Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label ganja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ganja. Tampilkan semua postingan

Efek Ganja Pada Kesehatan Mental

Labels:

Oleh : dr. Andri,SpKJ
Psikiater Consultation-Liaison dan Psikosomatik Medis
Anggota American Psychosomatic Society
Anggota Academy of Psychosomatic Medicine
Anggota European Association for Consulation Liaison Psychiatry and Psychosomatics
Ganja secara pribadi saya kenal dalam buku-buku psikiatri umum dan buku psikiatri yang membahas khusus masalah penyalahgunaan zat adiktif. Keduanya sama-sama masuk golongan zat adiktif yang menimbulkan ketergantungan. Secara diagnostik, pemakaian kedua zat tersebut termasuk dalam diagnostik gangguan jiwa menurut DSM IV-TR (USA), ICD 10 (WHO) dan PPDGJ III (INDONESIA) yang bisa menimbulkan intoksikasi, reaksi putus zat dan ketergantungan.

Ganja sebenarnya merupakan sebutan untuk Canabis (yang mengandung delta-9-tetrahidrocabinol/THC) dengan kekuatan menengah. Canabis/Marijuana yang paling murah dan potensinya lemah banyak digunakan di Amerika Serikat dengan nama Bhang. Kekuatan marijuana/canabis yang paling kuat adalah Chara yang banyak ditemukan di India. Marijuana sendiri sudah dikenal sejak lama bahkan sejak sebelum masehi dan terdapat dalam konpedium obat herbal cina yaitu the Herbal of Emperor Shen Nung tahun 2737 SM.

Efek terhadap kesehatan mental pada pemakaian ganja untuk rekreasi banyak diteliti. Walaupun beberapa kelompok yang mendukung legalisasi ganja baik di dalam dan luar negeri memaparkan tidak adanya kaitan antara penggunaan ganja dengan gangguan jiwa, bukti penelitian berkata sebaliknya.

Reaksi yang diharapkan dari penggunaan ganja sebenarnya adalah perasaan tenang dan relaks, euforia, perubahan persepsi (warna menjadi lebih indah) perlambatan waktu serta peningkatan persepsi emosional dan pengalam-pengalaman. Namun pada sebagian orang yang terjadi adalah hal yang sebaliknya. Hal-hal ini termaasuk depresi, paranoid, cemas atau serangan panik. Bahkan penelitian mengatakan, percobaan memasukan THC secara intravena ke pasien dapat menghasilkan secara akut gejala-gejala defisit kognitif dan timbulnya gejala-gejala negatif yang menyerupai gejala pada gangguan psikotik kronis. Hal ini pula yang membuat adanya suatu hipotesis adanya hubungan sistem endocannabinoid dalam patofisiologi skizofrenia. Penggunaan ganja yang kronis juga dihubungkan dengan mengecilnya daerah otak (hippocampus dan amygdala) yang berhubungan dengan psikosis, depresi dan penurunan kognitif.

Hasil penelitian yang dimuat di jurnal Aust Fam Physician. 2010 Aug;39(8):554-7 berjudul Cannabis and mental health - management in primary care mengatakan penggunaan awal dan berat dari ganja dihubungkan dengan onset gejala psikosis dan depresi, sedangkan penggunaan yang lama menghasilkan keluaran hasil yang lebih buruk di antara orang-orang yang sudah mengalami gangguan mental.

Jurnal lain Ann Pharm Fr. 2008 Aug;66(4):245-54. Epub 2008 Sep 4 berjudul Induced psychiatric and somatic disorders to cannabis juga mengatakan bahwa penggunaan ganja berhubungan dengan timbulnya gejala psikosis dan kecemasan. Seperti juga zat psikoaktif lain, ganja bisa menjadi faktor yang mengeksaserbasi terjadinya psikopatologi pada pasien.

Di Forti dkk dalam Curr Opin Psychiatry. 2007 May;20(3):228-34, Cannabis use and psychiatric and cogitive disorders: the chicken or the egg? Mengatakan penggunaan ganja pada remaja meningkatkan risiko terjadinya psikosis terutama pada individu yang rentan. Seperti banyak penelitian lain, penelitian ini juga mengatakan bahwa pasien yang sudah menderita psikosis yang mengkonsumsi ganja akan memberikan hasil keluaran yang lebih buruk terhadap kesembuhannya. Hal ini karena hubungan efek ganja terhadap sistem dopamin. Penggunaan yang banyak dan kronis juga telah dihubungkan mempengaruhi memori dan performas belajar, baik terhadap individu yang sehat dan pasien yang psikosis.

Jadi memang secara khusus pemakaian ganja bagi individu yang sehat maupun yang sudah menderita gangguan jiwa mempunyai efek yang kurang baik. Bagi individu yang sehat walaupun tidak langsung mempunyai hubungan sebab akibat, ganja menjadi pemicu terjadinya gejala-gejala psikosis dan psikopatologi lain dan bagi individu yang sudah mengalami gangguan jiwa, penggunaan ganja memperberat kondisi gangguan jiwanya.


berita terkait :

Ganja sebabkan kanker testikular
Debat Ganja sebagai Anti Nyeri
Konsumsi ganja berkaitan dengan Struktur Otak
Efek ganja pada kesehatan mental

ROKOK atau GANJA

Labels:


img
foto: Thinkstock

Mana yang Lebih Bahaya, Rokok atau Ganja?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Jakarta, Di banyak negara, menghisap ganja adalah pelanggaran hukum yang bisa dihukum berat. Berbeda dengan tembakau, jarang ada aturan yang tegas melarangnya meski rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin.

Ganja (Cannabis sativa) atau disebut juga marijuana merupakan tanaman budidaya yang sering disalahgunakan. Daunnya mengandung senyawa tetrahidrokanabinol (THC) yang memiliki efek psikoaktif atau dapat mempengaruhi saraf otak dan kondisi kejiwaan.

Daun ganja disalahgunakan dengan cara dirajang, dikeringkan lalu dibakar dan dihisap seperti daun tembakau. Efek yang paling khas saat menghisap daun ganja adalah euforia atau gembira hingga tertawa cekikikan tanpa sebab, lalu diikuti dengan halusinasi atau melihat hal-hal yang tidak nyata.

Tidak bisa dipungkiri, kebiasaan menghisap ganja juga bisa memicu efek jangka panjang. Dikutip dari Healthline, Minggu (13/3/2011), beberapa efek penggunaan ganja yang terus menerus adalah sebagai berikut.

1. Peningkatan risiko psikotik atau gangguan kejiwaaan kronis
2. Gangguan pernapasan dan kerusakan fungsi paru
3. Ketergantungan dan gejala putus obat (withdrawal symptom)
4. Gangguan memori dan konsentrasi.


Karena efeknya langsung memicu perubahan perilaku, ganja selalu tampak lebih berbahaya dibanding rokok yang efek jangka pendeknya nyaris tidak ada kecuali hanya batuk-batuk bagi yang sensitif terhadap bau asapnya. Bahkan ada yang menganggap rokok justru bisa meningkatkan konsentrasi.

Namun apakah benar tembakau lebih aman dari rokok? Sebuah penelitian yang melibatkan 320 relawan dan telah dipublikasikan dalam jurnal Thorax tahun 2007 menunjukkan, emphysema atau kerusakan paru-paru kronis justru lebih banyak dialami oleh para perokok tembakau dibandingkan pada pengguna ganja.

Di kelompok pengguna ganja yang tidak merokok, emphysema hanya diderita oleh sekitar 1 persen dalam jangka waktu 5 tahun. Bandingkan risikonya pada perokok berat, emphysema menyerang 19 persen dari perokok yang mengisap antara 15-20 batang/hari selama 1 tahun.

Legalitas tembakau merupakan salah satu alasan, sebab tidak adanya larangan membuat tembakau cenderung lebih sering dihisap dibanding ganja. Seorang perokok berat bisa menghisap hingga 15 batang/hari sementara pengguna ganja reguler sekalipun hampir tidak mungkin menghabiskan 5 linting/hari.

