehingga mereka tentunya faham benar efek buruk dari penyalahgunaan narkotika, yaitu dimulai dari berhadapan dengan aparat penegak hukum, kerusakan fisik yang akan di alami, bahkan ancaman kematian sekalipun tidak bisa mereka berhenti menkonsumsi Narkotika. Pecandu 

Narkotika telah kehilangan kehidupan, dimana tubuhnya lah yang mengambil peranan sebagai pusat pengendali bukan otak. Mereka memiliki alam pemikiran tersendiri, sehingga mereka tidak akan memperdulikan orang disekitarnya. Kelainan psikologis yang umum terlihat : Cenderung manipulatif, emosional, super sensitive, penyendiri, tidak care pada diri sendiri pada kondisi tertentu mereka dapat melakukan pencurian/kleptomania, egoistic. Tindakan terapi yang efektif. Rehabilitasi Psikologis Penting bagi keluarga selama proses ini, jangan izinkan mereka memegang kendali atas dirinya, tetapi pihak keluarga yang harus memegang penuh komando dalam kerangka membentuk karakter dan kedisiplinan, proses pembentukan mental dan psikologis ini perlu dilakukan intensif hingga dipastikan alam fikirnya berfungsi sebagaimana orang normal pada umumnya

Mereka harus diberikan pemahaman-kesadaran mengenai keagamaan, kehidupan sosial, pentingnya menghargai kehidupan bagi dirinya dan orang lain. Sehingga mereka menjadi manusia baru yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. 

Detoksifikasi Proses detoksifikasi dapat dilakukan secara medis maupun holistic, pada prinsipnya toksin yang ditimbulkan dari Narkotika harus segera dikeluarkan dari tubuh. Maintenance Fungsi Organ tubuh Narkotika adalah racun yang dapat merusak seluruh oragn penting dalam tubuh untuk itu perlu tindakan perbaikan/pemulihan fungsi organ tubuh seperti: Otak, Hati, Ginjal, Paru, saran kami lakukan terapi holistic seperti Akupunktur, Ber bekam, Totok Syaraf ataupun terapi lain dan Olah raya yang teratur, sehingga menstimulasi fungsi organ tubuh secara alami.  

Pengawasan pasca rehabilitasi  

Yang tidak kalah pentingnya adalah masa-masa peralihan setelah proses rehabilitasi selesai ada beberapa yang perlu dipersiapkan oleh keluarga : Suasanya rumah yang kondusif, kekeluargaan serta harmonis Membuat border/benteng dari lingkungan yang tidak baik, dengan menciptakan lingkungan pergaulan baru yang lebih baik. Diberikan kesibukan dengan kegiatan yang bermanfaat. Diberikan kesempatan untuk membuktikan diri. Keluarga harus selalu mencurahkan segenap perhatian dan senantiasa mengingatkan jika merrasakan ada keanehan atau kemungkinan turunnya motivasi. 

Insya Allah bermanfaat
Sumber : 

KEMATIAN KARENA NARKOTIK DAN OBAT-OBAT HALUSINOGEN

Labels: , , ,

Obat-obat tersebut dibawah ini telah didiskusikan berdasarkan cara pandang patologis atas kasus-kasus fatal.

Morfin dan golongan opioid lainnya      568
Hasil toksikologi                                  569
Metadon                                             570
Halusinogen                                         571
Canabis                                               571
Amfetamin                                           571
Kokain                                                572

Obat-obatan tersebut dapat diabsorbsi secara oral, melalui IV, subkutan, atau suntikan IM, merokok, atau menghisap langsung secara inhalasi melalui hidung. Pada otopsi pemeriksaan sampel untuk toksikologi analisis pengerjaannya dilakukan sesuai dengan urutan yang ada. Campuran obat dan penambahan obat-obat non-narkotik umum terjadi, dan merupakan pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk mengetahui batas aman sampel bahkan jika pada pemeriksaan yang rutin telah diketahui dengan jelas. Contohnya, pada seorang pecandu yang meninggal “karena jarum suntik” dimana terdapat bekas injeksi intravena yang jelas terlihat bekas suntikannya masih tetap dilakukan pemeriksaan isi perutnya untuk investigasi. Sampel standar harus diambil, sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, membandingkan beberapa sampel darah vena (salah satu sampel ditambahkan fluorida), perut beserta isinya, hati dan urin. Pada beberapa keadaan, selain pengambilan sampel dari otak dan ginjal juga ditambahkan sampel dari kandung empedu, cairan serebrospinal, dan vitreous humor. Saat obat telah disuntikkan, akan meninggalkan tanda bekas suntikan dipermukaan kulit berbentuk elips, hingga kedalam jaringan subkutan sampai otot, bagian kulit ini harus dieksisi, beserta kulit sekitar bekas suntikan. Sebelum dikirim kelaboratorium potongan ini harus didinginkan jangan diberi formalin. Pemeriksaan histologi lengkap harus dilakukan terutama untuk obat-obat suntik, dimana kadang ditemukan adanya bahan-bahan asing seperti partikel emboli, khusunya diparu-paru. Pada pemeriksaan histologi, pulmonary granulomata dikenal dengan bentuk ‘mainlining’ pada pecandu obat-obat suntik. Dimana pembuluh kapiler paru menyaring keluar bahan partikel yang digunakan untuk dilusi aktif narkotik. Gambaran khas granulomata adalah talc, kadang ada giant cells. Dibawah cahaya lampu polarisasi, doubly refractile partikel  dapat terlihat pada bagian tengah nodul reaktif. Dikatakan bahwa siderophages juga meningkat diparu pada keadaan ini, dibanding dengan paru-paru pada orang muda yang sehat. Jika obat digunakan secara inhalasi melalui hidung seperti kokain dan heroin, dry swab dari kedua saluran hidung harus diambil.

MORFIN DAN GOLONGAN OPIOID LAINNYA

Morfin merupakan golongan opioid yang paling besar,selain golongan opium alam dan derivat lainnya. Dapat digunakan secara oral atau suntikan. Beberapa diantaranya seperti heroin dan opium digunakan sebagai rokok. Morfin sedikit diabsorbsi melalui traktus gastrointestinal; heroin dapat melalui mukosa hidung.

Golongan opioid diantaranya opium, morfin, heroin (diacetyl morphine), codein (dimethylmorphine),dihydrocodein(DF118), etorphine(Immobilon), metadon, papaverine, pethidine, dipipanone, dextromoramide, dextropropoxyphene, pentazocine, cyclazocine, diphenoxylate, buprenorphine, tramadol, fenatyl, dan yang lainnya.

