Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Tampilkan postingan dengan label rehabilitasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rehabilitasi. Tampilkan semua postingan

Cara Mengatasi Pecandu Sabu Sabu

Labels: , , , , ,



terapinarkoba.com - Mengobati kecanduan narkoba bukan hanya di lakukan detoksifikasi namun harus mengobati berbagai komplikasi yang timbul akibat narkoba. disinilah peran TERAPIS untuk mampu mengobati secara keseluruhan.         

Jika hanya detoksifikasi kemudian urusan narkoba beres / sembuh tuntas maka tidak perlu lagi ada BNN dan narkoba ndak perlu di takuti.

Membersihkan racun sabu narkoba dalam darah kerennya di sebut Detoksifikasi dapat melalui serangkaian cara tersebut di bawah ini dan merupakan metode pengobatan narkoba yang di terapkan beberapa tempat pengobatan pada umumnya:


  • BerTAUBAT, ber DOA , perbanyak BERIBADAH ( detoksifikasi JIWA )
  • Minum air putih yang banyak
  • Olah raga biar berkeringat / kegiatan yang bermanfaat
  • Makan yang cukup bergizi dan makan buah2 an segar 
  • PESAN PAKET DETOX TRN klik disini.
  • Istikomah
Ini sangat membantu bagi mereka yang baru pake / masih ringan
Jika belum sembuh maka sebaiknya segera BEROBAT LANGSUNG.

CARA LOLOS TES NARKOBA klik disini 

Penulis : Tabib Masrukhi
10 tahun ketergantungan narkoba
.
Testimoni ini kami muat atas ijin seorang ibu, setelah membuktikan kesembuhan anaknya semata mata karena Allah, agar bagi mereka yang masih ketergantungan narkoba untuk lebih mengupayakan pengobatan dan  jangan berputus asa.

Nama                        : Denda 
Alamat tinggal         : Sukabumi
Telp                           : 0856 5958 1xxx
10 tahun beliau ketergantungan narkoba. keluar masuk bui. Ibunda tercinta telah menempuh segala upaya untuk menyembuhkan telah di lakukan namun belum kunjung sembuh. sakaw  dan sakaw .....
Berkat istrinya mendapat informasi pengobatan melalui internet, beliau sekeluarga mencoba peruntungan berobat ke tempat kami Tabib Masrukhi.
Alhamdulillah kini beliau sudah sembuh tuntas setelah kami obati selama +- 2 bulan berturut turut. Rasa syukur kini kehidupan beliau lebih di sibukan mengajar mengaji dan menyantuni anak yatim piatu, dan mengajak teman sesama pecandu narkoba yang belum sembuh untuk segera berobat.

Yayasan Rehabilitasi Narkoba

Labels: , ,



Ketua Yayasan Serba Bakti Pesantren Suryalaya Perwakilan Kota Bogor, Edgar Suratman, Rabu (7/9), di Bogor mengatakan, Abah Anom merupakan tokoh panutan dan ulama besar yang berjasa bagi bangsa maupun agama.

"Almarhum merupakan ulama penuh teladan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk masyarakat, agama dan bangsa," kata Edgar Suratman.


Salah satu andil besar yang diberikan Abah Anom yang dikenal sebagai ajengan santun dan sederhana semasa hidupnya adalah mempelopori rehabilitasi kecanduan narkoba melalui pendekatan spiritual atau agama.

"Salah satu konsen almarhum saat hidup adalah merehabilitasi pecandu narkoba melalui pendekatan spiritual dan dzikir. Karena itu Pesantren Suryalaya dikenal banyak pihak sebagai pusat rehabilitasi narkoba," ujar Edgar Suratman yang juga Asda Bidang Kemasyarakatan Pemerintah Kota Bogor.

Abah Anom mengembangkan gerakan rehabilitasi narkoba berbasis spiritual melalui "Majelis Al Inabah" yang dikembangkan sejak tahun 1980-an. Tak ayal bila Badan Narkotika Nasional, Mabes Polri dan berbagai lembaga anti Narkoba menjadikan Pesantren Suryalaya sebagai mitra utama dalam upaya merehabilitasi korban maupun perang terhadap peredaran narkoba di Tanah Air.

Sumbangan besar lain yang diberikan Abah Anom bagi bangsa ini, yaitu mengembangkan dakwah Islam berbasis pendekatan "tasauf" atau spiritual melalui wadah "Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah" alias TQN Suryalaya.

Kehadiran TQN Suryakaya yang diprakarsai ulama kelahiran Tasikmalaya 1 Januari 1915 tersebut mendapatkan apresiasi besar dari umat Islam, baik di Jawa Barat, di Nusantara bahkan Mancanegara.

"TQN Suryalaya memiliki jutaan pengikut yang tersebar di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara," kata Edgar Suratman yang juga a'wan Syuriah PC Nahdlatul Ulama Kota Bogor.

Menurut Edgar, di semua kabupaten/ kota se-Jawa Barat, TQN Suryalaya memiliki organisasi perwakilan yang disebut "Yayasan Serba Bakti Pesantren Suryalaya Perwakilan Kabupaten/ Kota. Di sejumlah daerah di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Tengah, TQN Suryalaya juga memiliki perwakilan.

"Perwakilan Yayasan Serba Bakti Pesantren Suryalaya memiliki tiga misi yaitu pengembangan ajaran tarekat, pembinaan akhlak umat maupun rehabilitasi narkoba berbasis spiritual," ungkap Edgar.

Hal tersebut, lanjut Edgar yang juga mantan Kepala Kesbangpol Kota Bogor, sesuai dengan falsafah "Serba Bakti", yakni untuk membaktikan diri semata bagi kepentingan masyarakat, agama dan bangsa.

Sumbangan besar berikutnya yang didedikasikan Abah Anom saat hidupnya, yaitu mempelopori pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui Pesantren Suryalaya, Abah Anom mengembangkan koperasi pesantren dan baitul mal wat tamwil.

Kopontren dan BMT Suryalaya bekerjasama dengan sejumlah bank dalam mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesantren dan pedesaan di Tasikmalaya dan Ciamis.

Andil besar lain yang didedikasikan Abah Anom, tambah Edgar, di bidang pendidikan. Melalui Pesantren Suryalaya, Abah Anom setiap tahunnya membina ribuan kader-kader calon pemimpin di tengah masyarakat.

Yayasan Serba Bakti Pesantren Suryalaya yang terletak di Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, memiliki 13 unit pendidikan, yaitu mulai jenjang TK, SD, MTs, SMP, MA, SMA, SMK, sekolah tinggi ilmu ekonomi, institut agama islam, majelis taklim, pesantren, pengajian umum serta "Majelis Al Inabah." Santri Pesantren Suryalaya mencapai ribuan orang yang berasal dari sekitar Tasikmlaya, kawasan Priangan Timur dan berbagai daerah di Indonesia.

Ketulusan Abah Anom dalam mendedikasikan dirinya di berbagai bidang, membuatnya diberikan banyak penghargaan oleh masyarakat dan lembaga, baik dari Dalam maupun Luar Negeri, sehingga ruang tamu almarhum banyak diisi berbagai piagam dan kenang-kenangan.

Besarnya jasa yang dilakukan Abah Anom sepanjang hayatnya, membuatnya disegani dan diikuti banyak orang. Kematiannya pun ditangisi belasan ribu orang yang memadati kompleks Pesantren Suryalaya pada Selasa, untuk mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir.

Sejumlah tokoh nasional dan pemimpin parpol besar, ikut berbelasungkawa atas wafatnya almarhum dengan mengirimkan karangan bunga. Puluhan karangan bunga dipasang sepanjang jalan menuju kediaman almarhum, antara lain berasal dari Ketua DPW PKB Jawa Barat yang juga Menteri PDT Helmy Faisal Zaini, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, Ketua DPD Partai Demokrat Iwan Sulanjana, Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie.

Selanjutnya, Gubernur DKI Fauzi Bowo, Bupati Tasikmalaya, keluarga besar PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Wali Kota Bogor, Sekdakot Bogor, Bupati Ciamis, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Ketua Kwarda Pramuka Jawa Barat Dede Yusuf, Pangdam III/Siliwangi, Kapolda Jawa Barat, Akbar Tanjung, sejumlah bupati di Kalimantan hingga direksi Bank BCA.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga ikut memberikan karangan bunganya sebagai ungkapan belasungkawa atas kepergian almarhum untuk selama-lamanya.(ant/hrb)

SAKAW , Raka Akui Sering Sakaw di Sel

Labels: ,

RAKA terus merunduk
JAKARTA - Raka Widyarma, putra angkat Wakil Gubernur Banten, Rano Karno mengakui kerap mengalami 'sakau' atau ketergantungan narkoba saat berada di dalam sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pemuda Tangerang. Semakin hari, akibat ketergantungan narkoba, Raka mengalami kondisi kesehatan yang makin memburuk.

