Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Awas!! Ada Misi Kristen di Pesantren NII Al-Zaytun

Labels:

Menurut Tim Investigasi MUI yang telah meneliti NII dan Ma'had Al-Zaitun sejak tahun 2002, ada tiga relasi antara NII KW 9 dengan Ma’had (Pesantren) Al-Zaytun, yaitu relasi historis, relasi kepemimpinan dan relasi finansial.

Bukan rahasia lagi, doktrin sesat NII KW 9 di era Panji Gumilang. Siapa saja umat Islam yang di luar kelompoknya dianggap kafir, karena itu halal darahnya dan hartanya boleh dirampas sebagai harta rampasan (fa’i). Jamaahnya diperas, sebagai objek pengumpulan dana. Para anggota jamaah yang tidak berinfak dianggap berhutang. Karena itu mereka membolehkan pengikutnya untuk mencuri, merampok, berdusta atas nama agama demi memenuhi tuntunan baiatnya.

Sikap NII KW 9 itu sangat kontras dengan perlakuan Ma’had NII Al-Zaytun terhadap para pendeta, misionaris dan jemaat Kristen. Setiap akhir tahun, Panji Gumilang mewakili kampus berjuluk 'kampus Toleransi Dan Perdamaian' biasa mengirimkan kartu Natal kepada para pendeta dan pemimpin gereja. Biasanya, dari kartu Natal yang dikirimkan ke gereja ini akan direspon dengan kunjungan gereja ke Al-Zaytun.

Misalnya, tanggal 23 Desember 2009 Panji Gumilang atas nama Ma'had Al-Zaytun mengirimkan Kartu Natal yang dikirimkan  kepada Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Tebet, Jakarta Selatan.

Menindaklanjuti kartu Natal itu, maka tanggal 3 Februari 2010  Pendeta dan Majelis Gereja HKBP Tebet bersilaturrahim ke Al-Zaytun. Panji Gumilang beserta istri dan eksponen Ma'had menyambut mesra rombongan HKBP yang terdiri dari Pendeta GHM Siaaan, Pendeta Resort HKBP Parisman Hutahaean, Kartina Simarmata Boru Raja Gukguk, Simpua O Hutabarat, Pendeta Very Siregar, Uli Hutabarat Boru Tobing, Dahlia Silitonga Boru Tobing, Ibu Majelis Sintua Sukartini Tri Rahayu Boru Matondang, dan neli Hutasoit.

Usai thawaf mengelilingi seluruh fasilitas Al-Zaytun, robongan gereja Batak ini bersilaturrahim dengan Panji Gumilang dan istrinya beserta eskponen yayasan. Di ma'had ini, ibu-ibu Majelis Gereja HKBP diberi kesempatan menyanyikan lagu-lagu rohani sebagai pujian.

Beberapa tahun sebelumnya, Sabtu, 31 Juli 2004, AS Panji Gumilang dan segenap eksponen, guru, karyawan dan ribuan santri ma'had Al-Zaytun menyambut istimewa kunjungan Pendeta Rudy Rudolf Andreas Tendean, Ketua Majelis Gereja Protestan Indonesia (GPIB) Jemaat Koinonia Jakarta. Pendeta Rudy didampingi oleh Dr. SB Silalahi (Ketua 1), John Pieter (Ketua 3), Andi Sutopo (ketua 4), Wasiyo (bendahara) dan dua ratusan anggota jemaat.

Begitu rombongan gereja memasuki Gedung Pertemuan Al-Akbar kompleks Ma'had Al-Zaytun, spontan puluhan ribu santri, guru, karyawan dan penghuni ma’had Al-Zaytun berdiri sambil bertepuk tangan riuh. Memasuki ruang pertemuan, mereka diringi tepuk tangan dan shalawat Thala’al Badru.

Acara seremonial musik full band pun digelar, lengkap dengan gitar, bass dan drum, yang pemusiknya adalah para santri. Lima orang santriwati berpakaian khas Melayu menari dengan liukan yang anggun diiringi lagu berjudul "Cindai." Para pengurus dari GPIB Koinonia mendapat kehormatan membawakan lagu gereja populer berjudul "Daud Menari."
Dalam sambutannya, Pendeta Rudy mewakili seluruh jemaat GPIB Koinonia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Panji Gumilang, yang berulang tahun sehari sebelumnya. Sedangkan Panji Gumilang berharap agar dari jalinan Al-Zaytun Indramayu dengan Gereja Koinonia Jakarta, akan menjadi domain yang luas demi terciptanya perdamaian dan toleransi di muka bumi Indonesia.