PEMERIKSAAN OTOPSI

Penemuan otopsi pada mayat yang meninggal karena obat-obatan ini bersifat non-spesifik. Analisis toksikologi dan interpretasi ahli mengenai hasil toksikologi sangat penting untuk menemukan sebab kematian. Pertama adanya tanda bekas suntikan . pada mayat yang masih segar tanda bekas suntikan sama seperti bekas suntikan jarum saat terapi penyuntikan obat. Biasanya terletak dilengan , baik di fossa antecubital siku depan. Atau pada vena prominent lengan depan, atau tangan bagian dorsum. Kebanyakan pecandu lebih sering menyuntik ditangan kiri daripada yang kanan, namun pemakai yang kecanduan akan menggunakan tangan kanan dan kiri secara bergantian karena adanya scerosis vena. Saat lengan dan tangan telah terjadi trombosis dan scar, maka vena-vena didorsum kaki dapat digunakan. Yang jarang adalah pada daerah dinding abdomen secara subkutan. Suntikan jenis ini dikenal sebagai ‘skin popping’ yang bisa menyebabkan timbulnya sclerosis, nekrosis lemak, abses, dan bila suntikan terlalu dalam mengenai otot dapat timbul myositis kronik.

Tanda eksternal lain bisa berupa tato, bergambar yang tidak biasa dan berhubungan dengan subculture obat. Suatu type tato yang spesifik berupa angka seperti ‘13’, didaerah permukaan buccal (bagian dalam) bibir bawah. Pada pecandu kronik tato menutupi hampir seluruh tubuhnya, dan kadang ada tanda infeksi, berupa ulserasi kulit. Bekas suntikan yang lama kadang ditemukan adanya memar, dimana warnanya berbeda dengan memar yang baru saja terjadi. Pada vena dapat terjadi fibrosis berupa phlebitis, atau trombosis vena yang lama.

Saat kematian mendadak terjadi pada pecandu, dapat ditemukan edema paru. Edema paru ini kadang merupakan bentuk yang khas terjadi pada pengguna obat-obat opioid khususnya heroin. Edema dapat berupa blood-tinged, yang sukar dibedakan dengan edema karena tenggelam. 

Penyebabnya tidak diketahui tetapi biasanya karena alergi,sebuah penjelasan yang  kurang memuaskan .Ini telah diklaim bahwa ini kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh  pencampuran obat-obat seperti quinine tapi ini juga masih ragu-ragu.

Kematian dapat terjadi dengan cepat walaupun jarum masih dapat ditemukan di pembuluh darah ketika tubuh ditemukan di sebuah toilet umum atau kadang-kadang di tempat umum lainnya dimana kemudian dapat berubah menjadi tindakan kriminal yang berhubungan dengan kematian.

Tidak ada tanda-tanda yang spesifik pada autopsi .walaupun pada kenyataannya secara klinik ,kontriksi pupil merupakan sebuah tanda yang penting pada keracunan morfin,  setelah kematian dapat terjadi macam-macam perubahan pupil. Pupil mungkin menjadi kecil,dilatasi atau menjadi tidak sama sekali,yang digunakan untuk berbagai bentuk kematian ,jadi tidak ada tanda yang spesifik dan nyata pada keracunan opoid.

Diantara pemakai baru  pada kasus ketergantungan obat ,beberapa meninggal pada suntikan pertama dengan dosis parenteral heroin/morfin.Bentuk kematian dapat terjadi karena henti jantung yang diikuti oleh aritmia dan fibilasi ventrikel tapi tidak ada tanda-tanda keracunan morfin yang ditemukan .Ini mungkin berhubungan dengan sensitivitas miokardium terhadap katekolamin dari obat ,penyebab kuat yang serupa untuk reaksi yang mirip dengan penyebab kematian mendadak dari aborsi.

Aspek lain autopsi pada korban ketergantungan obat adalah resiko tertular infeksi bagi ahli patalogi dan staff kamar mayat.Pengguna dari kelompok resiko tinggi untuk hepatitis  B & C, HIV dan AIDS.Autopsi pada kasus seperti ini dibebankan pada perbedaan autoritas yang sah yang harus berubah lebar tapi ini adalah latihan umum untuk uji HIV dan hepatitis diambil sebelum autopsi kecuali jika rencana autopsi  dilakukan dengan teknik-teknik yang aman .Analisis laboratorium harus diberitahu bahwa sample resiko tinggi yang dikirim ke mereka dan beberapa mungkin segan untuk menangani contoh darah dan jaringan dengan tes serologi positif.Ahli patalogi dapat menolak untuk melakukan sebuah autopsy pada mayat yang dicurigai sampai ada laporan hasil negative dari contoh darah yang diambil.Jika positif untuk  virus hepatitis B &C dan terutama jika jika korban menunjukan tanda-tanda hepatitis seperti jaundice,kemudian banyak ahli patalogi akan mundur untuk melakukan sebuah autopsi kecuali jika ada alas an mendesak .

Pada  AIDS dan HIV positif ,beberapa opini dan latihan-latihan berubah sangat luas pada perkembangan pengetahuan yang sekarang.Ini menunjukan bahwa virus HIV tidak sama seperti kategori infeksi seperti hepatitis dan tidak ada kasus ditemukan  pada penularan post mortem walaupun dengan masa inkubasi yang  lama ;ini mungkin masih premature untuk menjadi puas ,karena masih banyak ahli patalogi forensikyang tidak memeriksa serologi HIV mereka.Walaupun autopsi pada pasien yang meninggal karena AIDS sudah sering dilakukan tapi ada perbedaan yang  potensi resiko autopsi dingin yang dilakukan pada kematian di rumah sakit  setelah 1 atau 2 hari dari ruang pendingin kamar myat dibandingkan autopsi yang dilakukan pada mayat yang masih hangat setelah beberapa jam perkiraan kematian .

Pemeriksaaan Toksikologi
                 
Seperti pada semua kematian karena zat-zat beracun,interpretasi hasil analisa laboratorium dapat menemukan kesulitan besar.Ini mungkin sebuah hambatan besar diantara  pendataan obat dan kematian  selama waktu darah ,urine  dan jaringan dapat menjadi kurang atau hilang .Beberapa obat hancur dengan cepat di dalam tubuh dan metaboliknya hanya dapat dikenali dari pendataan. Pada beberapa kasus,data pada dosis yang mematikan tidak sempurna diketahui dan variasi terbanyak pada penerimaan orang dapat memberikan konsentrasi rata-rata yang ditemukan pada sebuah kematian .