"Raka mengaku pecandu berat dan sering kali mengalami sakau saat berada di sel, maka kami ajukan untuk dilakukan rehabilitasi di rumah sakit," kata kuasa Hukum Raka, Budi Iskandar kepada, Selasa (3/7).

Menurut pengakuan Raka, dia sudah menggunakan narkotika sejak kelas 3 SMA dan saat ini masuk dalam kategori sebagai pecandu berat. Selain itu, Raka pun memiliki penyakit Biopolar atau kejiwaan yang perlu pengobatan secara cepat. Tidak hanya Raka, lanjut Budi, teman dekatnya pun, Karina juga mengalami hal yang serupa sebagai pecandu berat, sehingga perlu penanganan berupa rehabilitasi bukan berada di dalam tahanan LP Pemuda Tangerang saat ini.

"Kami telah mengajukan permohonan untuk dilakukan pemeriksaan terhadap Raka dan Karina ke BNN dan mendapat surat yang kemudian kami sampaikan ke majelis hakim untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan," katanya.

Sementara itu, dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Syamsuardi menyatakan bahwa Raka ditangkap di kediaman teman wanitanya, Karina Aditya (21), di Jalan Kurcica Raya, Bintaro, Tangerang Selatan (Tangsel).

Bersama teman wanitanya, Raka memesan 5 butir ekstasi kepada Jimos (Warga Negara Malaysia) dengan cara pembayaran dicicil selama tiga kali. Pembayaran pertama sebesar Rp. 600 ribu, kedua Rp.100 ribu dan pembayaran ketiga Rp.260 ribu atau total Rp. 960 ribu.

Akibat perbuatannya, Raka terancam sejumlah Pasal UU No 35/2009 tentang Narkotika. Antara lain, dakwaan primer pertama, yakni pasal 114 ayat 1, junto pasal 132 ayat 1 UU 35/2009, dan subsider pertama pasal 113 ayat 1 junto 132 ayat 1, serta lebih subsider pasal 112 junto pasal 132, ayat 1, atau subsider kedua 127 ayat 1 huruf A. ”Sanksi pidana ada maksimal dan minimal, maksimal bisa 20 tahun penjara,” jelasnya. rmi

Sumber :  www.surabayapagi.com

TAHAP-TAHAP MENGATASI ADIKSI NARKOBA

Labels: ,

Oleh Dr Iskandar Irwan Hukom, MA
Sekretaris Jenderal YCAB
MENGATASI adiksi narkoba tidaklah mudah. Berbagai cara dan langkah telah dilakukan sejak lama, tetapi
hasilnya tidak selalu menggembirakan. Meski begitu, kita tidak pernah boleh bosan berusaha. Tersedia berbagai cara mengatasi.
G (32 th), sejak lama menjadi problem dalam keluarga. G dibesarkan dalam sebuah keluarga yang berkecukupan. G merupakan anak laki-laki tertua dari tiga bersaudara. Menurut pengakuan G, ayahnya mendidiknya dengan pola militer. G juga sangat jarang menerima pujian dari ayahnya, ia malahan lebih sering mendapatkan hukuman fisik. Nah, itu sebabnya, barangkali, G mencoba berbagai obat penenang dan minuman yang mengandung alkohol, bahkan sejak masih duduk di bangku SMP.
Maka tidaklah mengherankan bahwa keluarga G lalu harus bolak- balik ke dokter jiwa untuk mendapatkan terapi fisik maupun psikis. Setelah ayahnya meninggal, perilaku adiksinya semakin berat, sehingga keluarga sepakat untuk memasukkan G ke sebuah panti rehabilitasi. Saat ini G sudah dapat bekerja secara wajar dan mempunyai pekerjaan yang baik.
I, 18, laki-laki, diantar ibunya ke sebuah panti rehabilitasi dalam keadaan fisik lemah, mungkin karena sudah beberapa panti rehabilitasi menolak untuk merawat I. Keadaan fisik I memang buruk. Kedua orang tua I berpisah ketika I berumur 14. Sejak itu I keluar dari rumah dan berhenti sekolah. I lalu bekerja di sebuah diskotek besar dengan penghasilan yang dapat menghidupinya di Jakarta.
Sayangnya, karena sejak usia 16 tahun I sudah terlibat narkoba (menggunakan alat suntik) dan melakukan hubungan seks sebelum nikah dengan pacar-pacarnya, I hanya sempat dirawat 5 hari. Pada hari ke 5, I meninggal dunia karena kegagalan fungsi dari hampir semua organ vital di tubuhnya. Diagnosis terakhir, I ternyata terkena AIDS.
Kedua contoh kasus nyata di atas, hanyalah sebagian kecil dari kasuskasus penyalahgunaan narkoba yang ada di Indonesia. Dalam menghadapi kasus-kasus adiksi narkoba sering kali kita kehabisan akal dan frustrasi. Terutama, bagi orang-orang yang berada di sekeliling pecandu.
Dalam tulisan yang lalu (Media/ 9/02) saya menulis tentang tahapan yang dilalui pecandu, jika seorang pecandu ingin pulih, yaitu:
Tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi), pada tahap ini pecandu diperiksa seluruh kesehatan fisik dan mental oleh dokter terlatih. Dokter inilah yang memutuskan apakah pecandu perlu mendapat obat tertentu, misalnya untuk mengurangi gejala putus zat (sakau). Pemberian obat pada tahap ini tergantung dari jenis narkoba dan berat-ringannya gejala putus zat. Oleh karena itu dibutuhkan kepekaan, pengalaman, dan keahlian dokter yang merawat pecandu.

Tahap rehabilitasi nonmedis, pada tahap ini pecandu ikut dalam program rehabilitasi, dan di Indonesia sudah ada tempat-tempat rehabilitasi nonmedis dengan program therapeutic communities (TC), 12 steps, pendekatan keagamaan, dan lain sebagainya.

