Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label metadon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metadon. Tampilkan semua postingan

Susahnya Lepas dari Xanax

Labels: , ,

Oleh : Dr.Andri,SpKJ

Beberapa kasus ketergantungan Alprazolam (kebanyakan dari merk Xanax) sering kali datang kepada saya untuk meminta pertolongan agar sembuh dari ketergantungan ini. Kebanyakan pasien sudah tahunan memakai Alprazolam (Xanax) bahkan ada yang sudah 22 tahun memakai obat ini. Pemakaiannya pun bukan dosis kecil lagi tetapi sudah sampai dosis minimal 3-10 milligram perhari. Di bawah ini akan saya ungkapkan kasus-kasus sulit ini dan bagaimana cara penanganan di awal agar menjadi lebih paham buat pembaca sekalian.

Kasus 1.

22 Tahun Lebih Menggunakan Xanax

Pasien laki-laki usia 52 tahun, pertama kali memakai Xanax sekitar 22 tahun yang lalu sejak pulang dari luar negeri untuk sekolah. Awalnya memakai obat-obatan golongan benzodiazepin dari psikiater di tempatnya sekolah dulu. Pasien kemudian sejak itu tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap Xanax. Ketergantungannya ini juga sangat berhubungan dengan merek, artinya tanpa menggunakan Xanax pasien tidak bisa menggunakan Alprazolam merek lain. Saat ini dosis Xanax yang digunakan 6-8 miligram perhari.

Pasien sudah berkonsultasi selama 1 tahun, belum ada perubahan berarti. Pernah mencoba melakukan upaya Cold Turkey (berhenti sama sekali) namun mengalami efek putus obat yang berat seperti menggigil, lemas, kelelahan yang sangat, seperti tidak bertulang, keluar keringat dingin dan pikiran menjadi tidak bisa “digunakan”. Jika tidak memakai xanax, pasien tidak bisa berpikir dan bekerja seperti biasa. Kalau memakai xanax, pasien “normal” kembali.

Salah satu faktor kesulitan dalam pengobatan pasien ini adalah, tidak ada obat yang cocok yang bisa menggantikan peran xanax untuk mengatasi kondisi fisik dan psikologis yang dialami pasien.

Kasus 2.

10 Tahun menggunakan Xanax

Pasien laki-laki usia 48 tahun, pertama kali menggunakan xanax sekitar 10 tahun yang lalu. Dosis saat itu hanya 0.5mg digunakan untuk membuat pasien tidur lebih nyeyak,. Resep saat itu diberikan oleh dokter umum dan kemudian oleh pasien diteruskan makan xanax tersebut terus menerus sampai saat ini. Dosis saat ini berkisar antara 6-7 miligram perhari terbagi menjadi 3 kali pemakaian. Pasien awalnya dikonsultasikan kepada saya karena dokter interna dan dokter bedah yang ingin melakukan operasi kepada pasien meminta pasien untuk menghentikan penggunaan xanax yang saat itu sudah mencapai 3×2mg perhari. Penghentian tiba-tiba saat itu dilakukan oleh dokter dan menimbulkan gejala putus zat yang mengganggu pasien. Pasien kemudian dikonsulkan kepada saya.

Sama seperti kasus 2, salah satu faktor kesulitan dalam menangani pasien adalah pasien tidak pernah merasa cocok mendapatkan obat selain xanax untuk mengatasi kondisi kecemasan dasarnya. Sampai saat ini pasien masih berkonsultasi.

Kasus 3,

Ibu Rumah Tangga menggunakan Xanax 1 tahun

Pasien wanita usia 37 tahun dengan keluhan kecemasan yang membuatnya tidak nyaman. Saat itu pasien berkunjung ke psikiater dan diberikan obat xanax 0,25mg sebanyak 3x sehari. Pasien kemudian lepas kontrol dari psikiater dan membeli obat berdasarkan resep dokter umum selanjutnya. Pasien kemudian makan obat dengan dosis 3×0,5mg dan terkadang menambah dosis sendiri menjadi 3×0,75mg jika merasa tidak nyaman. Pemicu tidak nyaman adalah kondisi kelelahan mengurus anak dan dukungan keluarga yang kurang. Pasien sering kali merasa tidak nyaman dan pikiran satu-satunya adalah menambah dosis xanax. Pengobatan dengan obat antidepresan untuk mengurangi perasaan cemasnya tidak membuat pasien beralih dari xanax dan terus mengkonsumsi xanax sampai saat ini.