Seperti yang disebutkan di atas,beberapa orang mati mendadak setelah episode pertama pemakaian obat dosis normal karena beberapa penyakit mempunyai idiosinkrasi yang berbeda tiap orang dan analisa kuantitatif dapat tidak menolong.

Ketika telah timbul kebiasaan dan toleransi,pengguna obat dapat mempunyai konsentrasi obat pada cairan tubuh dan jaringan mereka yang jauh  lebih tinggi daripada dosis letal yang diberitahukan untuk yang tidak umum.Pada umumnya nilai  terbesar dari analisa toksikologi adalah kualitatif dan kuantitatif.Penulis akan menunjukan bahwa obat yang telah digunakan pada masa lalu;lamanya waktu  zat atau metabolitnya tetap melakukan di cairan yang berbeda dan jaringan yang berbeda luasnya .

Analisa kuantitatif dapat berguna ,khusunya ketika hasil-hasilnya mengumumkan level tinggi pada racun atau daerah kematian .Angka ini biasanya diperoleh dari survey  kematian terbanyak tetapi berbeda pada batas nilai minimum-maksimun dari laboratorium yang berbeda.Masalah idiosinkrasi dan toleransi menyebabkan diumumkan angka-angka untuk berbuat sebagai  sebuah tongkat yang umum dan kematian –kematian yang terjadi di luar daerah tidak dapat dimasukan dari yang disebabkan oleh zat, pada pertanyaannya jika beberapa faktor –faktor lain dapat dimasukan . Seperti faktor  -faktor yang dimasukan pada beberapa zat seperti alkohol atau keduanya ,penundaan kematian dan sensitivitas yang abnormal.

Pada akhirnya hasil analisa bukan merupakan hasil akhir dari penyebab kematian
meskipun itu adalah komponen penting dari kumpulan hasil investigasi.Ahli patologi berkewajiban untuk menghubungkan dan menginterpretasikan semua hasil yang didapat . Dia harus mencocokkan keadaan-keadaan seperti penyakit bawaan , trauma dan substansi beracun lainnya dengan hasil laboratorium , untuk menyimpulkan suatu penyebab kematian.

Hasil akhir dari pemeriksaan laboratorium toksikologi adalah penting pada proses ini,terutama hubungannya untuk mengetahui penyebab kematian dan zat-zat yang dipakai tetapi analisa tidak harus menjadi satu-satunya hasil akhir untuk menentukan penyebab kematian.

Penyebabnya tidak diketahui tetapi biasanya karena alergi,sebuah penjelasan yang  kurang memuaskan .Ini telah diklaim bahwa ini kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh  pencampuran obat-obat seperti quinine tapi ini juga masih ragu-ragu.

Kematian dapat terjadi dengan cepat walaupun jarum masih dapat ditemukan di pembuluh darah ketika tubuh ditemukan di sebuah toilet umum atau kadang-kadang di tempat umum lainnya dimana kemudian dapat berubah menjadi tindakan kriminal yang berhubungan dengan kematian.

Tidak ada tanda-tanda yang spesifik pada autopsi .walaupun pada kenyataannya secara klinik ,kontriksi pupil merupakan sebuah tanda yang penting pada keracunan morfin,  setelah kematian dapat terjadi macam-macam perubahan pupil. Pupil mungkin menjadi kecil,dilatasi atau menjadi tidak sama sekali,yang digunakan untuk berbagai bentuk kematian ,jadi tidak ada tanda yang spesifik dan nyata pada keracunan opoid.

Diantara pemakai baru  pada kasus ketergantungan obat ,beberapa meninggal pada suntikan pertama dengan dosis parenteral heroin/morfin.Bentuk kematian dapat terjadi karena henti jantung yang diikuti oleh aritmia dan fibilasi ventrikel tapi tidak ada tanda-tanda keracunan morfin yang ditemukan .Ini mungkin berhubungan dengan sensitivitas miokardium terhadap katekolamin dari obat ,penyebab kuat yang serupa untuk reaksi yang mirip dengan penyebab kematian mendadak dari aborsi.

Aspek lain autopsi pada korban ketergantungan obat adalah resiko tertular infeksi bagi ahli patalogi dan staff kamar mayat.Pengguna dari kelompok resiko tinggi untuk hepatitis  B & C, HIV dan AIDS.Autopsi pada kasus seperti ini dibebankan pada perbedaan autoritas yang sah yang harus berubah lebar tapi ini adalah latihan umum untuk uji HIV dan hepatitis diambil sebelum autopsi kecuali jika rencana autopsi  dilakukan dengan teknik-teknik yang aman .Analisis laboratorium harus diberitahu bahwa sample resiko tinggi yang dikirim ke mereka dan beberapa mungkin segan untuk menangani contoh darah dan jaringan dengan tes serologi positif.Ahli patalogi dapat menolak untuk melakukan sebuah autopsy pada mayat yang dicurigai sampai ada laporan hasil negative dari contoh darah yang diambil.Jika positif untuk  virus hepatitis B &C dan terutama jika jika korban menunjukan tanda-tanda hepatitis seperti jaundice,kemudian banyak ahli patalogi akan mundur untuk melakukan sebuah autopsi kecuali jika ada alas an mendesak .

Pada  AIDS dan HIV positif ,beberapa opini dan latihan-latihan berubah sangat luas pada perkembangan pengetahuan yang sekarang.Ini menunjukan bahwa virus HIV tidak sama seperti kategori infeksi seperti hepatitis dan tidak ada kasus ditemukan  pada penularan post mortem walaupun dengan masa inkubasi yang  lama ;ini mungkin masih premature untuk menjadi puas ,karena masih banyak ahli patalogi forensikyang tidak memeriksa serologi HIV mereka.Walaupun autopsi pada pasien yang meninggal karena AIDS sudah sering dilakukan tapi ada perbedaan yang  potensi resiko autopsi dingin yang dilakukan pada kematian di rumah sakit  setelah 1 atau 2 hari dari ruang pendingin kamar myat dibandingkan autopsi yang dilakukan pada mayat yang masih hangat setelah beberapa jam perkiraan.