Tahap bina lanjut (after care), pada tahap ini pecandu diberi kegiatan sesuai dengan minat dan bakatnya untuk mengisi kegiatan sehari-hari, pecandu juga dapat kembali ke sekolah atau ke tempat kerjanya sambil tetap berada di bawah pengawasan.
Dalam setiap tahap, idealnya secara terus-menerus dilakukan pengawasan dan evaluasi terhadap proses pulihnya seorang pecandu. Pada tahap rehabilitasi nonmedis pecandu dianjurkan untuk mengikuti program yang sesuai dengan hasil evaluasinya, apakah dengan metode TC, atau 12 steps (dua belas langkah) atau pendekatan keagamaan atau malahan sudah dimungkinkan untuk menjalani rawat jalan.
Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika dianjurkan proses rawat inap pecandu tidak lebih dari empat minggu. Dan menurut Mrc A Schuckit, MD program grup terapi merupakan program yang biayanya lebih murah daripada konseling pribadi. Menurut saya hal ini merupakan suatu hal yang penting untuk dipertimbangkan pelaksana program terapi dan rehabilitasi. Hasil temuan yang dilakukan YCAB, di Jakarta memang anak usia SMU, lebih senang curhat secara berkelompok ketimbang curhat satu-satu.
  • Dari pengalaman dan pengamatan saya, di Indonesia paling tidak ada beberapa metode terapi dan rehabilitasi yang digunakan: Cold turkey
  • Metode alternatif
  • Terapi substitusi
  • Therapeutic community
  • Metode 12 steps
‘Cold Turkey’, istilah yang digunakan berarti seorang pecandu langsung menghentikan penggunaan narkoba/zat adiktif. Mungkin ini merupakan metode yang tertua. Metode ini mengurung pecandu yang sedang berada dalam masa putus obat (selama gejala tersebut ada), tanpa memberikan obat-obatan. Pecandu dikurung tak lebih dari dua minggu. Setelah gejala putus obat hilang, baru pecandu dikeluarkan dan diikutsertakan dalam sesi konseling (rehabilitasi nonmedis). Beberapa panti rehabilitasi dengan pendekatan keagamaan biasanya menggunakan metode ini dalam fase detoksifikasi.
Terapi substitusi, hanya dapat digunakan untuk pasien- pasien ketergantungan heroin (opioida), karena itu sebutan lengkapnya adalah terapi substitusi opioida. Untuk pengguna opioida hard core addict (pengguna opioida yang telah bertahun- tahun menggunakan opioida suntikan), pecandu biasanya mengalami kekambuhan kronis sehingga perlu berulang kali menjalani terapi ketergantungan. Kebutuhan akan heroin (narkotika ilegal) diganti (substitusi), dengan narkotika legal.
* Beberapa obat yang biasa digunakan ialah: kodein
* bufrenorphin
* metadone
* naltrekson
Obat-obatan ini dapat digunakan sebagai obat detoksifikasi maupun sebagai terapi rumatan. Obat-obat ini diberikan sebagai pengganti heroin, dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan pecandu, untuk kemudian secara bertahap dosisnya diturunkan.
Keempat obat tersebut sudah beredar di Indonesia. Sayangnya kajian lengkap mengenai dampak dan fungsi kontrol terhadap obatobatan ini masih harus ditingkatkan, karena saya menemukan adanya kasus-kasus penyimpangan/ penyalahgunaan dari obat-obat resmi tersebut. Sebagai salah satu contoh, Singapura saat ini melarang peredaran obat golongan bufrenorphin, karena berdasarkan kajian ditemukan kecenderungan penyalahgunaan yang berakibat fatal.
Di Indonesia sekarang ini, terapi metadone telah digunakan sebagai cara untuk mengalihkan penggunaan alat suntik, dengan prediksi bahwa penularan HIV akan dapat ditekan, khususnya di kalangan pecandu heroin pengguna alat suntik.
Di banyak negara, termasuk di sejumlah negara Asia, program terapi substitusi yang paling umum adalah TRM (terapi rumatan metadone). Program TRM dapat dibedakan menjadi program detoksifikasi dan program rumatan. Untuk program detoksifikasi dibedakan dalam jangka pendek dan jangka panjang yaitu jadwal 21 hari, 91 hari, dan 182 hari. Sedangkan program rumatan/pemeliharaan berlangsung sedikitnya 6 bulan sampai 2 tahun atau lebih lama lagi.
Sesuai dengan Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 567/Menkes/SK/VIII/2006, 2 Agustus 2006, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif /Napza, peserta program ini harus memenuhi kriteria berikut. (Lihat Tabel Kriteria Ketergantungan…)
Di Jakarta pada 2008 akan dilaksanakan terapi ini dengan basis puskesmas. Badan Narkotika Provinsi DKI Jakarta, akan bekerja sama dengan berbagai puskesmas yang melaksanakan terapi metadon, dan BNP akan menyiapkan tenaga-tenaga konselor yang telah dilatih untuk menangani perilaku adiksi narkoba.
Saya sangat berharap bahwa kajian-kajian yang akan dilakukan terhadap program ini bukan hanya kajian terhadap program saja. Juga diperlukan upaya untuk melihat efektivitas program terhadap berubahnya perilaku adiksi. Untuk menunjang upaya tersebut dibutuhkan waktu yang panjang (paling sedikit 3 tahun) untuk melihat perubahan perilaku pecandu.
‘Therapeutic Community (TC)
Mulai digunakan pada akhir 1950 di Amerika Serikat, dengan tujuan utama, menolong pecandu agar mampu kembali ke tengah masyarakat dan dapat kembali menjalani kehidupan yang produktif. Program TC, merupakan program yang disebut Drug Free Self Help program, yang mempunyai sembilan elemen.
Yaitu: partisipasi aktif; feedback dari keanggotaan; role modeling; format kolektif untuk perubahan pribadi; sharing norma dan nilainilai; struktur & sistem; komunikasi terbuka; hubungan kelompok dan penggunaan terminologi unik.
Aktivitas dalam TC akan menolong peserta belajar mengenal dirinya melalui lima area pengembangan kepribadian, yaitu manajemen perilaku; emosi/psikologis: intelektual & spiritual; vocasional dan pendidikan; keterampilan untuk bertahan bersih dari narkoba (Lihat Tabel 12 Langkah).
Program ini dikenal pertama kali pada 1935 dan berasal dari program Alcoholics Anonymous (AA), yang sekarang telah berkembang menjadi berbagai anonymousnarcotics anonymous (NA), gambler anonymous, sexual anonymous. Program ini berasal dari suatu acara kebangunan rohani, maka nuansa spiritual dalam program ini terasa sangat kental. misalnya,
Di Amerika Serikat, jika seorang kedapatan mabuk atau menyalahgunakan narkoba, biasanya pengadilan akan memberikan hukuman untuk mengikuti program 12 Langkah.
Bisa dalam bentuk rawat inap atau harus mengikuti pertemuanpertemuan 12 Langkah (alcoholic anonymous/AA; narcotic anonymous/ NA). Biasanya pecandu yang mengikuti program ini dimotivasi untuk mengimplementasi ke 12 langkah ini dalam kehidupannya sehari-hari.
Setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Saya berpendapat, semakin banyak metode, maka semakin baik bagi pecandu, karena pecandu dapat memilih metode yang sesuai dengan kebutuhannya.
Terapi dan rehabilitasi di Indonesia
Di Indonesia RSKO (rumah sakit ketergantungan obat), mulai menangani pecandu sejak 1972, yaitu menempati sebagian lahan di RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Fasilitas yang disediakan RSKO Fatmawati masih terbatas pada detoksifikasi dan prarehabilitasi.
Saat ini RSKO, telah memindahkan aktivitasnya ke Cibubur (Jakarta Timur), dengan fasilitas yang cukup lengkap. Selain melayani secara medis, juga mempunyai fasilitas rehabilitasi non medis (Halmahera House) dengan pendekatan TC.
Balai Kasih Sayang Parmadi Siwi, (Wisma Pamardi Siwi) berlokasi di Jl MT Haryono No 11 Cawang, Jakarta Timur, yang diresmikan Ibu Negara pada waktu itu, 31 Oktober 1974. Pada masa itu Wisma Pamardi Siwi adalah pilot proyek nasional DKI Jakarta yang merupakan realisasi dari Badan Koordinator Pelaksana (Bakolak) Instruksi Presiden (Inpres) 6 Tahun 1971. Wisma itu berada di bawah koordinasi pihak kepolisian dan dalam beberapa tahun terakhir diserahkan kepada Badan Narkotika Nasional.
Saat ini secara bertahap aktivitas panti rehabilitasi ini mulai dipindahkan ke daerah Lido, Jawa Barat, yang disebut sebagai Pusat Rehabilitasi Penanganan Korban Narkoba Lido (PRPKN Lido). PRPKN Lido adalah panti rehabilitasi narkoba terbesar se-Asia Tenggara.
Di tempat ini digunakan empat pendekatan terapi yakni: 
  • hospital base,
  • religy,
  • alternative,
  • therapeutic community.
Panti rehabilitasi milik pemerintah di Lido ini akan menjadi salah satu pusat rehabilitasi yang dapat memenuhi kebutuhan pecandu di Indonesia dan rencananya tempat tersebut selain menjadi pusat rujukan nasional, juga menjadi teaching hospital bagi masalah adiksi narkoba di Indonesia.
Menurut buku panduan tentang terapi dan rehabilitasi, yang diterbitkan Badan Narkotika Nasional, dokter yang dapat memberikan terapi medis adalah dokter yang telah melalui pelatihan tertentu, demikian juga konselor, pekerja sosial, perawat. Badan Narkotika Provinsi DKI Jakarta (bagian Terapi dan Rehabilitasi) mempunyai kebijakan, konselor yang ingin mendampingi pecandu, paling tidak telah melalui pelatihan selama 72 jam.
Selain tempat-tempat rehabilitasi milik pemerintah, peran masyarakat juga tidak kalah. Sejak tahun 1980-an mulai muncul tempat- tempat rehabilitasi milik swasta, dengan berbagai model pendekatan terapi dan rehabilitasi.
Sayangnya, sampai tulisan ini dibuat, setahu saya belum ada laporan tentang efektivitas dari program- program terapi dan rehabilitasi di Indonesia. Menurut hemat saya hal ini sangat penting sebagai bagian dari strategi penanganan pecandu secara nasional. Satu hal yang dapat digunakan sebagai tolok ukur ialah jangka waktu—misalnya tiga tahun—mantan pecandu hidup bersih dari narkoba (sober) dan perilakunya telah berubah.
Prinsip umum
Dalam menghadapi kasus-kasus adiksi, paling tidak ada prinsip- prinsip umum yang saya gunakan: Pecandu (apa pun jenis adiksinya) dan keluarganya, adalah tetap manusia. Manusia, merupakan makhluk termulia yang pernah diciptakan sang pencipta. Dan sejak diciptakan, kita dapat melihat bahwa manusia mempunyai aspek fisik, jiwa, roh, dan sosial. Dengan kata lain manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai tubuh, jiwa dan roh, yang terintegrasi menjadi satu kesatuan utuh.
Maka, dalam melakukan penanganan terhadap setiap masalah, keempat aspek tadi harus diperhatikan. Dalam penanganan kasus adiksi pun demikian. Ada baiknya dalam penanganan adiksi bukan hanya menggunakan satu disiplin ilmu saja, tapi empat disiplin ilmu bekerja bersama untuk menangani kasus adiksi. Sehingga betapa pun ahli dan berpengalamannya seorang profesor, dokter, konselor, dan lainnya, dia tidak berhak mengklaim seorang pecandu sembuh karena bantuan mutlak saya.
Hal lain tentang manusia ialah fakta bahwa di kolong langit ini, tidak ada dua manusia yang identik sama. Dengan kata lain manusia itu: “Sama dalam perbedaan, atau berbeda dalam kesamaan.” Inilah keunikan manusia. Itu sebabnya jika ada 50 pecandu, ke 50 orang ini mempunyai keunikan masing-masing, sehingga perlu diperhatikan dinamika dari setiap pecandu.
Saya berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kehendak (kebebasan untuk memilih) dan ini merupakan suatu anugerah yang diberikan kepada manusia, oleh karena itu saya sangat menghargai keputusan-keputusan yang diambil pecandu ketika pecandu (dan keluarganya) memilih untuk mengikuti suatu program terapi dan rehabilitasi (apapun jenis dan metodenya), demikian pula ketika pecandu memilih tidak mau ikut dalam program terapi dan rehabilitasi.
‘Don’t attack the person. Attack the problem!’
Permasalahan dalam adiksi ada pada perilaku, bukan pada pribadi (pecandu), sehingga yang perlu diperbaiki adalah perilaku adiksi, bukan siapa pecandu (suku, ras atau agamanya). Sehingga, dalam menangani pecandu, harus pula diperhatikan dan dihormati hak-hak pecandu sebagai manusia.
Yang menjadi soal bukan masalahnya tetapi bagaimana cara menghadapi masalah tersebut. Dalam menghadapi kasus-kasus pecandu, sering kali saya menemukan pecandu menjadi tertuduh, tetapi tidak jarang pula ayah atau ibu pecandu yang menjadi terdakwa. Sehingga, terjadi salah persepsi antara pecandu dengan keluarganya, atau sebaliknya. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kesabaran kebijaksanaan dan hikmat, supaya persoalan tidak bergeser lalu menyerang dan menyakiti pribadi-pribadi yang terlibat dalam permasalahan adiksi.
Bagi saya perpecahan dalam keluarga bukan suatu yang aneh karena dalam sesi-sesi konseling, saya sering berhadapan dengan masalah ini. Maka saya sering menggunakan kalimat: “Dalam menghadapi adiksi, kita akan berhadapan dengan roh pemecah!” Dan untuk melawan hal tersebut harus dilawan dengan bersatunya semua pihak yang terlibat dalam perlawanan adiksi ini.
Ada risiko penyakit penyerta (HIV/AIDS, hepatitis, gangguan jiwa, dll)
Hal-hal yang harus diperhatikan yaitu kemungkinan pecandu yang menggunakan alat suntik sudah terpapar HIV dan atau hepatitis (b atau c), sehingga secara fisik, bagi pecandu (yang menggunakan alat suntik) harus dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium secara lengkap. Hal lain yang juga harus diperhatikan ialah adanya diagnosa ganda. Istilah ini digunakan bagi pecandu yang mempunyai gangguan jiwa, sehingga masalah yang dihadapi semakin kompleks.
Peran keluarga

