Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AIDS. Tampilkan semua postingan

Diagnose HIV AIDS

Labels:

Orang yang baru saja terinfeksi HIV akan mengalami gejala seperti penyakit flu. Ini terjadi selama kurang lebih satu bulan setelah terinfeksi. Gejala awal yang muncul seperti demam, tenggorokan sakit dan munculnya ruam. Tapi, beberapa orang yang menderita HIV tidak merasakan tanda dan gejala selama bertahun-tahun.
Hanya dengan menjalani tes HIV, kita bisa tahu pasti apakah kita terinfeksi atau tidak. Makin cepat HIV terdeteksi, maka tingkat keberhasilan pengobatan akan lebih tinggi. Jika Anda merasa berisiko terinfeksi HIV, konsultasikan kepada dokter atau klinik kesehatan terdekat.
Jangan menunda penanganan setelah Anda tahu telah terinfeksi HIV. Jika terlambat, virus bisa dengan cepat menyebar ke dalam sistem kekebalan tubuh. Hal ini bisa mengganggu kesehatan Anda. Anda juga bisa menghindari penyebaran virus kepada orang-orang terdekat atau pun kepada orang lain.

Melakukan Tes HIV/AIDS

Untuk menguji apakah kita terinfeksi HIV, satu tes yang paling umum adalah tes darah. Darah akan diperiksa di laboratorium. Tes ini berfungsi untuk menemukan antibodi terhadap HIV di dalam darah. Tapi tes darah ini baru bisa dipercaya jika dilakukan setidaknya sebulan setelah terinfeksi HIV karena antibodi terhadap HIV tidak terbentuk langsung setelah infeksi awal. Antibodi terhadap HIV butuh waktu sekitar dua minggu hingga enam bulan, sebelum akhirnya muncul di dalam darah.
Masa antara infeksi HIV dan terbentuknya antibodi yang cukup untuk menunjukkan hasil tes positif disebut sebagai “masa jendela”. Pada masa ini, seseorang yang terinfeksi HIV sudah bisa menularkan virus ini, meski dalam tes darah tidak terlihat adanya antibodi terhadap HIV dalam darah.
Sebelum seseorang diberikan diagnosis yang pasti, perlu dilakukan beberapa kali tes untuk memastikan. Hal ini dikarenakan masa jendela HIV cukup lama. Jadi hasil tes pertama yang dilakukan belum tentu bisa dipercaya. Lakukan tes beberapa kali jika Anda merasa berisiko terinfeksi HIV.
Jika dinyatakan positif HIV, beberapa tes harus dilakukan untuk memerhatikan perkembangan infeksi. Setelah itu barulah bisa diketahui kapan harus memulai pengobatan terhadap HIV.

Tempat Melakukan Tes HIV/AIDS

Ada beberapa tempat untuk melakukan tes darah HIV. Bahkan, beberapa puskesmas juga sudah menyediakan layanan untuk tes HIV. Klik tautan ini untuk melihat beberapa rumah sakit di Indonesia yang menyediakan fasilitas tes HIV.
Di Indonesia, terdapat beberapa yayasan dan organisasi yang fokus untuk urusan HIV/AIDS, di antaranya:
  • Komunitas AIDS Indonesia
  • ODHA Indonesia
  • Himpunan Abiasa
  • Yayasan Spiritia
  • Yayasan Orbit
Sedangkan lembaga pemerintah yang dibentuk khusus untuk menangani HIV/AIDS adalah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Anda bisa berkonsultasi kepada mereka tentang segala hal yang berhubungan dengan HIV/AIDS.
Sekarang alat tes HIV untuk di rumahan juga tersedia bebas untuk dibeli di apotik, klinik kesehatan, atau melalui daring internet. Tapi untuk lebih jelas dalam memahami virus ini, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter.
Jika berminat melakukan tes HIV, sebelumnya akan diberikan penyuluhan atau konseling. Tes HIV tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan orang yang bersangkutan.

HIV AIDS Bisakah Obat Herbal Sembuhkan HIV/AIDS ? Tolak Ukur Sembuh

Labels:

3 Desember 2014 0:25 WIB  
Ada pernyataan menarik dari Budhy Harnanto SH (Surat Pembaca SM 29 Nop 2014, hal 7) ’’Jamu Herbal untuk Obat HIV’’ bahwa temannya bisa sembuh dari HIV/AIDS berkat mengkonsumsi obat herbal selama 3 bulan.

Berat badan meningkat 15 kg, kulitnya kembali berwarna cerah, tidak tampak kalau baru saja sakit berat, penampilan menjadi lebih menarik (yang sebelumnya tampak mengerikan: kurus kering, agak kehitaman, dan hanya bisa berbaring di tempat tidur). Hasil tes laboratorium menunjukkan peningkatan angka CD4 menjadi 381 sel/ml dan tes viral load dinyatakan virus tidak terdeteksi (sebelumnya reaktif).

Yang menarik dari pernyataan tersebut adalah istilah telah ’’sembuh’’ dari HIV/AIDS. Istilah sembuh diartikan sebagai bebas dari gejala penyakit. Ada beberapa istilah ’’sembuh’’di dunia medis, antara lain: sembuh sempurna artinya hilang gejala dan penyebab penyakit. Misalnya: penyakit kulit yang disebabkan oleh alergi, setelah pengobatan dan menghindari penyebab alergi maka akan sembuh sempurna.

Sembuh sebagian dengan gejala sisa atau sembuh tapi tidak sempurna, seperti penyakit stroke, luka bakar, diabetes mellitus. Pada kasus penyakit AIDS (kumpulan gejala akibat penurunan daya tahan tubuh oleh virus HIV) bisa sembuh tapi tidak sempurna. 

Kumpulan gejala yang timbul akibat AIDS bisa dihilangkan (demam lama, batuk lama, diare lama, berat badan turun, kelainan kulit yang menghitam atau herpes kulit) akan tetapi virus HIV tetap ada di dalam tubuh, tidak bisa dihilangkan semua, namun jumlahnya dapat ditekan minimal. 

Walaupun hasil tes viral load (perbanyakan virus di darah) menunjukkan angka tidak terdeteksi, namun sesungguhnya virus HIV tetap ada di tubuh, namun bersemayam di limfonodi usus halus dan usus besar.

Di Amerika ada seorang bayi HIV positif dilahirkan dari ibu HIV positif bertahan hidup dengan pengobatan Antiretroviral (obat penekan virus HIV, yang selama ini dibagikan kepada ODHA) selama 25 tahun. Berhasil menikah dan punya anak satu dengan HIV negatif (anaknya tidak tertular), tapi setelah diperiksa antibodi HIV (tes untuk mengetahui status HIV) hasilnya tetap positif (reaktif). Di RSPN Cipto Mangunkusumo ada seorang mahasiswa (18 tahun) yang dulu lahir sebagai bayi HIV positif dan masih mengkonsumsi obat Antiretroviral sampai sekarang.

Hasil tes antibodi HIV ulangan tetap positif. Di RSUP Dr Kariadi kami sudah memberikan obat antiretroviral (obat ARV) selama 12 tahun dan mereka yang tetap setia mengkonsumsi obat tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan antibodi HIV juga tetap positif. Artinya, HIV/AIDS secara klinis terlihat ’’sembuh’’ karena penampilan klinisnya baik, tidak ada gejala infeksi oportunistik (infeksi yang sering menyerang pada kekebalan tubuh yang turun), berat badan kembali normal, bahkan banyak yang kegemukan (padahal awal pengobatan kurus kering), kekebalan tubuh CD4 meningkat, dan tes viral load HIV menjadi tidak terdeteksi. Obat Herbal Keberhasilan pengobatan pada pasien HIV/AIDS (ODHA) dimonitor dengan mengevaluasi tiga hal, secara klinis, immunologis, dan virologis. Secara klinis dimonitor berat badan, keluhan efek samping pengobatan, kemunculan penyakit infeksi oportunistik.

Secara immunologis dievaluasi kadar CD4 (parameter daya tahan tubuh) yang diperiksa rutin setiap 6 – 12 bulan sekali. Umumnya kadar CD4 akan meningkat secara bertahap yang menandakan kekebalan tubuh membaik karena berkurangnya serangan virus HIV. 

Secara virologis, idealnya diperiksa Viral Load HIV (perbanyakan virus HIV) setiap tahun untuk melihat seberapa banyak virus HIV melakukan replikasi (beranak pinak) di dalam tubuh pasien. Angka yang dihasilkan adalah sekian copi/ml darah. Diharapkan hasilnya tidak terdeteksi. Artinya virus tetap ada di dalam tubuh pasien, tapi bersembunyi di jaringan limfe usus, dan tetap melakukan perbanyakan diri namun minimal akibat ditekan oleh obat antiretroviral (ARV). 

Di RSUP Kariadi sudah ada alat untuk memeriksa Viral Load HIV. Pasien HIV/AIDS dinyatakan mengalami keberhasilan terapi apabila mengalami perbaikan klinis, imunologis dan virologis. 

Mengapa mereka berhasil mengalami perbaikan?

Karena mendapatkan pengobatan yang menyeluruh (komprehensif). Mulai dari dukungan keluarga yang baik, mengkonsumsi obat antiretroviral secara teratur, menjaga masukan gizi empat sehat lima sempurna, berkurangnya stigma dan diskriminasi, mempertahankan pola hidup sehat (meninggalkan kebiasaan tidak baik: tidak minum alkohol, perilaku seks yang sehat, menghindari rokok), sebagian mengkonsumsi obat herbal. 

Obat herbal yang beredar sekarang ini: buah merah dari papua, selenium, meniran (phyllanthus niruri L), kapsul kulit manggis, botrowali (Trinosphora crispa L NIERS), ramuan bahan tumbuhan asli Indonesia, hanya membantu memperbaiki secara imunologis (membantu meningkatkan kadar CD4), tapi tidak mempengaruhi pengurangan virus HIV. Banyak penelitian yang mengklaim bahwa dengan diberikan obat herbal akan meningkatkan kadar CD4.
Padahal perubahan kadar CD4 dipengaruhi banyak hal: kelelahan, kurang istirahat, kurang tidur, stress baik fisik (olahraga yang terlalu berat) maupun psikis, depresi, kehamilan, penyakit hipertensi, stroke, DM, TB Paru, dan infeksi berat Sepsis. 

Keberhasilan pengobatan HIV/AIDS tidak dapat diklaim sebagai keberhasilan pemberian obat herbal semata, sebab obat ini merupakan SUPLEMEN (tambahan terapi, bukan terapi utama) dalam pengobatan HIV/AIDS. Pengobatan penyakit infeksi termasuk HIV/AIDS harus meliputi host (orangnya), environtment (lingkungan) dan agent (penyebab penyakit, dalam hal ini virus HIV). Obat herbal hanya ditujukan untuk host/orangnya, sebab meningkatkan daya tahan tubuh.

Belum menyentuh ke agent (virus HIV) dan lingkungan (stigma dan diskriminasi, dukungan keluarga dan lain lain. Adapun pengobatan yang utama pasien HIV/AIDS adalah: minum obat antiretroviral (ARV) secara teratur setiap hari untuk menekan perbanyakan virus HIV, makanan yang bergizi empat sehat lima sempurna guna meningkatkan daya tahan tubuh, dukungan mental dari keluarga, serta mendekatkan diri kepada Allah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah perilaku hidup sehat. 

Sudah ada beberapa pasien HIV/AIDS yang mencoba meninggalkan obat Antiretroviral (ARV) yang selama ini dikonsumsi dengan beralih ke obat herbal saja.Ternyata dalam waktu satu atau dua tahun jumlah virus di dalam darah, yang semula tidak terdeteksi menjadi terdeteksi dan timbul infeksi oportunistik (infeksi ikutan), yang menyebabkan dirawat di rumah sakit lagi. Pada akhirnya meninggal dunia akibat serangan infeksi oportunistik yang tidak terkendali dan penurunan daya tahan tubuh akibat jumlah virus HIV yang meningkat lagi. Jadi, ada baiknya secara bijaksana menempatkan posisi obat herbal dalam pengobatan HIV/AIDS sebagai obat suplemen, bukan obat yang utama yang dapat ”menyembuhkan” penyakit HIV/AIDS. (11)

–– DR dr Muchlis AU Sofro, SpPD,KPTI, FINASIM, Pokja CST (Care Support Treatment) KPA Provinsi Jawa Tengah.