Namun dalam kaitannya dengan kesehatan paru-paru, tidak bisa disimpulkan bahwa ganja lebih sehat dibanding rokok. Sebab kenyataannya, hampir tidak ada pemakai ganja yang tidak merokok tembakau. Perkenalan dengan ganja umumnya dimulai dengan rokok, sehingga risikonya justru menjadi lebih ting
(up/ir
sumber  : detik.com

POHON GANJA

Labels:

Inilah 10 Pohon Hasil Turunan Ganja

Ganja adalah bahan psikotropika yang terlarang, jangankan memiliki, memakai saja pun salah di mata hukum. Semua orang tahu ganja adalah barang terlarang namun belum tentu semua orang tahu bentuk pohon ganja. Itulah yang menjadi pertanyaan saya selama ini, bagaimana membedakan pohon ganja dengan pohon biasa. Jadi sebenarnya seperti apakah pohon ganja tersebut? Sebenarnya banyak sekali jenis-jenis dari ganja, namun dalam postingan kali ini kita mengulas 10 turunan pohon ganja yang paling top:

1. Big Bud

Ini adalah jenis unggul pohon ganja, dengan daun lebat, lebih banyak juga ganja yang dihasilkan. Bisa tumbuh tinggi dan cocok dikembangkan indoor. Selain itu bunganya juga indah.

2. Ice

Bentuknya mirip daun yang mengkristal, ini juga salah satu jenis pohon ganja yang terkenal, pernah memenangkan penghargaan Cannabis Cup tahun 1998.

3. Skunk

Untuk jenis ini dibudidayakan khusus di dalam ruangan.

4. Northern Lights

Keunggulan ganja satu ini adalah mudah ditanam, mudah tumbuh di dalam ruangan, dan sekarang sedang diteliti manfaatnya untuk kesehatan.

5. New York City Diesel

Ganja satu ini tumbuh baik di dalam ruangan kecuali di iklim tropis, di dalam ruangan ganja ini bisa tumbuh setinggi 4 kaki, namun di luar ruangan bisa mencapai 12 kaki.

6. Lowryder

Lowryder termasuk pohon ganja berukuran mini sehingga bisa ditanam di pot, tingginya cuma 12 inchi. Pertumbuhannya pun cukup cepat, 2-3 minggu fase benih, dan 30-45 hari untuk berbunga. Dan yang paling penting ganja satu ini bisa beradaptasi dimana saja.

7. Blueberry

Disebut blueberry karena menurut beberapa referensi dari internet, ketika pecandu menghirup ganja satu ini aromanya mirip blueberry, tumbuh bagus di luar ruang, namun butuh perawatan lebih.

8. AK-47

Kurang jelas kenapa disebut AK-47, mungkin berhubungan dengan aromanya, yang jelas ganja satu ini bisa tumbuh baik di dalam dan di luar ruangan.

9. Purple Power


Seperti semua keturunan ganja outdoor, Purple Power membutuhkan banyak matahari dan kehangatan, tetapi juga dapat tumbuh subur bahkan di cuaca kurang dapat diandalkan. Tanaman ini dapat mencapai ketinggian lebih dari 6 kaki di rumah kaca dan iklim selatan sedangkan di daerah beriklim sedang Purple Power rata-rata tumbuh sekitar 5 kaki.

10. Afghan

Ketika mendekati saat-saat panen tanaman ini menyebarkan bau mirip bensin, kuncupnya sendiri berminyak. diluar efek memabukkan tanaman ini diketahui berkhasiat untuk meredakan insomnia dan nyeri kronis.

MINUMAN TERBUAT DARI GANJA

Labels:

Di beberapa negara telah melegalkan ganja atau mariyuna untuk keperluan medis. Bahkan di Amerika Serikat, zat aktif dalam ganja dikemas dan dijual dalam bentuk minuman ringan yang digemari kaum muda.

Canna Cola

Clay Butler, pengusaha minuman ringan asal California baru-baru ini memproduksi minuman bersoda yang mengandung Tetrahydrocannabinol (THC) berkadar 35-65 mg/botol. THC merupakan bahan aktif dalam daun ganja yang memiliki efek halusinogenik atau menyebabkan seseorang berhalusinasi.


Dalam dunia medis, THC sering dimanfaatkan sebagai obat meski di sebagian besar negara legalitasnya masih kontroversial. Selain sebagai halusinogenik, THC juga dipakai untuk mencegah Alzheimer, mengatasi nyeri Arthritis dan mengatasi depresi.



Namun seperti halnya rokok, menghisap ganja untuk mendapatkan efek THC juga bisa memicu kanker. Menurut penelitian, beberapa racun dalam asap ganja bisa menyebabkan kanker paru-paru dan tenggorokan.



Terinspirasi dari efek samping asap ganja, Butler akhirnya menghadirkan rasa dan khasiat ganja itu dalam bentuk minuman bersoda. Butler berencana meluncurkan produknya ke pasar mulai Februari dengan harga US$ 10 hingga US$ 15 atau sekitar Rp 90.000 hingga Rp 135.000/botol.



Nama dagang yang dipakai Butler sebagai merek minumannya adalah Canna Cola, diambil dari nama Latin ganja yaitu Cannabis sativa. Sayangnya karena regulasi atau aturan tentang legalitas ganja berbeda di setiap negara, produk ini hanya akan dipasarkan di California dan tidak mungkin dibawa ke luar negeri.



Di California, mengemas ganja ke dalam minuman ringan sebenarnya bukan hal baru. Soda rasa ganja sudah banyak dijual, namun hanya dalam skala kecil sementara Butler mengklaim Canna Cola sebagai produk pertama yang diproduksi dalam skala industri.

EFEK GANJA

Labels:

Legalisasi ganja di Indonesia sempat jadi perbincangan hangat setelah 7 Mei lalu Lingkar Ganja Nusantara meminta ganja dilegalkan. Walaupun memiliki beberapa manfaat, ganja dianggap sebagai jenis narkotika yang dapat membuat penggunanya kecanduan, mengalami halusinasi, efek euforia sesaat, malas, dan lambat.

Efeknya penggunaan ganja bisa lebih buruk bagi remaja yang masih dalam tahap pertumbuhan. Sebuah penelitian pun dilakukan oleh tim dari Universitas Federal Sao Paulo, Brasil, untuk mengetahui efek penggunaan ganja pada remaja.
Penelitian yang diterbitkan dalam The British Journal of Psychiatry ini menganalisis fungsi mental dari 100 pengguna ganja yang mengonsumsinya secara reguler selama 10 tahun dan 50 responden yang bukan pengguna ganja.

Mereka menemukan bahwa 49 orang pengguna yang mulai mengonsumsi ganja sejak usia 15 tahun memiliki kontrol impulsif dan fungsi kognitif yang lebih buruk. Pada tes menyortir kartu, mereka membuat kesalahan lebih banyak. Hal ini dibandingkan dengan 55 responden, yang telat memulai kebiasaan merokok ganja, dan 44 responden yang bukan pengguna ganja.

"Mereka yang menggunakan ganja sejak remaja memiliki fungsi kognitif yang lebih buruk. Itu karena, pada masa remaja otak berada pada periode yang sangat rentan terhadap efek neurotoksik ganja," ujar kepala penelitian Dr. Maria Fontes, seperti dikutip Daily Mail.

Penggunaan ganja sejak remaja dapat mengakibatkan menurunnya fungsi kognitif dan mental yang buruk bagi penggunanya. Menurut Dr Maria, otak pada usia 15 tahun masih berkembang dan dalam masa pendewasaan sehingga penggunaan ganja akan sangat berbahaya.

Demi kesehatan dan mengurangi angka kejahatan, Belanda yang melegalkan ganja pun, mulai tahun depan akan membatasi konsumsi ganja bagi warga dan turis. Tampaknya legalisasi ganja di Indonesia atau menyetarakannya dengan rokok (soft drugs), masih harus dipertimbangkan lagi. (umi)
• VIVAnews

Pengganti Ganja

Labels:


Ternyata ada sisi lain kehidupan remaja di Kota Bogor yang menimbulkan keprihatinan. Tak disangka, ternyata banyak remaja di Bogor yang suka menggelar pesta minuman keras (miras). Tak hanya itu, ganja juga kerap melengkapi pesta miras. Yang lebih aneh, ternyata ada konsumsi yang belum lumrah dan sepertinya merupakan sesuatu yang baru. Jenis konsumsi yang meramaikan pesta miras tersebut adalah jamur. Namun jangan salah, jamur ini bukan jamur sembarangan.