Setelah itu, Pendeta Rudy didaulat oleh Panji Gumilang untuk naik ke podium guna menutup seremonial dengan memanjatkan doa ala Kristen. Usai memimpin doa, Pendeta Rudy kembali didaulat untuk menancapkan patok (batu asas) tanda dimulainya pembangunan asrama ke-6 bernamaKalimatun Sawa’ di Ma’had Al-Zaytun. “Kami ingin memberikan kenang-kenangan. kami akan mengajak pak pendeta dan rombongan untuk menancapkan satu patok tanda dimulainya pembangunan asrama ke-6 di Ma’had Al-Zaytun,” ajak Panji Gumilang setelah menjelaskan bahwa asrama itu dinamakan Kalimatun Sawa’ yang artinya satu kata yang sama, satu ungkapan yang sama, satu visi yang sama.
Usai prosesi peletakan batu pertama, Pendeta Rudy dan rombongan diajak memasuki Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Di masjid berlantai enam yang berkapasitas 150 ribu orang jemaah itu, lagi-lagi Pendeta Rudy diminta berdoa. Doa pendeta di Masjid Al-Zaytun ini, menurut Panji Gumilang, karena masjid ini dibangun oleh orang-orang beriman. Pendeta Rudy diminta berdoa sebagai seorang umat Kristen beriman.

Untuk menindaklanjuti keakraban Ma'had Al-Zaytun dengan Gereja GPIB Jemaat Koinonia Jakarta, maka sepekan kemudian, tanggal 7 Juli 2004 Panji Gumilang dan rombongan berkunjung ke GPIB Koinonia Jakarta. Di depan altar gereja, Panji Gumilang berceramah di hadapan ratusan jemaat, menjelaskan bahwa visi dan misi Ma’had Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan milik umat beriman (Islam) bangsa indonesia, bersetting internasional, bersemangat pesantren dan bersistem modern serta bermotto sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian. (Majalah Tokoh Indonesiavol. 15).
Pada perayaan Idul Fitri Pesantren Az-Zaytun (13/10/2007), tim yang ditunjuk untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan adalah orang Kristen. Dalam acara yang digelar di ruang Mini Az-Zaytun Student Opera (Mini Zateso) tersebut, Tim Kesenian Az-Zaytun menyanyikan lagu “Gereja Tua” ciptaan Benny Panjaitan. Ini dilakukan atas perintah langsung Syaikh Ma’had Panji Gumilang. (Majalah Berita Indonesia edisi 49, 26 Oktober 2007).

Kumandang lagu “Gereja Tua” di pesantren adalah hal yang sangat aneh, karena lagu ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan makna Idul Fitri pasca shaum Ramadhan. Apakah lagu “Gereja Tua” bisa meningkatkan iman, takwa dan aqidah para santrinya? bersambung [ahmad hizbullah mag/suaraislam]

Benarkah Di Tanah Suci Amal Langsung Dibalas?

Labels:

Benarkah Di Tanah Suci Amal Langsung Dibalas?
Ilustrasi
Muslimahzone.com – Salah satu yang sering menjadi oleh-oleh haji dan dinanti-nanti adalah kisah-kisah spiritual para jama’ah haji di Tanah Suci. Banyak kisah-kisah ajaib dan ganjil yang sering kita dengar. Ada yang disadari sebagai teguran sehingga membawa kesadaran yang baru terhadap kondisi keimanannya, namun ada pula yang lewat begitu saja. Bahkan tak sedikit pula yang sampai tanah air masih misuh-misuh, mengeluh tak enak, panas dan sebagainya. Na’udzubillahimindzalik.
Ada yang menarik, seorang ibu hajah sebutlah namanya Ibu Ade, ketika ditanya benarkah saat kita di haramain amal kita seketika langsung terasa balasannya, amal baik maupun amal buruk, bahkan sekedar lintasan hati. Beliau memberikan jawaban yang agak berbeda dan sepertinya dengan pengalaman dan perenungan yang cukup dalam.
Katanya,” Kalau menurut saya sebenarnya karena saat kita beribadah haji itu hati kita bersih, sensitivitas kita tinggi, di sana kita benar-benar sadar berhubungan dengan Allah, jadi saat kita dengan sengaja menyalahi nurani kita atau sengaja berbuat dosa bahkan ketika baru niat buruk saja, itu kita benar-benar sadar. Dan ketika Allah menegur kita, teguran tersebut menjadi sangat terasa. Karena sensitivitas itu tadi. Sebenarnya jika kesadaran seperti itu kita miliki saat di rumah sendiri, teguran-teguran Allah ketika kita salah atau kemudahan-kemudahan yang terjadi ketika kita taat itu seringkali terasa.”
Pengalaman seorang Ibu Ade itu agaknya cukup membuat kita mengangguk-anggukkan kepala. Ya, dalam keseharian kita dengan kesibukan yang tak ada hentinya, hati sering menjadi bebal. Padahal kasih sayang Allah berupa teguran, hambatan dan kemudahan-kemudahan yang terjadi sehari-hari tak kalah dahsyatnya dengan pengalaman-pengalaman saudara-saudari kita ketika di Tanah Haram.
Misalnya saja, saat kita sengaja melalaikan shalat karena malas dan sebagainya, seringkali terjadi kita seperti semakin dipersulit untuk segera shalat, ada saja hambatan-hambatannya. Jadi saja kita shalat di penghujung waktu dengan kualitas yang seadanya. Atau ketikaada kemudahan menuntut ilmu kemudian kita mencari-cari dalih agar terbebas dari kewajiban itu, kerapkali kesempatan berikutnya seperti tertutup. Atau saat kita bersungguh-sungguh memperbaiki diri, berdisiplin dengan waktu, menepati agenda-agenda harian kita, rasanya kemudahan-kemudahan hidup datang bertubi-tubi. Atau lagi saat kita bersungguh-sungguh menjaga pandangan mata kita, tak berapa lama kenikmatan iman begitu menyelimuti hati kita. Allahu Akbar wa lillahilhamd!
Jadi benar kiranya apa yang disampaikan Ibu Ade, semua berpulang pada kesadaran diri kita. Pada seberapa tulus dan sungguh-sungguh hati kita menetapi hak-hak Allah. Karena tak sedikit pula mereka yang berkali-kali pergi haji masih tak malu-malu bermaksiat pada Allah. Na’udzubillahimindzalik, wallahulmusta’an.
(esqiel/muslimahzone.com)

7 Teror Bagi Pecandu Narkoba dan Keluarga

Labels: ,


By Julianto Simanjuntak
Penulis bersyukur pernah terlibat mendampingi pecandu di tiga pusat rehabilitasi narkoba. Sungguh  pengalaman yang luar biasa, yang mengajarkan saya  betapa berharganya kehidupan. Saat itu hampir setiap hari Penulis berbicara dengan keluarga yang anaknya direhabiltasi dan memimpin konseling kelompok bagi pecandu di beberapa lokasi di Jakarta.

Pengalaman di Lapangan
Setelah sepuluh tahun menekuni pelayanan ini, saya menjumpai tujuh situasi dan peristiwa yang paling menakutkan keluarga. Sewaktu-waktu kejadian itu bisa menimpa anak mereka.