Dua Orang Sembuh HIV-AIDS

Labels:


Stem-Cell merupakan jenis sel yang terdapat di dalam tubuh seseorang. Sel ini merupakan jenis sel yang dapat berkembang biak dengan sendirinya dan dapat berdiferesiensi menjadi jenis sel lainnya.
HIV merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus HIV yang dapat menyerang ke sistem pertahanan tubuh kita yang membuat seseorang rentan terhadap berbagai macam penyakit.
Sebuah penemuan terbaru yang diutarakan oleh Timothy Henrich seorang dokter dari Harvard Medical School, di Amerika menyebutkan bahwa 2 pasiennya yang menderita AIDS ternyata sembuh setelah mendapat terapi stem cell untuk penyakit kanker kelenjar getah bening (lymphoma) yang diderita mereka. Kedua pasien yang secara rutin harus mengkonsumsi obat anti-HIV, setelah mendapat terapi stem cell berhenti  mengkonsumsi obat anti-HIV selama 15 minggu dan setelah diperiksa, ternyata tidak ditemukannya virus HIV lagi di dalam tubuh mereka.
Tidak terdeteksinya virus HIV setelah terapi stem cell juga terjadi pada pasien bernama Ray Brown yang juga dikenal sebagai “the Berlin Patient” dimana virus HIV juga hilang dari tubuh beliau setelah mendapat terapi transplan sumsum tulang belakang untuk penyakit kanker darah (leukemia) yang dideritanya. Namun, penggunaan stem cell untuk terapi secara global sangat sulit mengingat biaya terapi stem-cell yang sangat mahal, namun kasus terbaru ini mungkin dapat membantu dalam proses melawan penyakit yang telah menginfeksi 34 juta orang di dunia ini.
"Penemuan dr. Henrich merupakan suatu pengetahuan yang dapat membantu usaha penemuan terapi atau vaksin untuk HIV demi eradikasi HIV,” ujar Kevin Robert seorang chief executive dari Foundation for AIDS Research, melihat saat ini obat anti-HIV yang sudah beredar sejak lama sudah didistribusikan dengan baik namun tidak semua penderita mendapat terapi tepat pada waktunya.
Bagaimanakah perkembangan stem cell (sel punca) di Indonesia? Simak artikel kami lainnya di bawah ini atau silakan gunakan fitur Tanya Dokter di Klikdokter.com jika hendak berkonsulasi terlebih dahulu mengenai topik terkait.

sumber : http://klikdokter.com/healthnewstopics/topik-utama/dua-orang-sembuh-hivaids

HIV AIDS - Pedoman WHO terbaru, pasien HIV/Aids harus lebih cepat berobat

Labels:

Diperbaharui 30 June 2013, 19:00 AEST
 
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pihak medis atau dokter mampu menyelamatkan lebih dari 3 juta nyawa di dunia pada tahun 2025 jika menawarkan obat AIDS kepada pengidap HIV lebih cepat, segera setelah mereka diketahui positif mengidap virus mematikan itu.
Meskipun saat ini dibanyak negara sudah menyediakan akses obat AIDS generik yang murah, yang  memungkinkan lebih banyak pengidap HIV yang memperoleh pengobatan,  namun  petugas kesehatan terutama di negara miskin dengan anggaran kesehatan yang terbatas saat ini cenderung menunda menyarankan pengobatan hingga infeksi berlanjut.
dalam pedoman terbaru, WHO mendorong otoritas  kesehatan di seluruh dunia untuk mulai memberikan pengobatan bagi penderita HIV dewasa segera setelah tes yang disebut dengan CD4  menunjukan kadar virus dalam darah mencapai 500 sel per milimeter kubik atau kurang dari itu. Pada standar WHO sebelumnya, pengobatan baru ditawarkan ketika tes CD4 menyatakan level sel sebanyak 350 atau lebih sedikit, dengan kata  lain ketika virus sudah lebih dahulu merusak sistem imun pasien.
Petunjuk ini juga  menyatakan wanita hamil dan menyusui dan anak-anak dibawah usia 5 tahun yang mengidap HIV harus mendapatkan pengobatan secepatnya, berapapun level CD4 mereka, dan seluruh pasien HIV  harus secara reguler dimonitor untuk mengawasi level “kandungan virus” mereka.
Pengawasan ini  juga memungkinkan pengawas kesehatan mengetahui apakah pengobatan yang diberikan bisa  menurunkan jumlah virus di dalam darah. Dan bisa mendorong pasien untuk memakan obat karena mereka bisa mengetahui hasil positif dari pengobatannya.
Petunjuk baru ini disusun berdasarkan sejumlah studi yang menyatakan mengobati pasien HIV lebih awal bisa membuat pasien tetap sehat dalam jangka waktu yang cukup lama dan juga bisa menurunkan jumlah virus didalam darah  dan secara siginifikan memotong potensi pasien menularkan virusnya ke orang lain.
“Kita hendak meningkatkan harapan hidup 26 juta penderita HIV. Dan ini bukan hanya untuk membuat mereka tetap sehat dan  hidup tapi juga menahan laju transmisi lebih banyak,” kata Direktur Jendral Who bidang HIV/Aids Gottfried Hirnschall.
Saat ini tercatat, sekitar 34 juta orang di dunia mengidap Virus HIV penyebab Aids dan kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan dan di negara berkembang. Sub-Sahara Afrika sejauh ini  merupakan kawasan yang paling banyak terpapar HIV/Aids.
Tapi epidemi virus yang telah membunuh lebih dari 25 juta orang didunia dalam 30 tahun terakhir sejak Virus HIV pertama kali ditemukan, sejauh ini menunjukan gejala penurunan.
Program HIV/Aids PBB , UNAIDS mengatakan angka kematian penyakit ini pada tahun 2011 tercatat sebanyak 1,7 juta kematian. Angka ini menunjukan penurunan dibandingkan tahun 2005 yang mencapai puncak tertinggi dengan 2,3 juta kematian ataupun pada tahun 2010 lalu yang tercatat sebanyak 1,8 juta.
Data WHO terbaru juga menunjukan peningkatan jumlah pengidap HIV  yang mendapatkan pengobatan. Tahun 2012 tercatat 9,7 juta orang.  Angka ini meningkat  300.000 orang lebih banyak dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Perusahaan obat generic asal India saat ini menjadi pensuplai utama obat anti retroviral bagi pengidap HIV ke Afrika dan banyak negara miskin lainnya.
Kritis dukungan pendanaan global
Direktur Jendral WHO, Margaret Chan mengatakan peningkatan yang dramatis terhadap pengobatan HIV menghadirkan harapan suatu saat nanti masyarakat dunia bisa melumpuhkan penyakit HIV/Aids.
“Dengan hampir 10 juta jiwa saat ini yang mengkonsumsi obat anti retroviral, kita melihat peluang kearah sana. Hal itu tidak terbersit beberapa tahun lalu. Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk menghentikan epidemi HIV,” katanya.
Koordinator   NGO Medecins Sans Frontieres (MSF) Afrika Selatan Gilles van Cutsem, menyambut positif petunjuk  ini namun mengingatkan soal uang dan kemauan politik untuk mengimplementasikan aturan baru ini.
“Sekarang bukan waktunya lagi untuk berkecil hati tapi sebaliknya harus semangat maju melawan HIV/Aids.  Jadi sangat penting untuk memomibiliasi dukungan internasional, termasuk pendanaan program pengobatan HIV dari donor pemerintah.
Direktur Jendral WHO bidang HIV/Aids,  Gottfried Hirnschall mengatakan untuk bisa menyediakan obat bagi tambahan pasien HIV/Aids sesuai dengan petunjuk WHO yang  baru ini membutuhkan kenaikan 10% dari 24 milyar Dolar dana  yang saat ini dibutuhkan untuk mendanai program melawan HIV/Aids di dunia.

sumber  : www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-06-30/pedoman-who-terbaru-pasien-hivaids-harus-lebih-cepat-berobat/1153908

HIV AIDS - Ilmuwan AS Temukan Terobosan Baru untuk Pengobatan HIV/AIDS

Labels:

Sejumlah ilmuwan Amerika mengembangkan dua pengobatan menjanjikan yang kemungkinan kelak bisa menyembuhkan AIDS.

Seorang petugas tengah membuka sebuah kotak berisi sel-sel darah yang sudah dibersihkan dari protein dari dalam lemari pendingin, untuk diuji coba di
Seorang petugas tengah membuka sebuah kotak berisi sel-sel darah yang sudah dibersihkan dari protein dari dalam lemari pendingin, untuk diuji coba di "Perelman School of Medicine" di Philadelphia, Januari 2013 (Foto: dok)
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan New England Journal of Medicine, para dokter di Universitas Pennsylvania mengambil sel-sel darah selusin pasien HIV dan menggunakan sebuah teknik untuk mengenyahkan protein yang memungkinkan virus itu menempel pada sel-sel darah. Dokter menyuntikkan kembali sel-sel darah itu ke tubuh para pasien, dan kemudian membebaskan mereka dari pengobatan anti-virus selama sebulan.

Virus itu kembali muncul di semua pasien, kecuali satu orang. Namun dokter mendapati bahwa sel-sel darah yang telah diberi diterpi nampaknya terlindung dari virus itu. Hasil dari studi itu menunjukkan bahwa beberapa pasien HIV bisa dibebaskan dari pengobatan harian yang dimaksudkan untuk mengontrol infeksi mereka.

Sementara itu, sejumlah dokter pada konferensi AIDS di Boston, Rabu (5/3), mengumumkan bahwa bayi kedua di Amerika yang terlahir dengan HIV menunjukkan  tidak adanya tanda keberadaan virus itu dalam tubuhnya berkat perlakuan obat-obatan agresif yang diberikan segera setelah ia dilahirkan di sebuah rumah sakit di Los Angeles tahun lalu.

Kasus seperti ini pertama kali dilaporkan terjadi di negara bagian Mississippi, dimana seorang bayi perempuan yang terinfeksi HIV diberi perlakuan obat anti-virus sekitar 30 jam setelah ia dilahirkan. Dokter terus memberi perlakuan itu hingga ia berusia 18 bulan, sampai ibunya berhenti membawanya ke klinik pengobatan.

Ketika ibu itu kembali membawanya untuk pengobatan beberapa bulan kemudian, doktor mendapati tidak adanya tanda-tanda HIV dalam sel darah bayi itu. Anak itu kini berusia tiga tahun dan masih bebas HIV.

Pencegahan HIV AIDS

Labels:

Tidak ada vaksin untuk mencegah HIV dan tidak ada obat untuk AIDS, tapi Anda bisa melindungi diri agar tidak terinfeksi. Satu-satunya cara untuk mencegah terinfeksi HIV adalah dengan menghindari kegiatan yang meningkatkan risiko tertular HIV. Pada dasarnya, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Cara-cara yang paling umum untuk terinfeksi HIV adalah berhubungan seks tanpa kondom, berbagi jarum atau alat suntik lainnya. Jika Anda terinfeksi HIV, Anda bisa menularkannya dengan cara-cara tersebut. Jika kedua pasangan terinfeksi, tetap lakukan hubungan seks yang aman. Anda bisa tertular jenis virus HIV lain yang mungkin tidak bisa dikendalikan oleh obat-obatan yang Anda konsumsi.