Pembahasan

Ketiga kasus penggunaan alprazolam di atas memang sangat sering terjadi di dalam praktek sehari-hari. Pasien seringkali tanpa sadar memakai obat anticemas golongan benzodiazepin seperti alprazolam (dengan merk terkenalnya xanax). Awalnya biasanya digunakan untuk membantu tidurnya atau perasaan cemas terkait gangguan fisik (jantung berdebar,perut kembung). Terkadang juga sering digunakan dalam racikan obat yang digunakan oleh berbagai macam dokter untuk mengatasi keluhan-keluhan psikosomatik.

Obat alprazolam (xanax) adalah salah satu jenis obat cemas golongan benzodiazepin yang paling efektif. Dengan efektifitas yang sangat poten dan waktu kerja yang pendek, tidak heran obat ini sering digunakan dan juga sering kali digunakan beberapa kali dalam sehari.

Sayangnya obat ini mempunyai efek untuk menghasilkan toleransi (dosis semakin meningkat) dan ketergantungan yang berat pada pasien jika tanpa pengawasan yang tepat dan bijak. Kebutuhan penggunaan akhirnya bisa menjadi suatu ketergantungan fisik dan psikis. Apalagi pada pasien yang menggunakan alkohol atau dengan riwayat penyalahgunaan zat narkotika. Pasien-pasien seperti ini bila menggunakan alprazolam akan cenderung terus naik dan sulit lepas.

Penanganan yang baik haruslah dimulai dengan pengenalan dasar gejala mengapa sampai pasien menggunakan alprazolam. Pasien perlu menggunakan obat alprazolam pastinya bukan karena tanpa alasan. Kondisi kecemasan dan insomnia adalah latar belakang tersering orang mulai menggunakan alprazolam. Pada pengobatan yang lebih baik adalah menggunakan obat pengganti alprazolam yang setara seperti clonazepam atau diazepam. Namun pada dosis tinggi (lebih dari 2miligram alprazolam perhari) pasien biasanya tidak bisa tiba-tiba menghentikan alprazolam tetapi harus melakukan penurunan dosis perlahan (tappering off). Penggunaan antidepresan seperti sertraline atau fluoxetine juga bisa membantu untuk mengatasi kecemasan dan mengurangi penggunaan obat alprazolam pada akhirnya.

Pasien perlu menyadari dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk berhenti dari alprazolam. Kalau tidak ada niatan untuk berhenti akan percuma. Satu yang paling penting segeralah berkonsultasi jika anda telah menggunakan alprazolam untuk waktu lama.

Salam Sehat Jiwa

Metode Pengobatan Narkoba umumnya

Labels:

Pengobatan
Setiap Rumah Sakit Rehabilitasi Narkoba memiliki program khusus bagi bagi korban narkotika, zat adiktif dan psikotropika, berikut ini beberapa metode yang umum diterapkan di Rumah Sakit Rehabilitasi

Analisa Tingkat Ketergantungan
Menganalisa tingkat ketergantungan korban pada narkotika, zat adiktif dan psikotropika, untuk menentukan tingkat pengobatan dan tingkat pembinaan bagi si korban, sehingga teraphy dan metode pengobatan bisa terukur.

Pembersihan Racun/Detoksifikasi
Fase pembersihan darah dan sirkulasi organ-organ tubuh lainnya pada tubuh pencandu dari narkotika, psikotropika atau zat adiktif lainnya, sehingga darah menjadi bersih dan sistem metabolisme tubuh kembali normal.  

Proses ini dapat dilakukan melalui cara-cara berikut :
1) Cold Turkey (abrupt withdrawal) yaitu proses penghentian pemakaian Narkoba secara tiba-tiba tanpa disertai dengan substitusi antidotum.
2) Bertahap atau substitusi bertahap, misalnya dengan Kodein, Methadone, CPZ, atau Clocaril yang dilakukan secara tap off (bertahap) selama 1 – 2 minggu.
3) Rapid Detoxification: dilakukan dengan anestesi umum (6 – 12 jam).
4) Simtomatik: tergantung gejala yang dirasakan.

Selain pembuangan racun tersebut, sistem DOCA mulai diterapkan sebagai salah satu cara paling mutakhir. Detoksifikasi opioid ini efektif dan aman untuk penanggulangan awal ketergantungan opioid.