 Jamur yang satu ini biasa disebut dengan istilahnya dalam Bahasa Inggris, mushroom. Jamur yang satu ini berbeda dengan jamur lain yang biasa dipakai sebagai bahan makanan. Dari asalnya saja, kita pasti akan kaget mendengarnya. Bayangkan, ternyata mushroom yang suka dikonsumsi untuk berpesta ini berasal dari kotoran sapi atau kerbau.


Jamur penghayal ini diperkirakan sudah ada sejak zaman dahulu. Terdapat gambar jamur penghayal terpampang di dinding sebuah gua di Sahara.

Penelitian lain menemukan bahwa seorang dukun di Siberia menggunakan salah satu jenis dari jamur penghayal tersebut sebagai media untuk membuka pintu yang menghubungkan mereka dengan Sang Pencipta.

Walaupun jamur penghayal ini tumbuh di tempat yang tak wajar, ternyata ada juga yang meminatinya. Efek yang ditimbulkan setelah memakan mushroom ini munngkin yang menjadi daya tariknya. Ruslan, salah seorang siswa SMA, pernah mengonsumsi mushroom. Ia mengonsumsi jamur penghayal ini bersama teman-temannya ketika sedang berlibur ke sebuah pantai, tepatnya di Batu Karas, dekat pantai Anyer. 

Menurutnya, di sana memang mudah mendapatkan mushroom ketimbang di Bogor.

"Lagipula memang nggak tentu juga berkembangnya, kadang banyak kadang dikit, tergantung cuaca," ujar Ruslan.

Ruslan membeli mushroom ini melalui orang ke orang. Tak ada tempat khusus untuk menjual barang ini. Biasanya mushroom tumbuh di daerah tropis dan di saat kemarau panjang. Sekadar informasi, ternyata mushroom banyak dijual di Pulau Bali. Harga yang dipatok untuk jamur penghayal ini berkisar Rp35 ribu-Rp40ribu per kantongnya. Per kantong biasanya berisi empat sampai lima buah jamur.

Cara penyajian mushroom ini beragam. Ada yang disajikan dengan cara dicampur dengan minuman, semisal soda, ada yang dibuat jamur kering, dan ada juga yang dibuat omelet. "Kalo gue biasanya suka dibuat omelet, soalnya bisa dimakan rame-rame. Terus, gampang lagi buatnya," papar Ruslan.


Efek yang dirasakan bisa muncul 15 menit setelah mengonsumsi mushroom tersebut. Menurut mereka yang pernah mengonsumsi, efek yang ditimbulkan bisa 10 kali lipat dari memakai ganja. Namanya juga jamur penghayal, efek yang ditimbulkan ialah halusinasi. "Kalo gue biasanya bawaannya mau ketawa terus kalo lagi nge-mushroom, nggak tau kenapa dan kalo udah ketawa susah banget buat berenti," ucapnya.

Halusinasi yang diciptakan ternyata bergantung kepada kondisi psikis kita saat itu. Misalnya saat kita sedang merasa sedih, maka efek yang ditimbulkan saat setelah mengonsumsi mushroom adalah kita hanya terdiam saja, atau bahkan bisa menangis

"Pernah temen gue, cewek, dia abis diputusin pacarnya, pas lagi nge-mushroom dia curhat tentang masalahnya terus dia nangis. Ada lagi temen gue yang bawaanya marah-marah terus, gara-gara dia memang lagi punya masalah," cerita Ruslan

Keunikan yang ditimbulkan dari mushroom ini menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian remaja kota Bogor. Efek unik yang ditimbulkan dari mushroom ini ternyata tidak menimbulkan ketagihan. Oleh karena itu mereka berpikir bahwa itu aman. Mereka memilih mushroom sebagai alternatif daripada mereka menggunakan barang lain yang mengandung zat adiktif yang berbahaya.

GANJA

Labels:

Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.

Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu yang menyembah dewa Shiva menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap hashish melalui pipa chilam/chillum, dan dengan meminum bhang.
Kontroversi 
Di beberapa negara tumbuhan ini tergolong narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia. Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia (rasa gembira) yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara para pengguna tertentu.

Efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir. Namun, hal ini masih menjadi kontroversi,Karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya. Selain diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu (termasuk kanker), banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya (terutama pada para seniman dan musisi).

Berdasarkan penelitian terakhir, hal ini (lonjakan kreativitas), juga dipengaruhi oleh jenis ganja yang digunakan. Salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreativitas adalah hasil silangan modern "Cannabis indica" yang berasal dari India dengan "Cannabis sativa" dari Barat. Jenis ganja silangan inilah yang tumbuh di Indonesia.

Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu. Segolongan tertentu ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas, sementara ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berfikir kreatif (bukan aktif secara fisik seperti efek yang dihasilkan metamfetamin). Ganja, hingga detik ini, tidak pernah terbukti sebagai penyebab kematian maupun kecanduan. Bahkan, di masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa, di mana hampir semua unsur yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.Hal ini sangat bertolak belakang dan berbeda dengan efek yang dihasilkan oleh obat-obatan terlarang dan alkohol, yang menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan hingga tersiksa secara fisik, dan bahkan berbuat kekerasan maupun penipuan (aksi kriminal) untuk mendapatkan obat-obatan kimia buatan manusia itu.

Dalam penelitian ilmiah dengan metode systematic review yang membandingkan efektifitas ganja sebagai obat antiemetic didapatkan hasil ganja memang efektif sebagai obat antiemetic dibanding prochlorperazine, metoclopramide, chlorpromazine, thiethylperazine, haloperidol, domperidone, atau alizapride, tetapi pengunaannya sangat dibatasi dosisnya, karena sejumlah pasien mengalami gejala efek psikotropika dari ganja yang sangat berbahaya seperti pusing, depresi, halusinasi, paranoia, dan juga arterial hypotension

Pemanfaatan

Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak.

Namun demikian, karena ganja juga dikenal sebagai sumber narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, orang lebih banyak menanam untuk hal ini dan di banyak tempat disalahgunakan.

Di sejumlah negara penanaman ganja sepenuhnya dilarang. Di beberapa negara lain, penanaman ganja diperbolehkan untuk kepentingan pemanfaatan seratnya. Syaratnya adalah varietas yang ditanam harus mengandung bahan narkotika yang sangat rendah atau tidak ada sama sekali.

Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan.

Bagi penggunanya, daun ganja kering dibakar dan dihisap seperti rokok, dan bisa juga dihisap dengan alat khusus bertabung yang disebut bong.
Budidaya

Tanaman ini ditemukan hampir disetiap negara tropis. Bahkan beberapa negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca.

Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya.

Hasil panen ganja berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang disebut hasyis.

GANJA DI TINJAU DARI DUNIA MEDIS

Labels:


Beberapa waktu yang lalu di sosial media ramai diperbincangkan mengenai legalisasi ganja. Berikut ini adalah sedikit ulasan mengenai sejarah pemanfaatan ganja di dunia medis. Tentu saja tulisan saya hanya
sejarah singkatnya saja dan masih banyak kekurangan disana-sini, tetapi harapan saya dengan tulisan ini bisa sedikit membuka wawasan kita.
Cannabis pertama kali diketahui dapat digunakan untuk pengobatan yaitu dalam terapi pharmacopoeia di negeri Cina yang di sebut Pen Ts'ao. Pharmacopoeia adalah sebuah buku yang berisi daftar obat-obatan serta cara persiapan dan penggunaannya. Cannabis disebut sebagai "Superior Herb" oleh Kaisar Shen Nung (2737-2697 SM), yang diyakininya sangat manjur dan mujarab. Cannabis direkomendasikan sebagai pengobatan untuk berbagai penyakit umum. Sekitar periode yang sama di Mesir, ganja digunakan sebagai pengobatan untuk sakit mata. Ramuan ini digunakan di India dalam upacara budaya dan agama, dan dicatat dalam kitab suci teks Sansekerta sekitar 1.400 SM. Ganja dianggap sebagai ramuan kudus dan ditandai sebagai " soother of grief " atau " the sky flyer," dan "surga orang miskin." Berabad-abad kemudian, sekitar 700 SM, orang-orang bangsa Asyur menggunakan ramuan yang mereka sebut Qunnabu yang digunakan sebagai dupa. Orang Yunani kuno menggunakan ganja sebagai obat untuk mengobati peradangan, sakit telinga, dan edema (pembengkakan bagian tubuh karena pengumpulan cairan). Tak lama setelah 500SM seorang sejarawan dan ahli geografi, Herodotus mencatat bahwa masyarakat Scythians menggunakan ganja untuk menghasilkan linen yang halus. Mereka juga menyebutnya sebagai rempah Cannabis dan menggunakannya dengan cara menghirup uapnya yang dihasilkan ketika dibakar. Pada tahun 100 SM bangsa Cina telah menggunakan ganja untuk membuat kertas.