Dalam menghadapi pecandu harus tetap diingat bahwa keluarga pecandu biasanya mempunyai perilaku sama dengan pecandu, co-dependent. Idealnya keluarga pecandu harus dilibatkan secara aktif dalam proses pemulihan pecandu.
Betty Ford Foundation, yang memiliki suatu pusat rehabilitasi bagi pecandu, mempunyai program khusus bagi keluarga pecandu. Jelas bahwa pelayanan yang disediakan bukan hanya bagi pecandu.
Dalam beberapa kasus yang saya temui, keluarga pecandu sudah demikian putus asa, sehingga membiarkan pecandu berlama-lama di pusat rehabilitasi. Ada juga yang tidak mau lagi bertemu dengan si pecandu. Hal ini terjadi karena keluarga pecandu mempunyai bentuk kasih sayang yang sering disalahartikan oleh pecandu. Atau, sering kali cara keluarga mengasihi pecandu tidak tepat.
Cinta kasih memang sangat dibutuhkan seorang pecandu, tetapi pada kenyataannya manusia sering salah mengartikan makna cinta yang sesungguhnya. Dalam bahasa Ibrani digunakan kata hesed yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi love-kindness (Cinta dan kemurahan hati). Dalam salah satu bagian kitab suci dituliskan bahwa, ‘Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran; menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.’
Menurut saya cinta-kasih itu bukan sekadar perasaan belaka. Cinta itu merupakan tindakan aktif yang memberikan kebebasan memilih kepada orang yang dicintai, termasuk juga untuk tidak membalas cinta. Cinta yang demikianlah yang dapat menyatukan kembali keluarga yang pecah akibat masalah adiksi. Dengan kata lain semua yang terlibat dalam masalah adiksi, pecandu, keluarganya, dokter, konselor, rohaniwan perlu mempunyai konsep cinta-kasih yang benar, untuk membantu proses pemulihan. Perlu juga dipahami, keluarga yang terpecah akibat masalah adiksi sangat membutuhkan terapi keluarga, dan model terapi keluarga yang cukup efektif adalah metode Satir, yang ditemukan Virginia Satir. Dalam pendekatan metode ini ditekankan bahwa setiap anggota keluarga merupakan unit yang saling berhubungan satu dengan lainnya, jadi jika ada satu unit yang mengalami masalah, akan berdampak kepada unit-unit yang lainnya.
Berdasarkan hal ini maka keluarga pecandu akan mempunyai peran penting dalam proses pemulihan pecandu. Hipotesanya, jika keluarga tidak mengalami pemulihan, maka pecandu juga sulit untuk bertahan bersih.

Beberapa Metode Pengobatan Pada umumnya

Labels: ,


Di mana banyak pasien, di sana pula kebutuhan perawatan membludak. Inilah yang terjadi ketika jumlah pecandu narkoba dari hari ke hari makin menggunung.
Selain para pengedar, menjamur pula klinik, pusat perawatan, panti rehabilitasi, rumah sakit, hingga pondok pesantren yang khusus menyediakan fasilitas penyembuhan kecanduan narkoba.
Di Jakarta saja tercatat 56 rumah sakit dan klinik berfasilitas serupa, belum terhitung pesantren dan klinik kecil. Terapi yang ditawarkan pun bermacam-macam, dari terapi medis sampai ke alternatif.

Berikut ini beberapa contoh jenis terapi antinarkoba yang ada di masyarakat.

Metode Prof. Dadang Hawari Seperti namanya, metode detoksifikasi atau pengurasan racun narkoba ini ditemukan oleh Profesor Dadang Hawari, psikiater dan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Terapinya bersifat holistik, meliputi terapi medis, psikiatris/psikologis, dan agama. Jadi, di sini, ada prinsip "berobat dan bertobat". Metode ini bisa diterapkan di rumah sakit serta di rumah.

Jika di rumah, selain minum obat menurut petunjuk dokter, pasien tidak boleh keluar rumah, bertemu teman, menelepon ataupun ditelepon, dan merokok.

Adapun bila di rumah sakit, selain minum obat, pasien harus ditunggui keluarga agar tidak ada teman atau orang lain yang menengok. Tujuannya, "Agar masuknya NAZA (narkotik, alkohol, dan zat adiktif lain), termasuk rokok, dapat dicegah," ujar Dadang. Sistem yang dipakai adalah blok total (abstinentia totalis). Artinya, pasien tidak boleh lagi menggunakan NAZA atau turunannya. Karena itu, untuk menghilangkan gejala putus zat (withdrawl symptom alias sakaw), digunakan obat-obat penawar yang tidak mengandung opiat (heroin) atau turunannya.

Keseluruhan proses detoksifikasi dengan metode Dadang ini butuh waktu seminggu. Menurut penemunya, metode ini tidak hanya berlaku untuk heroin atau putaw, tapi juga efektif untuk jenis NAZA yang lain, seperti ganja, kokain, alkohol, atau amfetamin, seperti ekstasi dan shabu-shabu.