Deteksi Sekunder Infeksi
Pada tahap ini, biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dan tes penunjang untuk mendeteksi penyakit atau kelainan yang menyertai para pecandu Narkoba, misalnya dari Hepatitis, AIDS, TBC, penyakit seks menular, dll. Jika dalam pemeriksaan ditemukan penyakit tersebut, biasanya dilakukan pengobatan medis terlebih dahulu sebelum penderita dikirim ke rumah rehabilitasi medis. Sebuah cara mencegah terjadinya penularan penyakit pada para penderita yang lain atau tenaga kesehatan.

Tahap rehabilitasi
Prinsip perawatan setiap rumah rehabilitasi narkoba yang ada di Indonesia sangat beragam. Ada yang menekankan pengobatan hanya pada prinsip medis, ada pula yang lebih menekankan pada prinsip rohani. Atau memadukan kedua pendekatan tersebut dengan komposisi yang seimbang.

Pembinaan Mental (Aftercare)
Sebelum kembali ke masyarakat, para penderita yang baru sembuh biasanya ditampung di sebuah lingkungan khusus selama beberapa waktu sampai pasien siap secara mental dan rohani kembali ke lingkungannya semula. Hal ini terjadi karena sebagian besar para penderita umumnya putus sekolah dan tidak mempunyai kemampuan intelejensia yang memadai. Akibatnya, banyak di antara mereka menjadi rendah diri setelah keluar dari rumah rehabilitasi.

Fase ini memegang pernan vital, dimana penderita ditumbuhkan kembali rasa kepercayaan diri pada penderita, menumbuhkan semangat dan keyakinan bahwa dia akan sembuh dan kembali normal, bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Yang paling utama adalah pembinaan mental spiritual, keimanan dan ketakwaan, serta kepekaan sosial kemasyarakatan. Proses ini bisa meliputi program pembinaan jasmani dan rohani.

Periode proses aftercare sangat bervariasi, karena tahap ini merupakan tahap yang terpenting dan sangat menentukan untuk mencegah si penderita kembali ke lingkungannya yang semula. Berdasarkan data statistik tingkat keberhasilan penanganan kasus ketergantungan Narkoba secara medis tidak optimal (hanya 15-20%).

Tahap Pengobatan

Pertolongan Pertama
Penderita dimandikan dengan air hangat, minum banyak, makan makanan bergizi dalam jumlah sedikit dan sering dan dialihkan perhatiannya dari narkoba. Bila tidak berhasil perlu pertolongan dokter. Pengguna harus diyakinkan bahwa gejala-gejala sakaw mencapai puncak dalam 3-5 hari dan setelah 10 hari akan hilang.

Menurunkan Risiko (Harm Reduction) :
- Menggunakan jarum suntik sekali pakai
- Mensuci hamakan (sterilisasi) jarum suntik
- Mengganti kebiasaan menyuntik dengan menghirup atau oral dengan tablet
- Menghentikan sama sekali penggunaan narkoba

Yang harus dilakukan bila seseorang mabuk :
- Jangan membiarkannya mengemudikan kendaraan
- Beri dia minum air yang banyak
- Coba ajak dia makan
- Jangan biarkan dia sendirian
- Jauhkan dia dari tempat-tempat berbahaya, seperti jalan raya, jembatan, balkon, kolam renang, laut.

Jika pecandu tak sadar (pingsan) :
- Periksa pernafasannya
- Menjaga saluran pernafasan supaya tidak ada sumbatan
- Baringkan dia pada sisi tubuhnya, jika muntah, sisa makanan tidak menyumbat saluran pernafasan.

Gejala serius yang memerlukan perhatian medis :
- Tidak sadar atau setengah sadar
- Pernafasan yang lambat.
- Kulit dingin, pucat atau membiru

Kiat-kiat Berubah
Kembali menjalani kehidupan normal bukan sesuatu yang mudah bagi seorang pecandu, hal termudah untuk menghilangkan kebiasaan ngedrug adalah dengan tidak mulai mengkonsumsinya sama sekali, tapi apakah semudah itu?

Jika hal tersebut sudah mulai menjadi keharusan, pemadat akan terus mengkonsumsi selama hidupnya akan semakin sulit dihentikan dan makin membuatnya tergantung. Beberapa kiat dibawah ini membantu para pencandu mengakhiri derita mereka, meskipun dukungan lingkungan dan niat dari pencandu menjadi modal utama kesembuhan mereka.