Methadone

Methadone telah dibuat untuk digunakan terutama sebagai perawatan pada ketergantungan pemakaian heroin, tapi sayangnya, pada kenyataannya digunakan untuk menggantikan pada ketergantungan yang lain, walapun agak sedikit mematikan, pengalaman baru-baru ini di scotlandia telah menunjukkan bahwa kematian karena penyebab methadone mungkin disebabkan karena penggunaan heroin, yang seharusnya dulunyanya digunakan untuk penggantian. Secara medical penggunaaan methadone adalah untuk penahan sakit dan lebih baik dibandingkan morphine. Oleh karena itu penggunaaanya lebih baik diminum(oral) dibandingkan dengan suntikan (injeksi). Bagaimananapun juga  Methadone memilik dosis yang kuat dan kahasiatnya sebagai obat penenang  yang sering kali tidak nyaman.dan sebetulnya methadone memilih daya candu (ketergantungan) yang sama dengan epioids.

Banyak penyebab kematian terjadi karena penyalahgunaan obat ini, ketika secara logis methadone didapatkan untuk menggantikan ketergantungan dari heroin atau biasa didapatkan dipasar gelap. Kebanyakan kematian dikarenakan methadone diminum melebihi batas dari apa yang dianjurkan, bahkan untuk penggunaan methadone kurang dari 50 mg dapat membawa maut pada penderita yang menggunakannnya sebagai obat pengganti untuk perawatan.

Pada contoh post mortem, Ginjal memiliki konsentrasi yang paling tinggi. Tingkat yang paling fatal ditemukan pada analisis pasien yang memiliki kelebihan pada penggunanaan dosis untuk penggantian heroin, sehingga membuat penafisaran yang sulit, tingkat darah seperti yang ditunjukkan  oleh 10 kasus yang  Fatal Manning -  Mean 1.0/mg/1 (berkisar  0.1-1.8); liver – mean 3.8 mg/1(berkisar 1.8-7.5); bile-mean 7.5 mg/1 (berkisar 2.9-19.00 dan otak ; mean 1.0 mg/1 (berkisar 0.5-1.4).
  
      Baselt
Stead dan Moffat

Jarak
Rata-rata

Heroin
Darah
Urin
Empedu

0.05-3.0
0.7-86
3.2-119

0.3-0.4
5-18
32

>0.1 (rata2 0.43)
Morphine
Darah
Urin
Hati

0.2-2.3
14-18
0.4-18

0.7
3.0
52

>0.2 (rata2 0.7)
Kokain
Darah
Urin
Hati

0.9-21
1.4-215
0.1-20

5.2
47
4.3

3.1 (satu kasus)
Amphetamin
Darah
Urin
Hati

0.5-41
25-700
4.3-74

8.6
237
30

>0.5
Phencyclidine
Darah
Urin
Hati

0.3-25
0.4-120
0.9-170

4.8
35
23

>0.3(rata2 2.9)
Pethidin Oral
Darah
Urin
Hati

8-20
150
5-10

12
150
7

>2 (rata2 14)
Tabel 32.1 Konsentrasi obat-obatan narkotik dalam darah dan jaringan (mg/l atau kg) dari macam variasi fatal


Halusinogen
Sebagian obat-obatan hallucinogens merupakan penyebab utama kematian, tapi sebagian lagi mungkin akan menyebabkan trauma akan kematian, sebab pada orang yang mempunyai tingkah laku yang tidak normal yang mungkin diluar kesadaran mereka. Contohnya, korban LSD “trip” mungkin diluar pengaruhnya membuat mereka dapat terbang dan jadi membayangkan diri mereka terbang tinggi keluar dari jendela, sebagian obat bius memiliki efek racun yang langsung bereaksi, sehingga sama seperti kebanyakan obat bius memiliki daya ketergantungan. Otopsi dilapangan menemukan hasilnya akan negative atau tidak sama sekali.

Phensiklidin
Secara kimia phensiklidin adalah 1-(-phenylcyckohexyl) piperidine, hydochloride, dikenal sebagai PCP atau “debu mailakat” sama dengan kebanyakan sebutan lainnya. Ini sering digunakan pada campuran ketergantungan obat  bius. Jumlah kematian telah dilaporkan karena penggunaan obat tersebut. Berbagai macam cara termasuk hypertermia, intracranial haemorrhage dan kerusakan tinggi pada jantung.
Phencyclidine diekskresi di urine dalam  jangka waktu yang lama sampai  dan contoh otopsi bisa positif selama lebih dari seminggu

Diethilamid Asam Lisergat
Dikenal dengan nama LSD, yang diambil dari akronim bahasa jerman “lyserge saure diethylamid” adalah hallucinogenic yang sangat kuat, yang tidak akan fatal untuk dirinya sendiri, seperti yang disebutkan diatas. Ini sebuah kata lain dari indolealkaloid, yang terdapat pada anggota yang lain yang memiliki psilocybin dan psieocin, yang mengandung jamur mexico (psilocybe mexicana)
Mescaline, diperoleh dari kaktus, Laphophora williamsii  di centrak America, yang secara kimia trimethoxyphenethylamine, sekali lagi tidak terdapat zat yang mematikan.

Kanabis
Cannabis, dengan segala jenis sebutan pada setiap setiap negara yang berbeda, memiliki setidaknya sejenis kima aktif, yang paling penting adalah satu satu dari tetrahydrocannabinols. Jadi akibatnya menjadi masalah yang merupakan kontroversi, kelihatannya menjadi ketentuan umum yang digunakan sendiri, masalah kematian sendiri tidak dapat  disalahkan, bukti –bukti yang dapat dihasilkan cannabis adalah analisa dari urine, darah dan swab dari jari dan bibir.

Amphetamin
Sekarang jarang digunakan pada praktek klinik dikarenakan mempunyai efek samping yang tidak menyenangkan, jenis-jenis obat bius amphetamine telah dipergunakan untuk menghilangkan kelelahan dan untuk menghilangkan nafsu makan. Methylamphetamine sulphate dan dexamphetamine merupakan amphetamine itu sendiri, dan apakah masih banyak tersedia di pasar-pasar gelap. Kematian adalah sesuatu yang tidak biasa dari kelebihan pemakain amphetamineitu sendiri. Sebuah proses otopsi tidak akan menemukan bagian-bagian yang spesifik kemungkinan perdarahan subarachnoid otak dari hypertensi induced.