Untuk sekali detoksifikasi secara lengkap, pasien dipungut biaya sekitar Rp 5 juta ? tergantung kelas di rumah sakit. Jika detoksifikasi dilakukan di rumah, biayanya hanya Rp 300-400 ribu. Mengenai angka kekambuhan, dari penelitian yang dilakukan terhadap 293 pasien dari 4 rumah sakit yang menerapkan metode Dadang, didapat angka 12,21 persen, jauh lebih kecil dari angka menurut studi kepustakaan, yang mencapai 43,9 persen. Selain menangani detoksifikasi, Dadang juga menangani program pascadetoksifikasi dan rehabilitasi. Terapi di Rumah Sakit Jiwa Paviliun ketergantungan narkotik dan obat terlarang di Rumah Sakit Jiwa (RSJ)

Dr. Amino Gondohutomo adalah satu-satunya tempat terapi di Jawa Tengah yang boleh dibilang istimewa. Di sini setiap pasien pemakai narkoba bisa dengan mudah dideteksi apa jenis obat yang biasa dikonsumsi, berapa kadarnya, dan apa obat pencegahnya. Jika pasien diam-diam memakai narkoba lagi, hasil tes akan bisa segera memperlihatkannya. "Jadi, tes ini bisa menjadi parameter pengobatan medis," ujar Dr. Siti Nuraini, Sp.K.J., psikiater khusus penanganan pasien narkoba di RSJ Amino Gandohutomo.

Untuk mengatasi komplikasi fisik, ditempuh proses detoksifikasi yang berlangsung 7-10 hari, yang memerlukan biaya Rp 800 ribu hingga Rp 1,6 juta. Usai itu, dilakukan rehabilitasi mental, bersamaan dengan rehabilitasi sosial. Menurut Nuraini, pemakai narkoba sebagian besar punya latar belakang berkaitan dengan masalah kejiwaan. Itu sebabnya tidak bisa ditentukan kapan seorang pecandu narkoba bisa pulih kembali ke keadaan normal. Biasanya butuh waktu satu hingga tiga tahun bagi pasien untuk sembuh total.

Terapi Kilat Naltrexone Primadona baru dalam terapi medis narkoba adalah naltrexone. Obat ini baru masuk ke Indonesia sekitar tahun lalu. Naltrexone biasanya dipakai untuk detoksifikasi cepat bagi pecandu heroin. Di Yayasan Asa Bangsa, misalnya, metode detoksifikasi dilakukan dengan penyuntikan naltrexone plus perawatan tiga jam, dengan biaya sekitar Rp 20 juta. Naltrexone termasuk jenis penghilang rasa sakit. Saat dipakai, ia akan mengurangi rasa sakit dan mempengaruhi reseptor otak hingga bisa mencegah ketergantungan pada obat penghilang rasa sakit semacam morfin atau heroin. Naltrexone menghilangkan ketagihan dengan cara mematikan kerja reseptor opiat?zat kimia di otak?agar tak bereaksi terhadap rangsangan heroin. Awalnya, obat ini dipakai untuk menghilangkan ketagihan alkohol dan umumnya pasien berhasil sembuh menjalani pengobatan selama enam bulan. Sedangkan buat para pecandu heroin, mereka diinjeksi dua kali setiap pekan, karena khasiat naltrexone hanya bertahan tiga hari. Enam bulan berikutnya pengobatan dihentikan, meski tetap diawasi dokter. Menurut seorang pakar terapi narkoba terkenal, selain otak yang telah kecanduan, kekambuhan juga disebabkan faktor mental dan lingkungan. Para pecandu narkotik yang sudah sembuh tapi kembali bergaul dengan pemakai putaw akan terpengaruh lagi.

Menyeimbangkan ?Yin? dan ?Yang? Prinsip akupunktur adalah menciptakan keseimbangan yin dan yang melalui penusukan jarum di titik-titik bagian tubuh. Menurut Dr. Susetyo Soewarno, ahli akupunktur, pada pecandu narkoba, "Yang terganggu adalah fungsi organ ?paru? (bukan paru dalam arti sesungguhnya)," ujarnya. Agar fungsi organ yang bernama "paru" itu kembali normal, dilakukan terapi akupunktur selama 10 hari. Pelaksanaannya dengan mencari celah-celah sebelum rasa sakaw menyerang. Lokasi yang ditusuk adalah titik-titik di telinga kanan dan kiri, masing-masing sebanyak tiga tusukan. Selain itu, ada tiga tusukan tambahan di tangan kanan dan kiri, plus lima tusukan di kaki kanan dan kiri. "Biasanya, pada tiga hari pertama fisik pasien sudah mengalami perubahan," ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti tahun 1993, yang aktif berguru pada ahli akupunktur lokal maupun dari Cina itu.
Perubahan itu, antara lain, dipengaruhi oleh kebutuhan tidurnya yang mulai tercukupi. Pada hari ke-7, perubahan psikis mulai terjadi. Biasanya, muncul rasa penyesalan kenapa dirinya memakai narkoba?penyesalan seperti ini bahkan bisa dirasakan sampai bertahun-tahun. Setelah itu, biasanya mulai muncul keinginan untuk bertobat. Nah, pada hari ke-9 dan ke-10, mulai tumbuh keinginan untuk melakukan aktivitasnya semula, seperti bekerja atau sekolah. Seluruh proses itu benar-benar murni tusuk jarum, tak melibatkan obat apa pun. Soal biaya, sekali datang ke tempat praktek di hotel berbintang di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Adapun mengenai angka kekambuhan, sejauh ini belum ada yang melapor. Yang ada, "Justru pasien yang sembuh ini membawa kawannya untuk menjalani akupunktur," ujar Susetyo.

Komunikasi dengan Pikiran Bawah Sadar Terapi ini diberikan untuk memberikan dukungan secara mental setelah pecandu menjalani detoksifikasi. Tujuannya, "Agar pecandu mampu menolak bila muncul keinginan untuk kembali mencicipi narkoba," ujar Purnawan E.A., yang sejak akhir 1998 mengembangkan hipnoterapi untuk pecandu narkoba.
Praktek hipnoterapi sangat sederhana. Intinya, hipnoterapis melakukan komunikasi dengan pikiran bawah sadar?tempat bersemayamnya seluruh perasaan negatif?si pecandu. Di situ ia memasukkan "program baru" yang menyebabkan pecandu lebih percaya diri dan berani mengatakan "tidak" terhadap keinginan kembali mencicipi narkoba. Pikiran dia pun diprogram agar lebih fokus pada tujuan hidup, cita-cita, dan impiannya. Untuk bisa melakukan komunikasi, orang yang melakukan hipnoterapi terlebih dulu membuat pecandu mengalami trance, fase ketika pikiran sadar tidak lagi menyaring informasi yang masuk ke dalam pikiran tidak sadar. Dalam proses ini, alat bantu berupa cakram hipnotis, senter, atau dua jari lazim dipakai. Fungsinya untuk membuat mata pecandu capek dan terpejam agar bisa menggapai trance. Berikutnya, sugesti untuk menguatkan dan menambah percaya diri dimasukkan. Terakhir, sebelum dibangunkan, pecandu menjalani fase amnesia agar ia melupakan semua proses hipnoterapi dan menjalankan semua instruksi hipnoterapis. Sejauh ini, belum ada pecandu yang ditangani Purnawan dinyatakan kambuh.

Meski demikian, tak tertutup kemungkinan, terjadi kekambuhan tapi tak dilaporkan padanya. Detoksifikasi tanpa Jarum Suntik Pusat rehabilitasi korban narkoba Yayasan Parusia Ministry, Bekasi, merupakan salah satu terapi yang menggunakan pendekatan keagamaan, khususnya Kristen. Meski begitu, pendekatan medis juga sama sekali tidak dihilangkan. Di sini ada juga proses detoksifikasi selama dua bulan. Dalam proses ini, tidak ada cuci darah atau proses memasukkan infus ke tubuh pecandu seperti lazimnya dilakukan di rumah sakit. Alasannya, agar pecandu tidak tersugesti setelah melihat jarum?benda kecil yang biasa dipakai untuk menyuntik narkoba. Detoksifikasi di sini, menurut ketuanya, Pendeta Asigor Sitanggang, "Seratus persen pengobatannya dilakukan secara oral." Usai detoksifikasi, pecandu mengikuti program rehabilitasi selama 10 bulan. Programnya benar-benar padat dengan sentuhan religi Kristen, misalnya pembacaan Alkitab bersama-sama atau puji-pujian. Di luar itu, ada juga meditasi dan berolahraga bersama warga sekitar. Semua itu dilakukan untuk mencapai satu tujuan, "meningkatkan keimanan pasien". Untuk mencegah keinginan pulang, selama menjalani terapi, keluarga hanya diizinkan menengok 1-2 bulan sekali. Selepas menjalani rehabilitasi, barulah mereka diizinkan pulang, meski tetap dalam pantauan. Mereka dianjurkan tinggal di tempat lain, misalnya di tempat familinya. Tujuannya, agar kepulangannya tidak tercium oleh para pengedar narkoba, yang selalu ingin menarik kembali mangsanya.