Kiat-Kiat Berubah (Sembuh)
- Hindari teman sesama pemakai
- Jujur dan terbuka
- Positif thinking
- Hindari hal-hal yang mudah memancing stress
- Sharing dengan orang yang dipercaya
- Jangan konsumtif
- Mencari kesibukan terbatas
- Dalami spiritual
- Sabar dan menerima keadaan apa adanya

Kiat-Kiat Half Way House
- Hindari teman pemakai NAPZA.
- Upayakan tidak menjalin relasi intim.
- Bagi waktu antara bermain dan di rumah (orangtua).
- Jangan konsumtif dengan keperluan kosmetika.
- Tetap berkomunikasi dan terbuka.
- Hindari sifat fait a compli.
- Usahakan tepat janji.

Kiat-Kiat Untuk Orang Tua
- Pendengar yang baik
- Penuh perhatian
- Bijaksana membuat keputusan dan meminta pendapat
- Tegar berdiskusi meskipun menyangkut perihal sensitif
- Beri respons yang konstruktif
- Beri pesan dengan jelas
- Teladan dalam perilaku

Ciri-Ciri Pengguna

Ciri-ciri pengguna Napza

Fisik :
- Berat badan turun drastis.
- Buang air besar dan kecil kurang lancar.
- Mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman.
- Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.
- Tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan.

Emosi :
- Bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap membangkang.
- Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya.
- Nafsu makan tidak menentu.
- Sangat sensitif dan cepat bosan.

Perilaku :
- Bicara cedal atau pelo.
- Jalan sempoyongan
- Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya.
- Mengalami jantung berdebar-debar.
- Mengalami nyeri kepala.
- Mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi.
- Mengeluarkan air mata berlebihan.
- Mengeluarkan keringat berlebihan.
- Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga.
- Selalu kehabisan uang.
- Sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala “putus zat”.
- Sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan.
- Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam.
- Sering mengalami mimpi buruk.
- Sering menguap.
- Cenderung menarik diri dari acara keluarga dan lebih senang mengurung dikamar
- Sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk beli obat.
- Suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah. Begitupun dengan barang-barang berharga miliknya, banyak yang hilang.
- Takut air, jika terkena akan terasa sakit, karena itu mereka jadi malas mandi.
- Waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya.
- Menghindar dari tanggung jawab yang sesuai, malas menyelesaikan tugas rutin di rumah

Gejala sakaw atau putus obat :
- Bola mata mengecil
- Hidung dan mata berair
- Bersin-bersin
- Menguap
- Banyak keringat
- Mual-mual
- Muntah
- Diare
- Nyeri otot tulang dan persendian

Terapi

Model terapi rehabilitasi yang dapat digunakan untuk membantu seseorang melepaskan diri dari kecanduan dan merubah perilakunya menjadi lebih baik.

Model Terapi Moral
Model ini sangat umum dikenal oleh masyarakat serta biasanya dilakukan dengan pendekatan agama/moral yang menekankan tentang dosa dan kelemahan individu. Model terapi seperti ini sangat tepat diterapkan pada lingkungan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan dan moralitas di tempat asalnya, karena model ini berjalan bersamaan dengan konsep baik dan buruk yang diajarkan oleh agama. Maka tidak mengherankan apabila model terapi moral inilah yang menjadi landasan utama pembenaran kekuatan hukum untuk berperang melawan penyalahgunaan narkoba.

Model Terapi Sosial
Model ini memakai konsep dari program terapi komunitas, dimana adiksi terhadap obat-obatan dipandang sebagai fenomena penyimpangan sosial (social disorder). Tujuan dari model terapi ini adalah mengarahkan perilaku yang menyimpang tersebut ke arah perilaku sosial yang lebih layak. Hal ini didasarkan atas kesadaran bahwa kebanyakan pecandu narkoba hampir selalu terlibat dalam tindakan a-sosial termasuk tindakan kriminal. Kelebihan dari model ini adalah perhatiannya kepada perilaku adiksi pecandu narkoba yang bersangkutan, bukan pada obat-obatan yang disalahgunakan.

Prakreknya dapat dilakukan melalui ceramah, seminar, dan terutama terapi berkelompok (encounter group). 

Tujuannya tidak lain adalah melatih pertanggung-jawaban sosial setiap individu, sehingga kesalahan yang diperbuat satu orang menjadi tanggung-jawab bersama-sama. Inilah yang menjadi keunikan dari model terapi sosial, yaitu memfungsikan komunitas sedemikian rupa sebagai agen perubahan (agent of change.

Model Terapi Medis
Model ini berakar dari beberapa konsep dalam teori fisiologis atau metabolisme, yang memandang perilaku adiksi obat sebagai sesuatu yang terjadi karena faktor etiologis atau keturunan. Ada dua macam model terapi yang berdasarkan pada konsep ini.