Data-data dari bagian keracunan menyarankan bahwa setelah terapi dosis 10 mg, konsentrasi dalam darah selama 2 jam akan menjadi 0.035 mg/l, setelah 30 mg, kadar puncak plasma menjadi kira-kira 0.11 mg/l ini terjadi sekitar 2 sampai 5 jam, dan berkurang menjadi 0.084 mg/l pada 4,5 jam. Penderita kronik yang  mengkonsumsi lebiih banyak  kadar dalam  darah sampai 2-3 mg/l. Penderita fatal yang jarang terjadi, terdapat berkisar yang lebar dari kadar dalam  darah pada pada saat otopsi dilakukan, dari mula 0.5 sampai 41 mg/l (tingkat rata-rata 8.6) tergantung dari ukuran kelebihan dosis dan waktunya sampai meninggal. Biasanya kadar dalam hati pada 474 mg/kg (rata-rata 30) dan ekskresi urine, berkisar dari 25 sampai 700 mg/l dengan kadar rata-rata 237 mg/l.

METILENDIOKSIMETAMFETAMIN (MDMA) ATAU EKSTASI
Dalam beberapa tahun terakhir, derivate amfetamin yang baru telah disalahgunakan oleh para pecandu obat meskipun obat-obatan tersebut telah digunakan dalam bidang kedokteran dalam beberapa tahun. Yang paling sering disalahgunakan adalah MDMA (3,4-metilendioksimetamfetamin), dikenal sebagai ‘ekstasi’, ‘XTC’ atau ‘ADAM’. Golongan lain dari derivate ini adalah MDA (metal 3,4-metilendioksiamfetamin) dan MDM (n-metil-MDA). MDMA atau ekstasi ditemukan beberapa tahun yang lalu, yaitu tahun 1914 dan untuk beberapa waktu telah digunakan sebagai fisikoterapi. Akhir-akhir ini digunakan sebagai obat halusinogen illegal, dan meskipun telah menyebabkan kematian, obat ini dilaporkan masih sering digunakan baik di Amerika Serikat maupun Britain. Pada autopsi yang dilakukan oleh penulis pada seorang mayat laki-laki yang telah menelan ekstasi tidak ditemukan adanya tanda kongesti sianosis umum dan akhirnya didiagnosa sebagai bukti toksikologi.

Sejak edisi pertama buku ini, kematian akibat MDMA biasanya terjadi pada orang muda, terutama pada pesta ‘rave’ : hipertermi, dehidrasi dan miositolisis adalah beberapa efek dari obat yang fatal.

KOKAIN

Seperti halnya heroin, kokain dan beberapa obat yang berhubungan telah menimbulkan masalah yang mana mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kematian. Karena kokain langsung dihancurkan bila diminum, maka orang lebih cenderung menggunakannya dengan cara disuntik atau dihisap. Akhir-akhir ini telah dilaporkan kematian akibat absorpsi via rectum.  Pada beberapa waktu, pemakai kokain meninggal akibat overdosis kokain. Di India, para pelacur telah menggunakan kokain pada vagina mereka.

Pada daerah dimana banyak terdapat pecandu kokain, kematian yang signifikan dihubungkan dengan penggunaan narkotik. Dari laporan Morild dan Stajic di New York, dari 103 kematian, toksikologi membuktikan bahwa 64 kematian adalah akibat kokain. Penelitian memperkirakan pemakaian kokain selama masa maternal menyebabkan terjadinya abruption placentae dan aborsi.

Kematian telah dicatat akibat menggunakan kokain sebanyak 20-30 mg di hidung tetapi apabila dipakai sebanyak segram di mulut tidak membahayakan. Seperti narkotik lainnya, toleransi terjadi pada pemakai kronis, membuat batasan level dosis yang berbahaya jadi lebih sulit. Dosis intravena sebanyak 100 mg, 10 kali lebih sering menyebabkan dosis letal, meskipun pada para pecandu kokain dosis ini dapat ditoleransi. Absorpsi via hidung kurang efektif dan membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mencapai efek yang sama dengan penggunaan secara parenteral. Ulserasi dan perforasi pada septum hidung jarang ditemukan pada pengguna kronik. Kematian mungkin terjadi akibat hipersensitivitas atau overdosis kokain. Hal ini terjadi akibat mati mendadak yang disebabkan oleh cardiac arrest yang biasanya terjadi pada pemakai pemula.

Tidak ada gambaran spesifik pada autopsy. Oedem pulmoner yang biasanya ditemukan pada kematian akibat pemakaian heroin tidak ditemukan pada kematian akibat kokain, meskipun kematiannya akibat disritmia.

Kokain bekerja merangsang system saraf otonom. Tekanan darah dapat tiba-tiba naik mendadak kadang-kadang melebihi 300 mmHg sehingga dapat menyebabkan perdarahan otak.

Sama seperti opioid, hasil autopsy dapat memperlihatkan beberapa komplikasi dari penggunaan kokain dengan menggunakan jarum suntik, salah satunya adalah penularan penyakit infeksi HIV dan hepatitis. Beberapa tahun belakangan, di New York dan California, penularan malaria melalui jarum suntik menjadi salah satu masalah yang menimpa para pecandu kokain yang menggunakan syringe dan jarum suntik secara bersama-sama. Salah satu cara untuk mengobati Plasmodium yang merupakan penyebab malaria adalah dengan menggunakan kina.

Infeksi piogenik juga sering terjadi dan biasanya ditemukan dengan adanya phlebitis dan abses emboli. Ulserasi dapat terjadi di tempat suntikan sehingga dapat menyebabkan timbulnya limfadenitis regional, tetapi sekuele yang paling membahayakan adalah terjadinya endocarditis. Pada endokarditis karena infeksi piogenik ini dapat menyerang katup jantung manapun termasuk pada bagian kanan jantung, berbeda dengan endocarditis pasca reumatik yang biasanya tidak terpengaruh.

Banyak organisme yang menyebabkan infeksi ini, antara lain Streptokokkus hemolitikus dan non hemolitikus, Streptokokkus fekalis, Stefilokokkus aueus, Pseudomonas aeoginosa serta beberapa jamur. Kultur darah post mortem biasanya menunjukkan adanya infeksi campuran dari organisme-organisme tersebut. Untuk menentukan organisme mana yang paling dominant menyebabkan infeksi adalah sulit, tetapi ada cara yang signifikan untuk mencarinya, yaitu dengan  mencari organisme mana yang paling banyak pertumbuhannya. Pendapat dokter mikrobiologi harus dicantumkan apabila terlihat kultur darah yang positif.