Pendekatan Wisma Arjuna Di tempat dengan suasana rimbun dan sejuk di Bogor, Wisma Arjuna saat ini tengah menangani 75 pecandu narkotik. Adalah David Gordon, seorang yang bertobat, yang mendirikan Wisma Arjuna, Center for Addiction Treatment and Recovery Community. Sejak dibuka pada 1999, 200 pecandu narkotik mengikuti program rawat inap di tempat ini. Ada tiga prinsip dasar dalam program pemulihan dan perawatan dasar pecandu narkotik di Wisma Arjuna: no drugs, no sex, dan no violence. Tak ada obat-obatan, hubungan seks, dan kekerasan. Menurut Benjie, bekas pengguna narkoba yang kini menjadi penasihat utama alias peer counselor di Wisma Arjuna, dengan melakukan tiga prinsip itu, pasien tidak memerlukan obat-obatan detoksifikasi. Kalaupun pasien yang sedang sakaw diberi obat, itu sebatas obat ringan untuk sakit kepala. Tapi, kalau memang sangat berat, barulah Valium diberikan.
Program penyembuhan di sini mengharuskan pasien menjalani rawat inap selama enam bulan. Selepas program rawat inap, yang memakan biaya Rp 5 juta sebulan dan diawasi orang tuanya, pasien diperbolehkan kembali ke rumah. Selepas itu, masih ada program lanjutan yang diberi nama after care. Dalam program ini, peran keluarga sangat penting untuk mencegah pemakaian kembali narkoba. Di Wisma Arjuna juga terdapat relapse center. Di sinilah para pecandu yang memakai kembali narkotik dirawat. Program relapse ini lebih intensif dari program lainnya dan makan waktu 45 hari. Saat ini ada 44 peserta mengikuti resident program, 32 orang mengikuti peer counselor training, dan 1 orang dirawat di relapse center.

Metode Terracotta Lembaga ini memiliki program yang diadopsi dari Therapeutic Community (TC) Daytop Inc., New York, Amerika Serikat. Program itu dibagi menjadi dua bagian: primary care programme di Cirendeu dan re-entry programme, yang masing-masing memakan waktu enam bulan. Therapeutic community adalah proses pelatihan diri untuk membangun kemandirian dengan cara menolong diri sendiri. Sedangkan dalam primary care programme ada delapan masalah yang menjadi titik tekan, yakni perbaikan perilaku, psikologis, emosional, spiritual, intelektual, kemandirian, keahlian bertahan hidup, dan peningkatan komunikasi dengan keluarga. Dalam fase ini, anggota keluarga boleh melakukan kunjungan sekali dalam seminggu. Sedangkan pada re-entry programme?sebagai upaya untuk menyiapkan diri kembali ke masyarakat luas?aktivitasnya berfokus pada rencana sekolah, hubungan komunikasi sosial dan keluarga, pengembangan hobi dan peningkatan fisik, mental, dan kesehatan diri. Nah, pada program ini, anak binaan boleh pulang dan tinggal di rumah 1-2 kali per minggu. Di sini, mereka dituntut untuk bisa memanfaatkan waktu yang dimiliki secara bertanggung jawab. "Setelah mengikuti program ini, narkoba bukan lagi menjadi sesuatu yang mereka ingini," ujar Faisal N. Afdhal, Direktur Program Terracotta.
sumber. majalah.tempointeraktif.com
Semoga manfaat

Peran Keluarga Dalam Penanggulangan Narkoba

Labels: , ,


Narkoba [singkatan dari narkotik dan obat/bahan berbahaya] adalah "bahan-bahan" yang mengandung zat/unsur narkotik [obat untuk menenangkan saraf, menghilangkan rasa sakit, menimbulkan rasa mengantuk, atau merangsang], seperti opium [getah buah Papaver Sommiferum yang belum masak dan telah dikeringkan], ganja [tanaman setahun yang mudah tumbuh, merupakan tumbuhan berumah dua, pada daun mengandung zat narkotik aktif, terutama tetrahidrokanabinol], kokain [merupakan alkaloid yang didapatkan dari tumbuhan koka Erythroxylon Coca, yang berasal dari Amerika Selatan.

Daunnya biasa dikunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan "efek stimulan"], dan senyawa-senyawa psikotropika [senyawa yang dapat memengaruhi aktivitas pikiran; zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis yang dapat menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku]. Misalnya, ekstasi [tablet yang mengandung zat adiktif, yang mampu memacu kekuatan daya tubuh hingga berjam-jam, dan menimbulkan perasaan senang, gembira, dan riang yang luar biasa terhadap sesuatu, memunyai efek dapat menyerang susunan syaraf pusat (otak)], amfetamin [kelompok obat perangsang yang mengimbas perasaan bugar], sabu-sabu [Metamfetamina (metilamfetamina atau desoksiefedrin), disingkat met, dan dikenal di Indonesia sebagai sabu-sabu, adalah obat psikostimulansia dan simpatomimetik], zat sedatif [zat alami atau zat sintetis yang dapat meredakan keaktifan dan kegembiraan; obat penenang], dan zat-zat lain yang menimbulkan adiksi [kecanduan atau ketergantungan secara fisik dan mental terhadap suatu zat] seperti nikotin [zat racun yang terdapat pada tembakau], kafein [senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan; merupakan obat perangsang sistem pusat saraf pada manusia dan dapat mengusir rasa kantuk secara sementara], alkohol [merupakan unsur ramuan yang memabukkan], dll..

Pada umumnya zat-zat tersebut menyebabkan ketagihan. Kebutuhan tubuh terhadap zat tersebut makin lama makin meningkat, dari dosis kecil lalu menjadi semakin besar.
Narkoba juga menimbulkan efek yang tidak menyenangkan. Bahkan, kalau pemakaiannya dihentikan, akan memberi rasa yang menyakitkan bagi pemakainya. Istilah umumnya disebut gejala putus obat atau sakaw (Withdrawal Syndrome).