Melalui Hubungan Seks

Risiko tertinggi infeksi HIV ditularkan melalui hubungan seks tanpa kondom melalui vagina maupun anal. Risiko tertular melalui seks oral rendah, tapi bukan berarti nol. Seks oral bisa menularkan penyakit Infeksi Menular Seksual lain seperti sifilis. Mainan dan alat bantu seks juga berisiko dalam menyebarkan HIV jika salah satu pengguna mainan dan alat bantu seks ini positif terinfeksi HIV.
Cara terbaik untuk mencegah HIV dan penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya adalah dengan memakai kondom untuk segala jenis penetrasi seks. Dan gunakan dental dam untuk melakukan seks oral. Dental dam adalah selembar kain berbahan lateks. Kain ini berfungsi sebagai penghalang antara mulut dan vagina atau anus. Hal ini bertujuan untuk menurunkan penyebaran IMS selama melakukan seks oral.
Pemakaian kondom
Jika Anda tidak tahu status infeksi HIV pasangan, maka selalu gunakan kondom baru tiap melakukan hubungan seks anal maupun seks vaginal. Kondom tersedia dalam berbagai bentuk, warna, tekstur, bahan, dan rasa yang berbeda. Kondom tersedia baik untuk pria maupun wanita.
Kondom adalah bentuk perlindungan paling efektif melawan HIV dan penyakit Infeksi Menular Seksual lainnya. Kondom bisa digunakan untuk hubungan seks apa pun. Sangat penting untuk memakai kondom sebelum kontak seksual apa pun yang muncul antara penis, vagina, mulut, atau anus. HIV bisa ditularkan sebelum terjadi ejakulasi. Ini terjadi ketika keluarnya cairan awal dari alat kelamin dan dari anus.
Gunakan kondom yang berbahan lateks atau poliuretan (latex and polyurethane) ketika melakukan hubungan seks. Gunakan kondom begitu Anda atau pasangan mengalami ereksi, bukan sebelum ejakulasi.
Pemakaian pelumas
Pelumas digunakan untuk menambah kenyamanan dan keamanan hubungan seks dengan tujuan menambah kelembapan pada vagina maupun anus selama seks. Pelumas akan mengurangi risiko terjadinya kulit luka (sobek) pada vagina atau anus. Pelumas juga mencegah agar kondom tidak sobek.
Hanya gunakan pelumas yang berbahan dasar air, bukan yang berbahan minyak. Pelumas yang berbahan minyak bisa melemahkan kekuatan kondom dan bahkan bisa merobek kondom.

Melalui Jarum dan Suntikan

Jika Anda memakai jarum untuk menyuntikkan obat, pastikan jarumnya steril. Jangan berbagi jarum, suntikan, atau perlengkapan menyuntik lagi seperti spon dan kain. Berbagi jarum bisa meningkatkan risiko terinfeksi HIV dan virus lain yang ada di dalam darah, misalnya hepatitis C.
Jika Anda ingin membuat tato atau tindik, pastikan selalu memakai jarum yang steril dan bersih. Jangan melakukan aktivitas ini di tempat sembarangan. Pastikan Anda memeriksa soal jarum yang digunakan.

Pengobatan HIV AIDS secara MEDIS

Labels:

Tidak ada obat untuk menyembuhkan infeksi HIV, tapi ada pengobatan yang bisa memperlambat perkembangan penyakit. Perawatan ini bisa membuat orang yang terinfeksi untuk hidup lebih lama dan bisa menjalani pola hidup sehat. Ada berbagai macam jenis obat yang dikombinasikan untuk mengendalikan virus.

Obat-obatan Darurat Awal HIV

Jika merasa atau mencurigai baru saja terkena virus dalam rentan waktu 3×24 jam, obat anti HIV bisa mencegah terjadinya infeksi. Obat ini bernama post-exposure prophylaxis (PEP) atau di Indonesia dikenal sebagai profilaksis pasca pajanan. Profilaksis adalah prosedur kesehatan yang bertujuan mencegah daripada mengobati.
Pengobatan ini harus dimulai maksimal tiga hari setelah terjadi pajanan (terpapar) terhadap virus. Idealnya, obat ini bisa diminum langsung setelah pajanan terjadi. Makin cepat pengobatan, maka lebih baik.
Pengobatan memakai PEP ini berlangsung selama sebulan. Efek samping obat ini serius dan tidak ada jaminan bahwa pengobatan ini akan berhasil. PEP melibatkan obat-obatan yang sama seperti pada orang yang sudah dites positif HIV.
Obat ini bisa Anda dapatkan di dokter spesialis penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau di rumah sakit.

Hasil Tes Positif HIV

Hasi tes positif atau reaktif berarti kita terinfeksi HIV. Hasil tes ini seharusnya disampaikan oleh penyuluh (konselor) atau pun dokter. Mereka akan memberi tahu dampaknya pada kehidupan sehari-hari dan bagaimana menghadapi situasi yang terjadi saat itu.
Tes darah akan dilakukan secara teratur untuk mengawasi perkembangan virus sebelum memulai pengobatan. Pengobatan dilakukan setelah virus mulai melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Ini bisa ditentukan dengan mengukur tingkat sel CD4 dalam darah. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan infeksi.
Pengobatan biasanya disarankan setelah CD4 di bawah 350, entah terjadi gejala atau tidak. Jika CD4 sudah mendekati 350, disarankan untuk melakukan pengobatan secepatnya. Tujuan pengobatan adalah untuk menurunkan tingkat virus HIV dalam darah. Ini juga untuk mencegah atau menunda penyakit yang terkait dengan HIV. Kemungkinan untuk menyebarkannya juga menjadi lebih kecil.

Keterlibatan Penyakit Lain

Bagi penderita hepatitis B dan hepatitis C yang juga terinfeksi HIV, pengobatan disarankan ketika angka CD4 di bawah 500. Jika penderita HIV sedang menjalani radioterapi atau kemoterapi yang akan menekan sistem kekebalan tubuh, pengobatan dilakukan dengan angka CD4 berapa pun. Atau ketika Anda juga menderita penyakit lain seperti TB, penyakit ginjal, dan  penyakit otak.

Obat-obatan Antiretroviral

Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV. Obat-obatan ini tidak membunuh virus, tapi memperlambat pertumbuhan virus. HIV bisa mudah beradaptasi dan kebal terhadap satu golongan ARV. Oleh karena itu kombinasi golongan ARV akan diberikan.
Pengobatan kombinasi ini lebih dikenal dengan nama terapi antiretroviral (ART). Biasanya pasien akan diberikan tiga golongan obat ARV. Kombinasi obat ARV yang diberikan berbeda-beda pada tiap-tiap orang, jadi jenis pengobatan ini bersifat pribadi atau khusus.
Beberapa obat ARV sudah digabungkan menjadi satu pil. Begitu pengobatan HIV dimulai, mungkin obat ini harus dikonsumsi seumur hidup. Jika satu kombinasi ARV tidak berhasil, mungkin perlu beralih ke kombinasi ARV lainnya.
Jika menggabungkan beberapa tipe pengobatan untuk mengatasi infeksi HIV, hal ini bisa menimbulkan reaksi dan efek samping yang tidak terduga. Selalu konsultasikan kepada dokter sebelum mengonsumsi obat yang lain.

Pengobatan HIV Pada Wanita Hamil

Bagi wanita hamil yang positif terinfeksi HIV, ada obat ARV khusus untuk wanita hamil. Obat ini untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayinya. Tanpa pengobatan, terdapat perbandingan 25 dari 100 bayi akan terinfeksi HIV. Risiko bisa diturunkan kurang dari satu banding 100 jika diberi pengobatan sejak awal.
Dengan pengobatan lebih dini, risiko menularkan virus melalui kelahiran normal tidak meningkat. Tapi bagi beberapa wanita, tetap disarankan untuk melahirkan dengan operasi caesar.
Bagi wanita yang terinfeksi HIV, disarankan untuk tidak memberi ASI kepada bayinya. Virus bisa menular melalui proses menyusui. Jika Anda adalah pasangan yang menderita HIV, bicarakan kepada dokter sebagaimana ada pilihan untuk tetap hamil tanpa berisiko tertular HIV.

Konsumsi Obat Secara Teratur

Anda harus membuat jadwal rutin untuk memasukkan pengobatan HIV ke dalam pola hidup sehari-hari. Pengobatan HIV bisa berhasil jika Anda mengonsumsi obat secara teratur (pada waktu yang sama setiap kali minum obat). Jika melewatkan satu dosis saja, efeknya bisa meningkatkan risiko kegagalan.

Efek Samping Pengobatan HIV

Semua pengobatan untuk HIV memiliki efek samping yang tidak menyenangkan. Jika terjadi efek samping yang tidak normal, Anda mungkin perlu mencoba kombinasi obat-obatan ARV yang lainnya. Berikut adalah contoh efek samping yang umumnya terjadi:
  • Kelelahan
  • Mual
  • Ruam pada kulit
  • Diare
  • Satu bagian tubuh menggemuk, bagian lain kurus
  • Perubahan suasana hati

Ciri Ciri terinfeksi HIV

Labels:

Jakarta, Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) hingga kini belum bisa diobati, penderitanya hanya diberikan obat-obat anti-retroviral atau ARV. Orang yang berisiko terkena HIV adalah jika sering melakukan seks tanpa pengaman dengan lebih dari satu pasangan atau menggunakan obat-obat terlarang dengan suntikan.

"Pada tahap awal infeksi HIV, gejala yang paling umum pun tidak ada," kata Michael Horberg, MD, direktur HIV - AIDS di Kaiser Permanente, Oakland, California seperti yang dikutip dari Health, Senin (31/10/2011).

Karena gejala awalnya tidak ada, orang-orang yang berisiko tersebut kadang tidak tahu tubuhnya sudah dimasuki virus HIV. Dalam 1 atau 2 bulan virus HIV memasuki tubuh. Sebesar 40 hingga 90 persen dari orang mengalami gejala seperti flu dapat dikenal sebagai sindrom retroviral akut (ARS). Tetapi kadang-kadang gejala HIV tidak muncul selama beberapa tahun bahkan beberapa dekade setelah infeksi.

Berikut adalah beberapa tanda-tanda bahwa mungkin seseorang positif terkena HIV, antara lain:

1. Demam
Salah satu tanda-tanda pertama ARS adalah demam ringan, sampai sekitar 39 derajat C (102 derajat F). Demam sering disertai dengan gejala ringan lainnya, seperti kelelahan, pembengkakan pada kelenjar getah bening, dan sakit tenggorokan.

"Pada titik ini virus bergerak ke dalam aliran darah dan mulai mereplikasi dalam jumlah besar. Sehingga akan ada reaksi inflamasi oleh sistem kekebalan tubuh," kata Carlos Malvestutto, MD, instruktur penyakit menular dan imunologi dari department of medicine di NYU School of Medicine, New York.
2. Kelelahan
Respon inflamasi yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh juga dapat menyebabkan lelah dan lesu. Kelelahan dapat menjadi tanda awal dan tanda lanjutan dari HIV.
3. Pegal, nyeri otot dan sendi, pembengkakan kelenjar getah bening
ARS sering menyerupai gejala flu, mononucleosis, infeksi virus atau yang lain, bahkan sifilis atau hepatitis. Hal tersebut memang tidak mengherankan. Banyak gejala penyakit yang mirip bahkan sama, termasuk nyeri pada persendian dan nyeri otot, serta pembengkakan kelenjar getah bening.
Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh dan cenderung akan meradang bila ada infeksi. Kelenjar getah bening berada di pangkal paha leher ketiak, dan lain-lain.
4. Sakit tenggorokan dan sakit kepala
"Seperti gejala penyakit lain, sakit tenggorokan, dan sakit kepala sering dapat merupakan ARS," kata Dr. Horberg. Jika memiliki risiko tinggi HIV, maka melakukan tes HIV adalah ide yang baik. Karena HIV paling menular pada tahap awal.
5. Ruam kulit
Ruam kulit dapat terjadi lebih awal atau terlambat dalam perkembangan HIV/AIDS.
6. Mual, muntah dan diare
Sekitar 30 hingga 60 persen dari orang dengan HIV memiliki gejala jangka pendek seperti mual, muntah, atau diare pada tahap awal HIV, kata Dr. Malvestutto. Gejala tersebut juga dapat muncul sebagai akibat dari terapi antiretroviral, biasanya sebagai akibat dari infeksi oportunistik.

"Diare yang tak henti-hentinya dan tidak merespon obat mungkin merupakan indikasi. Atau gejala dapat disebabkan oleh organisme yang biasanya tidak terlihat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik," kata Dr. Horberg.
7. Penurunan berat badan
"Jika penderita HIV sudah kehilangan berat badan, berarti sistem kekebalan tubuh biasanya sedang menurun," kata Dr. Malvestutto.
8. Batuk kering
Batuk kering dapat merupakan tanda pertama seseorang terkena infeksi HIV. Batuk tersebut dapat berlangsung selama 1 tahun dan terus semakin parah.
9. Pneumonia
Batuk dan penurunan berat badan juga mungkin pertanda infeksi serius yang disebabkan oleh kuman yang tidak akan mengganggu jika sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik. "Ada banyak infeksi oportunistik yang berbeda dan masing-masing dapat datang dengan waktu yang berbeda," kata Dr. Malvestutto.