Obat apapun yang digunakan secara intravena biasanya terdiri dari starch atau talk yang mana dapat menyebabkan timbulnya granulomata benda asing di paru, dimana komponen yang tidak larut biasanya disaring dalam pembuluh darah pulmoner. Granulomata adalah karakteristik untuk pecandu obat yang menggunakan obat secara intravena, dan biasanya elemen refraktil dari granulomata ini mudah terlihat dalam mikroskop.

Karena kokain sering digunakan dengan cara dihirup, swab harus selalu diambil dari setiap hidung dengan menggunakan swab cotton-wool.Swab yang tidak lazim harus dikirim ke laboratorium untuk digunakan sebagai control. Sejumlah sample lain adalah darah, urin, isi perut, hati dan cairan vitreus harus secara rutin diambil ketika autopsy. Menurut Baselt, kadar kokain dalam darah yang dapat membahayakan tubuh adalah sekitar 1 sampai 21 mg/L dengan mean 5,2 mg/L.

info terkait : 

Methadone sebabkan 30 persen Kematian

Obat HIV mendorong Kerusakan Otak

Labels: ,

Minggu, 30 September 2012 22:30 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Berkat ditemukannya obat antiretroviral, orang-orang yang terinfeksi HIV saat ini bisa hidup lebih lama dibanding mereka yang mengalami hal yang sama 20 tahun silam. Namun, ternyata, penggunaan obat itu dalam jangka panjang bisa melemahkan fungsi kognitif otak.

Penelitian Johns Hopkins University terbaru menunjukkan nyaris 50% penderita HIV akhirnya mengalami kerusakan saraf dan otak. Termasuk di antaranya menyebabkan ketidakmampuan menyetir, bekerja, atau melakukan kegiatan sehari-hari. Dulu semua perubahan itu dituduhkan pada penyakit HIV, namun penelitian membuktikan obat itulah yang mendorong kerusakan otak.

Sayangnya meski sudah berhasil menemukan penyebab kerusakan otak pada pasien HIV, para peneliti belum menemuan obat untuk mengatasi persoalan itu. "Menemukan dan menyatakan suatu masalah adalah satu hal, namun menemukan penyelesaiannya adalah perkara lain," kata Norman J. Haughey, salah seorang peneliti.(sciencedaily/ICH)

Methadone Sebabkan 30 Persen Kematian Overdosis

Labels:


AFP – Rab, 4 Jul 2012
Washington (AFP/ANTARA) – Resep obat methadone dikaitkan dengan lebih dari 30 persen kematian overdosis obat penghilang rasa sakit, menurut sebuah laporan yang dirilis Centers for Disease Control (CDC) and Prevention pada Selasa. 

“Kematian karena overdosis opioid meningkat empat kali lipat dalam dekade terakhir, dan saat ini metadon menyumbang hampir sepertiga dari kematian terkait opioid," kata Direktur CDC, Thomas Frieden. 

Namun, obat itu menyumbang sekitar dua persen dari total obat penghilang rasa sakit yang diresepkan di Amerika Serikat pada 2009. 

Para peneliti mengamati data nasional dari 1999 hingga 2010, serta data untuk 2009 dari 13 negara yang diamati jaringan pengawas terkait kematian akibat obat. Jumlah orang yang meninggal akibat overdosis methadone pada 2009 ternyata enam kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pada 1999. 

Methadone digunakan sebagai pengobatan yang berhasil untuk mengatasi kecanduan narkoba, selama beberapa dekade. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak dokter yang memberikan resep obat itu sebagai penghilang rasa sakit. 

Risiko yang ditimbulkan methadone jauh lebih besar dari obat penghilang rasa sakit lainnya, karena obat tersebut sering menumpuk dalam sistem tubuh pasien dan dapat mengganggu pernapasan serta detak jantung. (ai/ml)


sumber : 
http://id.berita.yahoo.com/methadone-sebabkan-30-persen-kematian-overdosis-094541435.html


Info terkait
Angka kematian akibat Narkotika

Program Terapi Metadon bagi Pecandu Heroin

Labels:

Penulis : Dr Iskandar Irwan Hukom, MA
Sekretaris Jenderal YCAB

Media Indonesia, 23 Februari 2008  

SEJARAH penggunaan candu baik sebagai obat maupun zat yang dapat menimbulkan kenyamanan telah dimulai sejak 3400 sebelum masehi (SM). Candu berasal dari tanaman opium yang memiliki nama Latin Papaver somniferum(atau biasa disebut tanamanpoppy). Pemberian nama tanaman ini dilakukan Bapak Botani Carolus Linnaeus pada 1753. Tanaman ini diklasifikan dalam kategori tertentu yang memiliki arti perangsang tidur. Penanaman opium pertama kali dilakukan di lembah Mesopotamia.