Pertama, yaitu konsep menyembuhkan kecanduan obat dengan menggunakan obat lain. Contohnya adalah model terapi metadon untuk pecandu opiat. Terapi ini didasarkan pada sebuah teori dari Dole dan Nyswander yang menyatakan bahwa kecanduan opiat adalah hasil dari defisiensi metabolik, sehingga harus diluruskan dengan memberikan metadon.

Kedua, yaitu konsep menyembuhkan kecanduan obat dengan cara memandang adiksi obat sebagai suatu penyakit. Dari pendekatan teori biologis ini lahirlah konsep “disease” yang apabila diterjemahkan artinya adalah “penyakit”, atau bisa juga diartikan sebagai rasa tidak nyaman. Terapi untuk konsep “penyakit” ini sangat berbeda dengan terapi yang melihat perilaku adiksi sebagai penyimpangan sosial. Dalam terapi ini seorang pecandu dianggap sebagai pasien, dimana mereka akan dibina dan diawasi secara ketat oleh tim dokter. Kelemahan dari terapi ini adalah sifatnya yang “keras”, dimana pasien direhabilitasi dengan konsep alergi. Karena pasien mempunyai alergi terhadap narkoba, maka mereka tidak boleh mengkonsumsinya seumur hidup.
Menyadari keterbatasan ini, maka konsep adiksi sebagai penyakit sangat mementingkan perkumpulan (fellowship) dari mereka yang mempunyai penyakit kecanduan narkoba untuk menjadi pendukung satu sama lain.

Model Terapi Psikologis
Model ini diadaptasi dari teori psikologis Mc Lellin, dkk yang menyebutkan bahwa perilaku adiksi obat adalah buah dari emosi yang tidak berfungsi selayaknya karena terjadi konflik, sehingga pecandu memakai obat pilihannya untuk meringankan atau melepaskan beban psikologis itu. Model terapi ini mementingkan penyembuhan emosional dari pecandu narkoba yang bersangkutan, dimana jika emosinya dapat dikendalikan maka mereka tidak akan mempunyai masalah lagi dengan obat-obatan. Jenis dari terapi model psikologis ini biasanya banyak dilakukan pada konseling pribadi, baik dalam pusat rehabilitasi maupun dalam terapi pribadi.

Model Terapi Budaya
Model ini menyatakan bahwa perilaku adiksi obat adalah hasil sosialiasi seumur hidup dalam lingkungan sosial atau kebudayaan tertentu. Dalam hal ini, keluarga seperti juga lingkungan dapat dikategorikan sebagai “lingkungan sosial dan kebudayaan tertentu”.
Dasar pemikirannya adalah, bahwa praktek penyalahgunaan narkoba oleh anggota keluarga tertentu adalah hasil akumulasi dari semua permasalahan yang terjadi dalam keluarga yang bersangkutan. Sehingga model ini banyak menekankan pada proses terapi untuk kalangan anggota keluarga dari para pecandu narkoba tersebut.

Kapanlagi.com

Terapi Metadon ? Tolak !!

Labels: ,

Mengapa Pantang Program Terapi Metadon dan Pertukaran Jarum Suntik
Awal tahun 2000, lebih dari 70% pasien AIDS di RS-RS Indonesia menunjukan trend penderita teridentifikasi memiliki riwayat hidup sebagai pecandu narkoba dari penggunaan jarum suntik (jenis opium). Asumsi mereka

tertular HIV adalah dari penggunaan jarum suntik yang diduga tidak steril. Dari realita tersebut kemudian disimpulkan dalam perspektif penanggulangan HIV/AIDS bahwa penggunaan jarum suntik adalah penyebab terbesar penularan HIV sehingga perlu diberlakukan program Harm Reduction. Program ini bertujuan meminimalisasi dampak penyalahgunaan narkoba jenis opium dari sudut penularan HIV, dengan memberikan pelayanan pemberian/penggantian jarum suntik steril kepada pecandu dan atau pengganti jenis narkoba dari putaw (IDU/jarum suntik) ke metadon (oral).