Efek yang ditimbulkan pun bermacam-macam, tergantung jenis, tingkat, dan lama pemakaian. Narkoba
  • Jenis Opium bisa menimbulkan depresi, sehingga pemakai biasanya terlihat murung, menutup diri, suka menyendiri, dan terlihat sedih. 
  • Jenis kokain, amfetamin dan kafein, menimbulkan efek stimulasi. Awalnya, badan terasa segar, selanjutnya pemakai menjadi susah tidur, mudah tersinggung, agresif, hiperaktif, jantung berdebar-debar, tekanan darah meningkat disertai sakit kepala hebat, sampai akhirnya bisa melakukan bunuh diri. 
  • Ada juga yang memberi efek halusinasi seperti pada penggunaan LSD [ Lysergic acid diethylamide juga dikenal sebagai lysergide adalah obat psychedelic semi-sintetis dari keluarga obat ergoline.], ganja, dan meskalin [Mescaline atau 3,4,5-trimethoxyphenethylamine adalah alkaloid psychedelic alami dari kelas phenethylamine dan biasanya digunakan sebagai bahan entheogen]. Pada tahap awal, pemakai merasa nikmat dan percaya diri, tetapi selanjutnya mengalami penyimpangan persepsi, timbul salah tafsir, disorientasi, curiga berlebihan, agresif, mata merah berair, badan menjadi lemas, tidak bergairah, dan selalu ingin tidur.
Mengapa kita harus menjauhi narkoba?
  • Narkoba menimbulkan ketergantungan, mendorong orang berperilaku kriminal (mencuri, berkelahi, dsb.), dan membuat seseorang melakukan penyimpangan sosial.
Faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pecandu narkoba, antara lain:
  1. Rasa ingin tahu. Tingkat keingintahuan seseorang pada masa anak, remaja, dan pemuda dalam periode tertentu sangatlah tinggi. Mereka ingin tahu sesuatu yang belum mereka ketahui dan ingin mencobanya. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pengedar narkoba untuk menjerat mereka. Ingat, kita tidak dapat mengawasi semua anggota keluarga setiap saat, setiap waktu!
  2. Rasa gengsi yang tinggi dapat menjatuhkan kita menjadi pengguna narkoba. Ingat, kita tidak dapat selalu mengingatkan anggota keluarga kita untuk bersikap rendah hati!
  3. Untuk kesenangan (fun). Seseorang bisa terbujuk oleh sesuatu yang gratis dan kata-kata manis, misalnya, "Ini dapat membuat kamu senang dan bahagia." Ingat, tidak setiap saat kita dapat bersenang-senang bersama anggota keluarga!
  4. Pelarian karena stres, sedih, dan kecewa. Orang yang stres, sedih, atau kecewa, sangat mudah terkena bujuk dan rayuan pengedar/pemakai narkoba dan ikut mengonsumsi. Ingat, tidak setiap saat kita tahu bahwa anggota keluarga kita berada dalam keadaan emosi yang tidak stabil!
  5. Euforia. Jangan dikira orang yang sedang sedih atau stres saja yang mudah terbujuk. Orang yang sedang euforia (perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan), juga mudah terbujuk dengan kata-kata pujian. Mereka mudah terpancing mengonsumsi narkoba tanpa mereka sadari. Ingat, tidak selalu kita dapat mendampingi anggota keluarga kita, ketika dia sedang bergembira bersama teman-temannya!
  6. Dipaksa/terpaksa. Banyak eksekutif muda mengonsumsi ekstasi di kafe-kafe bersama teman-teman seusai pulang kerja, dengan alasan untuk menghilangkan kejenuhan dan stres akibat kerja. Ketika mereka berkumpul dengan orang-orang yang "senasib", mereka juga dapat dipaksa oleh teman mereka yang lain atau terpaksa mengonsumsi narkoba. Ingat, tidak setiap waktu kita dapat mendampingi anggota keluarga kita ketika mereka bergaul!
Faktor-faktor keluarga yang menyebabkan anak menjadi pecandu narkoba:
  1. Keadaan dan kondisi keluarga.Keharmonisan keluarga ikut menentukan mudahnya seseorang terkena narkoba atau tidak. Keluarga yang kurang harmonis, baik antara suami-istri, orang tua-anak, serta anggota keluarga yang lain, sangat memudahkan anggotanya terpikat oleh narkoba. Untuk pencegahan, ciptakan kehidupan keluarga yang harmonis!
  2. Kurang perhatian.Perhatian tidak cukup hanya dalam bentuk materi saja, tetapi perlu empati. Untuk pencegahan, bina perhatian dan kepedulian antar anggota keluarga!
  3. Kurangnya komunikasi antarkeluarga.Hal ini menyebabkan anggota keluarga mencari orang lain (bukan keluarga) untuk melepaskan segala permasalahan yang dialaminya. Untuk pencegahan, perbaiki komunikasi dalam keluarga!
  4. Kurang kesatuan.Kurangnya kesatuan dalam keluarga membuat ikatan keluarga menjadi longgar. Dengan demikian, masing-masing anggota keluarga akan mencari pelampiasan di tempat lain. Untuk pencegahan, ajak setiap anggota keluarga rutin berdoa dan aktif bergereja!
  5. Orang tua yang otoriter.Orang tua yang selalu mengatur dan memaksakan kehendak, baik dalam menentukan pendidikan atau hal-hal lain, membuat anggota keluarga -- anak merasa tidak bebas. Anggota keluarga akan mencari pelampiasan kepada hal/orang lain. Untuk pencegahan, ciptakan suasana keluarga yang terbuka, demokratis, dan ajarkan kepada anak, agar berani mengemukakan pendapat dan berani mengatakan TIDAK untuk hal/benda-benda asing/negatif (Say No to Drugs).
  6. Terlalu menuntut prestasi anak.Orang tua yang terlalu menuntut, bisa memicu timbulnya kejengkelan bagi anggota keluarga. Apabila mereka yang dituntut tidak sanggup memenuhi tuntutan tersebut, maka mereka bisa merasa depresi dan lari ke narkoba. Untuk pencegahan, berikan kebebasan anggota keluarga mengemukakan pendapat dan hargai pendapat mereka!
  7. Terlalu memanjakan anggota keluarga.Kebiasaan menuruti semua kemauan anak tidak baik. Untuk pencegahan, jangan memanjakan siapa pun dalam keluarga dan hindarkan kebebasan yang tidak bertanggung jawab!
  8. Kurang pengawasan.Salah satu anggota keluarga yang menjadi pecandu narkoba bisa "menulari" anggota keluarga yang lain. Waspadalah! Untuk pencegahan, segera obati penderita kecanduan dan kirim ke tempat rehabilitasi!
  9. Peran Keluarga dalam Penanggulangan NarkobaPeran keluarga sangat penting bagi setiap anggota keluarga yang menghadapi suatu masalah. Dukungan keluarga terhadap anggotanya yang terjerat narkoba sangat besar pengaruhnya dalam penyembuhan.
Biasanya, para pecandu narkoba suka mencari sensasi, hiperaktif, mudah kecewa, cenderung agresif, dan destruktif. Selain itu, ia juga kurang berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan kurang aktif di gereja (antisosial), kurang cerdas, suka memberontak terhadap peraturan, dan suka berbohong. Kalau anggota keluarga Anda sudah terkena narkoba, jangan berhenti berdoa dan berharap kepada Tuhan, jangan jauhi dia, dengar keluhannya dengan sabar namun tetap waspada. Ajak dia untuk berdoa agar dia diberikan kekuatan, ketabahan, dan cara untuk melepaskan diri dari narkoba. Ajak dia berkonsultasi ke dokter untuk memulihkan kesehatannya, apalagi kalau dia sedang sakaw.

Jangan biarkan dia bergaul dengan teman-teman yang menjadi pemakai. Lakukan rehabilitasi psikologis, baik di keluarga maupun dengan bantuan psikolog, untuk memulihkan konsep diri dan mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai anak yang baik, berguna, dan diterima keluarga.

Lakukan rehabilitasi sosial, dengan didampingi keluarga, untuk belajar keterampilan, latihan kerja, melakukan rekreasi,dan kegiatan positif lainnya agar dia merasa diterima sebagai keluarga dan anggota masyarakat. Keluarga harus terus mendampingi dan mengawasi perubahan yang terjadi. Jaga pergaulannya agar tidak kambuh lagi.

Sekali mencoba narkoba, seseorang akan terbelenggu seumur hidup. Sekali ketagihan, efek kejiwaan tidak hilang seumur hidup. Narkoba hanya menawarkan solusi sementara, tetapi menciptakan masalah lain yang lebih besar. Narkoba merusak tubuh dan jiwa. Jadi, jalan terbaik adalah tidak mencoba sama sekali.

Tidak ada seorang pun yang paling tahu dan dapat membantu seorang pecandu narkoba untuk sembuh dan kembali ke dalam lingkungan kehidupan yang normal, kecuali keluarganya.

Apa Yang Sebaiknya Di Lakukan Orang Tua Bila Anak Anda Pemakai Narkoba

Labels: ,

  1. Jangan berpura-pura tidak ada masalah, jangan panik dan tetaplah tenang. Amarah dan sikap emosional tidak akan menolong, melainkan justru akan mengganggu dialog yang pada saat itu sangat penting.
  2. Hindari menimpahkan seluruh kesalahan pada anak atau menimpahkan kesalahan pada istri/suami. Ini hanya akan memperburuk suasana di dalam keluarga dan tidak mengatasi masalah
  3. Bila anda tidak mampu mengendalikan diri, pertimbangkan untuk mencari pihak ketiga untuk memperoleh nasehat atau penyuluhan yang dapat diterima oleh dua pihak.
  4. Bicaralah dengan mereka secara terbuka, dengarkanlah apa yang mereka utarakan,hormatilah pendapat mereka. Pada waktu anda bertukar pikiran tentang narkoba dengan anak Anda, cobalah mengetahui apa sebabnya ia memakai narkoba dan seberapa sering ia memakai.
  5. Tingkatkan komunikasi keluarga secara terbuka (timbal balik). Hindari pemberian nasehat dengan cara berkhotbah.
  6. Ketahuilah apa yang diperbuat anak Anda; siapa saja temannya, ke mana saja ia pergi, dan apa saja yang ia lakukan untuk mengisi waktu luangnya. 
  7. Bersikaplah tegas menjalankan disiplin keluarga yang disepakati bersama.
  8. Bimbinglah anak Anda untuk memperoleh pemantapan nilai-nilai moral, agama, dan kerohanian lainya. 
  9. Sediakanlah waktu agar dapat bersama dengan mereka walaupun Anda sendiri sedang sibuk. Bantulah anak Anda menemukan kemungkinan lain untuk mencari kegembiraan fisik, rekreasi, emosi dan spiritual.
  10. Janganlah merasa bersalah ataupun malu, bila anak Anda memakai narkoba.Walaupun kasih sayang orang tua terhadap anak cukup serta orang tua telah memberi teladan yang baik, tetapi masih ada kemungkinan seseorang anak akan menyalahgunakan Narkoba. Tekanan kelompok sebaya sering cukup kuat untuk mengalahkan pengaruh-pengaruh yang baik bagi orang tua.
  11. Apabila anak Anda sudah ketergantungan Narkoba, Anda perlu rujuk ke tempat pengobatan dan rehabilitasi.
  12. Bila Anda tahu bahwa temen anak Anda memakai Narkoba dan Anda bermaksud menolongnya, mulailah dengan mengunjungi orang tua anak tersebut pada wakru yang tepat. Pada waktu pertemuan dengan orang tua, hindarkanlah sikap menuduh, mengolok-olok atau menyalahkan. Ingat bahwa pertemuan dengan orang tua menpunyai maksud untuk bekerja sama dan saling bertukar pikiran dan pengalaman. 
Sumber : Buku “PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA : Apa Yang Bisa Anda Laukukan”, Pusat Pencegahan Lakhar BNN 2009.