Budidaya ganja serta penggunaannya bermigrasi dan bergerak ke berbagai pedagang dan pelancong. Pengetahuan mengenai nilai herbal ini menyebar ke seluruh Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika. Sekitar tahun 100 sesudah masehi, Dioscorides, seorang ahli bedah di Legions Romawi di bawah Kaisar Nero, menamakan rempah ini dengan nama Cannabis sativa herbal dan tercatat penggunaannya untuk berbagai obat. Pada abad kedua, dokter dari negeri Cina yang bernama Hoa-Tho, menggunakan ganja dalam prosedur pembedahan yang di sesuaikan pada sifat analgesik nya. Di India kuno, sekitar tahun 600, penulis Sansekerta mencatat resep untuk "pills of gaiety" atau "pil keriangan", yaitu suatu kombinasi antara ganja dan gula. Pada tahun 1150, umat Islam telah menggunakan serat ganja dalam produksi kertas pertama di Eropa. Ini adalah penggunaan ganja sebagai sumber terbarukan yang tahan lama untuk serat kertas yang berlanjut hingga 750 tahun berikutnya.

Pada sekitar tahun 1300-an, pemerintah dan otoritas agama khawatir tentang efek psikoaktif pada masyarakat yang mengkonsumsi ramuan ganja tersebut dan berusaha menempatkan pembatasan keras terhadap penggunaannya. Emir Soudon Sheikhouni dari Joneima mengatakan bahwa ganja dilarang digunakan oleh orang miskin. Dia menghancurkan tanaman dan memerintahkan pelanggaran penggunaan ganja. Pada 1484, Paus Innosensius VIII melarang penggunaan Hashish, yaitu suatu bentuk concentrated dari ganja. Budidaya Cannabis terus berlanjut karena nilai ekonomisnya yang tinggi. Sedikit lebih dari satu abad kemudian, Ratu Inggris Elizabeth I mengeluarkan dekrit yang memerintahkan agar pemilik tanah yang memegang enam puluh hektar ladang ganja atau lebih harus membayar denda.

Kegunaan Medis Tanaman Ganja

Tanaman ganja secara keseluruhan, termasuk kuncup, daun, biji, dan akar, semuanya telah digunakan sebagai ramuan obat sepanjang sejarah. Meskipun batasan hukum yang tegas dan hukuman pidana berat untuk penggunaan terlarang, ganja semakin banyak digunakan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, baik untuk sifat-sifatnya mengubah suasana hati dan penerapannya sebagai obat-obatan yang telah terbukti. Diskusi mengenai manfaat ganja dari segi keamanan dan efektivitas sangat bermuatan politis.

Marijuana telah terbukti sebagai obat analgesik, anti muntah, anti-inflamasi, penenang, anticonvulsive, dan tindakan pencahar. Studi klinis telah menunjukkan efektivitas ganja dalam mengurangi mual dan muntah setelah kemoterapi untuk pengobatan kanker. Tanaman ini juga telah terbukti mengurangi tekanan intra-okular di mata sebanyak 45%, dalam pengobatan glaukoma. Cannabis telah terbukti sebagai anticonvulsive, dan dapat membantu dalam merawat penderita epilepsi. Penelitian lain telah mendokumentasikan sebuah in-vitro efek penghambat tumor THC. Marijuana juga dapat meningkatkan nafsu makan dan mengurangi rasa mual dan telah digunakan pada pasien AIDS untuk mencegah penurunan berat badan serta efek lain yang mungkin timbul dari penyakit ini. Dalam sebuah studi penelitian beberapa kandungan kimia dari ganja menampilkan aksi antimikroba dan efek antibakteri. Komponen CBC dan d-9-tetrahydrocannabinol telah terbukti dapat menghancurkan dan menghambat pertumbuhan bakteri streptokokus dan staphylococci.

Ganja mengandung senyawa kimia yang dikenal sebagai canabinoid. Jenis canabinoid yang berbeda-beda memiliki efek yang berbeda pula pada tubuh setelah di konsumsi. Penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa zat ini mempunyai nilai potensi terapi untuk menghilangkan rasa sakit, kontrol mual dan muntah-muntah, serta stimulasi nafsu makan. Zat aktif utama ganja yang teridentifikasi sampai saat ini adalah 9-tetrahydro-cannabinol, yang dikenal sebagai THC. Bahan kimia ini kemungkinan mengandung sebanyak 12% dari bahan kimia aktif dalam ramuan, dan memberikan pengaruh sebanyak 7-10% dari akibat yang di timbulkan seperti rasa gembira, atau "high" yang dialami saat mengkonsumsi ramuan ganja. Kualitas ramuan "euforia" ini tergantung pada saldo bahan aktif lain dan kesegaran bahan ramuan. THC ter-degradasi ke komponen yang dikenal sebagai cannabinol, atau CBN. Kimia aktif ini relatif tidak menonjol dalam ganja yang telah disimpan terlalu lama sebelum digunakan. Komponen kimia lain, cannabidiol, atau dikenal sebagai CBD, memiliki efek sedatif dan analgesik ringan, dan memberikan kontribusi ke somatic heaviness yang kadang-kadang dialami oleh pengguna ganja.

Pelarangan Ganja

Sebelum adanya larangan, ganja direkomendasikan untuk pengobatan gonore, angina pektoris (konstriksi nyeri di dada karena darah tidak cukup untuk jantung), dan cocok untuk mengatasi tersedak. Ganja juga dapat digunakan untuk mengatasi insomnia, neuralgia, reumatik, gangguan pencernaan, kolera, tetanus, epilepsi, keracunan strychnine, bronkitis, batuk rejan, dan asma. Kegunaan lain adalah sebagai phytotherapeutic (nabati terapeutik) termasuk pengobatan borok, kanker, paru-paru, migrain, penyakit Lou Gehrig, infeksi HIV, dan multiple sclerosis.

Kebijakan pemerintah federal Amerika Serikat melarang dokter menggunakan resep ganja, bahkan untuk pasien sakit serius karena alasan efek samping yang mungkin diakibatkan dari efek adiktif cannabis yang berbahaya. Jaksa Agung AS Janet Reno memperingatkan bahwa para dokter di setiap negara yang memberikan resep ganja pada pasiennya akan kehilangan hak untuk menulis resep, kecuali dari Medicare dan Medicaid dan bahkan dituntut sebagai kejahatan federal, menurut sebuah editorial 1997 dalam Jurnal Kedokteran New England.

Sejarah Ganja dan Keajaiban nya

Labels:

Berdasarakan tinjauan historis, tanaman ganja pertama kali ditemukan di daratan Cina pada tahun 2737 SM. Masyarakat Cina kuno telah mengenal dan memanfaatkan ganja dalam kehidupan sehari-hari sejak zaman batu. Masyarakat Cina menggunakan mariyuana untuk bahan tenun pakaian, obat-obatan, dan terapi
penyembuhan seperti penyakit rematik, sakit perut, beri-beri hingga malaria.

Cannabis atau ganja ini juga diolah untuk minyak lampu dan bahkan untuk upacara keagamaan seperti memuja dewa dan ritual kematian. Secara esensial ganja sendiri di sana dianggap tumbuhan liar biasa layaknya rumput yang tumbuh di mana saja karena tanahnya memang cocok. Hanya saja, ganja tidak sembarang tumbuh di tanah yang tidak sesuai dengan kultur tanaman ini. Ganja memerlukan karakter tanah dan faktor geografis tertentu, seperti di Cina, Thailand dan Aceh. Sementara di belahan bumi lainya seperti Eropa, Afrika dan Amerika, ganja juga dapat umbuh, namun hasilnya tak memuaskan, kecuali harus dengan sentuhan teknologi canggih, itu pun sangat sulit diaplikasikan.