Pecandu narkoba dari jarum suntik seolah booming teridentifikasi AIDS dikarenakan:
  1. Resiko tinggi Penularan HIV; mereka memiliki dua resiko tinggi penularan baik dari penggunaan jarum suntik bergantian dan atau perilaku seks berganti-ganti pasangan (hampir 100% pecandu narkoba terlibat perilaku seks berganti-ganti pasangan)
  2. Asupan GIZI yang buruk; penghentian obat akan menyebabkan mereka kesakitan (sakaw) sehingga mereka harus mengkonsumsi obat tersebut. Anggaran untuk membeli obat akan menjadi prioritas utama bahkan bila tidak memiliki uang mereka dengan mudahnya terlibat tindak kriminal. Hal-hal di luar obat menjadi tidak dipikirkan termasuk pola makan mereka, akibatnya adalah asupan gizi mereka sangat buruk
  3. Pola hidup tidak sehat, kebanyakan dari mereka pola hidupnya tidak sehat. Asupan gizi yang buruk menjadikan tubuh mereka cenderung lemah sehingga mereka kurang melakukan aktifitas yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan mereka, seperti olah-raga. Sebaliknya aktifitas seks bebas dan alkohol terus berjalan.
  4. Masa Inkubasi HIV ke AIDS lebih pendek; mereka yang tertular HIV dengan asupan gizi dan pola hidup sehat yang buruk menjadikan perkembangan virus HIV lebih cepat dari penderita HIV lainnya. Normal untuk orang-orang Asia, masa inkubasi HIV ke AIDS kurang lebih 5 tahun. Pada penderita dari kalangan pecandu narkoba jarum suntik kurang lebih 1-2 tahun.
Akar permasalahan penyalahgunaan narkoba adalah Aspek Psikis, yaitu ORIENTASI NILAI, pemahaman nilai si individu dengan dirinya sendiri, pemahanan nilai antara individu dengan lingkungannya, pemahaman nilai si individu dengan masa lalunya, pemahaman nilai si individu dengan masa depannya. Orientasi/pemahaman nilai-nilai pada individu terbentuk oleh pola asuh/didik orang tua/keluarga dan pengaruh interaksi dengan lingkungannya (termasuk teknologi informasi global). Keputusan untuk menjadi pecandu adalah keputusan individu maka penghentian menjadi pecandu pun adalah keputusan individu tersebut. Ketika si individu memutuskan untuk pertama kali pakai (obat) dan selanjutnya menjadi pecandu maka bisa dikatakan bahwa terjadi pemahaman nilai yang tidak benar pada individu tersebut. Ketika mereka menjadi pecandu maka akan banyak nilai-nilai dan atau norma-norma sosial, budaya, hukum, dan agama yang dilanggar, mereka akan cenderung dijauhi oleh dominan masyarakat. Dampak Asosial akan memperburuk aspek psikis pecandu, maka yang utama diperlukan untuk penanggulangan pecandu adalah REHABILITASI PSIKIS, KONSTRUKSI BARU ORIENTASI NILAI.Penghentian obat, dalam artian detoksifikasi memutus pemakaian obat dalam tahapan rehabilitasi narkoba adalah hal yang paling mudah. Tidak ada orang mati karena sakaw. Tahapan tersulit adalah mempersiapkan si (ex) pecandu untuk tidak relaps (kambuh pakai kembali), mempersiapkan mereka mengatasi sugesti dan godaan-godaan pakai kembali yang muncul setiap saat. Tahapan inilah yang disebut rehabilitasi psikis dan sosial. Tidak ada satupun modalitas rehabilitasi yang mampu memberikan jaminan “sembuh”. Ke”sembuh”an sangat tergantung pada motivasi pecandu itu sendiri. Keluarga dan lingkungan hanya sebatas mampu memberikan dukungan dan ketegasan (pecandu seringkali memanipulasi perasaan/kesedihan keluarga).Tahun 2009, data terakhir trend penderita AIDS adalah dari penularan lewat perilaku seks. Hampir 100% pecandu narkoba terlibat seks bebas berganti-ganti pasangan, bukan cuma dari pecandu jenis opium tetapi juga dari jenis psikotropika (extacy dan Sabu). Kami sepakat bahwa program Harm Reduction dalam prespektif penanggulangan HIV/AIDS adalah benar, tapi dalam prespektif penanggulangan penyalahgunaan Narkoba sama sekali tidak menyelesaikan masalah.Program penggantian jarum suntik bahkan sama sekali tidak menghentikan pecandu untuk mengkonsumsi opium/putaw. Mereka masih mengkonsumsi obat, mereka masih melakukan tindak kriminal untuk kebutuhan membeli obat, mereka masih melakukan seks bebas berganti-ganti pasangan, sebagian dari wanita yang menjadi pecandu cenderung melakukan prostitusi untuk memperoleh uang membeli obat. Penyalahgunaan dan peredaran gelap jalan, tindak kriminal jalan, perilaku seks bebas jalan, dan prostitusi juga tetap jalan.
Program terapi metadon, seringkali Dokter (apakah tahu atau tidak) tidak menjelaskan detail dan benar efek dalam tahapan-tahapan pengobatannya kepada calon pasien. Pelaku lapangan rekrutmen pasien narkoba untuk terapi metadon banyak juga tidak dibekali pemahaman yang detail dan benar. Mereka hanya berpacu pada target “memperoleh” pasien. Pecandu jarum suntik akan dengan senang hati berpindah ke terapi metadon karena; harga murah (karena masih subsidi), legal, dan utamanya adalah persediaan obat terjamin.
Pengalaman rekan yang mengikuti terapi metadon;
  1. Ketika memutuskan untuk berhenti “sakaw” nya lebih lama 1-2 bulan, dibanding sakaw jenis putaw 1-2 minggu, maka pecandu kalau mau berhenti mikir sakitnya yang lama tidak jadi berhenti
  2. Penurunan dosis seringkali menjadi permainan dokter, mereka cenderung tidak ingin menurunkan dosis, maka si pasien harus pintar untuk minta penurunan dosis
  3. Aturan penggunaan metadon harus di RS setempat, nyatanya saat ini pasien boleh membawa keluar jatah mingguan dan dipakai di luar RS, maka akan ada kemungkinan disalahgunakan. Kalau aturan pemakainnya saja oleh Dokter/tim terapi sudah diberikan kelonggaran, apakah si dokter/tim terapi menyediakan waktunya untuk si pasien konsultasi lebih lanjut berkaitan terapi psikisnya
Prediksi Kedepan
  1. Metadon adalah narkotika golongan II, yang artinya tingkat ketergantungannya masih cukup tinggi. Dengan masa tenggang sakawnya yang lama kecenderungan untuk berhenti akan lebih sulit.
  2. Harga metadon saat ini masih di subsidi oleh pemerintah, bagaimana bila subsidi tersebut dicabut. Bukan tidak mungkin 5 atau 10 tahun ke depan subsidi untuk metadon dicabut. Subsidi pupuk anorganik yang kebutuhan dasar petani saja dicabut apalagi subsidi obat bagi pecandu. Bisa dibayangkan berapa ribu orang pecandu metadon akan sakaw bila tidak mampu membelinya
  3. Metadon adalah obat yang “dilegalkan” dengan jumlah pasien yang stabil bahkan cenderung meningkat, apakah tidak akan ada kecenderungan untuk dikomersilkan, kerja sama antara dokter dan perusahaan farmasi. Anti bodi flu burung saja yang dikendalikan WHO/PBB saja dikomersilkan apalagi metadon