Pneumonia merupakan salah satu infeksi oportunistik, sedangkan yang lainnya termasuk toksoplasmosis, infeksi parasit yang mempengaruhi otak, cytomegalovirus, dan infeksi jamur di rongga mulut.
10. Keringat malam
Sekitar setengah dari orang yang terinfeksi HIV akan berkeringat di malam hari selama tahap awal infeksi HIV, kata Dr. Malvestutto. Keringat malam terjadi bahkan saat tidak sedang melakukan aktivitas fisik apapun.
11. Perubahan pada kuku
Tanda lain dari infeksi HIV akhir adalah perubahan kuku, seperti membelah, penebalan dan kuku yang melengkung, atau perubahan warna (hitam atau coklat berupa garis vertikal maupun horizontal). Seringkali hal tersebut disebabkan infeksi jamur, seperti kandida.

"Pasien dengan sistem kekebalan yang menurun akan lebih rentan terhadap infeksi jamur," kata Dr. Malvestutto.
12. Infeksi Jamur
Infeksi jamur yang umum pada tahap lanjut adalah thrush, infeksi mulut yang disebabkan oleh Candida, yang merupakan suatu jenis jamur. "Candida merupakan jamur yang sangat umum dan salah satu yang menyebabkan infeksi jamur pada wanita.

"Candida cenderung muncul di rongga mulut atau kerongkongan, sehingga akan sulit untuk menelan," kata Dr. Malvestutto.
13. Kebingungan atau kesulitan berkonsentrasi
Masalah kognitif dapat menjadi tanda demensia terkait HIV, yang biasanya terjadi lambat dalam perjalanan penyakit. Selain kebingungan dan kesulitan berkonsentrasi, demensia terkait AIDS mungkin juga melibatkan masalah memori dan masalah perilaku seperti marah atau mudah tersinggung.

Bahkan mungkin termasuk perubahan motorik seperti, menjadi ceroboh, kurangnya koordinasi, dan masalah dengan tugas yang membutuhkan keterampilan motorik halus seperti menulis dengan tangan.
14. Herpes mulut dan herpes kelamin
Cold sores (herpes mulut) dan herpes kelamin (herpes genital) dapat menjadi tanda dari ARS dan stadium infeksi HIV. Herpes tersebut juga dapat menjadi faktor risiko untuk tertular HIV.

Karena herpes kelamin dapat menyebabkan borok yang memudahkan virus HIV masuk ke dalam tubuh selama hubungan seksual. Orang-orang yang terinfeksi HIV juga cenderung memiliki risiko tinggi terkena herpes karena HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh.
15. Kesemutan dan kelemahan
Akhir HIV juga dapat menyebabkan mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki. Hal ini disebut neuropati perifer, yang juga terjadi pada orang dengan diabetes yang tidak terkontrol. "Hal tersebut menunjukkan kerusakan pada saraf," kata Dr. Malvestutto.

Gejala tersebut dapat diobati dengan obat-obatan penghilang rasa sakit yang dijual bebas dan antikejang seperti gabapentin.
16. Ketidakteraturan menstruasi
Infeksi HIV tahap lanjut tampaknya dapat meningkatkan risiko mengalami ketidakteraturan menstruasi, seperti periode yang lebih sedikit dan lebih jarang. Perubahan tersebut mungkin lebih berkaitan dengan penurunan berat badan dan kesehatan yang buruk dari wanita dengan tahap akhir infeksi HIV.

Infeksi HIV juga telah dikaitkan dengan usia menopause yang lebih dini, yaitu sekitar 47-48 tahun bagi perempuan yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan perempuan yang tidak terinfeksi sekitar usia 49-51 tahun.
 Sumber : detikhealth.com

HIV , WHO : Saatnya Perang pada Perilaku Heteroseks yang Rentan Tularkan HIV

Labels: , ,


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis mendesak pemerintah menggencarkan perang terhadap infeksi HIV/AIDS di antara kaum pria, yang berhubungan seks dengan laki-laki dan kelompok “transgender”.
WHO mengatakan bahwa jika negara tidak segera memperluas akses ke layanan kesehatan bagi kelompok kunci tersebut, keuntungan dari pemberantasan virus HIV/AIDS selama dasawarsa lalu akan terancam.
“Kita perlu memperkuat program untuk memastikan bahwa populasi kunci menerima dukungan yang mereka butuhkan untuk melindungi diri.
“Kita perlu untuk meningkatkan, memperbaiki dan mempertahankan upaya pencegahan yang komprehensif, efektif dan fokus pada upaya-upaya pencegahan bebas stigma HIV dan bekerja dengan laki-laki yang melakukan hubungan  seks dengan laki-laki serta orang-orang transgender,” kata Direktur WHO untuk Pasifik Barat Dr Shin Young-soo.
Hari AIDS Sedunia 2012 diperingati pada 1 Desember dengan tema “Getting to Zero: Zero new  HIV infections. Zero Discrimination. Zero AIDS-related Deaths.”
Perayaan ini didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pandemi AIDS yang disebabkan oleh penyebaran infeksi HIV.

Obat HIV mendorong Kerusakan Otak

Labels: ,

Minggu, 30 September 2012 22:30 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Berkat ditemukannya obat antiretroviral, orang-orang yang terinfeksi HIV saat ini bisa hidup lebih lama dibanding mereka yang mengalami hal yang sama 20 tahun silam. Namun, ternyata, penggunaan obat itu dalam jangka panjang bisa melemahkan fungsi kognitif otak.

Penelitian Johns Hopkins University terbaru menunjukkan nyaris 50% penderita HIV akhirnya mengalami kerusakan saraf dan otak. Termasuk di antaranya menyebabkan ketidakmampuan menyetir, bekerja, atau melakukan kegiatan sehari-hari. Dulu semua perubahan itu dituduhkan pada penyakit HIV, namun penelitian membuktikan obat itulah yang mendorong kerusakan otak.

Sayangnya meski sudah berhasil menemukan penyebab kerusakan otak pada pasien HIV, para peneliti belum menemuan obat untuk mengatasi persoalan itu. "Menemukan dan menyatakan suatu masalah adalah satu hal, namun menemukan penyelesaiannya adalah perkara lain," kata Norman J. Haughey, salah seorang peneliti.(sciencedaily/ICH)

Cara Penularan HIV AIDS

Labels:

Jakarta, HIV AIDS (Human Immunodeficiency Virus /Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakityang belum bisa disembuhkan dan belum ada obatnya. Penularannya terjadi dari cairan ditubuh maka itu penting untuk mengetahui cara-cara penularan HIV AIDS.

Setelah dinyatakan positif terkena HIV biasanya ada masa 5-10 tahun virus ini benar-benar bisa ‘melumpuhkan’ penderitanya. AIDS timbul sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV di dalam tubuh manusia. Meski kini dengan terapi ARV (Antiretroviral) penderita HIV AIDS bisa berumur panjang bersama penyakitnya.

Setelah virus memasuki tubuh, maka virus akan berkembang dengan cepat. Virus ini akan menyerang limfosit CD4 (sel T) dan menghancurkan sel-sel darah putih sehingga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Orang dengan HIV akan memiliki jumlah sel darah putih yang kecil.

Pada tahap awal terkena infeksi, virus ini biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala apapun. Gejalanya baru akan muncul setelah dua sampai empat minggu.

Gejala awal HIV adalah mengalami sakit kepala yang berat, demam, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha.
Seperti dikutip dari situs WHO, Senin (6/12/2010) ketika seseorang terinfeksi maka gejala awal yang muncul terkadang mirip dengan flu atau infeksi virus sedang.

Pada stadium lanjut gejala HIV memperlihatkan kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan, batuk kering, demam berulang atau berkeringat saat malam hari, kelelahan, diare yang lebih dari seminggu, kehilangan memori, depresi dan juga gangguan saraf lainnya.

Karena ganasnya penyakit ini, sebaiknya ingat-ingat terus cara penularan HIV AIDS. Intinya penularannya terjadi dari cairan ditubuh. Virus HIV berada dalam cairan tubuh manusia.
Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain. Jadi penularan melalui ciuman tidak terjadi.

  1. Hubungan seks, terutama melalui anus (anal)
    Orang yang punya penyakit infeksi jika memiliki luka atau ada cairan dari tubuh yang keluar maka bisa 10 kali menularkan potensi HIV kepada pasangannya lewat hubungan seks. Perilaku gonta ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom juga sangat berisiko. Lakukan hubungan seks yang aman.
  2. PENGGUNAAN BERSAMA JARUM SUNTIK YANG TERKONTAMINASI OLEH PEMAKAI NARKOBA ATAU PERAWATAN KESEHATAN
    Jarum suntik yang sudah dipakai bisa mengandung cairan dari pemakainya. Kebiasaan seperti ini yang banyak digunakan pemadat. Padahal jarum suntik hanya sekali pakai.
  3. Transfusi darah
    Penularan melalui transfusi darah risikonya sangat tinggi, maka itu bank darah biasanya akan mengecek berulang-ulang pada darah yang digunakan pasien melalui skrining yang ketat.
  4. Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui
    Ibu hamil yang punya penyakit HIV berisiko tinggi menularkan ke bayinya saat masa hamil, bersalin dan menyusui.Penularan HIV dari ibu hamil ke anak bisa terjadi karena infeksi melewati plasenta, saat proses persalinan atau menyusui. Sumber infeksi ini bisa dari darah ibu, plasenta, cairan amnion dan ASI.Kemungkinan bayi tertular HIV dari ibunya pada masa kehamilan adalah 15-20 persen. Sedangkan pada saat kelahiran 10-15 persen, dan pada saat menyusui adalah 15-20 persen.Untuk mengurangi ancaman anak yang dilahirkan tertular HIV dari ibu hamil, menurut dr Utami semua ibu hamil HIV harus diberi obat ARV (Antiretroviral). Pemberian ARV ini dapat menurunkan secara drastis kemungkinan bayi tertular HIV pada masa kehamilan.
  5. Terjadinya luka akibat pemakaian benda yang bersamaan seperti silet, pisau cukur juga bisa menularkan HIV. Jadi hindari penggunaan barang-barang seperti itu bergantian, lebih baik punya sendiri, kecuali benda-benda itu sudah disterilkan. 
(sumber detikhealth.com)

Penggunaan Narkoba & HIV AIDS

Labels: ,

Apa Kaitan Antara Penggunaan Narkoba dan HIV?
Penggunaan narkoba (NAPZA) dan alkohol adalah faktor besar dalam penyebaran infeksi HIV. Alat-alat yang dipakai secara bergantian untuk memakai narkoba dapat membawa HIV dan hepatitis, dan penggunaan narkoba dan alkohol juga dikaitkan dengan hubungan seks secara tidak aman.

Penggunaan narkoba dan alkohol juga dapat berbahaya untuk orang yang memakai terapi antiretroviral (ART). Kepatuhan pada pengobatan tampaknya lebih sulit untuk pengguna narkoba, dan narkoba jalanan dapat berinteraksi secara gawat dengan obat antiretroviral (ARV). Lihat Lembaran Informasi (LI) 494 untuk informasi lebih lanjut mengenai narkoba. Terapi pemulihan ketergantungan narkoba dan alkohol dapat mengurangi risiko terinfeksi HIV.

Suntikan dan Infeksi

Infeksi HIV menyebar secara mudah bila orang memakai alat suntik secara bergantian dalam penggunaan narkoba. Penggunaan alat bergantian juga menularkan virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan penyakit gawat lain.

Darah yang terinfeksi terdapat pada semprit (insul) kemudian disuntikkan bersama dengan narkoba saat pengguna berikut memakai semprit tersebut. Ini adalah cara termudah untuk menularkan HIV karena darah yang terinfeksi langsung dimasukkan pada aliran darah orang lain.