Julukan populis lain ganja adalah mariyuana, yang berasal dari bahasa Portugis yaitu mariguango yang berarti barang yang memabukkan dan untuk bahasa ilmiahnya disebut Cannabis. Istilah ganja dipopulerkan oleh kaum Rastafari, kaum penganut sekte Rasta di Jamaika yang berakar dari Yahudi dan Mesir.

Menurut sejarahnya, ganja dibawa ke Aceh dari India pada akhir abad ke 19 ketika Belanda membuka perkebunan kopi di Dataran Tinggi Gayo. Pihak penjajah itu memakai ganja sebagai obat alami untuk menghindari serangan hama pohon kopi atau ulat pada tanaman tembakau. Walau Belanda yang membawanya ke dataran tinggi Aceh, namun menurut fakta yang ada, tanaman tersebut bukan berarti sepenuhnya berasal dari negaranya. Bisa jadi tanaman ini dipungut dari daratan Asia lainya. Di kalangan anak muda nusantara, ganja lebih familiar disebut bakong ijo, gelek, cimeng atau rasta. Sementara sebutan keren lainya ialah tampee, pot, weed, dope.

Setalah bertahun dan tumbuh menyebar hampir di seluruh Aceh, ganja mulai dikonsumsi, terutama dijadikan ‘rokok enak,’ yang lambatlaun mentradisi di Aceh. Bahkan kalau ada masakan, dianggap belum sempurna kalau bumbunya tidak dicampur dengan biji ganja. Tradisi ini memang sulit dihilangkan atau diberantas lagi di sana.

Pelarang Ganja

Mengapa ganja dilarang? Inilah petanyaan yang belum dimengerti masyarakat luas. Padahal berbagai kampanye telah dilakukan, bahkan pemerintah sendiri pun telah mengeluarkan undang-undang tentang larangan proses produksi, distribusi sampai tahap konsumsi ganja. Undang-undang No. 22 1997 tentang narkotika mengklasifikasikan ganja; biji, buah, jerami, hasil olahan atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja dan hasil sebagai narkotika golongan I yang berarti satu kelas dengan opium dan kokain.

Pasal 82 ayat 1 butir a UU tersebut menyatakan bahwa mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun dan denda paling paling banyak satu milyar rupiah.

Di Aceh, dulu dijual bebas di pasar, digantung-gantung di kios, di gerobak-gerobak penjaja sayur. Ganja mulai dilarang ketika Hoegeng menjadi kepala pemerintahan Kolonial Belanda untuk wilayah nusantara. Ia ingin tahu penyebab pemuda Aceh bermalas-malasan yang dinilai merugikan ekonomi Kerajaan Belanda. Lalu dia menyamar, pergi ke kampung-kampung dan ketemulah jawaban bodohnya, karena ganja.

Di luar negeri, ganja dibedakan menjadi dua bagian, yaitu ganja untuk kepentingan industri maupun medis yaitu ganja jenis Hemp, dan ganja terlarang sering disebut Cannabis. Sementara di Indonesia tidak mengenal perbedaan ini, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 disebutkan bahwa ganja termasuk sebagai narkotika saja.

Salah satu sebab mengapa ganja menjadi tumbuhan terlarang adalah karena zat THC. Zat ini bisa mengakibatkan pengguna menjadi mabuk sesaat jika salah digunakan. Sebenarnya kadar zat THC yang ada dalam tumbuhan ganja dapat dikontrol kualitas dan kadarnya jika ganja dikelola dan dipantau dengan proses yang benar.

Dalam penelitian meta analisis para ahli dari Universitas Cardiff dan Universitas Bristol, Inggris, pencandu ganja berisiko schizophrenia, yakni peningkatan gejala seperti paranoid, mendengar suara-suara dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada yang berujung pada kelainan jiwa, seperti depresi, ketakutan, mudah panik, depresi, kebingungan dan berhalusinasi, gangguan kehamilan dan janin.

Kesan Aceh sebagai ladang ganja berkonotasi negatif memang telah mencoreng muka kita semua di mata Internasional. Untuk mengatasi ini, dibutuhkan keterlibatan segenap elemen mayarakat, terutama orang tua yang memiliki anak yang cerdas, kalau anaknya sudah bodoh dari sananya, tanpa pakai ganja pun cit ka paak alias dungu. Peran Pemerintah Aceh dan ulama serta penegak hukum yang ‘masih sehat’ sangat menentukan endingnya kemelut ganja di Aceh. Lebih menentukan lagi bila disokong penuh oleh NGO baik lokal maupun asing dan elemen sipil yang masih ‘mengudara’ di Aceh saat ini.

Dengan program Alternatif Development (AD) yang dicanangkan pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional (BNN), semoga 15 tahun mendatang, Aceh bebas dari efek negatif ganja dan dapat memanfaatkan potensi ganja sebagai komoditi ekspor unggulan untuk kepentingan industri maupun medis, tanpa harus disalah gunakan.

Kalau tidak, seperti kata hadis maja, “’Uet han, toh tan.” Maksud pemerintah kita melindungi generasi Aceh dari pengaruh ganja tak berhasil, malah potensi ganja untuk kepentingan industri dan medis yang ujung-ujungnya mensejahterakan rakyat pun melayang. Kasihan, ya?

Keajaiban Ganja

Di balik harumnya tanaman pungo ini, ternyata memiliki banyak manfaat dan menyimpan sejuta kisah lain yang gila-gilaan dan sangat menakjubkan. Namun di negara yang bodoh ini, ganja hanya dikenal karena penyalahgunaannya (abuse) saja, yaitu dengan menghisap atau mengkonsumsinya saja. Sementara di luar negeri sana, tanaman ajaib ini sangat populer dan menjadi bagian dari hidup. Seperti, sebut saja Bob Marley yang kesehariaan hidupnya tak luput dari ganja. “Pesta ganja bersama Tuhan,” katanya. Bagi tokoh musik legendaris dunia ini, ganja sabagai dewa penolong sekaligus teman hidup penunjang karir. Namun kata kawan saya, ganja juga menolongnya agar cepat mati.

Selain itu ganja juga sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisasi yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara-negara berkembang dan sedang berkembang. Sebagai contoh, dulu di China ada yang namanya perang candu, negara maju seperti Inggris dan ‘kucing-kucing nakal’ lainnya memerangi alias merusak generasi muda cina dengan candu atau narkoba.

Sementara bagi masyarakat India Hindu sendiri, ganja dipakai dalam ritual penyembahan terhdap Dewa Siwa. Belum lagi kaum Rastafarian di Jamaika yang sangat mengagungkan ganja dan dapat mendekatkan diri dengan Tuhan karenanya. Entah lewat mana? Wallahualam!

Di Aceh, sebagai pusat ganja sekarang, bakong ijo ini juga menjadi bagian dari hidup, tapi bukan untuk menggoda Tuhan. Masyarakat setempat, dengan keterbatasan teknologi dan sejuta keterpurukan lainnya, mengolah ganja secara tradisional. Dengan pengetahuan yang ada, masyarakat daerah ini meramunya menjadi bahan konsumsi sehari-hari.

Hampir tak ada orang Aceh yang tak pernah mencicipinya, ada yang menikmatinya via rokok ternikmat, bumbu dapur, dodol, campuran kopi, hingga diolah ke berbagai jenis makanan lainya, selebihnya dijual ke luar Aceh. Apalagi jika ada kenduri, wah, ini yang lebih dahsyat. Bagi tamu yang belum terbiasa bisa kacau, tapi kalau di Aceh umumnya sih sudah biasa. Selain memiliki keunggulan seperti ramah lingkungan, di Aceh, ganja juga digunakan sebagai tanaman pengusir hama di ladang atau kebun.