Hal-hal di atas yang menjadi alasan mengapa komunitas kami DRUGS FREE COMMUNITY berpantangan dengan program Harm Reduction. Kepada teman-teman yang saat ini mengikuti terapi metadon sama sekali kami tidak membenci anda sebagai pasien, setulus hati kami berdoa agar teman-teman segera memperoleh “kesembuhan”. Kami hanya tidak setuju adanya program tersebut dan tentunya berikut program-program kampanye gerakan terapi metadon ataupun penggantian jarum suntik.Ketika kamu memutuskan untuk berhenti maka segerakanlah jangan ditunda… kamu telah habiskan waktu kemarin dengan sia-sia… jangan biarkan waktu di depanmu menjadi sia-sia pula… Kami ada untuk kalian… bersama menjadikan Indonesia Lebih Baik…

___________


JAKARTA–MICOM: Penggunaan narkotika dan zat adiktif suntik akhir-akhir ini mengalami peningkatan pesat. Pemerintah dan segenap aparatnya tak berhenti memeranginya. Salah satu strategi pengurangan dampak penggunaan adalah Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM).
Metadon adalah sejenis heroin sintetis. Penggunaannya dengan cara diminum. Dengan PTRM, orang yang pernah kecanduan narkoba secara bertahap akan melupakan zat mematikan itu.
Meski terapi yang telah dimulai sejak tahun 2003 itu tidak terbilang baru, belum banyak rumah sakit di Ibu Kota membuka layanan rehabilitasi bagi pecandu narkoba. Salah satu rumah sakit yang memiliki terapi tersebut adalah RS Fatmawati.
Satu dari sejumlah kiat yang selama ini dikembangkan pemerintah, seperti konseling, kegiatan psikososial, dan program pemeriksaan medis, memiliki tingkat kegagalan paling kecil yakni 1 persen. Sementara terapi lain, tingkat kecanduan kembali mencapai 70 persen.
Terapi metadon terbukti cukup efektif. Ini dibuktikan oleh pasangan suami-isteri Budi Setiawan, 31, dan Turyati, 27. Warga Kemayoran Jakarta Pusat itu mengaku menjalin hubungan mesra dengan narkoba sepanjang 12 tahun. “Saya sudah sempat merasa putus asa. Ingin sembuh, tapi sulit. Beruntung, saya dan isteri didorong oleh keluarga untuk ikut terapi PTRM” kata Budi di Jakarta, Rabu (23/3). (*/OL-8)