Dari lembah inilah terentang sejarah panjang candu, yang kemudian menyebar ke Mesir, melintasi laut Mediterania menuju Yunani dan Eropa. Tahun 330 (SM) Raja Alexander Agung memperkenalkan opium pada masyarakat India dan Persia.
Pada 440 M, orang di China mulai mengenal opium melalui pedagang dari Arab. Dan di Eropa pada abad ke-14, opium sempat dianggap tabu, sehingga menghilang selama kurang lebih 200 tahun. Namun 1527, opium kembali diperkenalkan di Eropa, khususnya dalam bidang kedokteran, dan digunakan sebagai obat antinyeri.
Tahun 1606, Ratu Elzabeth I menginstruksikan kapal-kapalnya untuk membawa opium kualitas terbaik dari India dan membawanya ke Inggris. Mulai 1700 kapal-kapal Belanda membawa opium menuju China sampai ke daerah-daerah Asia lainnya. Kurang lebih 20 tahun kemudian, banyak orang di China yang menggunakan opium dengan cara dihisap melalui pipa sehingga Kaisar Yung Cheng melarang penggunaan opium secara bebas. Perusahaan Inggris India Timur (British East India Company), terus memperdagangkan opium dengan cara monopoli.
Karena melihat dampak negatif yang terjadi pada rakyat China, Kaisar Kia King melarang perdagangan opium secara keseluruhan. Inggris tidak menerima sehingga pada 3 November 1839, perang candu meletus ditandai dengan serangan angkatan laut Inggris terhadap kapal-kapal sipil China. Perang itu semakin memanas sejak Juli 1840.
Perang itu pecah karena tindakan Inggris yang ingin memperluas perdagangan candu dengan menggunakan wilayah China sebagai jalur perdagangan. Akibatnya, banyak rakyat China yang menjadi pecandu. Pemerintah China kemudian membuang 20 ribu peti candu milik pedagang Inggris ke laut dan akibatnya, meletuslah perang di antara kedua pihak.
Dalam perang ini, China mengalami kekalahan dan terpaksa membayar ganti rugi perang yang sangat banyak kepada Inggris. Namun, Inggris masih belum puas dengan kemenangan itu karena ingin memperluas perdagangan candu. Pada 1856, Inggris dan Prancis kembali berniat memerangi China. Pada 1860, China menyerah dan Inggris semakin leluasa melakukan perdagangan candu.
Jenis-jenis narkoba
Salah satu zat yang berasal dari candu adalah morfin. Morfin berasal dari getah candu, dan pertama kali ditemukan seorang ahli farmasi Jerman yang bernama Friederich Wilhem Adam Serturner.
Pada 1804, heroin disintesa pertama kali oleh CR Alder Wright, seorang ahli kimia dari Inggris yang bekerja di pusat kajian rumah sakit St Marry, London.
Pada 1889, sebuah pabrik farmasi di Jerman secara resmi memasarkan heroin sebagai obat untuk menanggulangi kecanduan morfin dan juga sebagai obat batuk. Peredaran obat ini dihentikan pada 1910, setelah diketahui adanya efek yang merugikan penggunanya (menimbulkan kecanduan).
Heroin sempat diizinkan beredar di Amerika Serikat pada 1914, namun kongres kemudian melarangnya pada 1924.
Ilmu farmasi dan kedokteran terus berkembang sehingga sampai saat ini sudah dapat disintesa berbagai macam jenis obat dari tanaman candu. Dalam bidang kedokteran, obat yang berasal dari tanaman candu (atau obat yang mempunyai daya kerja sama dengan obat dari tanaman candu), digolongkan sebagai narkotik.
Cara kerja narkotik
Narkotik akan bekerja di otak dengan menempati reseptor opioid/ opiat. Di otak manusia terdapat tiga reseptor opiat, yaitu μ, ?, d (mu, kappa, dan delta), yang mempunyai efek masing-masing. Misalnya, reseptor mu bertanggung jawab dalam rasa nyeri, sehingga bila reseptor menerima molekul zat yang cocok dengannya, rasa nyeri akan hilang.
Terdapat tiga golongan narkotik, yaitu narkotik alamiah, contoh morfin dan kodein. Narkotik semisintetis, contoh heroin, dan narkotik sintetis, contoh, fentanyl, petidin, metadon.
Beberapa jenis narkotik, misalnya, morfin dan heroin, dapat memberikan efek yang diinginkan bila diberikan melalui suntikan. Karena itu, penyalahgunaan narkotik jenis heroin dengan menggunakan alat suntik menjadi sangat terkenal di kalangan pecandu heroin.
Penyalahgunaan narkotik dengan cara suntik telah menjadi permasalahan yang kompleks. Di Indonesia peningkatan jumlah IDU (pengguna narkotik suntik) terjadi dengan sangat cepat dan sudah mencapai tahap yang memprihatinkan.
Data P2PL pada 1996-2002 menunjukkan kenaikan infeksi HIV pada pengguna narkotik suntik di Jakarta dan Bogor. Data tersebut diperoleh dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta dan Yayasan Kita, Bogor. Dari RSKO terdapat kenaikan dari 16% (1999) menjadi 48% (2001). Dari Yayasan Kita terdapat kenaikan dari 14% (1999) menjadi 45% (2001).
Metadon
Metadon pertama kali dibuat di Jerman, pada 1939. Setelah melalui penelitian dan riset dari berbagai macam obat penghilang rasa nyeri, dua ahli farmasi di perusahaan Hoechst, yaitu Bockm¸hl dan Ehrhart menemukan obat ini. Pada mulanya obat ini diberi nama Dolophine. Banyak yang menduga nama ini berasal dari nama depan Adolf Hitler, penguasa Jerman saat itu.
Setelah Perang Dunia ke-2, seluruh industri Jerman, termasuk industri farmasi, dikuasai pihak sekutu dan seluruh nama paten dibatalkan. Data-data dan berkas penelitian dibawa ke Amerika termasuk data dan berkas tentang Dolophine. Tahun 1947 obat ini dipatenkan Counsil on Pharmacy and Chemistry of the American Medical Association, dengan nama generik Methadone.
Obat ini kemudian mulai diproduksi pabrik-pabrik farmasi di Amerika maupun di negara-negara lain dengan berbagai merek dagang, misalnya, Adanon, Biodone, Dolamid, Dolophine, Eptadone, Metasedin, Methadone, dan banyak merek dagang lainnya. Metadon dipakai sebagai obat penghilang rasa nyeri dan diyakini dapat digunakan untuk terapi detoksifikasi dan terapi rumatan bagi pecandu heroin.
Efektivitas metadon untuk pecandu heroin
Sebuah penelitian yang dilakukan di Kota Split, Kroasia, mencoba membandingkan tiga kelompok pecandu heroin yang memperoleh tiga jenis perawatan (terapi) yang berbeda. Kelompok pertama (1) terdiri dari 30 pecandu heroin yang mengikuti program terapi rumatan metadon (PTRM). Kelompok kedua (2) terdiri dari 30 pecandu heroin yang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kelompok ketiga (3) terdiri atas 30 pecandu heroin yang mengikuti program therapeutic community.
Seluruh pecandu itu paling sedikit telah menggunakan heroin selama dua tahun sebelum penelitian dilaksanakan. Terapi dikatakan berhasil, jika pecandu terbukti bersih dari heroin paling sedikit dua tahun setelah mengikuti program. Hasilnya adalah sebagai berikut.