Tau tak, bahan apa saja yang terbuat dari ganja? Tanaman ini, dari akar, batang, daun hingga ranting merupakan bahan istimewa untuk pembuatan kertas dan kain. Selain itu bijinya bisa digunakan sebagai bahan bakar minyak, baik langsung, maupun diubah melalui proses pirolisis menjadi batu bara, metana, methanol. Ganja jauh lebih baik daripada minyak bumi karena bersih dari unsur logam dan belerang, jadi lebih aman dari polusi. Lebih dari itu, biji ganja bergizi, dengan protein berkualitas tinggi, lebih tinggi dari kedelai.

Ganja ternyata bukan hanya sebatas itu, bahkan serat tanaman ganja jenis hemp pernah dipakai untuk tali pengikat kapal perang Tentara Armada Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Tentunya setelah diolah terlebih dahulu. Sebuah data dari dunia maya menyatakan, serat ganja setelah diberi sentuhan teknologi, keunggulannya melebihi baja dan halus seratnya mampu mengalahkan serat kapas, aneh bukan?

Seiring perkembangan dunia industri, negara-negara maju, seperti Tasmania, salah satu negara yang tergolong paling besar memanfaatkan potensi ganja. Negara itu memanfaatkan ganja dengan menurunkan kadar THC (Tetrahydrocannabinol) untuk memproduksi bahan tekstil, kertas, bahan pembuat makanan, tapak rem dan kopling hingga untuk tali.

Sementara di Inggris terdapat pusat pengelolaan marijuana atau ganja. Lembaga itu meneliti tanaman ini secara medis dan farmasi. Hasilnya, tanaman yang daunnya berbentuk jari ini tetap diandalkan dan menjadi obat ampuh. Seperti pasien lumpuh dapat disembuhkan dengan terapi mariyuana dan dapat berjalan kembali layaknya orang normal, tidak impoten, dan mempunyai daya ingat yang tinggi.

Bukan hanya Inggris, di Kanada, pihak pemerintah melegalisasikan ganja untuk farmasi. Dilaporkan telah banyak pasien yang terbantu, seperti mengurangi rasa mual pada penderita AIDS dan penyakit lainnya. Pemerintah Kanada mengijinkan pembelian ganja dengan resep dokter di apotek-apotek lokal. Satu ons dijual sekitar 113 US dollar dan ganja dikirim melalui kurir ke pasien atau dokter mereka.

Menurut para medis, komposisi kimia yang terkandung dalam ganja adalah Cannibanol, Cannabidinol atau THC yang terdiri dari Delta -9- THC dan Delta -8- THC. Delta -9- THC sendiri dapat mempengaruhi pola pikir otak manusia melalui penglihatan, pendengaran, dan suasana hati pemakainya. Sementara Delta -9- THC diyakini para ilmuwan medis mampu mengobati berbagai penyakit. Daun dan biji ganja membantu penyembuhan penyakit tumor dan kanker. Akar dan batangnya bisa dibuat jamu yang mampu menyembuhkan penyakit kejang perut (kram), disentri, anthrax, asma, keracunan darah, batuk, diare, luka bakar, bronchitis.

THC sendiri merupakan zat yang dapat menghilangkan rasa sakit, misalnya pada penderita glukoma. THC memiliki efek analgesic, yang dalam dosis rendah saja bisa bikin ‘tinggi’. Bila kadar THC diperkaya, bisa lebih potensial untuk pengobatan. Selain itu di masyarakat tradisonal, ganja dipakai sebagai herbal medicine. Namun bila dipakai sembarangan dan berlebihan, karena sifatnya sebagai alusinogen dapat menimbulkan euphoria sesaat, malas. Efek terburuk dari ganja membuat reaksi pemakai lambat, dan pengganja cenderung kurang waspada.

Sebuah fakta lagi, kebanyakan orang takut menggunakan ganja bahkan haram bersentuhan dengannya, padahal ganja banyak dipasarkan dalam kemasan lain yang sering dikonsumsi orang tersebut sehari-hari, misalnya sebagai obat anti kantuk, obat pelangsing, obat peningkat kecerdasan, obat kuat seks dan obat untuk menambah kepercayaan diri (konfiden).

Ganja di Temukan di sebuah Kuburan Berusia 2.700 Tahun di Gurun GOBI

Labels: ,








Material tanaman ganja sebanyak hampir dua pound ditemukan di sebuah kuburan berusia 2.700 tahun di Gurun Gobi, China. Menurut catatan Journal of Botany Eksperimental ganja tersebut diidentifikasi sebagai peninggalan ganja tertua di dunia.
Beberapa penelitian yang mengatakan bahwa ganja pada zaman dahulu hanya digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian dan tali ternyata salah. Sebuah test membuktikan bahwa orang zaman dahulu ternyata juga suka menghisap ganja sama seperti yang terjadi sekarang. Penulis utama Ethan Russo mengatakan kepada Discovery News bahwa ganja tersebut sangat mirip dengan ganja yang tumbuh saat ini. Dari dua analisis kimia dan genetika diketahui bahwa tanaman tersebut mengandung THC (tetrahydrocannabinol).

Saat melakukan penelitian Ethan Russo menjabat sebagai profesor tamu di Chinese Academy of Sciences Institute of Botany. Russo dan tim-nya menganalisa ganja yang digali dari Makam Yanghai dekat Turpan, Cina. Ganja tersebut ditemukan dalam mangkuk kayu dan keranjang kulit dekat kepala jenazah seorang pria yang meninggal ketika berusia sekitar 45 tahun.
Russo mengatakan jenazah ini dikuburkan bersama sejumlah barang yang bernilai tinggi seperti tas make-up, kekang, guci, peralatan memanah dan kecapi kongou. Para peneliti percaya bahwa orang ini dulunya adalah seorang dukun dari orang-orang Gushi, yang berbicara dalam bahasa Tocharian yang sekarang sudah punah.
Para ilmuwan awalnya berpikir kalau bahan tanaman yang dikubur bersama jenazah itu adalah ketumbar. Tetapi analisis botani mikroskopis dengan pengujian genetik mengatakan bahwa isi mangkuk itu adalah ganja.
Dari ukuran biji dan daun bersama dengan warna dan karakteristik lainnya membuktikan bahwa ganja tersebut berasal dari strain yang dibudidayakan. Ganja yang ditemukan dalam kuburan itu sudah dipisahkan semua bagian tanaman laki-laki yang sedikit mengandung zat psikoaktif. Akan tetapi dalam kuburan tersebut tidak ditemukan semacam alat seperti pipa atau benda lain yang terkait dengan aktifitas merokok. “Kemungkinan ia mengkonsumsi ganja dengan cara ditelan” kata Russo.
Meskipun kebudayaan lain di wilayah itu menggunakan hemp untuk memproduksi berbagai barang sejak 7.000 tahun yang lalu, namun makam lain yang ditemukan menunjukkan pakaian Gushi yang mereka kenakan ternyata dibuat dari bahan wol dan tali mereka dibuat dari serat buluh. Para ilmuwan tidak yakin jika ganja itu digunakan hanya untuk tujuan spiritual atau medis.
“Penguburan jenazah dengan mengikutsertakan barang-barang berharga didalamnya merupakan sebuah tradisi dengan maksud agar orang yang meninggal tersebut dapat menggunakannya pada kehidupan selanjutnya di akhirat,” jelas Russo.
Peninggalan sejarah ganja kuno itu sekarang disimpan di Museum Turpan di Cina. Kedepannya Russo berharap dapat melakukan penelitian lebih lanjut di situs Yanghai, yang masih memiliki 2.000 makam sejenis lainnya.

MITOS GANJA DALAM DODOL ACEH

Labels:

"Saya ingin mencicipi dodol atau kari kambing dicampur ganja," demikian pernyataan yang kerap diungkapkan pendatang ketika menginjakkan kakinya di Aceh.
Pernyataan yang seakan-akan telah menyatukan antara "Aceh dengan ganja" itu juga diakui Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar.

"Saya juga pernah mendengar itu," katanya. Akan tetapi, menurut dia, hanya orang-orang yang tidak paham dan mengetahui persis proses peracikan bumbu kari kambing atau dodol Aceh, lantas mengidentikkan dengannya dengan ganja.

Padahal citra rasa lezat, yang dihasilkan makanan itu, kata Muhammad Nazar karena kelihaian orang Aceh meracik bumbu dan membuat makanan lezat.