Hanya dibutuhkan jumlah darah yang kecil pada tangan, sendok, saringan, turniket, atau pada air bilasan untuk menularkan kepada pengguna lain.

Untuk mengurangi risiko penularan HIV dan hepatitis, jangan memakai alat suntik apa pun secara bergantian, dan sering cuci tangan. Membersihkan alat-alat serta kulit di daerah suntikan. Mengikuti tindakan untuk mengurangi dampak buruk (harm reduction) penggunaan narkoba.

Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa HIV dapat bertahan hidup selama sedikitnya empat minggu dalam semprit bekas pakai. Bila kita harus memakai alat suntik bergantian, kita dapat mengurangi risiko infeksi dengan membersihkannya sebelum orang yang berikut memakainya. Bila mungkin, memakai semprit milik sendiri dan tidak memakainya bergantian dengan orang lain. Semprit ini tetap harus dibersihkan karena bakteri dapat bertumbuh di dalamnya.

Cara yang paling efektif untuk membersihkan semprit adalah dengan memakai air bersih dulu, kemudian pemutih, dan akhirnya bilas dengan air bersih. Coba keluarkan semua darah dari semprit dengan cara dikocok secara keras selama 30 detik. Pakailah air sejuk karena air panas dapat menyebabkan darah menjadi beku. Untuk membunuh sebagian besar HIV dan virus hepatitis, biarkan pemutih dalam semprit selama dua menit penuh. Tidak dapat dijamin bahwa semua HIV dan virus hepatitis akan dibunuh dengan pembersihan. Selalu memakai semprit baru bila mungkin.

Program Pertukaran Jarum Suntik

Akses pada jarum suntik yang bersih mengurangi penularan HIV dan hepatitis. Di beberapa daerah, jarum suntik baru dapat dibeli di apotek tanpa resep. Di beberapa daerah, sudah terbentuk program pertukaran jarum suntik (Layanan Alat Suntik Steril/LASS) untuk menyediakan semprit yang baru dan terjamin bersih pada pengguna narkoba suntikan agar mereka tidak terpaksa memakai jarum suntik bergantian.

Program yang memudahkan akses pada jarum suntik baru memang kontroversial karena ada yang menganggap program LASS mendorong penggunaan narkoba. Namun penelitian pada pertukaran jarum suntik membuktikan bahwa hal ini tidak benar. Angka infeksi HIV menurun di daerah yang ada program tersebut, dan lebih banyak pengguna narkoba siap mengikuti terapi pemulihan narkoba.

Penggunaan Narkoba dan Hubungan Seks Tidak Aman

Untuk banyak orang, narkoba dan seks saling berhubungan. Pengguna narkoba dapat menawarkan seks untuk narkoba atau uang untuk membeli narkoba. Beberapa orang mengaitkan seks tidak aman dengan penggunaan narkoba.

Penggunaan narkoba, termasuk metamfetamin (shabu) dan alkohol, meningkatkan kemungkinan orang tidak akan melindungi dirinya saat berhubungan seks. Seseorang yang ‘menjual’ seks untuk narkoba mungkin mengalami kesulitan untuk membatasi apa yang dia akan melakukan. Penggunaan narkoba dan alkohol dapat mengurangi angka penggunaan kondom dan praktek seks aman yang lain.

Sering kali, pengguna narkoba berganti-ganti pasangan seksual. Perilaku ini meningkatkan risiko terinfeksi HIV atau infeksi menular seksual (IMS) lain. IMS dapat meningkatkan risiko tertular atau menularkan HIV.
Pengobatan dan Narkoba

Adalah sangat penting untuk memakai setiap dosis ART sesuai dengan aturan (waktu, takaran, dsb.) – lihat LI 405 mengenai kepatuhan terhadap terapi. Orang yang tidak patuh (melupakan dosis) lebih mungkin mengalami tingkat HIV (viral load) yang lebih tinggi dalam darahnya, dan mengembangkan resistansi terhadap obatnya. Penggunaan narkoba dikaitkan dengan ketidakpatuhan, yang dapat mengakibatkan kegagalan terapi.

Beberapa jenis narkoba berinteraksi dengan obat medis – lihat LI 407. Hati kita menguraikan sebagian besar obat yang dipakai untuk melawan HIV, terutama protease inhibitor (PI) dan NNRTI. Hati juga menguraikan beberapa jenis narkoba, termasuk alkohol. Bila narkoba dan obat kedua ‘antri’ memakai hati, ada yang diuraikan secara lebih cepat dan juga yang lebih lambat. Hal ini dapat menyebabkan overdosis berat oleh obat atau pun narkoba.

Overdosis obat dapat menyebabkan efek samping yang berat. Overdosis narkoba dapat mematikan. Sedikitnya dilaporkan satu kematian akibat interaksi antara ekstasi dengan PI.

Sebaliknya, interaksi dapat menyebabkan tingkat ARV yang rendah dalam darah, dengan akibat tingkatnya terlalu rendah untuk melawan HIV. Hal ini dapat menyebabkan virus menjadi resistan terhadap obat tersebut.

Beberapa obat, termasuk ARV dapat mengubah tingkat metadon dalam darah. Oleh karena itu, pengguna metadon seharusnya dipantau secara hati-hati setelah mulai memakai ART atau pengobatan lain, dan dosis metadon disesuaikan lagi – lihat LI 541 untuk informasi lebih lanjut.

Garis Dasar

Penggunaan narkoba adalah penyebab utama infeksi HIV baru. Penggunaan alat suntik, terutama semprit, secara bergantian dapat menularkan HIV, virus hepatitis dan infeksi lain. Penggunaan alkohol dan narkoba, walaupun belum sampai pada ketergantungan, dapat meningkatkan kemungkinan dilakukan hubungan seks yang tidak aman dan meningkatkan risiko infeksi menular seksual.

Untuk melindungi dirinya sendiri dari infeksi, jangan memakai peralatan suntik secara bergantian. Bila memakai semprit sendiri berulang kali, bersihkan secara hati-hati setiap kali memakainya. Namun pembersihan yang paling hati-hati tidak dapat menjamin semprit bebas kuman.

Di beberapa daerah, jarum suntik baru dapat dibeli tanpa resep. Juga, program pertukaran jarum suntik menyediakan semprit yang baru dan bersih. Program ini dapat mengurangi angka infeksi HIV yang baru.
Penggunaan narkoba dapat menyebabkan kelupaan dosis ART. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan kegagalan terapi dan resistansi terhadap obat.

Memakai narkoba atau alkohol bersama dengan obat antiretroviral dapat menjadi berbahaya. Interaksi antara obat dengan narkoba dapat menyebabkan efek samping berat dan overdosis yang gawat.

info terkait :
Vaksin AIDS Terbaru di TEMUKAN

EFEK NARKOBA , IMPOTEN

Labels: ,

Ada yang beranggapan, narkoba menambah kejantanan. 
Saat pakai shabu, orang merasa bersemangat, banyak bergerak, lalu melampiaskan lewat hubungan seks. Namun ingat, kenikmatan itu hanyalah sesaat. Shabu memang merangsang sistem syaraf pusat. Salah satu bagian dari sistem syaraf itu adalah yang mengatur orgasme. Fakta ini yang dijadikan alasan pengguna shabu untuk urusan seksual. Ekstasi mempengaruhi tubuh melalui syaraf simpatis. Tiap kali menggunakan ekstasi, orang menjadi aktif, gembira, bersemangat, dan ingin bergerak. Ini juga membuat orang merasa sangat kuat seks dalam waktu lama.
Narkoba jenis ini bisa meningkatkan pelepasan dopamine dalam otak. Dopamine adalah neurotransmiter bersifat merangsang. Jika yang dirangsang perilaku seksual, penggunanya akan merasa makin jantan. Namun, harus diingat, pengaruh demikian itu ada batasnya. Paling-paling Cuma beberapa jam. Jika diukur dari dampak jangka panjang, narkoba lebih menghancurkan urusan seksual daripada memperbaikinya. Mitos bahwa beberapa jenis narkoba meningkatkan gairah seksual itu keliru. Yang benar, narkoba membikin impoten.
Ekstasi berefek pada syaraf simpatis. Agar bisa melakukan hubungan seksual, pengguna ekstasi biasanya menenggak obat antidisfungsi ereksi. Jika tidak, mereka tak kuat atau di tengah permainan. Jika penggunaan ini berlangsung terus, lama kelamaan itu bisa berlanjut ke impotensi. Shabu bekerja pada syaraf parasimpatis. Ini membuat penggunanya merasa tenang, kalem, dan pasif. Akibatnya, mereka jadi merasa tidak memerlukan hubungan seksual. Saat shabu sudah merangsang syaraf pusat orgasme, orang tanpa melakukan hubungan seksual pun sudah merasakan nikmat dan orgasme. Ini membuat orang lambat laun jadi impoten.
Heroin menimbulkan dampak euforia. Namun, dampak negatif heroin juba buruk bagi fungsi seksual. Heroin bisa menghambat fungsi hormon seks, menurunkan kadar testosteron, dorongan seksual, menghambat ejakulasi, dan lama kelamaan jadi disfungsi ereksi. Dalam jangka menengah, narkoba tertentu bisa memancing masuknya berbagai penyakit seksual. Ekstasi, saat merangsang meningkatnya pelepasan dopamine dalam otak, merangsang perilaku seksual berlebihan. Ini bisa membuat penggunanya kehilangan kontrol atas perilaku seksual mereka. Tanpa kontrol, mereka akan melakukan hubungan seksual tanpa memikirkan risiko. Ini membuat mereka beresiko tinggi terjangkit penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS atau hepatitis C. [sumber : n4rkobabahaya.blogspot.com]

Apakah ARV Efektif Mengobati HIV ?

Labels:

Pertanyaan
Apakah ARV itu?sejauh mana fungsi ARV bagi pemakainya? Apakah ARV memang efektif? Saya ada mendengar ada pasien yang mengeluh, andai dia tidak mengkonsumsi ARV mungkin umurnya bisa lebih panjang. Saya hanya ingin tahu, karena ada anggota keluarga saya yang mengidap HIV dan sedang menunggu jatah ARV.
Terima kasih.

rain_tearsdrop@*****com



Jawab:

Penyakit HIV-AIDS akhir akhir ini cenderung meningkat. Hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri semakin baik. Oleh karena itu, apabila ada diantara kita yang sedang mengalami: demam lebih dari satu bulan, batuk lebih dari satu bulan, diare lama (juga lebih dari satu bulan), berat badan turun terus menerus, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Sebab, salah satu gejala atau tanda terserang AIDS adalah seperti itu (demam lama, batuk lama, diare lama, Berat badan turun drastis).
Penyakit HIV AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini selalu beranak pinak di dalam tubuh kita, melalui sel limfosit T (bagian dari sel darah tubuh). Satu virus bisa berkembang menjadi 100.000 virus baru setiap harinya. Semakin banyak virus di dalam tubuh, akan semakin melemahkan daya tahan tubuh kita.  Apabila daya tahan tubuh kita semakin lemah, bisa dilihat dari pemeriksaan CD4, maka penyakit lain akan mudah menyerang kita. Penyakit lain tersebut dikenal sebagai infeksi oportunistik (infeksi ikutan), antara lain: Tuberkulosis Paru, Herpes simpleks, Jamur di mulut, Infeksi CMV, Toksoplasmosis, Hepatitis B, C. dan masih banyak lagi.
Agar virus HIV tidak terus menerus berkembang biak di dalam tubuh kita, maka pasien yang terinfeksi HIV harus minum obat ARV (Antiretrovirus). Obat tersebut dimaksudkan untuk menekan perkembang biakan virus HIV. Bukan mematikan seratus persen, hanya menekan perkembangbiakannya. Ibarat pil KB, maka obat tersebut merupakan pil KB bagi virus HIV agar tidak beranak pinak sedemikian cepat.
Obat ARV diminum setiap hari sepanjang hidup pasien HIV AIDS. Menurut banyak panelitian, jika obat ARV diminum secara teratur sesuai anjuran dokter, maka obat ini akan efektif membantu pasien. Pasien akan merasakan kesegaran badan yang lebih baik. Berat badan meningkat setiap bulan. Jumlah virus akan menurun, dan kekebalan tubuh akan meningkat yang ditandai dengan peningkatan kadar CD4 (diperiksa tiap tiga bulan).
Obat ARV dikatakan efektif kalau pasien secara klinis menjadi lebih baik, demam menghilang, batuk berkurang, diare berhenti, dan berat badan meningkat.
Tidak semua pasien HIV harus segera minum ARV. Karena harus melihat berapa kadara CD4 nya. Bila masih di atas 350 belum perlu menggunakan ARV. Dievaluasi terus tiap tiga bulan. Ada bebarapa pasien HIV yang belum perlu minum obat ARV karena setiap kali diperiksa CD4nya selalu di atas 350. Setelah CD4 turun di bawah 350 barulah obat ARV diminum.
Ada yang mengeluh setelah minum ARV kok malah meninggal. Sebenarnya bukan demikian. Mungkin ketika diketahui terserang AIDS kondisinya sudah cukup berat. Ditandai dengan begitu banyaknya infeksi oportunistik yang muncul, CD4 sudah jauh dibawah nilai normal (normalnya 400-1400), mungkin CD4 sudah di bawah 10. Kalau sudah demikian biasanya walaupun mendapat obat ARV seringkali sudah ditolong.
Sekarang banyak pasien HIV AIDS yang bisa hidup sehat , seperti orang sehat lainnya. Tidak keluhan, tidak ada gejala, bisa bermanfaat bagi sesama. Mengapa? Karena selalu mengkonsumsi obat ARV secara teratur sesuai anjuran dokter. Jadi. Obat ARV membantu mengendalikan penyakit HIV AIDS.