Pertama, overdosis.
Beberapa kali saya mendampingi klien yang OD. Setiap ortu yang anaknya junkies sangat menguatirkan hal ini. Sudah tidak terhitung jumlah pecandu yang mati karena OD.
 Kedua, ancaman bandar dan mafia.
Saya teperanjat ketika mendengarkan kisah seorang gadis berusia 25 tahun. Ayahnya depresi berat setelah anaknya meninggal. Adiknya dibunuh bandar narkoba. Sebelum dibunuh, adiknya   sempat ditangkap Polisi, namun dilepas setelah ditebus keluarga. Tapi bandar dan mafia di atasnya menganggap adiknya itu telah membocorkan rahasia. Mayatnya dibuang di sebuah semak-semak dipinggiran kota Jakarta.
 Ketiga, diperas oknum Polisi.
Peristiwa ini sudah biasa. Baik dari pengalaman mendampingi keluarga klien, cerita ketiga abang Penulis yang bekerja di kepolisian, sharing teman-teman di LSM hingga berita media.
 Keempat, masuk penjara.
Setelah proses pengadilan, keluarga  tak luput harus berhadapan dengan oknum jaksa dan hakim. Terutama jika ortu tidak mau anaknya berlama-lama di LP.  Oknum tersebut sudah  punya “tabel jenis hukuman”. Pengurangan hukuman berimplikasi dengan duit. Bukan 3-4 juta, tapi puluhan hingga ratusan juta rupiah. Di dalam LP pun si anak bisa  diperas. Belum lagi  situasi penjara yang kurang manusiawi. Kenyamanan di LP perlu ditebus dengan “apel Malang”
 Kelima, anak putus sekolah. 
Betapa malu hati orangtua saat ditanya rekan atau kerabatnya, “Anak ibu ini sekolah dimana?” Tidak sedikit pecandu  putus sekolah/kuliah. Ini juga menjadi bayang-bayang  gelap keluarga. Orang tua senantiasa memikirkan  masa depan sekolah, karir hingga pasangan hidup anak mereka.
 Keenam, harta terkuras habis. 
Beberapa keluarga sangat trauma dengan masalah ini, sebab menguras harta mereka. Apakah karena dicuri dan dijual anak, menebus si anak dari penjara hingga biaya pengobatan dan rehab yang tidak kecil. Dua tahun lamanya saya mendampingi keluarga mantan diplomat di Eropah. Kekayaannya ludes karena anaknya 7 tahun menjadi pecandu.
Ketujuh, terinfeksi HIV/AIDS. 
Tidak sedikit pemakai putaw terinfeksi karena sering gonta-ganti alat suntik yang tidak aman. Sebagian lainnya karena melakukan hubungan seks bebas. Saat mendampingi kelompok keluarga dengan masalah HIV/AIDS umumnya anak-anak mereka adalah pecandu.
Teror Menakutkan 
Semua cerita dan peristiwa di atas menjadi teror yang menakutkan, horor yang mengerikan. Biasanya mereka memiliki  komunitas sesama keluarga pecandu. Cerita itu selalu saja muncul, membuat para ayah dan Ibu mereka cemas dan sulit tidur nyenyak. Belum lagi menimbulkan  konflik antar anggota keluarga. Ayah menyalahkan ibu, anak menyalahkan ayah, dst.

Tanggung Jawab Pemerintah 
Keseriusan pemerintah sangat kita harapkan. Bukan saja menangani mafia narkoba dan para bandar di luar institusi pemerintah. Tetapi terutama mengatasi “mafia oknum” di dalam yang menjadi penyebar maut dari dalam institusi. Di antaranya para oknum Polisi yang dengan sengaja melepaskan pecandu dengan tebusan tertentu. Oknum jaksa dan hakim yang mempermainkan keluarga karena punya kuasa meringankan tuntutan dan putusan hukum.

Terakhir, minimnya pusat rehabilitasi yang baik di negri ini, termasuk LP khusus narkoba, tersedianya tenaga konselor dan pendamping terlatih bagi mereka. Ini merupakan tanggung jawab pemerintah menyediakannya. Kalau pemerintah tidak serius menangangi, masalah ini terus menjadi lingkaran setan, dan mengancam masa depan keturunan kita, termasuk anak-cucu para pejabat negeri ini. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti.
Semoga Manfaat

sumber : kompas.com

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. Subhanallah, menakjubkan!

Labels:


 

26 Juni 2012 19:52 

Penelitian ilmiah pengaruh bacaan al Qur'an pada syaraf, otak dan organ tubuh lainnya. 
Subhanallah, menakjubkan! (Arrahmah.com) – “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur’an…”. 

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. 
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. 

Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. 

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya. 

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur’an. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. 
Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. 

Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang. 

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur’an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur’an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). Mahabenar Allah yang telah berfirman, 

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. 7: 204). 

sumber : (zilzaal/arrahmah.com)