Dari kelompok peserta PTRM , hanya 1 orang yang terbukti tidak menggunakan heroin, walaupun masih menggunakan soft drug dan alkohol.
Dari kelompok peserta yang dirawat di rumah sakit, tidak ada yang terbukti bebas dari penggunaan heroin.
Dari kelompok therapeutic community, didapati sembilan orang yang dapat bebas dari penggunaan heroin.
Kesimpulan dari penelitian ini ialah: Penanganan pecandu heroin dengan cara therapeutic communitymendapatkan hasil yang lebih baik daripada cara terapi rumatan metadon dan atau perawatan rumah sakit.
Pada 2005, dalam kunjungan ke Thanyarak Institute (Thailand), saya mendapat informasi bahwa metadon telah digunakan selama 30 tahun sebagai terapi detoksifikasi dan terapi rumatan untuk pecandu heroin. Tempat ini juga telah mempunyai suatu sistem yang telah diuji berulang-ulang. Suatu kajian retrospektif pernah dilakukan Verachay dkk di Thanyarak Institute, terhadap 195 pasien yang mengikuti program terapi rumatan metadon (Methadone Maintenance Program/ MMP) pada 1990- 1996.
Dari penelitian tersebut dua per tiga kasus harus dibatalkan karena dalam tes urin yang dilakukan didapati lebih dari delapan kali positif untuk heroin (tes urin dapat membedakan antara heroin dan metadon). Kesimpulan dari penelitian ini, sekalipun program ini merupakan suatu program yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku adiksi dari pecandu heroin, tetapi program ini belum menjadi perangkat yang menjanjikan untuk menghentikan masalah adiksi.
Terapi metadon di Indonesia
Di Indonesia kurang lebih tiga tahun yang lalu metadon mulai diujicobakan kepada pecandu heroin di RSKO Jakarta. Metadon yang diberikan berasal dari lembaga- lembaga donor dunia. Dan pada 2006 menteri kesehatan mengeluarkan keputusan No 494/ MenKes/SK/VII/2006 tentang Penetapan Rumah Sakit & Satelit Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon, serta Pedoman Program Terapi Rumatan Metadon.
Di dalam surat keputusan tersebut telah ditetapkan beberapa rumah sakit dan puskesmas sebagai tempat uji coba terapi metadon (Lihat tabel).
Program ini pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu program detoksifikasi dan program rumatan. Untuk program detoksifikasi dibedakan menjadi jangka pendek dan jangka panjang yaitu jadwal 21 hari, 91 hari, dan 182 hari. Sedangkan program rumatan/pemeliharaan berlangsung sedikitnya 6 bulan sampai 2 tahun atau lebih lama lagi.
Dalam SK Menkes No 494/SK/ VII/2006, kriteria untuk menyatakan seseorang termasuk pecandu atau bukan, digunakan pedoman ICD-10, suatu pedoman klasifikasi internasional yang dibuat di Kopenhagen pada 1982. Namun dalam lampiran SK Menkes No 567/ SK/VIII/206, tentang pedoman pelaksanaan pengurangan dampak buruk napza, kriteria yang digunakan untuk terapi substitusi ialah DSM-IV (diagnostic and statistical manual), yaitu kriteria yang dikeluarkan asosiasi dokter jiwa di Amerika Serikat pada 1990- an.
Menurut para ahli jiwa di Amerika Serikat, DSM-IV ini, lebih jelas untuk digunakan ketimbang ICD- 10 (lihat boks 1). Menurut saya kedua kriteria ini hanya bermanfaat bagi para pakar dan untuk kepentingan penelitian, dan ini tidak dapat dijadikan dasar absolut, khususnya ketika bertemu kasus adiksi di lapangan.
Memang alangkah baiknya jika surat keputusan resmi yang dikeluarkan oleh menteri kesehatan mempunyai keseragaman dalam menggunakan kriteria diagnosis, supaya tidak menimbulkan kebingungan, khususnya bagi para peneliti yang akan mengkaji program terapi rumatan metadon.
Jika kita terus mengkaji SK ini, jelas tercantum bahwa program ini, tidak bisa tidak, harus disertai dengan sesi-sesi konseling, bahkan juga dalam komponen ketiga tersirat adanya terapi keluarga.
Kembali muncul pertanyaan bagaimana dengan tenaga-tenaga dokter, konselor, apakah telah mencukupi baik dari sisi jumlah maupun mutunya, lalu bagaimana sistem pengawasan tenaga-tenaga ini. Jika konseling tidak dilakukan, maka program ini tentu saja perlu dipertanyakan efektivitasnya.
Saya yakin bahwa setelah 2 tahun program ini berjalan, hasil dari laporannya akan baik. Tetapi pertanyaannya adalah, seberapa baik yang dimaksud dengan 'baik' itu? Jika berjalan tidaknya program dianggap sebagai tolok ukurnya, maka akan menjadi mudah untuk mengatakan baik. Namun bagaimana dengan perubahan perilaku adiksi dari para pecandu heroin yang ikut serta dalam program ini?
Perspektif keuangan atas terapi metadon
Saya juga memikirkan bagaimana kelanjutan dari program ini, terutama jika lembaga donor tidak lagi memberikan bantuan berupa obat metadon. Siapkah kita dengan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankannya secara mandiri?
Memang saat ini setiap peserta PTRM, hanya dikenakan biaya Rp 5.000 dan setahu saya bantuan metadon, berupa subsidi, masih didapatkan dari lembaga donor. Secara kasar saya memperkirakan, jika subsidi ini dihentikan, peserta program ini harus mengeluarkan biaya paling sedikit Rp20 ribu untuk setiap kali datang guna mendapatkan obat ini. Biaya ini belum termasuk biaya transpor dll.
Jika Puskesmas diberdayakan menjadi pelaksana PTRM, untuk satu orang pecandu heroin kirakira satu puskesmas membutuhkan biaya sekitar Rp600 ribu/bulan, belum termasuk gaji pegawai, konselor. Setahu saya sebuah puskesmas di Jakarta yang telah menjalankan PTRM, sebulannya rata-rata dapat melayani 150 sampai 200 peserta PTRM, sehingga biaya yang dikeluarkan tinggal dihitung saja.
Saya berpendapat jika pada akhirnya biaya ini akan menjadi tanggung jawab dari pemerintah (dalam hal ini Departemen Kesehatan, Badan Narkotika Nasional dan Badan Narkotika Provinsi/ Kodya/Kabupaten), beban ini juga akan ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia. Apakah beban berat yang ditanggung rakyat Indonesia saat ini masih akan ditambah dengan beban untuk menyubsidi para pecandu heroin?
Bagaimana kita menyikapi hal ini? Tentunya jika permasalahan penyalahgunaan narkoba tidak ditangani dengan tepat dan dikaji terus menerus, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani masalah ini semakin hari akan semakin besar. Akhirnya akan terjadi pengulangan sejarah seperti yang dialami China saat candu digunakan sebagai senjata untuk 'menjajah' suatu negara (tetapi kali ini dalam bentuk 'legal'). Maukah Anda?***