Tentang Penulis :

Dr. Muchlis Achsan Udji Sofro, SpPD-KPTI, salah satu dokter spesialis penyakit dalam yang juga ahli penyakit tropis infeksi yang lahir di Pemalang. Staf Divisi Penyakit Infeksi & Tropik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi/Fakultas Kedokteran UNDIP.
Organisasi:
1. Ketua Tim HIV-AIDS RSUP Dr Kariadi-Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, sejak 2002 sampai sekarang
2. Sekretaris Sub Tim DALINOK. Komite Medis RSUP Dr Kariadi Semarang.
3. Anggota Tim ”Emerging Infectious Disease” RSUP Dr Kariadi Semarang
4. Anggota Tim “Pengendalian Infeksi Nosokomial” RSUP Dr Kariadi Semarang
5. Anggota Tim “Penanggulangan Penyakit SARS” RSUP Dr Kariadi Semarang
6. Anggota Tim “Pengendalian dan Pencegahan Resistensi Antibiotik” AMRIN Study RSUP Dr Kariadi-Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
7. Pengurus dan Anggota PETRI Cabang Semarang
8. Pengurus dan Anggota PAPDI Cabang Semarang
9. Pengurus dan Anggota IDI Wilayah Jawa Tengah.`

sumber :
http://netsains.net







HIV AIDS, kini bisa di sembuhkan secara total

Labels:


Penyakit HIV/AIDS kini bisa disembuhkan. Hal ini terungkap dari hasil Konferensi internasional AIDS yang digelar Juli lalu di Washington DC, Amerika Serikat.Konferensi Internasional AIDS ke-29 itu diselenggarakan pada 22- 27 Juli dan diikuti 195 negara dengan jumlah peserta lebih dari 121 ribu orang. Dari konferensi tersebut terungkap hingga saat ini sudah ada bukti bahwa HIV/AIDS sudah bisa disembuhkan secara total.Ada 3 kasus yang terjadi, salah satunya pada seorang pasien dengan leukemia akut dan terjangkit HIV. Sewaktu leukemianya diobati dengan cangkok sel induk maka leukemianya sembuh dan virus HIV-nya hilang total. Juga ada dua kasus lain di mana pasien terkena kanker dan juga terjangkit virus HIV. Pada kedua orang tersebut dilakukan cangkok sumsum tulang dan hingga saat ini keduanya sehat serta tanpa ada virus HIV lagi, Jumat (3/8).
Selain itu, ada lagi 12 ODHA (Orang dengan HIV AIDS yang telah dinyatakan sembuh secara fungsional. 10 Tahun lalu saat terdeteksi infeksi HIV/AIDS, langsung diobati dengan obat antiretrovira (ART) selama 3 tahun tanpa menunggu kekebalan tubuh turun. Setelah minum ART selama 3 tahun lalu berhenti hingga hari ini yaitu 7 tahun kemudian kondisinya sehat walafiat.
Hal ini menunjukkan bahwa makin banyak harapan untuk menghentikan wabah AIDS. Prof dr Zubairi Djoerban, Manajer Unit Pelayanan Terpadu HIV RSCM, mengatakan, di RSCM sendiri tiap bulannya ada sekitar 2 ribuan pasien yang berobat HIV/AIDS terdiri dari pria dan wanita dewasa, juga bayi dan anak.
Permasalahan yang masih tersisa adalah bagaimana mengobati semua pasien yang terjangkit virus HIV/AIDS agar penularan virus ini terhenti. Karena di banyak negara baru sebagian kecil kasus yang diobati dan ditangani dengan baik.
Sumber : Kesehatan.liputan6.com

HIV / AIDS , Astaga .. Penderita HIV/AIDS di Papua Sudah Capai 13 Ribu Jiwa

Labels:

108CSR.com - Memasuki triwulan kedua atau per 30 September 2012 tercatat penderita HIV/AIDS di provinsi Papua mencapai 13.196 kasus.

Humas Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Papua, Dewi Wulandari, Jumat (30/11/2012), merinci daerah jumlah penderita HIV/AIDS tertinggi di Kabupaten Mimika sebanyak 2.823 kasus dan disusul Kota Jayapura sebanyak 2.666 kasus.

"Tapi masih ada 13 kabupaten lainya yang belum melaporkan atau memperbaharui data HIV/AIDS," katanya.

Jika dibagi dalam kelompok jenis kelamin, Dewi katakan, untuk penderita HIV pada kami laki-laki sebanyak 2.384 dan AIDS sebanayk 4.323 kasus, sedangkan di kaum perempuan HIV sebanyak 2.857 kasus dan AIDS sebanyal 3.521 kasus. Dan 111 kasus tidak diketahui.

Sementara jika dilihat dari kelompok umur, usia 25 - 49 tahun yang menderita HIV/AIDS terbanyak, yang mana HIV berjumlah 3.015 kasus dan AIDS 4.701 kasus. Usia 20 - 24 tahun yang menderita HIV/AIDS sebanyak 2.996 kasus dengan HIV 1.238 kasus dan AIDS 1.758 kasus.

"Kemudian untuk kelompok umur dibawah 1 tahun sebanyak 53 kasus HIV/AIDS, kelompok umur 1 -4 tahun 296 kasus HIV/AIDS, kelompok umur 15 - 19 tahun 1.300 kasus HIV/AIDS dan untuk kelompok umur 50 tahun keatas sebanyak 422 kasus, sisanya sebanyak 413 kasus tidak diketahui," katanya.

Sedangkan untuk sumber penularan HIV/AIDS, heteroseksual sebanyak 12.814 kasus, penularan dari ibu kepada bayi (perinatal) yakni sebanyak 241 kasus, biseksual sebanyak 19 kasus, IDU sebanyak 7 kasus, transfusi daerah sebanyak 4 kasus, dan yang tidak diketahui 94 kasus. (ard/int)

Bagaimana Bicara Masalah Seks, Narkoba dan Alkohol Pada Anak-anak Anda

Labels: , ,

alkohol pada anakSeks : Menurut komisi perlindungan anak, data informasi mengindikasikan bahwa anak-anak yang berbicara kepada para orang tua tentang seks dimana memungkinkan sekali terjadi resiko tinggi terhadap perilaku seseorang, seperti melakukan hubungan seks tanpa kondom. 70,6 persen remaja melaporkan bahwa mereka tidak nyaman berbicara tentang melakukan hubungan seks  saat usia 17-19 kepada orang tua mereka. Namun, terdapat juga 57,9 persen remaja yang mengaku mereka mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan orang tua mereka.

Seks, narkoba dan alkohol, semua hal ini adalah topik untuk Anda-anda bicarakan dengan  anak-anak Anda, sebelum tertadap masalah terkait hal ini. Layaknya keluarga, Anda dapat menentukan batasan-batasan dan konsekuensi serta pemahaman umum tentang apa yang memang dapat diterima.
Memang benar, jika Anda tidak membicarakan perihal seks kepada anak-anak Anda untuk menghindari agar mereka tidak melakukannya. Namun, dengan membicarakan perihal seks kepada mereka pun juga benar. Berbicara hal tersebut kepada mereka bukan berarti melibatkan mereka agar melakukan hubungan seks. Tetapi, dengan membicarakan tentang seks, akan membuat anak-anak Anda matang secara seksual, membicarakan sesuatu kepada anak-anak Anda akan membuat mereka lebih aman.
Jika Anda merasa anak Anda telah melakukan hubugan seks, mengobrol-lah dengan mereka. Jangan meninggikan emosi/ marah-marah terlebih dahulu. Tetapi mendekatlah dengannya dengan tenang dan berlagak dengan logis. Berbicaralah tentang pengalaman Anda padanya dan jujurlah. Jika anak Anda memiliki pacar dan hubungan mereka terlihat serius, mulailah dengan berbincang-bincang dengan pacar/kekasih anak Anda jika Anda belum pernah melakukannya. Yang terpenting adalah pastikan bahwa mereka aman.
Narkotika /narkoba dan alkohol: Banyak ahli yang menyetujui bahwa ketika para orang tua berbicara dengan anak-anak mereka tentang narkoba dan alkohol, perbincangan tersebut lebih seperti untuk membangun sikap anak-anak terhadap narkoba dan alkohol.
Sebelum Anda berbicara tentang hal ini dengan anak Anda, didik Anda sendiri terlebih dahulu. Periksa melalui sekolah lokal, perpustakaan atau bahkan melihat secara online untuk kasus nyata tentang naekoba dan alkohol. Dengan hanya mengatakan pada anak Anda bahwa narkoba dan alkohol itu berbahaya, tidak akan se-berhasil dengan mengilustrasikan bahaya nyata terhadan penyalahgunaan narkoba dan alkohol.Cobalah untuk tidak menceramahi, tapi juga mau mendengarkan apa yang anak Anda ingin katakan perihal persoalan tersebut.
Seperti biasa, bersikaplah tidak  formal. Jika Anda menghabiskan dengan anak remaja Anda dan tetap berkomunikasi dengan terbuka, bawalah topik ini dengan mudah.

Tanda-tanda pengguna narkoba dan alkohol:
Coba cek tanda-tanda dibawah ini terhadap anak-anak Anda, mungkin saja anak Anda pengguna narkoba atau alkohol:
• Hilang ketertarikan pada aktivitas keluarga dan aktivitas biasa
• Tidak tanggung jawab.
• Tidak sopan dalam perlakuan ataupun perkataan.
• Pulang ke rumah telat.
• Ketidakjujuran meningkat.
• Nilai belajar di sekolah menurun.
• Perubahan suasana hati yang tidak karuan.
• Perubahan besar pada pola tidur.

Pahami tanda-tanda tersebut, khusunya yang nomor satu pada daftar di atas,  bisa berarti banyak hal. Para remaja yang depresi bisa berperilaku hal yang hampri sama. Ketika sedang mendekati anak Anda, jangan suka menuduh anak Anda. Cobalah untuk berbicara dengannya dan melihat apa yang benar-benar sedang terjadi.

Foto Akibat Seks Bebas Dan Narkoba

Labels: ,

BEGINILAH JADINYA KALO DOYAN SEX BEBAS DAN NARKOBA (FOTO)





http://blognyajose.blogspot.com/2010/01/beginilah-jadinya-kalo-doyan-sex-bebas.html

Obrolan Seks, Narkoba & AIDS

Labels:

KLIK - DetailBanyak kalangan menganggap obrolan perihal seks, narkoba ataupun AIDS adalah tabu, khususnya di kalangan remaja. Namun ketika Indonesia menjadi negara ketiga terbanyak di dunia penderita HIV/ AIDS, para remaja sebaiknya tahu akan bahayanya ketiga hal tersebut. Apalagi sekitar 80 persen dialami anak muda usia 15-29 tahun. 