"Yang pasti, enaknya dodol, gulai kambing atau sapi serta aromanya kopi Aceh itu bukan karena campuran ganja, tapi dasarnya bahwa masyarakat Aceh pintar masak dan usaha kuliner," katanya.

Menurut Muhammad Nazar, kalaupun ada masyarakat yang mencampur bumbu itu dengan daun atau biji ganja, itu hanya sebatas "kenakalan" orang per orang.

Ia sangat menyayangkan tindakan beberapa gelintir orang di Aceh merusak kuliner Aceh, yang saat ini makin dikenal di seluruh Indonesia.

Untuk itu, ia berharap semua pihak bersatu untuk memerangi pemahaman bahwa makanan Aceh enak, karena dicampur ganja sebagai "penyedap". Apalagi, sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa ganja "haram" digunakan.

Pohon ganja di Aceh bukan jenis tanaman yang dibudidayakan masyarakat, tapi merupakan tanaman yang tumbuh sendiri di hutan-hutan karena provinsi ini memiliki lahan yang subur.

"Kita mengakui selain tumbuh sendiri, pohon ganja ditanam oknum masyarakat secara sembunyi-bunyi di kawasan hutan belantara Aceh," katanya menyebutkan.

Akan tetapi yang mendorong warga untuk menanam tanaman "haram" itu karena alasan kemiskinan, selain sulitnya membudidaya tanaman produktif.

"Ada juga yang ingin "cepat kaya" dengan pohon ganja. Tapi yakinlah tidak ada orang yang bisa kaya dengan menanam atau mengedarkan ganja. Sebaliknya, akan tambah menderita ketika polisi menangkapnya dan memenjarakan," kata Muhammad Nazar.


Pemerintah Aceh melalui dukungan berbagai lembaga telah menargetkan untuk membebaskan provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa itu dari tanaman ganja.

"Kami menargetkan Aceh terbebas dari tanaman ganja pada 2015, bersamaan akan dilakukan pembasmian tumbuhan itu secara gencar dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat masyarakat dan aparat keamanan," kata Muhammad Nazar.

Wagub menjelaskan tanaman ganja telah menimbulkan pandangan jelek tentang Aceh, karenanya penting keterlibatan seluruh elemen masyarakat bersama-sama dengan aparat penegak hukum untuk memberantasnya.

Pemerintah Aceh dengan dukungan lembaga donor, telah menyiapkan program alternatif sebagai peganti tanaman ganja yang sebagian memang menjadi usaha oknum masyarakat.

Diharapkan melalui program pembangunan alternatif pengganti tanaman ganja di daerah yang sebelumnya tercatat sebagai ladang, maka masyarakat bisa beralih dengan tanaman produktif seperti jagung, cabai dan aneka produk pertanian lainnya.

Ia mencontohkan program pembangunan alternatif di salah satu "lumbung" ganja di kawasan Lamteuba, Kecamatan Seulimeum Kabupaten Aceh Besar, sudah berhasil dan ke depan juga dicoba seperti di Aceh Tenggara.

Di pihak lain, Muhammad Nazar menyatakan prihatin tingginya angka kriminalitas akibat pengaruh narkotika sepanjang beberapa tahun terakhir di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.

Perkembangan kasus
Data kepolisian menyebutkan jumlah kasus Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang terjadi pada tahun 2006 sebanyak 477 kasus, 599 kasus (2007), kemudian menurun menjadi 583 kasus (2008) dan 562 kasus Januari-Nopember 2009.

Sementara tersangka narkotika sebanyak 650 orang (2006), tercatat 829 orang (2007), sebanyak 755 tersangka 2008 serta Januari-Nopember 2009 tercatat 730 tersangka.

Jumlah tersangka berdasarkan jenis kelamin, yakni Januari 2006 hingga Nopember 2009 tercata 2.849 tersangka laki-laki dan 118 adalah perempuan.

Usia pelaku di bawah 15 tahun yakni dua orang (2008) dan 15-19 tahun sebanyak 168 pelaku pada Januari 2006-Nopember 2009. Kemudian usia 20-24 tahun sebanyak 780 orang, usia 25-29 tahun berjumlah 841 pelaku. Selanjutnya usia 30 ke atas dari tahun 2006 sampai Nopember 2009 sebanyak 1.174 pelaku.

Para pelaku kejahatan narkotika (pengedar dan pengguna) tercatat dari kalangan pelajar, mahasiswa dan profesi lainnya.

Muhammad Nazar yang juga Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Aceh, menyatakan penyalahgunaan narkoba saat ini sudah mengkhawatirkan dan tidak hanya orang dewasa yang menjadi korban, tapi anak-anak dan remaja.

Oleh karena itu, komitmen global pemberantasan, pencegahan penyalahgunaan narkotika dalam bentuk perang terhadap upaya peredaran gelap serta penyalahgunaan narkotika harus dilakukan secara serius.

"Tapi, sangat ironis jika pada tataran masyarakat belum sadar, maka semua hanya teori belaka. Karena itu perlu disertai perhatian semua elemen dan dukungan perangkat hukum secara sinergis guna memberantas peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika," katanya menambahkan.

Ada tiga hal pokok dalam penanggulangan narkotika, pertama yakni mencegah jatuhya korban atau bertambahnya jumlah pecandu narkotika. Kedua, mengobati para korban (pecandu).

Ketiga, penegakan hukum yaitu memberikan sanksi yang seberat-beratnya bagi produsen dan pengedar narkotika. Peringatan HANI yang dilaksanakan setiap tahun merupakan momentum bagi semua negara di dunia untuk secara bersama-sama menanggulangi masalah narkotika.

Upaya pemberantasan penyalahgunaan narkotika, pemerintah meningkatkan partisipasi aktif masyarakat luas untuk menggerakkan dan memerangi narkotika, melalui tema hidup sehat tanpa narkotika.

Kalangan ulama Aceh mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk bersatu "berperang" melawan narkoba, karena saat ini pengaruh penyalahgunaan zat psikotropika tersebut dinilai cukup mengkhawatirkan.

"Saya mengimbau dengan kesadaran tinggi untuk membersihkan Aceh, terutama generasi muda dari pengaruh atau penggunaan narkoba. Mari, mulai saat ini kita menyatakan `perang` terhadap barang haram itu," kata Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Tgk Faisal Ali.

Para ulama Aceh telah mengeluarkan fatwa haram tentang penggunaan narkoba, termasuk ganja. "Beberapa tahun lalu, para ulama kita mengeluarkan fatwa haram penggunaan narkoba dalam bentuk dan jenis apapun," katanya menambahkan.

Salah satu dampak dari pengaruh narkoba, Faisal Ali menyebutkan terjadinya peningkatan kasus kriminal, angka perceraian juga meningkat.

"Kasus-kasus kriminal saya pastikan sebagai pengaruh pengunaan narkoba. Orang mabuk bisa membunuh, merampok dan mencuri serta menganiaya. Penggunaan narkoba juga telah menyebabkan perceraian dalam rumah tangga," kata dia mencontohkan.

Narkoba juga telah menyebabkan "manusia" bisa menjadi "binatang" karena terpengaruh oleh alam tidak sadar. "Sekali lagi, saya mengajak agar masyarakat terutama generasi muda segera meninggalkan narkoba jika memang sudah terlanjur sebagai pengguna," kata Faisal Ali yang juga Ketua PWNU Aceh.

