Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label materi narkoba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi narkoba. Tampilkan semua postingan

PANTI REHABILITASI NARKOBA LIDO BOGOR, LAMA AMAT 6 Tahun Waktu Rehabilitasi Narkoba

Labels:

Nyabu-nWOOW Fantastis, Biaya Rehabilitasi Narkoba 4 - 5 juta per bulan, Butuh waktu 6 tahun, dan Angka Relapse Pecandu Narkoba masih sangat Tinggi. Kapan sembuhnya ?

JAKARTA (Pos Kota)- Pecandu narkoba yang mendapatkan tindakan rehabilitasi jumlahnya masih sangat minim. Dari jumlah pecandu yang diperkirakan mencapai 4 juta orang, pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional (BNN) baru bisa merehabilitasi 20 ribu pecandu atau sekitar 1 persen setiap tahunnya.
“Itu pun kita dibantu instansi lain termasuk swasta dan organisasi sosial,” papar Suyono, Direktur
Pasca Rehabilitasi BNN disela Focus Group Discussion Kowani bertema penyalahguna narkoba mau dibawa kemana, dipenjara atau diobati, Selasa (25/7).
Untuk merehabilitasi pecandu, lanjut Suyono memang membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang cukup lama. “Satu pecandu butuh Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per bulan untuk biaya rehabilitasi yang meliputi makan, detoks, konseling dan biaya kesehatan lainnya,” lanjut Suyono.
Sedang untuk menyembuhkan seorang pecandu jelas Suyono dibutuhkan waktu minimal 6 tahun. Tetapi karena keterbatasan anggaran, BNN hanya bisa merehabilitasi pecandu rata-rata 1 tahun.
Karena rendahnya prosentase pecandu yang mendapatkan rehabilitasi, angka relapse (kekambuhan) diantara mantan pecandu sangat tinggi.
Dewi Motik-BNN
Ketua Umum Kowani Dewi Motik Pramono memimpin diskusi kelompok penyalahgunaan narkoba bekerjasama dengan BNN. (Inung)
BNN memperkirakan 30 persen mantan pecandu bisa mengalami kekambuhan jika tidak mendapatkan dukungan baik dari lingkungannya termasuk pengawasan dari keluarga.
Sementara itu Ketua Umum Kowani Dewi Motik Pramono mengatakan pemerintah harus menempatkan pecandu narkotika sebagai korban. Karena itu mereka harus direhabilitasi dan bukan malah dipenjara, dan dicampur dengan penjahat lainnya.
“Pemerintah dalam hal ini BNN dan aparat penegak hukum harus bisa membedakan mana itu korban dan mana bandar. Perlakuannya jelas beda jauh,” kata Dewi.
Upaya menekan peredaran Narkoba, Dewi menilai pemerintah termasuk presiden harus bersikap lebih tegas terhadap para bandar narkoba. Mengingat para bandar narkoba merupakan perusak moral dan masa depan anak bangsa.
“Saya setuju hukuman mati bagi bandar narkoba. Supaya ada efek jera. Bukan bolak balik dikasih bonus ampunan atau remisi hukuman,” pungkas Dewi.
Kowani dengan anggota lebih dari 30 juta bertekad untuk aktif dalam upaya-upaya rehabilitasi mantan pecandu narkoba. (Inung/d)

Jika belum sembuh segera hubungi kami 085869412009

Berikan Mereka Jarum Suntik Sekalian Putaw nya

Labels:

Pemakaian Suntikan
Pengguna putauw di Rutan Medaeng bakal mendapat fasilitas khusus. Rencananya, jarum suntik masuk ke hotel prodeo di Jalan Letjen Sutoyo, Waru, Sidoarjo, tersebut khusus untuk pengonsumsi narkoba jenis putauw.
Rencana tersebut masih memasuki tahap persiapan. Kemarin, tim Direktorat Bina Khusus Narkotika Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM menyurvei
Rutan Medaeng. Survei dilakukan untuk melihat lapangan sebelum rencana itu betul-betul disosialisasikan.
Tujuannya, mencegah persebaran HIV/AIDS melalui jarum suntik. Sebab, pengguna putauw biasanya menggunakan jarum suntik bergantian. ”Teknisnya belum tahu. Kami masih melihat kondisi lapangan, memungkinkan atau tidak,” ujarnya. Menurut dia, Rutan Medaeng merupakan salah satu percontohan.
Jawa Pos 18 Pebruari 2009
LOGIKA apa yang digunakan????
Kami juga peduli terhadap masalah penanggulangan penularan HIV/AIDS tapi bukan seperti ini penyelesaiannya. Masalah dari dampak peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba bukan cuma semata penularan HIV/AIDS. Masalah narkoba adalah masalah kejahatan Internasional yang merusak segala sendi kehidupan, pranata sosial, meningkatnya prostitusi, meningkatnya angka putus sekolah dan PHK, meningkatnya kriminalitas, tersedotnya ekonomi masyarakat, kerusakan OTAK PERMANEN SDM Bangsa ini, dan masalah-masalah gangguan kesehatan. Semua itu akan mengancam ketahanan dan integrasi Bangsa dan Negara ini.
Dalam 10 tahun terakhir pecandu narkoba merupakan faktor resiko tinggi penularan HIV/AIDS, tetapi bila kita baca trend statistik (sumber data dari Departemen Kesehatan) justru prosentase faktor resiko IDU menurun… puncaknya di tahun 2004-2006..
Awal tahun 1990-2000 dunia medis di Indonesia di”banjiri” pasien hepatitis, mereka pikir penularannya sebatas virus hepatitis ABCD…  padahal peradangan hati termasuk yang disebabkan pengkonsumsian obat-obatan berlebihan juga disebut hepatitis. Masyarakat dibuat ketakutan hingga merasa perlu untuk melakukan imunisasi, yang pada saat itu cukup mahal. Riset pernah dilakukan sekitar tahun 1998-1999 di sebuah tempat rehabilitasi narkoba di Jakarta ditemukan 80% residennya menderita hepatitis.
Mulai tahun 1999 mulai trend pecandu narkoba terinfeksi HIV/AIDS, mengapa mereka trendnya begitu meningkat drastis dan kembali turun ????
Penularan terbesar HIV adalah dari darah dan cairan kelamin, pecandu narkoba melakukan dua perilaku beresiko sekaligus dalam hidupnya, yaitu paparan dari lewat jarum suntik dan seks bebas berganti-ganti pasangan. Mengapa mereka bisa meledak di empat tahun terakhir kemudian menurun, apakah semata keberhasilan program ganti jarum suntik????. Mengabaikan kerja kami dari aktifis anti narkoba, yang sampai berbuih menjelaskan bahaya narkoba????
Awal penggunaan heroin di kalangan menengah atas adalah dibakar dan dihirup asapnya, istilahnya adalah ngedragon. Cara seperti ini jelas dianggap terlalu mahal karena heroin banyak terbuang. Untuk kalangan menengah ke bawah mereka menggunakan cara disuntik karena tidak ada yang terbuang dan bisa dipakai secara bersamaan, istilahnya pahe (paket hemat rame-rame).
Pecandu narkoba jenis putaw adalah pecandu yang memiliki resiko tinggi sakaw bila terputus dari obat/putaw, sehingga alokasi biaya hidup mereka dominan untuk ketersediaan putaw, bahkan mereka akan melakukan kegiatan kriminal dan atau prostitusi untuk memperoleh uang. Kondisi seperti ini jelas bahwa asupan gizi mereka tidak diperhatikan diperparah lagi gaya hidup mereka yang jauh dari gaya hidup sehat. Asupan gizi yang buruk dan gaya hidup tidak sehat jelas mempercepat masa inkubasi HIV menjadi AIDS.
Kami dari aktifis anti nakoba untuk penanggulangan masalah AIDS di kalangan pecandu putaw dan atau pecandu jenis lain jelas menyatakan STOP.. STOP… dan STOP!!! Tidak ada orang mati karena sakaw…!!! Pasang badan (sakit) kurang dari seminggu… mengapa harus diberi kelonggaran-kelonggaran hanya semata tidak tertulari HIV…
Kalau mau cek relationship di kalangan pecandu putaw yang masih hidup dan terinfeksi HIV, mereka adalah komunitas yang pada masa-masa pakawnya saling mengenal artinya mereka bisa dibilang satu generasi (satu dekade), sebagian besar temannya sudah go public (almarhum), mereka bisa dibilang mendapatkan keajaiban. Bahasa sadisnya mereka tinggal sisa-sisa yang hidup. Saat ini pecandu narkoba dari jenis putaw trendnya sudah mulai menurun, yang marak sekarang adalah sabhu dan ekstacy. Mereka juga adalah beresiko karena mereka juga berperilaku resiko tinggi yaitu seks bebas berganti-ganti pasangan.
Masalah narkoba adalah masalah kecanduan bukan semata kerusakan secara fisik/medis melainkan utamanya adalah masalah kepribadian (psikis dan sosial). Mereka sangat manipulatif, mereka akan memanfaatkan setiap kelonggaran-kelonggaran yang diberikan kepada mereka untuk mempertahankan “kenyamanan” hidup mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang kalah dalam menjalani hidupnya, gagal di sekolah, gagal di pekerjaan, gagal di keluarga, dan gagal di kehidupan sosial. Bukan memanjakan mereka dengan memfasilitasi apa yang membuat mereka kalah dan terpuruk, tetapi justru yang harus kita lakukan mengeluarkan mereka dari kecanduannya… segera atau kita terlambat menyelamatkan karena mereka telah mati.
Berdasarkan FGD dan depth interview dengan komunitas pecandu dijelaskan oleh mereka bahwa sekitar 70% dari mereka pecandu adalah merangkap sebagai pengedar, selain untuk memperoleh uang untuk membeli narkoba sekaligus untuk menjamin ketersediaan narkoba bagi diri sendiri. 99,99% pecandu terlibat seks bebas berganti-ganti pasangan. Apakah ini bukan MASALAH???
Kami juga peduli dengan masalah HIV/AIDS.. Kalau bisa STOP mengapa ditunda???
Dengan STOP pakai Narkoba bukankah berarti lebih efektif STOP HIV/AIDS juga????


BERIKAN MEREKA JARUM SUNTIK SEKALIAN PUTAWNYA…
DAN KITA AKAN LIHAT KAPAN MEREKA SEGERA MATI!!!

BERIKAN MEREKA KONDOM SEKALIAN PELACURNYA…
DAN KITA AKAN LIHAT BAGAIMANA MEREKA AKAN HANCUR!!!

BILA JARUM SUNTIK DAN KONDOM ADALAH SOLUSI…
REVOLUSILAH PRANATA NILAI-NILAI KITA…
DAN KITA AKAN LIHAT BAGAIMANA NEGARA INI AKAN TERJUAL!!!

Materi di ambil dari http://dfcsurabaya.wordpress.com