Inilah yang melatarbelakangi Partisan Club bersama Coca Cola Fondation Indonesia (CCFI) mengelar talkshow bertema Anak Muda Ngobrolin Sex, Narkoba & AIDS di Gelanggang Remaja Bulungan, Sabtu (20/12). Dan untuk meramaikan acara, tampil juga grup MOCCA, Daniel (VJ MTV), MUF, O'et Eno, serta beberapa remaja yang mengidap HIV/AIDS.

Acara dihadiri oleh siswa-siswi dan beberapa guru SMP/SMA yang ada di Jakarta. Peserta berjumlah sekitar 100 orang datang dengan masih mengenakan seragam putih biru dan putih abu-abu. Mereka duduk lesehan dan sangat antusias mengikuti penjelasan tentang seks, narkoba dan AIDS dari Baby Jim Aditya, ketua Partisan Club. "Kita mengadakan acara ini karena prihatin akan kasus AIDS yang semakin meningkat di tengah kesadaran masyarakat yang sangat rendah. Ditambah lagi, perhatian dan perlindungan pemerintah terhadap masalah ini masih kurang. Mereka malah menyikapi HIV/AIDS melalui RUU padahal masalah ini toh tidak akan tuntas hanya dengan RUU," ungkap Baby yang rela menampung beberapa penderita AIDS di rumahnya.


sumber : tabloidnova.com

HIV AIDS

Labels:

MASALAH HIV

Masalah HIV di Indonesia sudah menjadi masalah besar. Bukti yang bisa kita lihat di depan mata adalah banyaknya pasien yang berobat setiap hari di berbagai rumah sakit di Jakarta, Bandung ataupun Surabaya dan daerah lain seluruh Indonesia. Di Jakarta sebagai contoh, di RS Cipto Mangunkusumo setiap hari ada 40 odha yang berobat jalan. Di RSK Dharmais 25 - 40 odha setiap hari yang berobat jalan, sedangkan penulis sendiri mengobati 10 - 15 odha berobat jalan setiap hari.
 
MASALAH HEPATITIS C

Di seluruh dunia ada sekitar 150 juta pasien hepatitis C kronik dengan prevalensi sekitar 3%, termasuk Indonesia. Jadi, di Indonesia paling sedikit ada 6 juta pasien hepatitis C kronik. Di Amerika sekitar 2% penduduk terinfeksi hepatitis C. Infeksi akut biasanya
tanpa gejala. Setelah paparan, sekitar 85% pasien infeksi hepatitis C akan menjadi infeksi kronik.

Infeksi kronik hepatitis C dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kanker hati. Angka kematian kedua penyakit hati ini tinggi, di Amerika saja 8.000 -10.000 orang meninggal akibat kanker hati dan sirosis akibat hepatitis C. Penatalaksanaan masalah hepatitis C pada odha menjadi penting karena prevalensi hepatitis C yang tinggi sekali pada odha pengguna narkotika.

Untuk diketahui, pengguna narkotika suntik mempunyai risiko tinggi untuk tertular oleh virus HIV atau bibit-bibit penyakit lain yang dapat menular melalui darah. Penyebabnya adalah penggunaan jarum suntik secara bersama dan berulang yang lazim dilakukan oleh
sebagian besar pecandu.

Walaupun harga jarum suntik relatif murah, tetapi banyak pecandu yang enggan menggunakan uangnya untuk membeli jarum suntik baru,
lebih baik uangnya digunakan untuk membeli putauw. Selain HIV, sebagian besar (sekitar 80%) pengguna narkotika juga terinfeksi virus hepatitis C.

Infeksi pada katup jantung juga adalah penyakit yang dijumpai pada odha pengguna naza. Infeksi pada katup jantung tidak ditemukan pada odha yang tertular seksual. Infeksi secara bersamaan ini akan menimbulkan efek yang buruk. Infeksi bibit penyakit lain selain HIV akan menyebabkan virus HIV membelah dengan lebih cepat sehingga jumlahnya akan meningkat pesat. Akibatnya perjalanan penyakitnya biasanya lebih progresif.

Pengobatan hepatitis C mengalami kemajuan pesat, yaitu antara lain dengan menggunakan kombinasi pegylated inteferon alfa dan ribavirin.




MASALAH KOINFEKSI HIV-Hepatitis C


Koinfekasi Hepatitis C pada pasien HIV sering ditemukan, khususnya pada pengguna narkotika. Prevalensi hepatitis C pada pengguna narkotika sekitar 50-90%, di Indonesia, maupun di negara lain. Penelitian kohor 3.048 odha di Eropa (EuroSida)
menunjukkan 75% pengguna narkotika terinfeksi hepatitis C.

Sebagian besar odha yang berobat jalan di berbagai kota di Indonesia berasal dari pengguna narkotika. Ko infeksi ini menimbulkan berbagai masalah. Ko infeksi
meningkatkan penularan penularan hepatitis C melalui hubungan seksual dan juga penularan vertikal hepatitis C, dari ibu ke anak. Dan ko infeksi juga meningkatkan
penularan HIV secara vertikal dari 16% ke 26%. Rata-rata prevalensi hepatitis C pada odha pengguna narkotika 80%, sedangkan pada odha penularan seksual 8%.

Prevalensi sirosis hati akibat hepatitis S, 3 kali lebih sering ditemukan pada odha dibandingkan dengan prevalensi sirosis akibat hepatitis C pada orang yang tidak terinfeksi HIV (Poynard 2005). Pokok bahasan selanjutnya adalah pengobatan ARV pada odha yang juga terinfeksi hepatitis C.

Pengobatan ARV pada ko infeksi hepatitis C Sekarang ini tersedia ARV gratis di Indonesia. ARV yang tersedia gratis adalah duviral (zidovudine + lamivudine) dan neviral (nevirapine). Sedangkan efavirenz (Stocrin) tersedia gratis dalam jumlah yang
amat terbatas. Obat lain yang ada di Pokdisus AIDS FKUI RS Cipto Mangunkusumo adalah stavudine (stavir), didanosine (videx), nelfinavir (nelvex, nelvir).

Jadi, ada beberapa pilihan kombinasi pengobatan yang dapat diterima odha di Indonesia, yaitu:
1. Duviral dan Neviral
2. Stavir, Hiviral/Lamivudine dan Neviral
3. Stavir, Hiviral/Lamivudine dan Neviral
4. Duviral dan Stocrin/Efavir
5. Duviral dan Nelfinavir
6. Zidovudine/Retrovir, Lamivudine dan Nelfinavir
7. Stavir, Lamivudine dan Nelfinavir
8. Stavir, Hiviral dan Stocrin
9. Stavir, Hiviral dan Nelfinavir
10. Videx, Hiviral, Stocrin
11. Videx, Hiviral dan Neviral

Didanosine atau Stavudin tidak boleh diminum untuk odha yang sedang mendapat pengobatan interferon dan ribavirin, karena beratnya efek samping terhadap
gangguan faal hati. Jadi pilihan pengobatan untuk odha yang ingin mendapat pengobatan pegylated intereferon-ribavirin tinggal 3mpat (ad. 1, 4,5,6).
Zidovudine, termasuk Duviral dan Retrovir harus ketat dipantau bila digunakan bersama ribavirin (untuk pengobatan hepatitis C), karena masing-masing memudahkan timbulnya anemia. Anemia bisa diantisipasi dengan pemberian eritropoetin atau transfusi darah.

Neviral dapat mengganggu faal hati. Jadi, kadar hemoglobin dan leukosit serta tes faal hati (SGOT, SGPT, bilirubin dll) harus dipantau ketat.
Inteferon dapat menekan CD4 dan lekosit, jadi untuk odha dengan CD4 rendah, sebaiknya memusatkan prioritas untuk pengobatan HIV/AIDS. Bila perlu sekali, pilihan
lain adalah menggunakan "growth factor" (Neupogen, Granocyte, Leukogen)yang harganya lumayan mahal.

Menurut tim ahli Amerika (DHHS April 2005), Nevirapine walaupun dapat menimbulkan gangguan faal hati, boleh digunakan pada odha dengan koinfeksi hepatitis C, dengan pemantauan yang seksama. Untuk odha dengan CD4 lebih dari 200, pengobatan sebaiknya dimulai dengan pegylated interferon-ribavirin. Sedangkan untuk odha dengan CD4 kurang dari 200, pengobatan dimulai dengan ARV, setelah CD4 naik, baru dipertimbangkan pegylated interferon-ribavirin.
Konsensus Paris 2005 menganjurkan pemberian pegylated interferon-ribavirin selama 48 minggu.

Dapat disimpulkan bahwa odha menghadapi berbagai masalah, baik masalah kesehatan, masalah psikologis maupun masalah sosial. Odha, khususnya odha pengguna narkotika sering mengalami masalah beberapa masalah kesehatan sekaligus, tbc, toksoplasma, sifilis, pneumonia, jamur dan koinfeksi hepatitis C. Koinfeksi dengan hepatitis C memerlukan penatalaksanaan yang lebih khusus dan komprehensif. Jenis kombinasi ARV juga perlu dipantau lebih ketat terhadap gangguan faal hati, anemia, leukopenia dan penurunan CD4.



BAHAN BACAAN


David Bernstein Hepatitis C - Current State of the Art and Future Directions 55th Annual Meeting of the American Association for the Study of Liver Diseases Viral Liver Disease CME October 29, 2004 - November 2, 2004, Boston, Massachusetts
Khalili M: Coinfection with Hepatitis Viruses and HIV HIV InSite Knowledge Base Chapter December 2004

Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV Infection convened by the Department of Health and Human Services (DHHS): Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-1-Infected Adults and Adolescents. April 2005
Thierry Poinard: Management of patients co infected by HCV and HIV. In New challenges in hepatitis C management. Shangri-La. Jakarta 24 July 2005-07-31
Valencia E: Advances in the Management of Hepatitis Infections. Highlights of the 15th European Congress on Clinical Microbiology and Infectious Diseases April 2 - 5, 2005, Copenhagen, Denmark

Wedemeyer H, Manns MP: Management of Hepatitis C - Addressing the Issues Beyond the Guidelines. 40th Annual Meeting of the European Association for the
Study of the Liver Viral Hepatitis April 13 - 17, 2005, Paris, France
*************************************************************************************
Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) dalam bidang HIV/AIDS - yakni menghentikan dan menekan balik penyebaran epidemi pada tahun 2015 - memerlukan akses terhadap pelayanan pencegahan HIV dan pengobatan, perawatan, dan dukungan AIDS yang jauh lebih luas dibandingkan dengan yang saat ini tersedia.

Sebuah resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa -Bangsa yang diadopsi pada tanggal 23 Desember 2005 telah meminta UNAIDS dan para ko-sponsor untuk membantu "memfasilitasi proses inklusif yang diprakarsai negara, termasuk berbagai konsultasi dengan pemangku kepentingan yang relevan, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM), masyarakat sipil, dan sektor swasta, yang termasuk dalam strategi-strategi nasional AIDS yang ada, untuk meningkatkan skala pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan HIV dengan tujuan untuk sedekat mungkin mendekati tujuan akses universal terhadap pengobatan pada tahun 2010 bagi semua yang membutuhkannya".

Partisipasi yang luas dan fokus negara menyebabkan upaya-upaya ini menjadi istimewa. Elemen-elemen penting lain dari peningkatan skala proses akses universal adalah bahwa:
• Partisipasi itu terjadi di dalam dan memanfaatkan proses-proses yang ada pada semua tingkatan.
• Negara mengarahkan proses, dan didukung oleh donor dan lembaga-lembaga internasional dan bilateral, sesuai dengan prinsip-prinsip "Three Ones" dan rekomendasi dari Tim Tugas Global (Global Task Team).
• Upaya-upaya itu mencakup peningkatan skala penanggulangan AIDS yang terpadu dan menyeluruh, termasuk dalam pencegahan, pengobatan, perawatan, dan dukungan.
• Titik berat pada mencari solusi praktis atas kendala-kendala utama dari peningkatan skala, berdasarkan keputusan-keputusan yang sudah dibuat.
• Partisipasi dari berbagai pemangku kepentingan secara luas - khususnya masyarakat sipil dan orang yang hidup dengan HIV (ODHA) - sangat penting bagi pelaksanaan dan suksesnya upaya tersebut.
• Upaya-upaya tersebut mendorong negara-negara anggota untuk menetapkan jalannya sendiri ? termasuk target jangka menengah dan tonggak-tonggak pencapaian ? bagi mereka sendiri dalam upaya mencapai akses universal dan untuk Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) di bidang HIV/AIDS.
Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengandalkan sejumlah komitmen internasional:
• Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goal) 6, untuk menekan balik penyebaran epidemi sebelum atau pada tahun 2015.
• Deklarasi Komitmen Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2001 untuk mempeluas respons AIDS global.
• Hasil World Summit 2005 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
• Komitmen yang dibuat oleh para pemimpin Negara-negara G8 dalam pertemuan puncak di Gleneagles.
• Pernyataan Uni Eropa mengenai perlunya meningkatkan skala pencegahan HIV.