Aceh tidak hanya sekedar menghilangkan pengaruh ganja sebagai "bumbu masak" tapi benar-benar melenyapkan tanaman "haram" itu tumbuh di sentaro daerah berjuluk Serambi Mekah itu pada 2015.

sumber : http://berita8.com/news.php?tgl=2010-06-28&cat=18&id=24019

SEJARAH GANJA DALAM MUSIK REGGAE

Labels:


Untuk Rastas, merokok ganja, biasanya dikenal sebagai “ramuan”, “gulma”, “sinsemilla” (bahasa Spanyol untuk “tanpa biji”) atau “ganja” (dari kata Sansekerta, “Ganjika”, digunakan di India kuno), adalah rohani bertindak, sering disertai dengan studi Alkitab, mereka menganggapnya sebagai sakramen yang membersihkan tubuh dan pikiran, menyembuhkan jiwa, meninggikan kesadaran, memfasilitasi kedamaian, membawa kesenangan, dan membawa mereka lebih dekat ke Jah. Mereka sering membakar rempah saathttp://fenomenafacebook.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif?m=1308884737g yang membutuhkan wawasan dari Jah. Pembakaran dari ramuan sering dikatakan penting “untuk itu akan menyengat dalam hati orang-orang yang mempromosikan dan melaksanakan kejahatan dan kesalahan.” Pada abad ke-8, ganja telah diperkenalkan oleh pedagang Arab ke Tengah dan Afrika Selatan, di mana ia dikenal sebagai “dagga” dan Rastas banyak yang mengatakan itu adalah bagian dari budaya Afrika mereka bahwa mereka adalah reklamasi. Hal ini kadang-kadang juga disebut sebagai “penyembuhan bangsa”, sebuah ungkapan diadaptasi dari Wahyu 22:02.

Migrasi dari ribuan orang Hindu dari India ke Karibia di abad ke-20 mungkin telah membawa budaya ini ke Jamaika. Banyak akademisi arahkan ke asal Indo-Karibia untuk sakramen ganjah akibat impor buruh migran India dalam penghapusan-posting landscape Jamaika. “Menggunakan skala besar ganjah di Jamaika … tanggal dari impor diwajibkan India …”( Campbell 110). Berambut gimbal mistik JATA, sering pertapa, dikenal sebagai Sadhus dan / atau Qalandars Sufi, merokok ganja di Asia Selatan selama berabad-abad.

Menurut Rastas banyak, ilegalitas ganja di banyak negara adalah bukti bahwa penganiayaan terhadap Rastafari adalah kenyataan. Mereka tidak terkejut bahwa itu adalah ilegal, dan melihatnya sebagai zat kuat yang membuka pikiran orang terhadap kebenaran – sesuatu sistem Babel, mereka beralasan, jelas tidak mau. Mereka kontras untuk obat alkohol dan lainnya, yang mereka merasa menghancurkan pikiran.

Mereka berpendapat bahwa merokok ganja menikmati sanksi Alkitab, dan merupakan bantuan untuk meditasi dan ketaatan agama. Di antara ayat-ayat Alkitab Rastas kutipan sebagai membenarkan penggunaan ganja:

• Kejadian 1:11 “Dan Tuhan berkata, Hendaklah bumi itu menumbuhkan rumput, biji rempah menghasilkan, dan pohon buah-buahan yang menghasilkan buah dengan tabiatnya, yang benih itu sendiri, di bumi: dan jadilah demikian.”
• Kejadian 1:29 “Dan Tuhan berkata, Lihatlah, Aku telah memberikan kamu segala benih rempah-bearing, yaitu pada saat seluruh muka bumi, dan setiap pohon, di dalam yang merupakan buah dari biji pohon yang menghasilkan, untuk Anda Hal itu harus menjadi daging. ”
• Kejadian 3:18 “… engkau akan memakan ramuan lapangan.”
• Mazmur 104:14 “Ia causeth rumput untuk tumbuh untuk ternak, dan herbal untuk melayani manusia.”
• Amsal 15:17 “Lebih baik adalah makan malam jamu di mana cinta, dari pada lembu beserta mogok dan kebencian.”
• Wahyu 22:02 “sungai kehidupan terus mengalir dari tahta Allah, dan di kedua sisi bank ada pohon kehidupan, dan daun dari pohon itu adalah untuk menyembuhkan bangsa-bangsa”

Menurut beberapa Rastafari dan sarjana lain, etimologi dari “ganja” kata dan istilah yang serupa dalam semua bahasa-bahasa Timur Dekat dapat ditelusuri ke “bosm qaneh” Ibrani, yang merupakan salah satu ramuan Allah memerintahkan Musa untuk memasukkan dalam nya persiapan parfum urapan suci dalam Keluaran 30:23; istilah Ibrani juga muncul dalam Yesaya 43:24, Yeremia 6:20; Yehezkiel 27:19, dan Kidung Agung 4:14. Deuterokanonika dan referensi kanonik untuk para leluhur Adam, Nuh, Ibrahim dan Musa “membakar dupa di hadapan Tuhan” juga diterapkan, dan banyak Rastas hari ini mengacu ganja oleh “ishence” istilah – bentuk yang sedikit berubah dari “dupa” kata Inggris . Hal ini juga mengatakan bahwa ganja adalah tanaman pertama yang tumbuh di makam Raja Salomo.

Pada tahun 1998, lalu-Jaksa Agung Amerika Serikat Janet Reno, memberikan pendapat hukum yang Rastafari tidak memiliki hak untuk merokok ganjah agama yang melanggar hukum obat Amerika Serikat ‘. Posisi ini sama di Inggris, di mana, dalam hal Pengadilan Tinggi R. v. Taylor [2002] 1 Cr. App. R. 37, itu menyatakan bahwa larangan Inggris pada penggunaan ganja tidak bertentangan dengan hak untuk kebebasan beragama diberikan berdasarkan Konvensi untuk Perlindungan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Fundamental.
Pada tanggal 2 Januari 1991, di sebuah bandara internasional di tanah airnya di Guam, Ras Iyah Makahna Ben (Benny Guerrero) ditangkap karena memiliki dan impor ganja dan biji. Dia didakwa dengan impor dari bahan yang dikendalikan. Kasus ini didengar oleh AS 9 Circuit Court November 2001, dan di

Mei 2002 pengadilan telah memutuskan bahwa praktek sanksi Rastafari merokok ganja, tapi tak apakah sanksi agama impor ganja. pengacara Guerrero’s Graham Boyd menunjukkan putusan pengadilan adalah “setara dengan anggur katakan adalah suatu sakramen diperlukan untuk beberapa orang Kristen tetapi Anda harus menanam anggur Anda sendiri.”


Pada bulan Juli 2008, namun Mahkamah Agung Italia memutuskan bahwa Rastafari mungkin diizinkan untuk memiliki jumlah yang lebih besar dari ganja secara legal, karena digunakan oleh mereka sebagai sakramen.



Info menarik lainnya

10 HAL YANG PERLU DIKETAHUI TENTANG GANJA

Labels:


1.   Memakai ganja adalah perbuatan melanggar hukum. Kamu akan sulit mendapatkan pekerjaan jika pernahdihukum.

2.    Ganja bebahaya. Menghisap ganja meningkatkan resiko kanker dan kerusakan paru-paru. Juga menyebabkan panik, cemas, dan ”parno” (perasaan yang seperti dikejar orang).
3.     Ganja mengurangi kemampuan melakukan aktivitas. Yang membutuhkan koordinasi dan konsentrasi, seperti olah gara, menari, latihan drama, dan belajar.

4.      Memakai ganja mengurangi penilaian orang lain terhadap dirimu. Coba pikir jika kamu berpakaian rapi lalu ada ganja di tanganmu, apa yang kamu lakukan?

5.      Ganja membatasi dirimu. Ganja mengganggu sekolahmu, hubunganmu dengan keluarga dan kehidupan sosial.

6.      Ganja mengganggu cara berfikir dan menilai sesuatu. Hal ini sangat mengundang resiko, seperti kecelakaan, dan kekerasan.

7.      Menghisap ganja tidak menjadikanmu keren (cool). Justru sebaliknya, penampilanmu lusuh.

8.      Ganja menyebabkan ketergantungan. Kamu merasa selalu membutuhkan ganja, dan sulit melepaskan diri darinya.

9.      Menghisap ganja bukan menyelesaikan masalah. Ganja tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan masalah akan lebih berat, karena kamu tidak berusaha mencari penyelesaiannya. Bicarakan masalahmu dengan orang lain yang kamu percayai. Jangan percaya kepada orang yang berkata, bahwa ganja tidak berbahaya atau akan menjadikan hidupmu lebih baik.


10.  Tidak semua orang memakai ganja. Kamu tidak membutuhkannya. Jika kamu pikir, semua orang memakai ganja, kamu keliru di Amerika Serikat lebih dari 80% remaja 12-17 tahun belum pernah memakai ganja. Ganja tidak menjadikanmu bahagia, popular atau dewasa. (RQ@DATIN).
Sumber : Buku ADVOKASI PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA, BNN-RI 2009