BAGAIMANA BILA PECANDU NARKOBA MENOLAK BEROBAT ?
SEMENTARA NARKOBA TIDAK BERHENTI ? CACAD SEUMUR HIDUP DAN KEMATIAN MENJADI RESIKO

Bila anak tidak mau di obati maka mintalah bantuan institusi terkait BNNK/Kepolisian setempat untuk menjemput secara paksa atau kalao bisa memilih obat jalan. karena dengan cara inilah Pecandu bisa Sembuh dan bila tertangkap polisi maka sangat bisa meringankan hukumannya. 

Pengobatan Narkoba harus ada niat yang kuat. Segala sesuatu yang di kerjakan harus ada niat. Tetapi untuk pengobatan khusus narkoba NIAT kadang tidak cukup apabila seorang terapis tidak memberikan pengobatan yang cepat ,tepat dan tuntas. Mengapa dengan modal niat saja belum cukup ? karena rata2 pecandu narkoba memiliki jiwa spiritual yang sangat rapuh.

Mari simak bahwa Angka kasus narkoba makin tahun meningkat tajam. Angka kematian akibat narkoba kian meningkat. Kesembuhan pengobatan dan rehabilitasi pada umumnya membutuhkan waktu 1,5 tahun. Biaya rehabilitasi narkoba menjadi mahal. Tingkat Kambuh kasus Narkoba masih tinggi.

Subhanallah, Hafalan Alquran Sehatkan Mental

Labels: , ,

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Damanhuri Zuhri

Hasil penelitian di Mesir dan Saudi menyebutkan bahwa siswa yang berprestasi rata-rata penghafal Alquran.

Meski tak ada data yang pasti, jumlah umat Islam di Tanah Air yang masih buta huruf Alquran diperkirakan masih sangat tinggi. Salah satu faktanya, separuh jamaah haji asal Indonesia yang berangkat setiap tahun ke Tanah Suci ternyata buta huruf Alquran alias tak bisa membaca kitab suci.

Kondisi itu tentu sangat memprihatinkan. Apalagi, Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Kini, gerakan untuk membebaskan umat dari buta huruf Alquran memang tengah digulirkan. Namun, upaya itu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Pakar tafsir yang juga Dewan Pakar Pusat Studi Alquran (PSQ), Dr Muchlis Hanafi, mengungkapkan, guna mencegah munculnya generasi buta huruf Alquran,   setiap pelajar Muslim di Tanah Air harus bisa membaca dan memiliki hafalan Alquran. Menurut dia, Indonesia bisa mencontoh Mesir.

Doktor tafsir dari Universitas Al Azhar itu, mengungkapkan, di Mesir, anak-anak telah menghafal Alquran sebelum masuk sekolah dasar.  ''Jadi, melalui katatib atau kuttab (tempat-tempat menghafal Alquran), anak-anak sejak kecil menghafal Alquran,'' papar Muchlis.

''Begitu tamat madrasah Ibtidaiyah atau SD di Al-Azhar, anak-anak sudah selesai hafal Alquran 30 juz. Anak-anak di sana hafal Alquran umur sembilan tahun atau paling lambat 13 tahun,'' tuturnya.  Muchlis mengungkapkan, hasil penelitian di Mesir dan Saudi menyebutkan  bahwa  siswa-siswa yang berprestasi rata-rata mereka hafal Alquran.

''Jadi, hafalan Alquran itu sangat menunjang prestasi belajar para siswa. Selain tentunya hafalan Alquran itu sendiri membantu meningkatkan kesehatan mental anak. Ini hal positif,''  ungkapnya. Namun, kata dia, jangan hanya berhenti pada hafalan.

Hafalan  Alquran itu perlu terus dikembangkan. Karena itu,  di pesantren yang didirikan Pusat Studi Alquran (PSQ), Pesantren Baitul Quran sebanyak 19 orang huffadz yang sudah hafal 30 juz  diberi wawasan keilmuan, wawasan kewirausahaan, training, bermacam-macam training selama enam bulan.

Menurut Muchlis, sekarang anak-anak kecil sudah banyak yang pandai membaca Alquran.  Setelah bisa membaca Alquran, kata dia,  perlu digalakkan program hafalan alias tahfiz Alquran. Sekarang ini, tuturnya, semangat menghafal Alquran sangat tinggi sekali.

Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Dr Ahsin Sakho Muhammad menambahkan,  periode menghafalkan Alquran itu harus mulai dari taman kanak-kanak sampai umur enam tahun. Jadi, anak sudah bisa menghafal Alquran. Kemudian mulai SD belajar umum, lalu sorenya dilanjutkan dengan menghafal Alquran ternyata hasilnya bagus sekali.

''Ini yang dilakukan oleh orang-orang Arab Saudi dan Mesir. Paginya sekolah umum, sore hari setelah pulang sekolah dilanjutkan dengan menghafal Alquran. Ternyata di Palestina sekarang ribuan anak sudah menghafal Alquran. Kemudian di masa musim liburan anak-anak dimasukkan ke dalam tahfiz Alquran,''  ungkap Ahsin.

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur tengah mempersiapkan lahirnya para dosen, dekan hingga rektor yang hafal Alquran.

''Di dunia ini Perguruan Tinggi yang paling hebat Harvard University, AS. Perguruan Tinggi yang nomor satu milik Islam adalah Al-Azhar Kairo Mesir. Orang tatkala menyebut nomor satu tidak ada yang mengklaim nomor dua apalagi nomor empat. Makanya saya katakan kepada mahasiswa dan dosen di sini kita harus harus ambil posisi kosong itu. Kapan? Bukan sekarang tapi 25 tahun yang akan datang,'' papar Rektor UIN Malang,  Prof Imam Suprayogo.

Guna memenuhi target itu,  sejak 2009 UIN Malang merekrut 35 mahasiswa baru yang sudah hafal Alquran. ''Saya ambil dari pondok, aliyah-aliyah yang ada di Indonesia. Ke-35  itu kita beri beasiswa, uang saku, uang buku dan macam-macam. Nanti kalau empat tahun mereka lulus dan nilainya baik lalu kita teruskan di S-2 hingga S-3,'' tuturnya.

Menurut Imam, dunia harus diprogram. ''Dunia jangan tumbuh alamiyah. Kalau alamiyah, tidak indah. Pemimpin kampus juga diprogram sehingga nanti menjadi indah jangan hanya berjalan alami.''

Karena itulah, Ustaz Yusuf Mansur meluncurkan program i'daad. Lewat program itu, para siswa  SD yang akan meneruskan ke SMP atau SMP ke SMA atau SMA ke perguruan tinggi bisa vacuum satu tahun dari pendidikan umum. Selama satu tahun itulah, mereka digembleng dan dibekali dengan pendidikan Alquran dan Sunah. Sehingga, mereka memiliki bekal berupa kekuatan tauhid yang sangat kokoh dalam mengarungi kehidupan.

Prof Imam menilai, program i'daad seperti itu perlu didukung, karena merupakan  memprogram masa depan, bukan memprogram ujian. ''Saya senang sekali kalau ada inovasi seperti ini. Karena itu perlu kita dukung bersama-sama,'' paparnya. Upaya itu, dinilai sebagai usaha untuk menciptakan  nuansa Qurani di Indonesia
Redaktur: Heri Ruslan