Apakah tes HIV?

Tes HIV merupakan pengujian untuk mengetahui apakah HIV ada dalam tubuh seseorang. Tes HIV yang umumnya digunakan adalah yang mendeteksi antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh dalam merespons HIV, karena antibodi itu lebih mudah (dan lebih murah) dideteksi dibanding pendeteksian virus itu sendiri. Antibodi diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh dalam merespons suatu infeksi.

Bagi sebagian besar orang, antibodi tersebut memerlukan waktu tiga bulan untuk berkembang. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, antibodi ini perlu sampai enam bulan untuk berkembang.
Setelah kemungkinan pajanan, berapa lamakah saya harus menunggu sebelum menjalani tes HIV?

Hendaknya anda menunggu tiga bulan setelah pajanan sebelum dites HIV. Walaupun tes antibodi HIV sangat sensitif, ada "periode jendela" selama tiga sampai 12 minggu, yang merupakan periode antara terinfeksi HIV dengan kemunculan antibodi yang dapat dideteksi. Dalam hal tes anti HIV paling sensitif yang saat ini direkomendasikan, ?periode jendela?-nya adalah sekitar tiga minggu. Periode ini bisa saja lebih lama bila tes yang kurang sensitif yang digunakan.

Selama "periode jendela", orang yang terinfeksi HIV tidak memiliki antibodi yang dapat dideteksi oleh tes HIV dalam darahnya. Kendatipun demikian, seseorang mungkin sudah memiliki HIV dalam kadar tinggi dalam cairan tubuhnya seperti darah, cairan semen, cairan vagina, dan ASI. HIV dapat ditularkan ke orang lain selama "periode jendela" ini, walau tes HIV mungkin saja tidak menunjukkan bahwa anda tidak terinfeksi HIV.

Mengapa saya harus menjalani tes HIV?

Ada dua keuntungan penting bila anda mengetahui status HIV. Pertama, bila anda terinfeksi HIV, anda dapat mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu sebelum gejala muncul, yang secara potensial dapat memperpanjang hidup anda selama beberapa tahun. Kedua, bila anda tahu bahwa anda terinfeksi, anda dapat mengambil segala kewaspadaan yang dipandang perlu untuk mencegah penyebaran HIV kepada orang lain.
Di mana saya dapat menjalani tes/ pemeriksaan?

Banyak tempat di mana anda dapat dites HIV: di kantor praktek dokter swasta, departemen kesehatan setempat, rumah sakit, klinik keluarga berencana, dan tempat-tempat yang secara khusus dibangun untuk pengetesan HIV. Cobalah untuk mencari tahu tentang tes di tempat dimana konseling HIV/AIDS diberikan.

Apakah hasil tes saya bersifat rahasia?
Semua orang yang melakukan tes HIV harus memberikan izin sebelum dites. Hasil tes harus mutlak dijaga kerahasiaannya.

Ada berbagai jenis tes yang tersedia:
• Tes HIV rahasia
Para ahli kesehatan yang menangani tes HIV menyimpan hasil tes dalam data medis secara rahasia. Hasil tidak dapat dibagi dengan orang lain tanpa izin tertulis dari orang yang dites.
• Tes HIV Anonim
nama orang yang dites tidak digunakan dalam kaitannya dengan tes tersebut. Sebagai gantinya, sebuah nomor kode diterakan dalam tes, yang memungkinkan individu yang dites menerima hasil tes. Tidak ada dokumen tersimpan yang dapat mengaitkan orang dengan tesnya.

Kerahasiaan bersama (shared confidentiality) dianjurkan, dalam artian kerahasiaan tersebut juga dipegang oleh orang lain yang mungkin meliputi anggota keluarga, orang yang dicintai, para pengasuh, dan teman-teman yang layak dipercaya. Namun perlu hati-hati dalam membuka hasil tes HIV karena dapat menimbulkan diskriminasi dalam perawatan kesehatan, serta lingkungan profesi dan sosial. Oleh karena itu keputusan atas kerahasiaan bersama harus sepenuhnya atas kehendak orang yang akan dites. Walaupun hasil tes HIV sebaiknya tetap dijaga kerahasiaannya, para ahli seperti konselor, pekerja sosial, dan pekerja kesehatan perlu juga untuk mengetahui status HIV-positif seseorang dalam upaya memberikan perawatan yang sesuai.

Apa yang harus saya lakukan ketika saya terjangkit HIV?

Berkat perkembangan pengobatan baru, kini terdapat lebih banyak orang yang hidup dengan HIV (ODHA) dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan lebih lama. Sangatlah penting bagi anda untuk memiliki dokter yang tahu bagaimana cara perawatan HIV. Konselor atau perawat terlatih dapat memberikan konseling dan merekomendasikan dokter yang tepat.

Selain itu, anda dapat melakukan hal-hal berikut agar tetap sehat:
• Ikuti petunjuk dokter anda. Atur dan tepai janji dengan dokter. Bila dokter anda memberi resep, minumlah sesuai dengan yang tertera dalam resepnya.
• Lakukan imunisasi (suntikan) untuk mencegah infeksi seperti pneumonia dan flu (setelah berkonsultasi dengan dokter anda).
• Bila anda merokok atau anda menggunakan obat-obatan yang tidak diresepkan oleh dokter anda, segera hentikan.
• Makan makanan yang sehat.
• Berolahragalah secara teratur agar tetap sehat dan kuat.
• Tidur dan beristirahatlah dengan cukup.

Apa artinya bila tes HIV saya hasilnya negatif?
Hasil tes yang negatif berarti bahwa di dalam darah anda, tidak terdapat antibodi HIV saat Anda melakukan tes. Bila anda negatif, pastikan bahwa anda tetap seperti itu: pelajari berbagai fakta mengenai penularan HIV dan hindarkan diri agar tidak terjerumus dalam perilaku yang tidak aman.

Kendatipun demikian, masih terdapat kemungkinan terinfeksi, karena sistem kekebalan tubuh memerlukan waktu sampai tiga bulan untuk memproduksi antibodi dalam jumlah yang cukup untuk mengindikasikan infeksi dalam tes darah anda. Sangat disarankan untuk melakukan tes ulang beberapa waktu setelah tes pertama itu, dan seraya menunggunya, anda bersifat waspada. Selama "periode jendela" sangat besar kemungkinan seseorang untuk menularkan, dan karenanya, anda hendaknya melakukan berbagai upaya untuk mencegah kemungkinan terjadinya penularan.


******************************************************************************
Perawatan

Adakah obat untuk HIV?

Tidak. Tidak ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda awal terjadinya AIDS.


Jenis pengobatan dan perawatan apakah yang tersedia?
Pengobatan dan perawatan yang ada terdiri dari sejumlah unsur yang berbeda, yang meliputi konseling dan tes mandiri (VCT), dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.


Apakah obat anti retroviral itu?

Obat antiretroviral digunakan dalam pengobatan infeksi HIV. Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh.


Bagaimana cara kerja obat antiretroviral?

Dalam suatu sel yang terinfeksi, HIV mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi sel-sel lain dalam tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang diinfeksi HIV, semakin besar dampak yang ditimbulkannya terhadap kekebalan tubuh (immunodeficiency). Obat-obatan antiretroviral memperlambat replikasi sel-sel, yang berarti memperlambat penyebaran virus dalam tubuh, dengan mengganggu proses replikasi dengan berbagai cara.

• Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI)
HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.
• Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI)
Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi.
• Penghambat Protease (PI)
Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.

Obat-obatan lain yang dapat menghambat siklus virus pada tahapan yang lain (seperti masuknya virus dan fusi dengan sel yang belum terinfeksi) saat ini sedang diujikan dalam percobaan-percobaan klinis.


Apakah obat antiretroviral efektif?

Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menunjukkan dapat menurunkan jumlah kematian dan penyakit yang terkait dengan AIDS secara dramatis. Walau bukan solusi penyembuhan, kombinasi terapi ARV dapat memperpanjang hidup orang penyandang HIV-positif, membuat mereka lebih sehat, dan hidup lebih produktif dengan mengurangi varaemia (jumlah HIV dalam darah) dan meningkatkan jumlah sel-sel CD4+ (sel-sel darah putih yang penting bagi sistem kekebalan tubuh).

Supaya pengobatan antiretroviral dapat efektif untuk waktu yang lama, jenis obat-obatan antiretroviral yang berbeda perlu dikombinasikan. Inilah yang disebut sebagai terapi kombinasi. Istilah 'Highly Active Anti-Retroviral Therapy' (HAART) digunakan untuk menyebut kombinasi dari tiga atau lebih obat anti HIV.

Bila hanya satu obat digunakan sendirian, diketahui bahwa dalam beberapa waktu, perubahan dalam virus menjadikannya mampu mengembangkan resistensi terhadap obat tersebut. Obat tersebut akhirnya menjadi tidak efektif lagi dan virus mulai bereproduksi kembali dalam jumlah yang sama seperti sebelum dilakukan pengobatan. Bila dua atau lebih obat-obatan digunakan bersamaan, tingkat perkembangan resistensi dapat dikurangi secara substansial. Biasanya, kombinasi tersebut terdiri atas dua obat yang bekerja menghambat reverse transcriptase enzyme dan satu obat penghambat protease. Obat-obatan anti retroviral hendaknya hanya diminum di bawah pengawasan medis.

Mengapa ARV tidak siap tersedia?
Di negara-negara berkembang, hanya sekitar 5% dari mereka yang membutuhkan dapat memperoleh pengobatan antiretroviral, sementara di negera-negara berpendapatan tinggi akses tersebut hampir universal. Masalahnya adalah harga obat-obatan yang tinggi, infrastruktur perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan kurangnya sumber pembiayaan, menghalangi penggunaan perawatan kombinasi ARV secara meluas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Sebanyak 12 obat-obatan ARV telah diikutsertakan dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO (WHO Essential Medicines List). Diikutsertakannya ARV dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO akan mendorong pemerintah di negara-negara dengan epidemi tinggi untuk lebih memperluas pendistribusian obat-obatan esensial tersebut kepada mereka yang memerlukannya. Sementara itu, meningkatnya komitmen ekonomi dan politik di tahun-tahun terakhir ini, yang distimulir oleh orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), masyarakat sipil dan mitra lainnya, telah membuka ruang bagi perluasan akses terhadap terapi HIV secara luar biasa.


Perawatan jenis apakah yang tersedia ketika akses ARV tidak tersedia?

Unsur-unsur perawatan lain dapat membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia. Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya.

Apakah PEP itu?
Perawatan Pencegahan Pasca Pajanan terdiri dari pengobatan, tes laboratorium dan konseling. Pengobatan PEP harus dimulai dalam hitungan jam dari saat kemungkinan pajanan HIV dan harus berlanjut selama sekitar empat minggu. Pengobatan PEP belum terbukti dapat mencegah penularan HIV. Kendatipun demikian, kajian-kajian penelitian menunjukkan bahwa bila pengobatan dapat dilaksanakan lebih cepat setelah kemungkinan pajanan HIV (idealnya dalam waktu dua jam dan tak lebih dari 72 jam setelah pajanan), pengobatan tersebut mungkin bermanfaat dalam mencegah infeksi HIV.

Semoga adanya pengetahuan ini anda semua yang membaca bisa mengerti akan HIV/Hepatitis C. ^^