Tanggapan kami
  1. PTRM  menurut kami tidak lah efektif. karena dapat menimbulkan kecenderungan ketergantungan Metadon,bukan berarti kami menentang kebijakan pemerintah. tetepi sebaiknya pemerintah mencari solusi yang lebih baik lagi.
  2. Banyak penguna metadon karena tidak mampu membeli  Narkoba sebenarnya mereka hanya mengalihkan ketergantunagan narkoba.bahkan metadon bisa di salah gunakan.
  3. Karena itu metode alternatif lainya yang lebih efektif dan murah perlu di upayakan.
  4. Hati yang bersih ,Iman menjadi kuat. adalah benteng yang sangat kuat melawan narkoba beserta kemaksiatan yang di timbulkan karena narkoba.
Demikian

info terkait :
Methadon  sebabkan 30 persen kematian

Metadon si Pengganti Putaw untuk Cegah Sakaw

Labels:

Jakarta, Seorang pecandu tidak bisa begitu saja berhenti memakai narkotika karena akan menyebabkan sakaw atau gejala putus obat. Untuk mengatasinya, ada terapi khusus bernama Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM).
Terapi yang di luar negeri juga dikenal sebagiMethadone Maintenance Threatment (MMT) ini bermanfaat bagi pasien ketergantungan obat yang secara psikologis sama sekali tidak bisa lepas dari narkotika. Tujuannya adalah membuat pasien tersebut terhindar dari sakaw, sehingga bisa tetap produktif.
Dalam PTRM, terapi metadon diberikan sebagai pengganti narkotika. Senyawa tersebut memang merupakan tiruan narkotika, dengan sifat yang hampir serupa hanya saja efeknya tidak sampai menyebabkan teler.
“Sakaw bukan semata-mata soal perilaku, dorongan itu sulit dihindari karena otak mengalami gangguan secara organik. Bisa dibilang semacam penyakit otak,” ungkap Dr. Rahmi Handayani, Sp.K.J., koordinator PTRM RS Fatmawati dalam wawancaranya dengan detikHealth di RS Fatmawati Jakarta.
Dibandingkan memakai narkotika ilegal, pasien mendapat beberapa keuntungan dari PTRM. Terutama sekali karena harganya lebih murah, sehingga lebih terjangkau untuk dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.
Penggunaannya juga tidak perlu terlalu sering, cukup sekali dalam sehari karena memiliki waktu paruh cukup panjang. Narkotika seperti morfin dan heroin memiliki waktu paruh pendek, sehingga harus dikonsumsi 2-3 kali sehari.
Selain itu metadon diberikan dalam bentuk cair sehingga bisa diminum, sehingga bebas risiko penularan HIV/AIDS dan hepatitis. Sedangkan pada pemakaian narkotika ilegal, 70 persen dilakukan dengan jarum suntik.
Meskipun demikian tidak semua pecandu bisa menjadi pasien PTRM, sebab ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya, pasien tersebut sudah pernah menjalani rehabilitasi maupun detoksifikasi namun tidak berhasil lepas dari ketergantungan.
Prosesnya juga tidak mudah, karena pasien harus datang setiap hari untuk mendapatkan metadon. Setelah diencerkan dengan sirup, metadon harus diminum di tempat itu juga dengan pengawasan petugas.
“Pernah ada yang pura-pura minum, tetapi saat petugas lengah ternyata metadon masuk ke kantongnya,” ungkap Dr. Rahmi.
Pengawasan ketat dilakukan karena metadon dan juga narkotika lainnya sangat rawan oleh penyalahgunaan. Distribusi dan penggunaannya juga harus dilaporkan ke pemerintah.
Di Indonesia, PTRM merupakan program Kementerian Kesehatan sehingga ada subsidi untuk pembiayaannya. Pemerintah menganggarkannya dari APBN serta bebrapa bantuan dari lembaga internasional.
Oleh karenanya, tak heran jika terapi ini terbilang cukup murah. Untuk sekali minum, pasien hanya membayar Rp 15.000 di rumah sakit atau Rp 5.000 di Puskesmas.(detikhealth.com)